November 6, 2011

Ketulusan

Filed under: Umum banget

Dua minggu yang lalu, ada perintah tugas mendadak ke Manila yang baru aku terima hari jumat pagi. Karena jadwal singapore airline dari Singapore ke Manila tidak terlalu rapat, terpaksa diatur supaya bisa berangkat dari Jakata penerbangan jam 8.00 pagi supaya bisa connect dengan flight yang tiba di Manila sekitar jam 16.00 waktu Manila.

Sabtu pagi, penerbangan awal pun dimulai, penerbangan garuda dari Pekanbaru ke Jakarta dan dilanjutkan hari minggu dengan Singapore airline Jakarta - Singapore - Manila. Karena waktu ngecek website garuda semua seat garuda sudah penuh dan hanya tersisa untuk penerbangan jam 18.00, terpaksa ngambil penerbangan itu (yang kemudian ternyata delay hampir 1 jam dari schedule awal).

Yang duduk di executive class cuma 4 orang dan sebetulnya tidak ada yang istimewa untuk dicatat sampai tiba waktu penyajian makanan yang langsung mengingatkanku pada tulisan di kompas dua minggu sebelumnya yang membahas pengalaman si kolumnis duduk di ekonomi class yang menurutnya sangat tidak mendapatkan service dari crew udara. Begitu mulai menyajikan makanan, dua orang yang pertama dilayani makanan ditanyai makanan yang diinginkan dan langsung disajikan makanan yang diminta. Ketika tiba giliranku, sang pramugari muda yang cantik itu bertanya,

"Bapak mau makan apa?" yang langsung disambungnya dengan, "sebetulnya hari ini kita punya dua menu… tapi sekarang tinggal ada satu menu aja"

Gubrak…! Kalo’ cuma ada satu menu, ngapain pake’ nanya neng. Mbok tarok aja tu makanan.
Dengan senyum, aku pun meminta sang pramugari menyajikan makanan yang masih tersedia…. Tidak ada yang istimewa untuk dicatat lebih dari penerbangan itu kecuali basa-basi yang tidak perlu yang tidak tulus.

Minggu lalu, saat kepulangan kejadian yang mirip juga terjadi. Begitu masuk ke executive class yang isinya cuma 3 orang. Salah satu pramugari yang kelihatan sudah berumur mulai mendekati dengan gaya "manja-manja amit" dengan pertanyaan-pertanyaan yang ‘inginnya’ mengindikasikan keramahan tapi tidak terasa ketulusannya sama sekali.

Setelah menanyakan mau milih menu nagi goreng atau pasta dan selesai menghidangkan pasta, sang pramugari kembali mendekat dengan bilang,

"Selamat makan Pak Surya. Nanti kalo’ selesai makan, boleh dong Pak lihat-lihat jualan kami. Belilah Pak satu untuk penglaris. Hari ini belum ada yang laku sama sekali Pak"

Aku pun seperti lazimnya cuma bilang terima kasih dan tersenyum lalu mulai menyantap makanan. Setelah makan aku pun tidur dan bangun menjelang landing dan menemukan sang pramugari kembali memperagakan "keramahtamahannya" yang tidak membuatku nyaman dan tidak terasa ketulusannya sama sekali.

Dari kecil dan dari awal sekolah, aku di-indoktrinasi dengan ungkapan, "bangsa Indonesia itu ramah tamah", tapi sejujurnya aku tidak merasakan keramahtamahan dari apa yang aku lihat. Aku hanya merasakan "kosmetik" kehidupan yang tidak membuatku merasakan sentuhan "ketulusan" yang aku ingin rasakan. Sesuatu yang aku justru rasakan dari beberapa bangsa lain yang aku temui….

October 10, 2011

Receptionist

Filed under: Umum banget, keluargaku

Nggak terasa, sudah hampir 3 bulan aku nggak nulis di blog ini. Keasyikan monitor FB dan BBM group yang ceritanya interaktif mbuat lupa nulis dan kayaknya cukup banyak momen bagus yang ilang. Misalnya momen saat Ananta berhasil mengucapkan huruf R dengan sempurnah beberapa minggu yang lalu atau pun momen-momen lain yang sebetulnya worthy writing……

Sabtu pagi, dua hari yang lalu, anak salah satu tetangga, Pak Azmi, menikah. Aku dan Dewi ikutan jadi panitia. Yang beda kali ini adalah Adeanna juga dapat tugas jadi penjaga meja tamu yang tugasnya mempersilahkan para tamu mengisi buku tamu dan menyerahkan souvenir.

Waktu aku dan Dewi nyampe di Widuri Club, tempat resepsi, aku melihat seorang anak perempuan duduk di meja sebelah kiri pintu masuk dari foyer ke ballroom dan dua anak perempuan lain duduk di meja yang sebelah kanan. Aku amati anak yang di meja sebelah kiri dan semakin aku amati, aku semakin yakin kalo’ aku kenal anak ini dan akhirnya aku dekati setelah semakin yakin kalo’ anak itu Adeanna. Anaknya tampilannya beda dengan make-up dan alis tambahan itu, sampai aku perlu waktu untuk ngenalinya….. :)

Tidak berapa lama, Fani, anak teman yang juga bertugs di meja tamu datang dengan 2 porsi sate padang dan mereka pun makan sate padang. Aku pun masuk ke dalam ballroom menunggu jadwalku untuk jadi penerima tamu karena aku dapat tudak di shift kedua.

Waktu tiba giliranku, aku pun ikut berdiri di dalam foyer dan menyalami para tamu yang baru datang dan mempersilahkan tamu menuju ke meja penerimaan tamu. Yang menarik yang aku lihat adalah tingkah ke-4 anak yang di meja penerima tamu yang bikin aku senyam-senyum. Ternyata….., di luar mereka punya tanggung jawab, mereka juga punya keistimewaan karena mereka selalu dapat supply makanan. Ada ibu-ibu yang mbawain es krim, terus Fani pergi ke ballroom ngambil makanan kemudian mereka makan. Yang lucu….., saat mereka sedang makan, terus ada tamu datang, mereka tetap makan saat mempersilahkan tamu mengisi buku tamu dan membiarkan para tamu mengisi buku dan mengambil souvenirnya sendiri…

Saat pulang, Ade seperti biasa cemberut, katanya capek. Waktu diphoto dia cemberut tapi waktu photonya dipajang di FB, eh…, tu photo ditarok di profile picture… :)

July 17, 2011

Romantisme vs Realisme

Filed under: keluargaku, Perasaanku.

Akhir juni 2011, masih di Palembang, suasana pagi yang indah dan hening menandai datangnya hari ke-13 pernikahan kami. Dari hari sebelumnya, kami berdua berdiskusi dengan adik untuk acara dinner di sebuah restauran di areal ex.bangunan Belanda di sekitar Kambang Iwak. Adik hanya tahu dan nganggap ini akan jadi dinner biasa dengan ibu, bapa, papa dan mama.

Hari pengulangan ke-13 itu pun tiba, pagi-pagi aku ngomong ke ibu dan bapa kalo’ malam itu kami mau ngajak dinner untuk peringatan ulang tahun pernikahan kami yang ke-13. Sejujurnya aku mbayangkan reaksi yang antusias tapi yang aku lihat adalah reaksi yang berbeda; reaksi ibu menunjukkan keenganggan tapi kemudian saat aku katakan kalo’ dinnernya juga melibatkan papa dan mama, ibu menyetujuinya, tapi……..reaksi bapa yang berbeda justru sangat ekstrem. Dengan serius beliau bilang, "pegilah kamu, aku nak ke mesjid"…

Walah,….aku terbentur pada phenomena romantisme dan realisme yang kental. Aku membayangkan ulang tahun pernikahan kami akan dihadiri kedua pasang orang tua kami dan beberapa saudara. Aku membayangkan dinner yang penuh suasana romantis di sebuah restauran yang bagus di lokasi yang bagus tapi ternyata keteguhan dan realisme menjadia benturan yang kuat yang tidak sanggup aku rayu untuk sedikit dikendurkan. Waktu aku bilang kalo’ dinner ini bukan dinner biasa tapi untuk memperingati 13 tahun pernikahan kami, jawaban yang aku terima juga tetap menunjukkan realisme yang kental, "lemaklah dini makan di huma; masak, kele makan di huma, berdoa same-same. Dekde nak makan di restauran ige".

Hmm…. acara dinner itu pun aku batalkan dengan penuh kesedihan. Aku membayangkan acara seperti ini akan menjadi warna yang berbeda tapi ternyata bapa punya pandangan lain; pandangan yang sebetulnya bukan sesuatu yang baru. Pandangan bahwa segala langkah kehidupan harus dijalankan dengan sederhana; uang sebaiknya digunakan untuk sesuatu yang lebih bernilai guna dan tidak untuk mengejar romantisme. Kalimat yang menarik yang aku dengar waktu seminggu kemudian aku ungkapkan kalo’ aku kecewa dengan penolakan bapa, dengan ringan beliau hanya mengatakan, "dihi tu harus sederhana. amun dihi ade duit, dek perlu ditunjukkan."

Hmm…. pandangan hidup yang tidak berubah, pandangan hidup yang dengan konsisten beliau terapkan dalam kehidupan. Pandangan hidup yang kadang, di momen-momen tertentu terasa menjadi ganjalan untuk menikmati kehidupan, tapi saat direnungkan dengan lebih dalam justru menjadi "jembatan" yang sudah membuat kami 5 bersaudara mencapai apa yang kami rasakan sekarang.

Kesederhanaan telah menjadi ciri hidup beliau dan bapa menjalaninya dengan konsisten. Tanpa kesederhanaan itu, tidaklah mungkin kami berlima jadi sarjana semua. Tanpa kesederhanaan yang konsisten beliau lakoni dalam kehidupannya, tidaklah mungkin kami merasakan banyak hal. Dengan kesederhanaan yang beliau jalani, beliau mengorbankan banyak hal yang bisa beliau rasakan / nikmati untuk tujuan mulia yang beliau ingin raih.

Saat beliau masih aktif jadi kepala sekolah, di sore hari beliau dengan konsisten pergi ke kebun, menanam segala macam yang hasilnya bisa digunakan di rumah. Di malam hari beliau menjala di sungai untuk mendapatkan ikan. Di hari-hari tertentu beliau sibuk dengan ternak kerbau dan sapi yang beliau punya. Tidak ada hari istirahat yang beliau buat. Setiap hari adalah hari kerja. Hari minggu justru menjadi hari di mana beliau menikmati berkebun sepanjang hari.

Saat kami berlima sekolah, bertahun beliau tidak memiliki baju baru di luar baju seragam pegawai negeri yang memang wajib dibuat setiap tahun. Baju yang beliau pakai di keseharian baik untuk kegiatan harian maupun kegiatan khusus hanyalah baju yang beliau sudah miliki.

Lauk pauk yang beliau nikmati pun tidak berlebihan; untuk mendapatkan ikan, beliau menjala ikan di sungai atau menebar tajur (pancing yang dipasang untuk kemudian ditinggalkan dan dicek beberapa jam kemudian kalo’ ada ikan), di masa muda, seingatku beliau juga menebar bubu di sawah. Untuk sayur mayur, bapa dan ibu mengambil dari kebun yang mereka punya sedangkan untuk beras beliau menggunakan beras jatah pegawai negeri yang seringkali ada batunya dan harus dicekulang sebelum dicuci dan dimasak untuk memastikan batunya sudah hilang semua; untuk urusan beras ini, aku mendapatkan kata khusus "cuhupkan" yang sejujurnya aku tidak pernah mendengarnya sebelumnya untuk menggambarkan proses pembuangan batu.

Dengan kesederhanaan, mantan kepala sekolah yang pensiun di golongan IVA ini beserta ibu yang juga pensiunan kepala sekolah menjalani kehidupan dan membesarkan kami. Dengan kesederhanaannya beliau berdua berkorban untuk memastikan kami berlima sekolah cukup tinggi. Di satu waktu, pernah 4 dari 5 anak beliau kuliah bersamaan. Satu kondisi yang berat yang tentu tidak mudah untuk dijalani dengan kondisi perekonomian saat itu.

Bapa dan ibu sudah menunjukkan cinta dan kasih sayangnya dengan sangat sempurna. Beliau sudah menunjukkan pengorbanan untuk tujuan yang besar. Rasa syukur kami selalu terlimpah dengan doa semoga di masa tuanya keduanya selalu mandapatkan kebahagiaaan dan limpahan karunia Allah. Menjadi tanggung jawab kami sekarang untuk menunjukkan kasih sayang dan pengorbanan yang sama untuk anak-anak kami. Untuk membimbing mereka meraih kehidupan yang baik. Semoga bimbingan Allah menyertai proses ini dan semoga jalan kehidupan yang kami jalani akan selalu sejalan dengan tujuan itu dan diridhoi Allah, amiin….

July 16, 2011

Mamban

Filed under: Umum banget

Di jaman modern ini, setiap balita direkomendasikan untuk mendapatkan vaksinasi campak karena campak dianggap salah satu penyakit yang berbahaya yang biasa menyerang bayi. Campak, yang dalam bahasa Kedaton disebut mamban, memiliki ciri-ciri khusus seperti demam tinggi yang bila ’sukses’ ditangani akan berujung pada munculnya bintik-bintik merah di sekujur tubuh termasuk kulit kepala dan telapak tangan dan kaki. Semakin banyak bintik merah yang muncul menjadi indikasi yang bagus kalo pengobatan berlangsung dengan baik.

Untuk pengobatan, di jaman modern orang pergi ke dokter untuk mendapatkan obat. Namun di masyarakat umum, ada juga obat tradisional yang tidak kalah canggih dan efektifnya; minum air kelapa muda sebanyak-banyaknya. Semakin banyak air kelapa muda yang diminum akan menstimulasi munculnya bintin-bintik merah yang semakin banyak. Tapi untuk panasnya, aku tidak tahu apa obat tradisional yang digunakan.

Tapi, apa bener campak atau mamban ini cuma diderita anak-anak kecil? Selama ini aku percaya kalo’ penyakit ini hanya diderita anak, kepercayaan yang ternyata salah. Dulu aku pernah nonton film yang menunjukkan kalo’ di jaman dulu penyakit campak termasuk penyakit yang sangat berbahaya dan kalo’ ada orang terkena penyakit campak, warga di sekitarnya akan mengucilkannya karena penyakit ini mematikan dan yang kena penyakit campak bukan anak-anak. Tapi aku belum pernah melihat sendiri orang dewasa menderita penyakit campak.

Sampai kemudian,…… cuti sekali ini, pagi-pagi pertama di Palembang aku nyupir dari rumah Plaju ke rumah sukabangun dan aku merasakan kondisi badanku tidak fit. Siangnya, aku ikut hadir di acara akad nikah seorang sepupu di Kertapati dan aku merasa tubuhku semakin tidak fit. Malamnya Dewi ngomong kalo’ ada bintik-bintik merah di badanku dan tengah malamnya suhu badanku naik sampai lebih dari 40 derajat.

Setelah sholat subuh, aku diantar adikku ke emergency rumah sakit Charitas dan dapat 4 jenis obat. Setelah minum obat ini kondisi badanku tidak juga membaik bahkan panasnya naik melewati 41 derajat, kondisi yang sejujurnya sangat mengkhawatirkan. Keluarga nyiapin air kelapa muda yang tidak terasa manis di lidahku.

Panasku tidak turun-turun sampai kemudian, adik manggil salah satu keponak’an yang punya profesi sampingan jadi guru silat dan punya keahlian mengurut yang sesuai dengan struktur otot. Aku belum pernah diurut oleh keponakan ini meskipun adikku bilang dia selalu minta diurut kalo’ badannya terasa tidak fit.

Malam itu pun aku diurut. Urutannya mengingatkanku urutan Pak Tan Ameh (Sutan Ameh) di daerah Sebanga, dekat pagar Duri field. Urutannya tidak terasa sakit dan yang dilakukan adalah menelusuri otot-otot tubuh. Urutannya enak, seperti diusap-usap meskipun aku lihat dia berkeringat selama ngurut. Akhirnya proses urut yang berlangsung hampir 1 jam ini selesai dan badannku langsung berkeringat sepeti mandi dan panasku langsung turun ke level yang normal. Luar biasa, kekuasaan Allah melalui kemampuan urutan badan bisa membuka sumbatan-sumbatan di otot dan pori-pori yang membuat bukan hanya keringat keluar tapi juga transfer panas terjadi. Besoknya kondisi badanku semakin fit dan aku pun sembuh total.

Yang menarik adalah….. koq bisa ya orang tua kena penyakit campak. Itu pertanyaan / pernyataan yang aku dengar dari keluarga tapi ya…itu yang aku alami dan aku bayangkan bagaimana rasanya balita kena campak. Untuk orang seusiaku pun sangat tidak nyaman apalagi untuk balita.

July 14, 2011

Komersialisme

Filed under: Umum banget, Pikiranku

Komersialisme? isme apaan tu? Dalam beberapa tahun belakangan, beberapa kali aku membaca mengenai prilaku masyarakat perkotaan yang digiring ke arah pola hidup konsumtif dengan iklan, pusat perbelanjaan dan segala hal yang mendorong bergeraknya perekonomian. Di satu sisi, pola hidup yang konsumtif ini kurang konstruktif tapi menjadi penggerak roda perekonomian yang luar biasa. Tapi posting ini tidak akan nulis mengenai mall dan yang sejenisnya tapi akan menyoroti perubahan pola kenduri yang berubah arah dari penjamuan ke arah usaha untuk mendapatkan financial gain . Kebiasaan baru yang aku anggap sebagai pergeseran nilai yang sangat tidak konstruktif….. :(

Di kampungku, jaman dulu, ketika seseorang memiliki hajat untuk kenduri, dia akan mengumpulkan sanak keluarganya dan berembuk yang menghasilkan pembagian tugas untuk mengundang dan sebagainya. Untuk persiapan acara, keluarga pun akan saling bahu-membahu membantu sesuai kemampuan masing-masing baik bantuan materi maupun bantuan tenaga. Bila yang punya hajat tidak memiliki piring yang cukup, piring-piring dari keluarga yang ada akan dikumpulkan supaya keperluan piring tercukupi, begitu juga untuk hal-hal yang lain.

Jaman dulu, tidak dikenal undangan yang dicetak. Untuk orang-orang yang ada di daerah sekitar tempat kenduri, undangan akan dilakukan dengan mendatangi para calon undangan sedangkan untuk keluarga atau orang yang akan diundang yang tempatnya jauh, undangan dilakukan dengan mengirim surat yang ditulis tangan dan berbahasa indah.

Saat mengundang, anggota keluarga yang diutus untuk mengundang akan mendatangi para calon undangan di malam hari setelah makan malam. Pengundang akan datang berpasangan - suami istri. Sang suami akan memulai undangan dengan menceritakan bahwa keluarga A memiliki hajat untuk menikahkan anak, menghitankan anak atau pun untuk kegiatan lain yang biasanya memerlukan proses 2 hari. Hari pertama akan mejadi hari masak memasak - di mana sayur mayur dan lauk pauk akan disiapkan dan hari kedua menjadi hari acara. Sang lelaki akan mengakhiri paparannya dengan mengatakan

"jadi kami nak ngajak seluruh keluarge di huma ini datang, merembaki (meramaikan) gawi dihi ni supaye sude".

Ungkapan ini kemudian akan disambung oleh sang istri dengan mengatakan

"Au, jadi jelahlah itu kakang/adeng/mamak/ibung/munting/wak/ume/unggang, kami tu minta keluarge di sini tu meramikan gawi dihi tu. Amun ade gawian minta tulong disudekan, amun ade makanan, minta tulong dimakani, amun ade……..dst" ==> dan ungkapan-ungkapan lain yang intinya minta dibantu kalo ada yang bisa dibantu (yang maknah tersiratnya kalo’ ada bantuan materi, tolong bantu materi, kalo’ ada tenaga, tolong bantu tenaga dsb…..

Di hari acara, para undangan pun akan datang dengan membawa beras, garam, gula, ayam atau mie, atau pun item-item lain yang mereka miliki dan bisa sumbangkan. Para bapak-bapak akan datang dengan membawa parang dan ibu-ibu akan datang dengan membawa pisau kecil untuk mengolah apa yang akan dimasak. Proses kerja yang dilakukan pada saat persiapan acara betul-betul menunjukkan sifat dan jiwa gotong royong. Ketika acara, tidak ada kebiasaan untuk memberikan uang dan tidak ada kotak untuk menampung uang yang disediakan.

Di awal dekade 2000an, aku mengamati pergeseran. Undangan yang dicetak mulai muncul menggantian proses "ngajak" (mengundang) dengan mendatangi. Piring-piring dan perlengkapan acara tidak lagi dikumpulkan dengan meminjam kepunyaan keluarga tapi sudah ada yang menyewakan perlengkapan ini. Cara makan yang dulunya dengan dihidangkan pun berubah dengan prasmanan, yang ditangkap oleh pelaku bisnis dengan munculnya bisnis penyewaan meja untuk tempat makanan (sesuatu yang dulu sangat tidak bisa dibayangkan dan memalukan kalo’ ada orang di kampung minta dibayar untuk sebuah meja yang dipinjam tetangganya untuk satu kegiatan). Di tempat penerimaan tamu sudah mulai disediakan kotak untuk menampung amplop (budaya baru yang diadopt dari kota) dari para undangan. Di luar itu, proses persiapan lauk-pauk dan makanan masih dilakukan dengan gotong royong.

Untuk hari pestanya, kalo’ dulu dilakukan siang malam lengkap dengan band dan orang-orang berjoget dan bernyanyi gembira sampai larut malam. Kemudian budaya pesta malam dihilangkan dalam rentang 20 tahun yang lalu karena sering menimbulkan akses negatif seperti anak-anak muda minum minuman keras dan kemudian ribut. Sejak muncul penomena organ tunggal, pestanya tidak lagi menggunakan band meskipun tetap acaranya hanya siang saja. Belakangan pestanya semakin meriah dengan ditampilkannya anak-anak menari sebagai selingan untuk lagu dan joget-joget yang ditampilkan.

Tapi ada pergeseran baru, di mana orang yang bernyanyi (bisa pengantin atau yang punya hajat), disawer dengan uang ketika menyanyi, anak-anak yang menari juga disawer. Selain itu muncul juga pergeseran yang mengarah pada komersialisme acara dengan menyiapkan kotak untuk penampungan uang yang langsung dihitung di tempat di ujung panggung tempat yang punya hajat duduk. Para undangan "secara psikologis" didorong untuk memasukkan uang ke dalam kotak ini di luar kotak amplop yang sudah disiapkan di tempat penerimaan tamu.

Penomena yang terlihat ini menarik dan menurutku mengarah pada proses menjadi hajatan sebagai event komersil; nuansa yang timbul bukan lagi penjamuan karena yang punya hajat ingin menyukuri rahmat yang diterimanya tapi bergeser menjadi usaha meraup keuntungan dari kenduri yang diadakannya.

Ngobrol dengan salah seorang yang ada di kampung, aku mendapat pemaparan bahwa semakin besar pesta yang diadakan akan memberikan keuntungan yang semakin besar untuk yang punya hajatan. Keuntungan yang paling sederhana adalah "surplus" dari bahan makanan yang dibawa para undangan di H-1 yang berupa beras, garam, gula, mie dan ayam. Semakin banyak undangan, semakin banyak sisa beras, sisa gula, sisa garam, sisa mie dan sisa ayam hidup yang bisa di-cash out setelah pesta.

Kotak amplop yang disediakan di tempat penerimaan tamu menjadi item "keuntungan" yang menarik meskipun tidak sebanyak kotak yang langsung dihitung di tempat yang disediakan di tempat bersalaman. Efek psikologis yang ditimbulkan proses "hitung ditempat" mendorong undangan untuk merogoh sakunya lebih dalam karena ada efek "malu" bila nominal yang dimasukkannya ke dalam kotak tidak cukup besar.

Pergeseran-pergeseran ini di satu sisi menjadi indikasi positif semakin baiknya perekonomian masyarakat yang didorong oleh harga karet yang melonjat tinggi dalam beberapa tahun terakhir tapi juga menjadi pergeseran nilai yang tidak konstruktif dan menghilangkan kebersamaan, menghilangkan semangat gotong royong, menghilangkan semangat untuk berbagi dan menimbulkan semangat mencari keuntungan dari setiap apa yang diberikan pada orang lain.

Sebuah catatan kegundahan atas penomena yang aku rasakan……. :(

July 13, 2011

Pernikahan; esensi, pamer atau lebay?

Filed under: Umum banget, Pikiranku

Menghadiri acara pernikahan selalu menarik dan selalu ada pelajaran-pelajaran menarik mengenai kehidupan yang bisa dipetik dari setiap proses yang dilalui. Gambaran sikap, prilaku dan juga nilai yang dianut pengantin atau pun keluarganya pun bisa dicerminkan dari proses dan segala aspek yang ditampilkan dalam proses pernikahan yang berlangsung.

Menghadiri acara pernikahan sering menimbulkan rasa syahdu dan titikan air mata kecil di pelupuk mata. Ketika acara pernikahan dilakukan dengan suasana dan nuansa yang sangat menyentuh, perasaan itu muncul. Ungkapan sayang orang tua dan ungkapan kegembiraan pasangan pengantin yang ditimpali dengan doa-doa yang dipanjatkan dalam prosesi yang terjadi sering menjadi pelengkap yang membuat suasana semakin syahdu dan membuat merinding…

Tapi tidak selalu acara pernikahan berlangsung dengan nuansa yang seperti itu. Ada juga pernikahan yang dilangsungkan dengan tidak memberikan kesan syahdu tapi justru menimbulkan kesan yang berkebalikan; ada kesan jengkel dan muak dengan sikap dan pola tingkah baik yang tersirat maupun yang tersurat, baik yang bisa langsung terlihat maupun yang agak tersamarkan ketika acara pernikahan berlangsung dengan tidak mengedepankan esensi tapi mulai mengarah pada pamer (seakan-akan) kaya atau pun (seakan-akan) memiliki status sosial tertentu yang sebetulnya hanya kamuflase yang tidak sempurna. Menghadiri acara pernikahan yang terkesan lebay sama sekali tidak menyentuh rasa dan sama sekali tidak membuat keharuan dan kesyahduan.

Pernikahan, menurutku, esensinya adalah ketulusan. Ketulusan seorang laki-laki untuk menerima tanggung jawab memimpin, membimbing dan menjadi pelindung bagi seorang perempuan. Ketulusan seorang perempuan untuk menerima seorang laki-laki menjadi tempatnya berbagi suka dan duka dalam kehidupan selanjutkan. Ketulusan orang tua mengalihkan tanggung jawabnya pada orang yang bukan keluarganya dan mengikhlaskan masa depan putrinya menjadi tanggung jawab seorang laki-laki yang akan menikahinya.

Pernikahan, landasannya adalah kejujuran, kelembutan dan keikhlasan. Kejujuran untuk menampilkan diri apa adanya dan tidak mengada-ada, kelembutan untuk menunjukkan kasih sayang dan keikhlasan untuk menerima semua hal yang baik maupun yang perlu diperbaiki dari orang yang dipilih menjadi pasangan hidup dan saling menguatkan serta keikhlasan untuk menerima satu keluarga besar yang baru untuk menjadi anggota keluarga yang lebih besar yang penerimaannya dibarengi tanggung jawab untuk menjaga keadilan, menjaga keseimbangan dan menjaga martabat kedua keluarga yang disatukan.

Tapi adakalanya, esensi pernikahan ini tidak terlihat dalam prosesi pernikahan. Yang dimunculkan justru pamer dan sikap lebay. Proses hantar-hantaran yang dilakukan bersamaan dengan proses melamar atau pun menjelang pernikahan adakalanya menjadi sarana pamer status ekonomi dan sosial (yang sering kali justru tidak menjadi tampilan sebenarnya tapi hanya merupakan kosmetik saja).

Ada pernikahan yang hantarannya dan standar kualitasnya sudah ditentukan oleh keluarga pengantin perempuan dengan tidak menimbang kemampuan pengantin laki-laki dan keluarganya. Ada juga hantaran yang sebetulnya sudah disiapkan oleh keluarga pengantin perempuan yang kemudian diminta untuk dibawa oleh keluarga pengantin laki-laki yang tujuannya hanya untuk menunjukkan bahwa sang putri yang dipinang menerima banyak item dari keluarga jejaka yang melamarnya yang tujuannya hanya supaya "enak" dipamerkan ke khalayak.

Kondisi yang pamer dan lebay seperti ini juga bisa ditunjukkan oleh pengantin laki-laki dan keluarganya. Keluarga pengantin laki-laki mungkin berhutang dalam jumlah yang besar untuk melangsungkan proses pernikahan baik karena diminta keluarga pengantin perempuan atau pun karena adanya keinginan untuk terlihat wah. Padahal berhutang untuk melangsungkan pernikahan, bukanlah sesuatu yang sejalan dengan esensi pernikahan dan esensi keislaman yang mengedepankan kesederhanaan dan kewajaran.

Pernikahan, bagiku, adalah cermin kehidupan yang harus menonjolkan esensi dan juga kejujuran diri. Pernikahan juga harus menjadi gerbang yang baik untuk menyatukan dua insan dan dua keluarga mereka dalam ikatan kekeluargaan dan silaturahmi yang erat di masa-masa setelah pernikahan. Silaturahmi yang erat ini hanya bisa muncul bila proses pernikahan dilakukan dengan mengedepankan keikhlasan dan sikap saling menghargai yang ditunjukkan dengan adat, budaya dan etika-etika yang ditunjukkan dalam prosesi pernikahan yang berlangsung.

Penentuan hantaran yang tidak sesuai dengan kemampuan, pelaksanaan pernikahan yang membuat salah satu keluarga terlilit hutang atau pun proses penerimaan tamu dan proses-proses yang tidak menunjukkan adat dan budaya dalam prosesi yang berlangsung tidak akan bisa menjadi gerbang yang baik untuk tumbuhnya saling percaya dan saling menghormati yang menuntun pada timbulkan silaturahmi dan kekerabatan yang erat antar dua keluarga yang terlibat pernikahan. Sikap-sikap seperti ini justru hanya akan menimbulkan fitnah dan saling curiga yang membuat pernikahan yang harusnya menjadi gerbang perbaikan hanyalah berakhir sebagai satu proses penyatuan dua insan dan tidak menyatukan dua keluarga besar menjadi satu keluarga baru yang lebih besar.

Sebuah catatan kecil dari beberapa proses pernikahan yang aku lihat yang mudah-mudahan menjadi pengingat untuk menjadi lebih baik

July 12, 2011

Silaturahim

Setelah lebaran tahun lalu, di komplek Sibayak, seperti tahun-tahun sebelumnya juga diadakan acara silaturahmi antar warga yang dikaitkan dengan suasana idul fitri. Ustad yang memberikan pencerahan agama saat itu bercerita mengenai maknah dan guna silaturahmi di samping cerita mengenai konsep menyambung hubungan yang terputus.

Ceramah yang disampaikan sangat konstruktif mengungkapkan konsep Islami di mana setiap orang diwajibkan untuk menjaga silaturahmi. Sesama muslim tidak diizinkan untuk tidak bertegur sapa karena saling membenci dan setiap muslim memiliki kewajiban untuk menyambungkan silaturahmi. Terkait keluarga, kewajiban yang sama juga berlaku, di mana setiap orang memiliki kewajiban untuk mengenal asal usulnya, mengenal silsilah keluarganya sehingga dia bisa mengetahui hubungan kekeluargaan yang dimiliki dengan orang lain. Juga digambarkan budaya yang baik yang sejalan dengan usaha mengentalkan hubungan kekerabatan di mana orang yang sudah mulai jauh hubungannya secara silsilah saling menikah untuk kembali mengentalkan hubungan kekeluargaan.

Dikaitkan dengan silaturahmi dengan jiran dan kenalan, juga digambarkan kewajiban anak untuk menjaga silaturahminya dengan orang-orang yang dikenal orang tuanya (meskipun orangtuanya sudah meninggal sekali pun) untuk memastikan hubungan baik yang dibangun orang tuanya tidak hilang.

Di masa lalu, aku selalu terheran-heran koq bisa ya, orang di generasi ke-3 sudah mulai renggang hubungan kekeluargaannya. Bapa dan ibu selalu menjaga hubungan kekeluarga dan sejak kecil kami dikenalkan dengan keluarga-keluarga yang punya hubungan silsilah baik yang masih dekat maupun yang sudah jauh. Bahkan dengan orang-orang yang kekerabatannya terhubung di 3-4 generasi di atas pun kami dikenalkan dan sopan santun dan cara memanggil pun dipandu sesuai dengan adat dan budaya yang berlaku. Tapi di masa kecilku, aku juga menemukan kondisi di mana orang yang baru generasi ke-2; sesama saudara kandung sudah mulai tidak akur. Ada juga yang di generasi ke-3. Kondisi yang sejujurnya tidak begitu bisa aku pahami.

Tapi seiring waktu, aku belajar bahwa memang tidak mudah untuk mempertahankan silaturahmi dan keeratan hubungan kekeluargaan karena dibutuhkan niat, sikap dan tindakan bukan hanya dari satu sisi tapi dari kedua sisi. Di generasi ke-3, aku mulai merasakan ada beberapa sepupu yang terasa tidak dekat lagi tapi ada juga yang sudah di generasi ke-4 bahkan generasi ke-5 yang aku merasa masih dekat.

Renungan dan pengamatanku berakhir pada beberapa aspek yang mempengaruhi kondisi ini yang penyambungannya memerlukan niat, itikat dan prilaku positif dari semua pihak yang terkait. Ada beberapa kondisi yang bisa menyebabkan perenggangan terjadi, antara lain:

  1. Dek katek care (tidak punya cara / etika). Dalam berhubungan, ada cara, etika, tata krama dan budaya dan adat yang berlaku yang perlu dipraktekkan dan dijalankan. Celakanya, tidak semua keluarga mengajarkan cara, etika, tata krama, adat dan budaya ini pada anak-anaknya. Ketika kemudian terjadi perbedaan pemahaman dan praktek mengenai hal-hal ini, timbul friksi baik yang jelas terlihat atau pun yang tidak terlihat tapi tersimpan di hati yang secara perlahan membuat hubungan merenggang. Ketika adatnya, orang berkunjung pada yang lebih tua dan menunjukkan sopan santun dan tata krama tertentu saat bertemu dan tidak dipraktekkan, kondisi ini pun bisa menjadi sebab pergeseran rasa yang secara perlahan merenggangkan silaturahmi.
  2. Njauh (menjauh). Hubungan kekerabatan dan silaturahmi hanya bisa dibangun bila ada keinginan untuk saling mendekat. Ketika ada yang menjauh, sisi yang lain mendekat supaya tetap dekat. Tapi bila kondisi ini berlangsung terus menerus, secara perlahan tapi pasti, pihak yang tadinya mendekat pun secara perlahan akan mulai menjauh. Dari diskusi dan juga dari pengamatan, ada beberapa faktor yang menyebabkan kondisi ini terjadi, antara lain faktor ekonomi, faktor strata sosial, faktor kematangan berpikir dan bertindak. Tapi akarnya selalu karena faktor psikologis yang hubungannya bisa bermacam-macam termasuk yang paling parah adalah faktor inferior complex yang menjadi penyakit kejiwaan yang bisa saja melekat.

Di luar kedua hal ini masih banyak faktor lain yang berpengaruh pada erat renggangnya hubungan kekeluargaan, dan kesamaan niat dan itikat perlu dipertahankan untuk membuat silaturahmi tetap terjalin.

Laki-laki

Filed under: Pikiranku

Ada kesamaan harkat wanita dengan laki-laki; keduanya adalah makhluk Allah yang diciptakan dengan kelebihan dan kelemahan yang saling menutupi. Keduanya diciptakan untuk saling menjaga dan keduanya diciptakan untuk saling mengasihi.

Namun dalam keduanya ada tugas dan tanggung jawab yang berbeda yang seharusnya dijalani dengan ikhlas dan kesadaran bahwa ada nilai keimanan dari tingkah laku dan pelaksanaan tugas yang dilakukan dalam kehidupan. Nilai keimanan seseorang tidak hanya dilihat dari seberapa sering dia beribadah, tidak hanya dilihat seberapa khusus dia beribadah tetapi juga dilihat dari seberapa baik dia menjalani hidupnya sesuai dengan kondratnya sebagai seorang manusia; sebagai laki-laki atau sebagai seorang perempuan.

Mengamati kehidupan, aku ingin menulis mengenai laki-laki dan bagaimana seharusnya laki-laki bertindak dan menjalani kehidupannya, juga mengenai bagaimana seorang laki-laki memperlakukan perempuan:

  • Laki-laki seharusnya tidak cengeng. Tidak mudah merasa sulit, tidak mudah merasa berat, tidak mudah merasa susah. Seorang laki-laki harus melihat kehidupan dengan optimis dan menjalani kehidupan ini dengan penuh semangat; tidak mudah berkeluh kesah.
  • Laki-laki seharusnya bekerja giat dan tidak menghabiskan waktunya dengan berleha-leha. Seorang laki-laki harus lebih banyak menggunakan waktunya untuk berikhtiar; mencari nafkah untuk keluarganya dengan tetap menjalankan tugasnya membimbing keluarganya menjalani nilai-nilai agama.
  • Seorang laki-laki, tidak seharusnya terlalu banyak duduk, tidur atau pun istirahat ketika banyak pekerjaan yang bisa dilakukannya di sekitarnya.
  • Seorang laki-laki seharusnya tidak membiarkan perempuan melakukan satu pekerjaan ketika dia tidak melakukan apa pun.
  • Seorang laki-laki seharusnya menjadi tulang punggung keluarganya dan bukan menjadi orang yang mengandalkan istri atau pun orang lain dalam menggawangi proses-proses yang terjadi di keluarganya.
  • Ketika ada masalah, seorang laki-laki harus menempatkan diri menjadi seorang pemimpin dan berdiri paling depan mengatasi masalah yang ada dan tidak bertopang tangan membiarkan orang lain mengatasi masalah yang ada; baik istri, anak, keluarga atau pihak lain.
  • Seorang laki-laki tidak manipulatif dan tidak memanfaatkan orang lain untuk keuntungannya.

Di luar semua itu, seorang laki-laki harus menempatkan diri sebagai panutan positif untuk istri dan anak-anaknya. Setiap tindak tanduknya harus dijaga dalam koridor yang positif untuk ditiru oleh orang-orang yang dipimpinnya (istri dan anak-anaknya).

Selain itu, seorang laki-laki harus menjadi pembimbing bagi istri dan anak-anaknya untuk menjadi pribadi-pribadi yang konstruktif. Bila ada prilaku istri atau pun anaknya yang belum baik, seorang laki-laki harus melakukan langkah yang benar untuk meluruskan yang belum baik ini.

sebuah catatan kecil yang semoga menjadi pengingat untuk diriku sendiri juga anak dan istriku.

Mitigation Plan

Filed under: keluargaku

Dari 3 anak yang kami punya, sebetulnya ketiganya biasa jalan jauh dengan mobil. Tapi si bungsu Ananta punya kebiasaan unik yang membuat Dewi selalu nyiapkan ember hitam kecil lengkap dengan gayung, juga persiapan bantaj air dalam botol untuk antisipasi muntah atau pun keperluan lain.

Ada 2 kebiasaan unik Ananta; yang pertama pura-pura muntah yang seringnya justru jadi muntah beneran. Kalo’ jalan naik mobil, dia mulai akan berulah seakan-akan masuk angin dan pura-pura mau muntah. Biasanya, begitu dia mulai bertingkah seperti ini, Dewi akan mendekatkan gayung air yang hijau yang sudah disiapkan itu ke dekat mulutnya dan proses ini akan diakhiri dengan Ananta yang membuang air liurnya ke dalam gayung. Tapi, adakalanya, Ananta memang muntah beneran. Dan untuk kasus ini, gayung kecil pun akan diback-up dengan ember hitam kecil yang memang sudah disiapkan. Bila ini terjadi, prosesnya akan diakhiri dengan berkumur yang airnya juga dibuang ke dalam ember. Biasanya, mobil akan langsung berhenti dan isi ember dibuang dan dibersihkan sebelum perjalanan dilanjutkan.

Untuk kencing pun, ada mitigation plan yang sudah disiapkan bila Ananta minta kencing di tempat yang tidak meyakinkan untuk berhenti. Biasanya, Dewi sudah menyiapkan botol kosong yang langsung didekatkan ke penis Ananta dan proses BAK pun berlangsung sempurna dan botolnya dibuang keluar mobil tanpa perlu mobil berhenti.

Kalo’ BAB? Mitigation plannya juga sudah tersedia. Bila Ananta minta BAB di lokasi yang tidak ada fasilitas untuk itu, yang dilakukan adalah, Ananta diminta duduk di atas gayung hijau dan proses BAB dlakukan. Setelah proses BAB selesai, baru kemudian mobil berhenti dan proses cebok dan pembersihan lainnya dilakukan.

Mitigation plan yan simple kan? Tapi dari ketiga anak yang kami miliki, kayaknya cuma Ananta yang paling sering memanfaatkan proses yang sudah disiapkan ini. Adeanna dan Dhyaksa relatif sangat jarang menggunakan proses ini ketika mereka masih seumur Ananta. :)

Pelayan

Filed under: Pikiranku, Perasaanku.

Banyak usaha yang terkait dengan service atau pelayanan yang kemudian menjadi ladang perputaran uang yang berskala kecil atau pun berskala besar. Pelayanan dan service menjadi salah satu parameter penting dari "jasa" yang dijual. Bisa dalam hal pelayanan reservasi taxi, pelayanan reservasi rumah sakit, pelayanan di restaurant, pelayanan di resepstionist hotel dan sebagainya. Kualitas pelayanan akan menjadi parameter pertama yang dinilai.

Dalam perjalanan cuti kali ini ada beberapa catatan penting soal pelayanan yang ingin aku dokumentasikan:

  1. Di Pekanbaru, setelah tiba dari Duri, kami makan malam di "Iga-Iga Bakso" sebuah tempat makan yang tampilannya menarik, dengan halaman parkir yang luas, restaurant yang menyenangkan, harga makanan yang bersaing dan banyak catatan lain. Begitu masuk ke restaurant ini, seorang pelayan langsung mendekat dan mulai menjelaskan menu dan hal-hal lain yang sebetulnya mengarahkan konsumen untuk membeli apa yang dia rekomendasikan. Niat awalnya sih, aku cuma mau makan bakso iga aja dan anak-anak pengen makan nasi goreng tapi kemudian yang terjadi justru yang kami pesan adalah menu makan sempurna lengkap dengan 2 porsi ikan gurami; satu goreng dan satu asam manis, satu porsi ayam, satu porsi sayur dan beberapa pernik lain yang sama sekali berbeda dengan apa yang direncanakan. Pelayanan dan kelihaian sang pelayan mengarahkan konsumen memesan (tanpa membuat sang konsumen merasa dipaksa) menjadi catatan penting betapa pelayan menjadi salah satu kunci keberhasilan proses service. Biaya yang dikeluarkan pun akhirnya jauh lebih tinggi dibandingkan rencana tapi puas….
  2. Sudah beberapa kali perjalanan darat, kami selalu singgah di Belilas, memesan ayam panggang di sebuah tempat makan dengan embel-embel "khas Bandung". Yang menarik dari tempat makan ini adalah ayamnya yang cukup besar, nasinya yang empuk (meskipun biasanya tidak lama setelah makan, sudah mulai terasa lapar lagi. Catatan kurang sedap mengenai tempat makan ini adalah kebersihan tempatnya yang sangat terbatas dan rest-roomnya yang tidak bersih. Waktu pulang sekali ini, kami pun mau mampir di sini untuk ‘Brunch’ dan akhirnya kecewa berat karena ternyata meskipun waktu masuk dan nanya sudah siap atau belum pelayannya bilang sudah siap dan hanya perlu waktu sebentar untuk menyajikan. Ternyata sampai setengah jam kemudian baru ketahuan kalo’ mereka belum punya persiapan apa pun; arang baru mau dibakar (berarti ayamnya masih butuh waktu lagi untuk dibakar…., bahkan air teh hangat yang diminta pun sampai setengah jam belum dibuat…. Pelayanan yang buruk yang seharusnya tidak terjadi; kalo’ memang belum siap, lebih baik bilang belum siap daripada mengecewakan konsumen yang harus kehilangan waktu menunggu tanpa kepastian…
  3. Di Jambi, kami sempat mampir ke 3 hotel utama yang ada - Novotel yang "katanya" sekarang sudah berubah nama jadi Novita(?), ke Abadi Suit dan ke Ratu Resort dan dapat jawaban kalo’ semua kamar fully booked. Karena itu kami mutar-mutar di Jambi sampai ja 8 malam mencari kamar hotel sampai akhirnya check-in di hotel Matahari. Kualitasnya masih seperti dulu juga; sederhana dan seadanya tapi sesuai dengan rate hotelnya yang murah meriah. Waktu nunggu sarapan, ternyata….bihun goreng yang sudah dimasukkan ke dalam piring….tapi secara umum, menurutku cukup oke dengan rate yang mereka punya… :)
  4. Karena sarapan di hotel Matahari tidak memuaskan, kami pun keliling Jambi ncari sarapan dan ternyata…..nyari sarapan di Jambi tetap tidak cukup mudah sampai kemudian waktu bergerak mengarah ke Palembang, aku melihat ada sebuah toko kopi (yang ternyata lokasnya persis di depan hotel Matahari) yang njual Burgo. Kami pun mampir dan memesan 5 porsi burgo. Harganya murah meriah, hanya 6-7 ribu per porsi dan rasanya cukup lumayan… Pelayannya juga menarik penampilannya dan baik (buktinya ada orang yang beli satu porsi dan memberikan uang bernominal besar dia gratiskan meskipun orang itu kemudian tidak mau digratiskan dan memberikan nominal yang pas). Catatan khusus mengenai pelayaran tempat makan ini adalah service-nya yang kurang optimal. Setelah menerima pesanan dia tetap ngobrol dengan memegang handphone di tangan kiri saat menyiapkan pesanan bahkan waktu menyajikan pun, ngobrol di telephone dengan tangan kiri itu pun masih tetap dilanjutkan…..Akibatnya……waktu penyajian jadi lama dan bikin kurang nyaman…….
  5. Sampai di Betung, kota kedua sebelum masuk Palembang, hari sudah jam 12 siang dan kami pun memutuskan makan siang. Sebetulnya waktu di Sungai Lilin ada tempat makan yang tampilannya kurang menarik meskipun rasa makanannya oke tapi karena waktu lewat Sungai Lilin belum waktu makan, kami putuskan makan di Betung. Kami pun masuk ke sebuah restaurant yang paling baik tampilannya. Sebuah restauran dengan atap bagonjong besar. Makanan pun dihidangkan (dengan cara yang bahkan tidak sebaik rumah makan pinggir jalan) dan ternyata…sayur nangka yang disajikan terasa seperti sayur nangka yang sudah berhari-hari disimpan. Nasi yang disajikan pun sudah tidak segar…… Waktu membayar, harganya aduhai….sangat tidak sesuai tampilan, rasa dan harga…. :(
  6. Di Palembang, kami mampir di sebuah warung pempek pinggir jalan di daerah Way Hitam, tidak jauh dari MAN 3 Palembang. Tempatnya sangat sederhana tapi banyak mobil bagus parkir di sini. Harga makanannya murah meriah; model 6 ribu per porsi, pempek 1750 per buah, pokoknya oke punya deh. Rasanya pun oke. Dari sisi pelayanan, ramah, bersih ditambah rasa dan harga yang menarik, menurutku ini paduan yang aduhai yang bisa membuat orang kepincut (buktinya banyak pemilik mobil bagus yang makan di sini).
  7. Di hari yang lain, kami makan di jalan Veteran, tempat makan pinggir jalan (tanpa tenda). Hanya meja kursi yang dihamparkan di depan ruko-ruko yang sudah tutup di waktu makan. Tempat makan seafood yang tampilannya tidak menarik tapi menurut adikku makanannya oke punya. Kami pun mampir dan memesan dan menurutku, kualitas layanannya baik, harganya oke dan rasanya oke. Yang menarik adalah banyaknya orang yang antri untuk dapat tempat duduk karena memang kursi dan mejanya terbatas. Menurutku antrian ini bukan hanya karena rasa dan harga tapi juga karena kenyamanan hati karena kualitas pelayanan.
  8. Waktu pulang ke Duri, kami nginap di Jambi dan nginap satu-satunya hotel top Jambi yang kami belum pernah nginap. Hotel di pinggir danau Sipin ini terkesan menarik dari luar dan ternyata…. pelayanannya sangat tidak memadai. Dimulai dari cara komunikas reseptionist yang tidak optimal dan terkesan kurang ramah, kualitas kamar yang sangat minim ditambah lagi prilaku pelayanan; ada perempuan sipit yang mengenakan pakaian tidur yang terlihat akrab dengan reserptionist nongkrong di area penerimaan tamu.. Situasi yang kurang optimal menurutku.
  9. Setelah ngantri BBM di POM bensin sampai sedikit lewat jam 11.00 di jalan Prof Sumatri Brojonegoro (wuih….sampai inget nama jalannya saking lamanya ngantri :) ), kami memulai perjalanan ke Pekanbaru. Sejak dari jalan bypass (sesuai arahan polisi karena jalan yang normal di-blok), kami mencari tempat makan dan tidak menemukan satu pun hingga kami melewati jembatan yang menghubungkan kedua sisi sungai Batanghari. Perjalanan pun dilanjutkan dengan satu-satunya harapan, akan menemukan warung nasi atau restaurant di Sengeti, kota pertama setelah Jambi. Begitu masuk Sengeti, mata pun sibuk melihat-lihat sampai kemudian ketika melewati simpang tiga yang salah satunya menuju pasar Sengeti, Dewi ngasih tahu kalo’ barusan di seberang jalan ada warung nasi yang buka; tidak bagus tapi kelihatannya bersih. Mobil pun diputar dan kami singgah ke warung ini. Hal pertama yang aku lakukan adalah meminta izin ke kamar belakangnya dan menemukan kalo’ wc-nya bersih. Ruang belakang di antara wc dan tempat makannya pun bersih. Hidangan pun disajikan di meja yang sederhana tapi bersih. Nasinya terlihat segar begitu pula ayam dan lauk lainnya. Kami pun makan dengan lahap, senang di perut, nyaman di hati, enak di lidah pokoknya :) . Proses makan pun selesai, dengan sopannya istri pemilik warung meminta suaminya menghitung dan dengan takjub dan heran aku perlu meminta abang pemilik warung itu menyebutkan lagi harga yang harus dibayar untuk 6 potong ayam, sayur, sambel dan nasi yang kami makan (tanpa nas tambahan). Aku terperangah karena harga yang harus dibayar hanya Rp40,000. Harga yang luar biasa yang sempat membuatku berpikir apakah penjualnya untng dengan harga begitu? Di luar rasa masakannya yang nikmat (yang dalam bahasa Adeanna lebih enak daripada masakan di restaurant Sederhana…. - padahal Adeanna selalu minta makan di Sederhana kalo’ lewat Jambi), tempatnya yang bersih, penataan meja yang rapi dan harganya sangat murah meriah, aku melihat kualitas service yang ditunjukkan pemilik warung ini merupakan salah satu hal yang sangat menarik dan luar biasa. Semoga pemilik warung ini mendapatkan rezeki berlimpah dan usahanya berkembang pesat, dan semoga pemilik warung ini akan tetap istiqomah dengan pelayanan yang ditunjukkannya kemarin.

Masih ada beberapa catatan kecil soal pelayanan yang bisa ditulis tapi yang aku pengen highlight adalah bisnis service seharusnya mengedepankan pelayanan yang sesuai dengan kultur dan budaya setempat. Pelayanan yang baik bisa menjadi kunci kesuksesan yang terkadang belum dioptimalkan oleh para service provider….

Jangan Kejar

Filed under: keluargaku

Posting kali ini dan beberapa posting ke depan akan jadi dokumentasi perjalanan Duri-Pekanbaru-Jambi-Palembang-Kedaton-Baturaja (p.p) dalam masa cuti yang lalu.

Perjalanan dimulai tanggal 21 Juni sore. Sepulang kerja, langsung berangkat ke Rumbai, nginap di wisma Sungkai untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Jambi besok harinya. Nginap satu malam di Jambi dan besoknya, tanggal 23 Juni, langsung menuntaskan perjalanan ke Palembang.

Catatan pertama mengenai perjalanan ini adalah ungkapan, "Jangan Kejar" yang selalu diucapkan Ananta setiap kali aku mulai menaikkan gear mobil dan penambahan kecepatan mobil. Ungkapan ini sebetulnya lebih merupakan peringatan supaya aku tidak ngebut tapi diucapkan dengan "Jangan Kejar".

Dhyaksa dan Adeanna pun memperbaiki ungkapan ini dengan ungkapan yang lebih tepat sebagai proses belajar untuk Ananta

June 19, 2011

Mangga

Filed under: Pikiranku

Bercocok tanam merupakan salah satu hal yang menjadi ciri khas masyarakat pedesaan. Aku mengenal padi dan sawah juga kebun jeruk dan kebun karet sejak aku masih sangat kecil. Waktu umur 8 -9 tahun, aku sering ikut-ikutan bapa, membantu beliau menebas belukar di ‘Danau Besak’ waktu beliau membuat kebun jeruk yang baru.

Bertanam dan menanam menjadi sesuatu yang menarik dan menyenangkan. Waktu pindah rumah pertama kali di Duri ke Kerinci # 36, aku menanami belakang rumah kami dengan jagung yang bibitnya "katanya" tongkol dua. Jagungnya tumbuh meskipun tidak subur. Seingatku tingginya cuma sekitar 60 - 70 cm dan buahnya kecil-kecil tapi cukup menyenangkan untuk dimakan.

Setelah 6 bulan tinggal di rumah Kerinci # 36, kami pun pindah ke krakatau. Setelah pindah pun aku menanani lahan di belakang dapur dengan singkong. Tanahnya dicangkul, digemburkan dan ditanami singkong. Saat tukang potong rumput datang, potongan rumputnya disebar di areal ini sebagai pupuk. Singkongnya pun tumbuh subur dan besar-besar umbinya.

Di rumah ini, aku juga menanam 1 batang pohon mangga dan 1 batang pohon durian yang aku beli dari tempat penjualan bibit yang sekarang sudah berubah jadi lokasi rumah teman Adeanna di luar gate sibayak tidak jauh dari kantor lurah (yang pernah aku tulis di blog ini juga). Aku juga menanam 1 batang pohon mangga lain yang tumbuh dari biji. Mangga-mangga ini tumbuh seperti seharusnya sementara pohon duriannya kerdil.

Kurang dari 5 tahun menghuni rumah di komplek krakatau, kami pun pindah ke Sibayak. Pohon-pohon mangga dan durian ini pun tetap dibiarkan di sana. Duriannya aku lihat kemudian mati sementara pohon mangganya berbuah setiap tahun, cukup lebat meskipun batangnya tidak begitu besar. Sampai beberapa waktu lalu, aku lewat rumah itu, aku masih melihat pohon mangga itu berbuah.

Tapi kemarin sore, kami sekeluarga lewat rumah itu lagi dan aku tidak melihat kedua pohon mangga itu. Yang aku lihat hanya 2 buah tunggul kecil. Pohon itu sudah ditebang. Hilang sudah footprint keberadaanku di Duri. Hilang sudah kesenangan melihat buahnya bergelantungan di pohonnya yang kecil. Ada kesedihan yang muncul karena aku tadinya mengharapkan pohon-pohon ini tetap tumbuh dan tetap memberikan manfaat pada orang atau pun hewan di sana. Tapi ternyata….itu cuma impian.

June 18, 2011

Pembelajaran

Di masa kecilku, bapa membangun karakter kami dengan berbagai cara; lewat contoh sikap dan perbuatan yang beliau lakukan seperti bekerja keras, tidak mengedepanku gengsi dalam berprilaku, disiplin, berani menentang arus, berani mengatakan hal yang diyakini meskipun harus berhadapan dengan gelombang yang bertentangan.

Kami juga mendapatkan pembangunan karakter itu melalui berbagai lagu yang mengajarkan cinta pada tanah air, cinta pada kebenaran, cinta pada keluarga, cinta pada kampung halaman dan lagu-lagu bernuansa cinta yang penuh dengan pengabdian dan keikhlasan.

Cara lain yang beliau gunakan untuk membangun karakter kami adalah dengan menceritakan perjalanan hidupnya; menceritakan lika-liku kehidupan yang beliau jalani. Tantangan kehidupan yang beliau alami ketika masih SR (sekolah rakyat); bagaimana beliau sekolah menempuh perjalanan beberapa kilometer melewati hutan untuk mencapai sekolah, tanpa alas kaki dan pakaian seadaanya - menghadapi ejekan, penghinaan dari orang-orang yang punya keberuntungan lebih dan dengan tegar menjalaninya dan membuktikan bahwa hasil tidak tergantung pada keturunan, hasil tidak bergantung pada status sosial, hasil tidak bergantung pada status ekonomi. Beliau bisa membuktikan diri jauh lebih unggul dibandingkan teman-temannya, menjadi juara 1 terus bahkan bisa selesai SR satu tahun lebih cepat dari normalnya karena waktu beliau masih di kelas 5 beliau diizinkan untuk ikut ujian dan lulus dengan predikat terbaik.

Beliau juga menggambarkan bagaimana cara beliau menghormati guru, cara beliau menunjukkan penghargaan pada para pendidiknya, bagaimana beliau disayangi guru dan diberi petunjuk; arahan ke mana beliau perlu bergerak untuk kemajuannya. Dengan segala keterbatasan ekonomi, kepala sekolah (guru besar istilahnya jaman itu) menyarankan beliau masuk SGB, sekolah guru dengan fasilitas beasiswa ikatan dinas. Sekolah yang memberikan bukan hanya fasilitas sekolah tapi juga gaji bulanan untuk biaya hidup selama sekolah. Ada pilihan lain? Untuk urusan sekolah, tidak ada pilihan lain karena tidaklah mungkin bagi beliau untuk masuk sekolah yang harus membayar. Kondisi ekonomi sangat tidak memungkinkan untuk mengambil pilihan lain kecuali ikatan dinas.

Di saat lain, bapa menceritakan bagaimana beliau mendebat materi pelajaran yang dipaparkan gurunya yang salah dan setelah perdebatan yang panjang dengan mengeluarkan argumen dan referensi-referensi akhirnya gurunya mengakui kalo’ materinya salah. Di waktu yang lain beliau menceritakan bagaimana beliau tidak menyelesaikan 4 tahun di SGB-nya tapi hanya 3 tahun karena mendapat beasiswa lanjutan untuk masuk ke SGA.

Cerita yang beliau kisahkan ke kami tidak selalu mengenai glory. Ada kalanya cerita yang dikisahkan justru hal-hal konyol yang juga menjadi pelajaran bagi kami. Di satu waktu, beliau menceritakan bagaimana beliau mencoba menanamkan kemampuan berbahasa Indonesia dengan memaksa muridnya di satu daerah yang tidak jauh dari Baturaja untuk selalu menggunakan Bahasa Indonesia saat berbicara dengan beliau. Situasi yang tentu tidak mudah mengingat penduduk di daerah itu berbicara dengan bahasa Ogan (anak bahasa melayu) dan sebagian lain justru berbicara dengan bahasa lampung/ranau yang sama sekali tidak sejalan dengan bahasa Indonesia. Di satu waktu, beliau diundang untuk hadir di jamuan makan dan seorang murid diminta menjemput. Yang terjadi adalah…..sang murid bukan mengatakan kalo’ dia diminta untuk menjemput dan mengantar gurunya ke tempat jamuan tapi justru muridnya hanya diam karena tidak punya keberanian berbicara bahasa Indonesia. Pelajaran menarik bagaimana suatu niat positif harus disesuaikan teknis pelaksanaannya dengan kondisi aktual yang dihadapi.

Banyak hal yang beliau ceritakan; baik yang positif maupun yang negatif. Baik mengenai pengalaman hidup yang beliau jalani, atau pun perjalanan hidup orang-orang yang kami kenal. Semua itu menjadi pelajaran yang membantu proses pembelajaran kami untuk berjalan dengan langkah yang sama dengan yang beliau jalani dengan kualitas dan proses yang mudah-mudahan lebih baik dari apa yang pernah beliau jalani.

Semoga bapa dan juga ibu, di masa tua mereka berdua selalu diberkahi dengan kebahagian dan semoga selalu dalam lindungan keselamatan Allah di dunia dan di akhirat. Amiin..

June 15, 2011

Phobia

Filed under: keluargaku

Eh, ejaannya bener nggak ya? Ketakutan itu merupakan bagian dari kehidupan manusia dan bukan sesuatu yang istimewa. Setiap orang memiliki sesuatu yang ditakutkan. Tapi aku bukan ahli psikologi jadi nggak punya kapasitas untuk nulis soal phobia ini.

Yang ingin aku tulis justru mengenai Ananta yang punya kecenderungan sakit setiap kali mau cuti. Setiap kali ada rencana cuti, Ananta jadi orang pertama yang akan bikin statement, "naik cayat ya.." - maksudnya naik pesawat; statement yang kemudian biasanya langsung diikuti oleh saudara-saudaranya yang lain dengan antusias. Kalo’ kemudian memang cutinya naik pesawat, tidak ada masalah yang timbul tapi kalo’ planning cutinya jalan darat, tantangannya pun dimulai. Tantangan pertama adalah membuat Adeanna dan Dhyaksa berhenti menggaungkan permintaan Ananta untuk naik pesawat. Biasanya sih, tantangan pertama ini bisa di-clear-kan dengan tidak begitu sulit. Yang justru jadi masalah justru tantangan kedua.

Kalo’ kemudian keputusannya tetap naik mobil, Ananta punya kecenderungan sakit justru menjelang cuti. Waktu bulan desember tahun lalu mau cuti, Ananta sakit. Menjelang cuti yang sekarang pun dia sakit. Dua minggu lalu, dia sakit karena ada bakteri. Tahu-tahu kemarin sore dia nelphone ke kantor dan ngomong, "Papi, adek panas" yang ternyata memang dia panas. Tadi malam, suhunya naik sampai lebih 40 derajat dan aku bawa ke emergency untuk mendapat treatment. Setelah diberi obat dari annus dan juga 2 obat lain yang diminum, Ananta diobservasi kira-kira 90 menit hingga hampir jam 10 malam, Ananta diizinkan pulang setelah suhunya turun ke 38.8 derajat.

Aku belum bisa menyimpulkan apakah ada korelasi antara sakit yang dialami Ananta dengan keengganannya cuti jalan darat atau gimana. Yang jelas, kalo’ sakitnya berlanjut, sepertinya cuti ini perlu dipikirkan lagi atau bisa dijadi dijadwal ulang.

June 13, 2011

How many children?

Filed under: Umum banget

Monitor facebook memang mengasyikkan. Ngamati pola pikir dan juga ekspresi yang diungkapkan yang secara langsung atau pun tidak langsung menampilkan sifat, pandangan hidup, value atau pun budaya yang diusung seseorang.

Monitor beberapa group sekolah atau pun komunitas lain, hal yang sama juga terlihat dan satu pertanyaan yang cukup sering aku baca saat seseorang baru connect dengan orang yang sudah dikenalkan lama tapi cukup lama tidak bertemu, “la berapo anak sekarang?”. Satu pertanyaan yang sangat lumrah meskipun terasa agak mengganggu. Mengapa harus menanyakan berapa anak? Bukankan belum tentu orang yang ditanyai sudah punya anak? Bukannya belum tentu yang ditanyai sudah menikah? Terus essensi pertanyaan ini apa? Hanya untuk jadi obrolan yang tidak berujungkah? Tidakkan lebih baik menanyakan pertanyaan lain atau mendiskusikan hal lain saja….

Menarik sih, meskipun aku kurang suka…. tapi di situ lah terletak value dan budaya.

June 12, 2011

Packing

Filed under: keluargaku

Jatah liburan 31 hari kerja per tahun memang mengasyikkan meskipun beberapa tahun ini lebih rumit untuk mencocokkan hari cuti dengan waktu sekolah anak-anak. Aturan sekolah yang mengharuskan izin langsung ke kepala sekolah bila anak tidak masuk sekolah juga membuat lebih tidak nyaman untuk "meliburkan" anak-anak di masa sekolah untuk cuti. Di sisi lain, untuk anak-anak sendiri tidak mudah untuk kembali beradaptasi dengan progres belajar di sekolah kalo’ sudah sempat tidak masuk beberapa hari karena begitu dinamisnya program belajar yang ada.

Komposisi team yang cenderung homogen (secara keyakinan) jadi salah satu faktor lain yang membuat pengaturan cuti lebih komplek karena semuanya punya kepentingan untuk cuti di hari raya keagamaan yang sama. Yang terjadi kemudian, terpaksa harus dibuat aturan main yang jelas; bergantian cuti lebarannya, tahun ini cuti lebaran tahun depat tidak dan sebaliknya. Kompensasinya juga jelas, yang dapat hak cuti waktu lebaran harus merelakan tidak cuti waktu liburan kenaikan kelas. Menariknya, tahun ini masa liburan kenaikan kelas hanya berselang kurang lebih 1 bulan dari masa menjelang lebaran.

Karena tahun lalu sudah cuti waktu lebaran, dengan ikhlas meskipun dengan terpaksa, aku pun harus merelakan untuk tidak cuti lebaran dengan kompensasi aku dapat cuti waktu liburan. Dan seperti biasa, Dewi sudah menyiapkan checklist untuk liburan jauh hari sebelumnya dan proses packing juga sudah dilakukan jauh hari sebelum mulai libur. Kebiasaan positif yang terbangun dari masa kecilnya.

Yang menarik adalah Ananta juga ikutan packing dan tidak mau diatur. Dia mengatur sendiri personal item-nya yang akan dibawa dan ngotot tidak mau menggabungkan personal belonging-nya dengan punya orang lain. Ananta ngotot menggunakan tas sendiri. Bahkan dia bukan hanya menggunakan 1 backpack tapi 2 sekaligus.

Seperti biasa, kalo’ packing, pakaian tidak hanya dilipat tapi digulug setelah dilipat. Proses yang aku belasan tahun yang lalu dengar dari salah satu teman satu wisma waktu lajang yang gunanya membuat pemanfaatan ruang dalam tas / koper menjadi lebih optimal. Jumlah pakaian yang bisa dimasukkan ke dalam tas / koper menjadi lebih banyak daripada kalo’ hanya dilipat saja. Yang paling penting adalah pakaiannya tetap rapi.

Waktu ngecek backpack hasil kerja Ananta, aku dan Dewi terperangah; kami menemukan kalo’ proses kerja yang dilakukan anak yang umurnya belum 3 tahun ini sangat rapi. Dia melipat dan menggulung pakaiannya dengan sangat rapi dan disusun dengan sangat rapi ke dalam backpack-nya. Waktu pakaian dikeluarkan Dewi, terlihat baju dan celana-celana itu tetap rapi. Anak ini menyelesaikan proses packing-nya dengan sangat baik. :)

May 29, 2011

Dhyaksa on Stage

Filed under: Umum banget, keluargaku

Sejak tanggal 1 Mei lalu, SLN operation ngadain event tahunan yang dinamai "SLN Sport Meet". Semua team di SLN berpartisipasi dalam event-event olahraga maupun seni yang ditampilkan; mulai dari pertandingan domino, volley, tennis, pingpong, golf, paintwar, badminton, HES Quiz maupun team performance yang menampilkan drama, kabaret, atau pun pertunjukan lain yang dinilai dengan kriteria yang sudah ditetapkan.

Setelah sebulan suntuk, hari ini penutupannya pun diadakan di Widuri Club dengan menampilkan art performance dari semua team. EQR team yang dalam event ini disebut team Sulawesi menampilkan cerita mengenai seorang pegawai perusahaan minyak bernama OILudin yang kesepian dan meninggalkan kerja tanpa izin; berlayar mencari jodoh. Di perjalanan OILudin terhempas di batu karang dan terdampar di pulau yang dikuasi perompak. OILudin pun dipaksa menikah dengan anak perompak yang jelek dan penampilannya mengerikan.

Cerita ini diakhiri dengan proses penyelamatan OILudin oleh team ERPudin yang diikuti dengan proses reparasi putri perompak yang berubah jadi cantik dan mempesona. OILudin yang tadinya tidak mau dipaksa menikah pun sekarang berubah jadi ngebet nikah. Pertunjukkan ini diakhiri dengan tarian "waka-waka" oleh semua yang terlibat.

Dalam pentas hari ini, Dhyaksa bersama tiga anak lain Evelyn, Gabriel dan Armadiwan Jr tampil di stage mengiringi munculnya putri duyung yang memberi jalan keluar pada OILudin; menyarankannya menghubungi ERPudin team.

Secara menyeluruh pertunjukan hari ini, terlebih penampilan team Sulawesi yang dinobatkan menjadi juara 1 (sama seperti tahun lalu) luar biasa. Pesan yang disampaikan sangat jelas; antara lain:

  • Kalo’ mau meninggalkan tugas harus dengan seizin atasan yang berwenang,
  • Kalo’ mau memulai perjalanan, lakukan journey management yang benar dengan meng-assess rute perjalanan yang akan dilalui dan mempersiapkan mitigation plan untuk kondisi-kondisi yang beresiko yang dihadapi di perjalanan
  • Ketika melakukan apa pun, mulailah dengan melakukan hazard dan safety analysis dan lalukan kegiatan apa pun dengan prosedur yang benar
  • Bila ada kondisi yang salah dan membahayakan, lakukan SWA (Stop Work Authority) supaya potensi safety incident yang mungkin terjadi bisa dihindarkan
  • Setelah melakukan proses SWA, pastikan diikuti dengan kegiatan perbaikan kondisi yang tidak safe supaya menjadi safe dan lanjutkan pekerjaan setelah semuanya clear.

Jalur Depan

Filed under: keluargaku

Setiap orang dari ketiga anakku punya tampilan yang berbeda; ada yang agak judes, ada yang baik tapi mudah ngambek, ada yang keras kepala (mirip aku…)…. tapi tulisan ini tidak akan ngulas mengenai keunikan setiap anak ini dalam bersikap di keseharian mereka. Aku justru mau nulis mengenai satu "keajaiban" yang sering ditampilkan Ananta yang sering kali bikin rumit… soal pipis.

Kalo’ di rumah, Ananta selalu tahu di mana harus pipis dan bagaimana caranya termasuk proses pembersihan penisnya setelah pipis. Tapi dia punya standard tersendiri kalo’ mencari tempat pipis saat tidak di rumah.

Kalo’ sedang jalan ke Pekanbaru, misalnya, aku sering kesulitan ketika Ananta pengen pipis. Saat sudah ada di mall SKA - di lantai paling atas lagi, misalnya, mendadak dia bilang mau pipis tapi ngotot tidak mau melakukannya di toiletnya mall karena tempatnya sempit, lewat lorong. Ananta justru maksa untuk turun dan maksa pipis di tempat tersembunyi di pojokan halaman mall dan tentu terpaksa penisnya tidak dibilas dan cuma dilap dengan tissue aja.

Gitu juga kalo’ sedang di tempat makan seperti di Moro Mantep. Dia tidak mau masuk ke kamar mandi yang tersedia tapi maksa pipis di area parkiran di pinggir jalan. Kalimat standard yang dia ucapkan cuma, "di belakang mobil aja".

Tapi di tempat-tempat yang toiletnya bersih, terang, cukup luas dan nyaman, dia tidak punya masalah saat diajak pipis di toilet yang tersedia tapi kalo’ sedang di mall atau pun di rumah makan, bisa jadi masalah…. :)

May 16, 2011

Harpitnas

Filed under: keluargaku, Perasaanku.

Hari ini salah satu dari sedikit harpitnas (HARi kejePIT NASional) yang muncul tahun ini dan seperti diniatkan aku minta izin PB leave (personal business) mau manfaatin harpitnas ini untuk nyelesaikan urusan http://sibayak42.blogsome.com/2010/09/20/kpr/.

Sebetulnya sih, rumahnya sudah selesai sejak tahun lalu dan proses pembayarannya pun sebetulnya sudah tuntas sejak tahun lalu tapi sengaja aku cuekin nggak ndesak minta difinalize proses serah terimanya karena urusan listrik yang memang nyentrik.

Di awal tahun atau di akhir tahun, aku dihubungi dengan informasi kalo’ listrik bisa langsung masuk dengan rating KWH yang lebih tinggi dari yang dijanjikan dengan menambahkan sejumlah uang. Penawaran yang langsung aku tidakkan karena memang aku tidak punya kepentingan untuk rating KWH yang lebih tinggi karena planningnya memang rumahnya cukup dihuni sekali-sekali saja. Tinggallah rumah ini bersama beberapa rumah lain tetap gelap di lingkungan yang sebagian rumah yang lain sudah diterangi listrik.

Setelah tawan ini, prosesnya pun melempem dan aku pun tidak mendesak sampai kemudian sekitar 2 bulan yang lalu kembali ada informasi kalo’ listrik dengan rating KWH yang dijanjikan akan masuk dengan tambahan biaya 1 juta karena biaya pemasangan listrik naik dibandingkan yang termasuk dalam budget pemasangan sesuai kontrak jual beli (yang sejujurnya aku tidak cek dan aku langsung iyakan saja). Listrik pun masuk lengkap langsung dari tiang PLN.

Tapi masih masih ada satu urusan yang belum selesai. Meskipun sumur bornya sudah ada sejak tahun lalu tapi aku belum pernah ngetest kondisi airnya. Karena itu aku minta pompanya dipasang supaya bisa dites sama-sama dan langsung serah terima. Sementara menunggu proses pemasangan pompa air, yang ternyata sampai tadi pagi belum dipasang ini, ada beberapa mahasiswa politeknik PDKT mau nyewa rumah ini dengan harga yang sebetulnya cukup menarik. Tapi setelah ditimbang-timbang, akhirnya aku putuskan untuk tidak jadi menyewakannya dan tetap dengan rencana awal, menjadikan rumah ini tempat berteduh saat kami sekeluarga di Pekanbaru, meskipun sebetulnya lebih praktis kalo’ nginap di wisma di Rumbai.

Hari rabu minggu lalu, aku telephone kembali pengembangnya dan dapat janji kalo’ pompanya akan selesai dipasang sebelum hari sabtu supaya proses akhirnya bisa diselesaikan hari sabtu. Tapi ternyata…..ketika sampai di lokasi hari sabtu, proses pemasangannya belum selesai meskipun pompanya sudah ada di tempat. Hari minggu pun berlalu dan tadi pagi aku cek ulang, ternyata belum dikerjakan juga dan katanya sih butuh waktu 2 minggu sebelum sumurnya betul-betul siap untuk digunakan; ada waktu 2 minggu untuk proses menguras sumur yang berarti serah terimanya paling cepat 2 minggu lagi. Di luar urusan listrik dan air yang sedikit kurang mulus ini.

Menurutku, secara umum, proses yang aku lalui cukup menarik. Mudah-mudahan aja awal bulan depan semua urusannya sudah selesai. Kemarin malam, kami sekeluaga bahkan sempat ngecek kondisi lokasi ini di malam hari dan ternyata lingkungannya sudah terang berderang dengan jalan yang sudah diberi paving block yang disusun rapi.

Di luar tujuan utama manfaatin harpitnas untuk urusan rumah yang ternyata belum bisa diselesaikan, week-end di Pekanbaru sekali ini kami manfaatkan untuk bertandang ke 2 sepupu bapa dan juga mblusuk masuk ke jalan-jalan yang sebelumnya belum pernah kami lalu. Salah satu penemuan yang menarik adalah temuan kalo’ dari daerah Pandau, misalnya, bisa langsung tembus ke harapan raya melalui jalan aspal yang terputus oleh jalan tanah di sekitar waterboom Labersa. Juga temuan kalo’ jalan pintas lewat kuburan cina Umban Sari bisa jadi alternatif yang cukup menarik kalo’ jembatan siak I sedang macet total.

Temuan lain yang tidak kalah menarik adalah cukup banyaknya spot-spot di Pekanbaru yang sudah hot spot WIFI yang kecepatannya tidak kalan dengan hot spot WIFI di rumah sibayak 42.

Tapi ternyata…., menghabiskan week-end + harpitnas di Pekanbaru juga tidak begitu menarik karena baru 2 hari di Pekanbaru sudah membuat aku kurang nyaman; pengen pulang ke Duri karena aku merasa tidak banyak hal menarik yang bisa lakukan bersama anak-anak kecuali mblusuk yang tidak perlu dituntaskan dalam satu pekan. Akhirnya harpitnas pun tidak jadi dinikmati di Pekanbaru. Kami pun memutuskan pulang ke Duri siang ini meskipun Dhyaksa sempat appeal minta supaya pulangnya tetap besok seperti rencana semula.

Duri dengan segala pernak-pernik dan fasilitasnya, sepertinya memang sudah jadi home sweet home yang belum bisa digantikan oleh Pekanbaru bahkan oleh Wisma Sungkai dan fasilitasnya. Setelah melalui lebih dari tiga belas tahun setengah tahun tinggal di Duri, Duri sekarang menjadi tempat yang aku paling lama tinggal dari beberapa tempat yang pernah jadi tempat tinggalku. Secara statistik, Duri memang sudah jadi my first home sepertinya :)

Lost

Filed under: Perasaanku.

Sudah lebih 4 tahun terakhir, aku selalu masuk ke blog ini tanpa perlu masukin password karena settingnya sudah automatic connected setiap kali aku mbuka internet explorer di laptopku. Tapi, dua hari yang lalu, aku terkaget-kaget karena settingnya berubah. Aku diminta masukin password dan sialnya aku lupa passwordnya. Yang lebih njengkelin lagi, ternyata e-mail addressku tidak dikenali. Jengkel, agak frustasi juga tapi akhirnya aku harus memasrahkan semuanya.

Aku coba connect ke board adminstrator tapi ternyata nggak dapat jawaban dan alhamdulillah, dengan tidak sengaja, aku coba ngetikkan satu kemungkinan password terakhir dan….creng….alhamdulillah, nyambung. Aku sudah berhasil mendapatkan kembali kontrol blog ini. Alhamdulilah :)

May 2, 2011

Number 1

Filed under: keluargaku

"Pap, Dhyaksa juara olimpiade matematika" begitu kata Dewi di telephone
"Yo syukurlah. Di mano budak itu?" tanyaku
"Sudah pegi les" jawab Dewi

Aku pun kembali melanjutkan kegiatan kerja yang sedang aku lakukan. Tidak berapa lama, hp-ku bergetar lagi, juga dari nomor Dewi, tapi kali ini yang ngomong Dhyaksa,

"Pap, aku juara"
"Alhamdulillah, selamat Nak ya. Kamu juara berapa?"
"Juara 1" aku dengar jawaban itu dilanjutkan dengan, "kasih hadiah Pap ya"
"Hadiah apa?" tanyaku
"W-i-i ya Pap" katanya.
Sejujurnya aku tidak tahu apa itu W-i-i tapi aku jawab, "iya"

Pulang kerja, Dhyaksa langsung menyambutku di depan pintu dengan mukanya yang gembira dan penuh kebanggaan dan langsung menunjukan piala juara satu olimpiade matematika untuk kelas 4 yang baru diterimanya. Tidak ada pembicaraan lanjutan soal hadiah dan aku pun tidak menanyakannya karena aku yakin yang dimintanya tidak ada yang jual di Duri. Malam pun menjelang, "Pap, jadi kan makan di luar?" kata Dhyaksa. Dan aku pun cuma menjawab, "iya".

April 30, 2011

Marriage

Filed under: Pikiranku, Perasaanku.

Dalam beberapa minggu terakhir, berita tv dipenuhi dengan cerita persiapan pernikahan calon penguasa Inggris yang disebut-sebut sebagai ‘royal wedding’. Tv juga memberitakan kalo’ mereka sudah hidup bersama selama 4 tahun sebelum akhirnya menikah kemarin. Terkait hal ini, ada komentar menarik yang aku baca di wall salah satu kenalanku (orang Indonesia, istri ex. pegawai di tempatku kerja yang sekarang tinggal di Houston) yang bunyinya,

….."Pernikahan Agung" Kate n William hr ini sy sarankan untk anda gunakan sbg golden opportunity utk membicarakan dgn anak anak anda ttg pernikahan. Kesempatan utk tahu pandangan n pndapat mrk. Inilah dunia modern; Kate n William sdh hidup bersama 4 thn. Dan perayaan pernikahannya membuat dunia demam,dan diagung2kan… Bgmn pendapatmu nak? Dan anda bs melanjutkan….

Aku memandang tulisan ini sangat valid. Pernikahan adalah sesuatu yang sakral yang akan melahirkan generasi selanjutnya. Pernikahan adalah sarana untuk menghalalkan hal sebelumnya tidak halal antara dua anak manusia. Pernikahan adalah gerbang untuk mencapai kebahagiaan dalam tatanan yang sesuai dengan kaidah agama.

Hidup bersama yang dilakukan sepasang anak manusia sebelum melakukan ikatan pernikahan yang syah adalah penyimpangan terhadap nilai-nilai dan tatanan kehidupan. Yang membedakan antara manusia dengan hewan terkait hubungan ‘jantan’ dan ‘betina’ adalah pernikahan. Hewan tidak perlu menikah untuk hidup bersama, sementara manusia perlu mengikatkan diri dalam pernikahan. Pernikahanlah salah satu ‘keunggulan’ yang menjadikan manusia lebih sempurna dibandingkan hewan.

"Tapi sebelum nikah kan perlu waktu untuk menyelami dan saling memahami supaya timbul kesetiaan dan supaya timbul kesiapan untuk menjalani kehidupan sampai akhir" - mungin itu salah satu hal yang menjadi alasan mengapa hidup bersama tanpa pernikahan timbul.

Alasannya bisa terlihat valid meskipun akan terbantahkan dengan melihat bahwa cukup banyak hewan yang hidup monogami dan penuh kesetiaan dan mereka hidup tanpa ikatan pernikahan. Kalo’ kemudian manusia hidup bersama tanpa pernikahan dengan alasan seperti ini, tidakkah ini berarti manusia-manusia ini seperti hewan? Sekali lagi; pernikahan lah yang membedakan manusia dan hewan dalam urusan hubungan ‘jantan’ dan ‘betina’.

Pernikahanlah yang memberikan kesempurnaan yang membawa pada ’sakinah’, ‘mawaddah’ dan ‘rohmah’ seperti yang sering diucapkan.

  • Pernikahanlah yang menjadi pengikat hati antar dua insan dalam hubungan yang penuh ikatan tanggung jawab yang menimbulkan ketenangan(sakinah).
  • Pernikahan adalah bentuk cinta yang halal dalam hubungan antar hati dan antar fisik yang dilakukan dengan ikatan yang baik dan terbuka (mawaddah), dan
  • Pernikahanlah yang menjadi ikatan kasih sayang yang suci, penuh kesetiaan dengan berlandaskan tatanan agama (rohmah)

Padahal manusia sudah dilengkapi dengan sarana pernikahan yang halal dan membawa sakinah, mawaddah dan rohmah, mengapa masih memikirkan untuk melakukan hubungan yang tanpa ikatan?

April 8, 2011

Belajar

Filed under: Umum banget

Belajar dalam kelas? Kayaknya nggak deh, koq nggak asyik banget deh abis sudah lama nggak jadi murid. Dua minggu lalu, ada tawaran ikut belajar bahasa Arab di mesjid Ushuluddin. Sebetulnya ini bukan pertama kali ada yang nawari belajar seperti ini. Dulu banget ada juga kelas bahasa arab seperti ini tapi selalu tidak menarik karena biasanya akan bubar segera setelah musim libur tiba. Jadi aku tidak pernah tertarik untuk ikutan.

Tapi…waktu dua minggu lalu ada yang nawari ikut belajar aku koq jadi tergerak untuk ikutan dan minggu lalu aku hadir di mesjid dan menemukan kalo’ ternyata waktu belajar yang dijanjikan hanya dihabiskan untuk menyepakati jadwal dan pembicaraan yang tidak menarik. Karena itu waktu hari jumatnya aku putuskan untuk tidak hadir karena aku berpikir kalo’ mau belajar harus jelas jadwalnya dan harus tertib proses belajarnya.

Hari senin minggu ini, aku tidak mendengar berita apa pun mengenai kelas in sampai kemudian hari Rabu ada e-mail yang nginformasikan kalo’ kelasnya sudah buka dan jadwalnya sudah ditetapkan senin dan kamis setelah sholat Isya. Siang rabu, ada communicator di desktopku menyala, ada chatting-an dari salah seorang senior yang ngingatkan kalo’ kelasnya sudah mulai.

Malam ini aku betulan hadir di kelas ini dan ternyata…..agak terasa aneh jadi murid dalam pengertian yang sebenarnya meskipun menarik juga karena belajarnya betul-betul dari dasar dan yang paling menarik adalah………fakta bahwa……. "aku yang paling nggak punya dasar bahasa arab di antara semua murid dan aku yang paling belum ngerti…" ha…ha..ha….

April 2, 2011

Betawi

Filed under: Perasaanku.

Sunda Kelapa adalah salah satu nama yang aku kenal saat mbaca cerita mengenai Pangeran Jayakarta di awal masa SD-ku. Nama tempat yang bolak-balik ganti nama sebelum akhirnya dinamai Belanda dengan sebutan Batavia yang aku pikir merupakan asal muasal sebutan Betawi. Dalam persepsiku; Betawi adalah cara menyebutkan Batavia dalam pengucapan pribumi saat itu.

Dalam darahku mengalir sedikit darah Betawi; kalo’ di-matematis-kan kemungkinan porsinya hanya 1/8 bagian saja (12.5%) karena darah Betawi itu mengalir dari alur nenek ibuku yang berasal dari Kwitang yang dinikahi Pangeran Muhammadiyah dan diboyong ke sumatera. Alur darah yang ternyata tidak akan bisa ditelusuri lagi ke mana arahnya di tataran masa lalu karena ternyata tidak mudah untuk menemukan alur sejarah itu. Bahkan di daerah Kwitang pun saudaraku yang paling tua tidak bisa lagi menelusuri sejarah masa lalu itu. Darah betawi yang mengalir dalam darahku akan tetap mengalir tanpa aku pernah tahu silsilah keluarga dan sebagainya.

Bukan hanya silsilah keluarga atau lusuhan ke masa lalu yang tidak bisa di-track. Bahkan kalo’ ditanya soal budaya atau hal lain yang mungkin masih tersisa dalam kelurga, aku tidak mengenal apa pun mengenai adat atau pun hal-hal lain mengenai betawi. Satu-satunya aku yang rasakan adalah aku menyukai beberapa lagu berbahasa Betawinya Benyamin S; hanya sebatas itu.

Tahun ini, SD Cendana akan ngadakan aksi ceria lagi (nanti malam) dan Dhyaksa kebagian peran dalam drama berbahasa Inggris yang aku dengar tugasnya hanya mengucapkan beberapa kalimat saja. Tugas lain yang harus disiapkan Dhyaksa adalah mengenakan pakaian adat betawi dalam drama itu. Karena tidak mungkin menyewa pakaian betawi di Duri, Dewi minta iparku ncarikannya di pasar jatinegara dan dikirim via pos ke Duri. Setelah di-pas-in, ternyata, tu baju ukurannya kegedean, tangan dan celananya harus di-vermak supaya bisa dikenakan Dhyaksa.

Akhirnya…..tanpa sengaja ada juga pernak-pernik betawi singgah ke rumahku :)

Sepeda

Filed under: keluargaku

Sepeda? Anak kecil di masa kecilku memiliki sepeda mini, di jaman selanjutnya sepeda yang ngetop di kalangan anak-anak adalah sepeda BMX (aku nggak tahu kepanjangannya apa). Di masa kecilku, aku tidak pernah punya sepeda "kecil" yang khusus untuk anak kecil. Aku belajar naik sepeda pake’ sepeda bapaku, sepeda ontel peninggalan jaman Belanda yang rangkanya sangat kuat dan "dudukannya" pake’ sock breaker. Belajar sepedanya juga nyentrik. Karena ada plat yang menghubungkan stang sepeda dengan rangka penyangga "dudukan" sepeda (modelnya yang untuk laki-laki, bukan model untuk perempuan yang melengkung), terpaksa belajar sepedanya dengan posisi badan melengkung; kaki masuk ke dalam rongga segitiga itu sementara badan dan kepala nongol keluar. Setelah jatuh bangun,…akhirnya bisa juga naik sepeda. Kalo’ ditanya kapan aku mulai bisa naik sepeda, sejujurnya aku nggak ingat persis, perkiraanku mungkin waktu kelas 1 SD.

Anak-anakku pun lahir dan sejak kecil mereka sudah mengenal sepeda sendiri. Waktu Dhyaksa umur 1.5 tahun, aku belikan dia motor kecil bertenaga baterai, persis seperti yang ada di tempat-tempat permainan anak-anak. Sampai sekarang motor itu masih ada meskipun sudah tidak bisa dioperasikan lagi. Perkiraanku sih baterainya sudah "soak" dan aku tidak berniat ngecek atau nggantinya.

Sebelum umur 4 tahun, Dhyaksa sudah bisa naik sepeda roda dua, diikuti Adeanna tidak lama kemudian. Ke mana-mana, mereka pun mulai naik sepeda; berempat, dua anak dengan dua orang tuanya. Seingatku, sampai mereka umur 5-6 tahunan, Adeanna dan Dhyaksa masing-masing sempat punya 3 sepeda yang kemudian satu per satu diberikan pada beberapa kenalan yang anaknya butuh sepeda dan sekarang tersisa hanya 1 sepeda kecil yang dipakai Ananta.

Sejak beberapa bulan lalu, Ananta sudah selalu rajin naik satu-satunya sepeda roda 4 yang tersisa. Bulan lalu aku lihat salah satu roda sampingnya agak mengelupas dan rencananya mau diganti dengan satu spare road samping yang ada di garasi tapi anak ini tidak mau roda sampingnya diganti; ternyata dia pengen sepeda baru.

Dari kemarin pagi, anak ini selalu ngingatkan aku untuk mbeli sepeda roda 4 baru dan tadi pagi kembali dia ngingatkan aku. Sepulang dari fire station bersama murid playgroup Anugerah, kami pun mampir ke toko sepeda. Ternyata….., agak sulit menentukan sepeda mana yang cocok untuk anak ini sebelum akhirnya diputuskan untuk membawa pulang sepeda warna kuning yang ditaksir anak ini.

Sampai di rumah…..semua plastiknya pun langsung dilepas dan mulai tu sepeda dipakai. Tinggal kemudian sepeda roda 4 yang lama akan ‘nongkrong’ pakir di pojokan porch rumah bersama 6 sepeda besar yang sudah nongkrong sebelumya.

March 7, 2011

Siak Sri Indrapura

Filed under: keluargaku, Sejarah...

Siak Sri Indrapura? Sepertinya bukan tempat yang asing di telingaku meskipun aku tidak bisa mengingat kapan pertama kali aku mendengar nama ini. Aku juga tidak bisa mengingat apa yang aku pernah tahu di masa kecilku mengenai nama ini. Nama ini tidak asing tapi juga tidak begitu aku kenal.. Nah loe…!

Mulai bekerja di Caltex Pacific Indonesia (CPI) lebih dari 13 tahun yang lalu, aku semakin sering mendengar nama ini dan akhirnya di awal tahun 1999an, aku menjejakkan kaki pertama kali ke tempat ini dengan melintasi perjalanan yang menarik untuk didokumentasikan.

Waktu itu, mobil perusahaan masih bebas digunakan ke Pekanbaru, ke Dumai atau pun ke lokasi lainyang masih ada kaitan dengan daerah operasi CPI. Aku dan Dewi bersama Arief, adik kelasku di Unsri dan Etika, senior di kantor yang juga dari Unsri jalan-jalan naik Rocky perusahaan. Di simang empat menjelang jalan by-pass Minas-Rumbai, mobil berbelok ke kiri menuju Perawang, tempat yang waktu itu mulai ramai karena adanya pabrik kertas Indah Kiat. Di sungai ini, mobil menyeberang dengan menggunakan ferry milik CPI. Di seberang sungai, perjalanan diteruskan melalui jalan yang lurus tanpa belokan sampai menjelang persimpangan di dekat area Zamrud. Tidak lama setelah itu, perjalanan dengan waktu tempuh sekitar 2 jam perjalanan itu pun berakhir di sebuah kantor polisi sektor di seberang kampung Siak Sri Indrapura.

Saat itu, Siak Sri Indrapura belum bisa dijangkau dengan mobil. Mobil yang kami kendarai harus diparkir di pekarangan kantor polsek dan kami pun menyeberang ke Siak Sri Indrapura dengan menggunakan perahu yang berlabuh tidak jauh dari pasar Siak Sri Indrapura.

Saat itu, menurutku, Siak Sri Indrapura memang sebuah kampung. Aku tidak merasakan nuansa kota sedikit pun. Di pasar itu pun aku tidak merasakan suasana kota. Tidak ada mobil satu pun di kampung ini dan aku juga tidak melihat motor. Yang aku lihat saat itu cuma sepeda. Perjalanan dari tempat perahu berlabuh ke istana Siak Sri Indrapura pun harus ditempuh dengan berjalan kaki. Tidak banyak yang aku ingat mengenai istana siak yang aku lihat 13 tahun yang lalu kecuali informasi mengenai alat musik yang katanya hanya ada 2 di dunia dan salah satunya ada di istana ini.

Dari istana siak, seingatku, waktu itu kami mengunjungi mesjid di pinggir sungai, yang berdekatan dengan makam kerabat kerajaan siak(?) dan perjalanan berakhir dengan kembali berjalan kaki ke pelabuhan perahu, kembali menyeberang dan pulang.

Sejujurnya, perjalanan 13 tahun lalu itu tidak cukup berkesan karena aku tidak merasakan nuansa yang menggugah dari kunjungan itu. Istana yang aku lihat bukanlah bangunan yang unik. Bangunan yang aku lihat mirip dengan bangunan-bangunan Belanda yang biasa aku lihat sebelumnya.

Tapi sekarang, anak-anak sudah mulai besar. Aku merasa ini waktunya untuk menunjukkan istana siak ke mereka sebagai bagian proses belajar yang seirama dengan pelajaran wisata ke museum waktu di Palembang. Aku mengangankan Siak Sri Indrapura yang sekarang tentu sudah jauh berbeda dengan Siak Sri Indrapura yang aku lihat 13 tahun yang lalu. Aku mengangankan kampung ini tentu sudah jadi kota yang megah sejak dibentuknya kabupaten siak sebagai pecahan kabupaten Bengkalis di paruh pertama dekade 2000an. Aku mengangankan kota yang mejadi ibukota kabupaten dengan hasil minyak yang cukup banyak ini pasti sudah berubah, terlebih sejak selesainya jembatan Tengku Agung Latifah yang diresmikan presiden Yudhoyono beberapa tahun yang lalu.

Hari sabtu lalu, tanggal mereka, anak-anak libur. Kami pun berangkat jam 7 dari rumah dengan tujuan utama ke Siak Sri Indrapura. Di persimpangan dalam Minas camp, kami tidak berbelok ke kanan menuju simpang empat by-pass Minas-Rumbai tapi mencoba jalan yang belum pernah aku lalu yang aku tahu akan berakhir juga di jalan menuju Perawang. Dengan sedikit ncoba-ncoba akhirnya kami pun tiba di security post di ujung jalan ini dan belok kiri masuk ke jalan ke Perawang.

Aku membayangkan perjalanan ini akan dilalui di jalan yang mulus tapi yang aku temui adalah jalan yang tidak begitu lebar dan banyak lubangnya. Perjalanan ini pun tidak begitu mulus karena banyak truk-truk besar pengangkut sawit dan kayu. Menjelang Perawang, baru jalannya berubah mulus.

Kurang dari 10 km menjelang Perawang, aku melihat spanduk terkait peresmian jembatan baru di Perawang. Kami pun berbelok ke kanan menyusuri jalan yang luas dan mulus dan tiba di jembatan baru yang sangat tinggi dan panjang. Sungai siak pun dilalui tanpa perlu naik ferry lagi.

Di ujung jalan dari jembatan ini, kami sempat berhenti untuk memastikan apakah perjalanan ke Siak harus belok kanan atau belok kiri. Setelah bertanya ke salah satu pemlik warung, kami pun belok kiri sampai di ujung jalan lalu belok kanan dan langsung masuk ke ex. jalan operasi CPI yang mulus dan lurus tanpa belokan sedikitpun. Jalan yang diapit pipa minyak dari Zamrud area (yang sekarang dikelola oleh Bumi Siak Pusako) dan overhead line PG&T ini pun dilalui dengan lancar, mirip perjalanan di jalan tol mulus.

Di separuh perjalanan, kami bertemu simpang empat, yang ke kiri ke Buatan tempat berlabuhnya kapal-kapal, lurus ke arah Siak dan ke kanan menuju Pangkalan Kerinci. Kami pun lurus sampai menemukan pertigaan; yang lurus menuju Zamrud dan yang ke kiri menuju Siak. Kami pun belok kiri di jalan 4 jalur yang dibagi dengan marka jalan permanen sampai akhirnya kami tiba di jembatan Tengku Agung Latifah dan berakhir di seberang sungai siak dan baru sadar kalo’ jembatan ini tidak berada di kampung (kota?) Siak tapi berada di daerah hilirnya.

Di simpang empat pertama setelah jembatan, kami belok kiri untuk nunjukkan filling station yang katanya masih menggunakan teknologi engkol seperti jaman baheula dan ternyata…..filling station ini sudah menggunakan motor meskipun kondisinya tidak safe.

Kami pun memutar ke arah yang berlawanan dan melaju masuk ke kota Siak Sri Indrapura. Jalan dalam kota ini mulus. Tapi koq belum kelihatan juga istananya ya? Yang aku temukan justru rumah dinas bupati (yang kurang terurus, pekarangannya tidak rapi dan catnya sudah memudar). Setelah berbelok dua kali, akhirnya kami menemukan pasar siak tempat perahu berlabuh 13 tahun yang lalu. Mobil pun diparkirkan di tempat parkir tidak jauh dari istana siak.

Masuk ke istana siak, kami membayar karcis 3 ribu rupiah untuk dewasa dan 2 ribu untuk anak-anak. Setelah mengisi buku tamu, kami dihadapkan pada manekin-manekin yang duduk di kursi menghadap sebuah manekin sultan; seperti ini gambaran suasana singgasana sultan di masa lalu. Belok ke kiri, kami menemukan koleksi perlengkapan seperti keris, meja yang bisa dilipat dan juga beberapa meriam. Masuk ke bagian dalam kami bertemu dua tangga melingkar dari besi, satu untuk naik dan satu untuk turun.

Kami pun naik dan menemukan kamar-kamar dengan koleksi-koleksi photo dan penglengkapan lain seperti baju permaisuri dan penglengkapn lain termasuk kampil (karung) yang katanya untuk menyimpan uang. Turun ke lantai bawah, kami pun masuk ke wing kanan dan menemukan perlengkapan musik dan singgasana sultan yang asli.

Tidak banyak yang bisa dipelajari dari istana ini. Tidak ada informasi atau brosur yang bisa dibaca-baca. Tidak ada guide atau petugas istana yang akan memberikan informasi yang dibutuhkan. Tapi secara umum, aku senang karena anak-anakku sudah pernah ke Siak dan berkunjung ke istana ini. Mudah-mudahan mereka mendapatkan pelajaran dari kunjungan ini.

Yang menarik dari wisata masuk ke istana ini adalah catatan akan beberapa hal yang menggambarkan betapa tidak tertibnya administrasi pemerintahan dalam mengurus situs-situs sejarah.

  1. Waktu masuk ke halaman istana, loket penjualan karcisnya ada di pojok sebelah kanan. Masuk ke halaman istana ini gratis, yang bayar hanya masuk ke istana saja. Jarak istana dengan tempat penjualan loket ini cukup jauh, mungkin 100 meter lebih. Begitu sampai di muka istana, aku yang belum memiliki tiket pun bertanya ke petugas yang menjaga di muka pintu di mana aku bisa beli tiket. Jawaban yang dengar adalah "Bapak masuk aja, nulis di buku ini terus bayar di sini." Begitu aku tanya ada karcisnya tidak, petugas itu kembali ngomong, "Bapak nulis aja di sini, terus bayar di sini." Waktu aku tanya berapa untuk 5 orang, petugas itu menjawab, "15 ribu". Saat aku tanya lagi ada karcisnya tidak, petugas itu bilang, "tidak ada tiket". Aku pun minta Rita membeli tiket di loket yang ada di pojok halaman istana. dan ternyata untuk 5 orang harga tiketnya 13 ribu sedang Ananta gratis.
  2. Masuk ke istana ini harus melepas sepatu. Di muka istana ada dua rak dari behel / besi untuk tempat sepatu / sendal pengunjung. Di setiap rak ini ada tulisan, "tempat penitipan sepatu, 1000 / pasang". Kami pun menempatkan sendal di rak ini dan ketika pulang membayar 5 ribu. Catatan terkait rak penitipan sepatu / sendal ini juga terkait buruknya administrasi dan pertanggungjawaban keuangan di lingkungan pemerintahan. Tidak bisa ku pahami mengapa ada bisnis penitipan sepatu (yang dikelola orang dalam?) di lingkungan situs sejarah / wisata seperti ini. Bukankah akan lebih tertib administrasi dan pemanfaatannya bila instansi terkait menyediakan tempat penitipan sepatu / sendal dan biayanya dibebankan dengan menaikkan harga tiket masuk. Aku pikir ini lebih bisa dipertanggungjawabkan dan lebih jelas peruntukan dan manfaatnya untuk pengelolaan istana sebagai situs sejarah, dibandingkan dengan ‘membisniskan’ swa kelola tanpa catatan keuangan dan tanpa pertanggungjawaban keuangan seperti yang aku lihat.
  3. Di belakang istana, disediakan rest room yang cukup luas dengan perlengkapan dengan kualitas cukup baik, baik untuk kencing berdiri maupun sekat-sekat untuk BAB tapi……airnya tidak mengalir.

Perjalanan ini menarik meskipun tidak sepenuhnya memenuhi ekpektasi awalku. Dari kunjungan sekitar 1.5 jam itu, aku menemukan beberapa hal positif di Siak Sri Indrapura seperti jalannya yang mulus, pengelolaan pengairan yang baik untuk mencegah banjir dan juga kantor-kantor pemerintahan yang bernuansa adat. Tapi ada juga yang menarik untuk dicatat; jumlah traffic lightnya cukup banyak tapi tidak ada enforcement untuk mematuhinya. Kesannya traffic light yang memang belum perlu dipasang ini hanya untuk memenuhi satu tujuan saja… :)

Gitar

Filed under: keluargaku

Salah satu hal yang disukai Ananta adalah bernyanyi. Dia paling suka ndenger aku nyanyi dan kalo’ sudah beberapa kali didengarnya, dia akan ikut nyanyi.

Minggu lalu, aku diberi CD oleh atasanku; full lagu batak, mulai dari yang sudah 25 tahunan aku kenal seperti alusiau, ala tipang dan beberapa lagu lain sampai lagu terjemahan dari lagu Bahasa Indoensia yang di pertengahan 80an dinyanyi Robin Panjaitan atau David Sitanggang. Dua hari yang lalu, kami ke Siak lalu nginap di Pekanbaru. Sepanjang perjalanan CD ini diputar dan hasilnya…… sore ini, Ananta mulai nyanyi sendiri lagu-lagu batak itu.. :)

Selain nyanyi, yang disukai Ananta adalah mencoba bermain musik. Waktu belum 2 tahun, dia sudah biasa memukul-mukul drum punya Dhyaksa atau ikutan nekan-nekan piano Adeanna. Waktu aku main gitar, dia juga suka ikutan metik.

Sejak dia kenal gitar, sudah dua kali Ananta berhasil memaksa mamanya membelikan gitar plastik 35 ribuan di warung mesjid agung Ushuluddin dan sudah dua kali juga gitar plastik yang baru dibeli itu berhasil dimuseumkan karena rusak. Sebelum pulang ke Palembang, sebetulnya aku sudah niat mbelikan Ananta gitar mainan, persis dengan gitar beneran, di toko yamaha music Pekanbaru. Tapi waktu itu belum sempat dibeli. Kemarin, gitar it betulan dibeli, 100 ribu, tidak bisa disetel tapi cukup untuk dipakai bergaya. Ananta pun sekarang bergaya main gitar dengan gaya kidalnya. Dia memetik bukan dengan tangan kanan tapi dengan tangan kiri.

Pulang makan siang tadi, Ananta melapor kalo’ gitarnya rusak dan ternyata…. senar 1-nya sudah putus tapi untuk putusannya masih cukup untuk kembali dipasangkan.

Malam ini, aku dengar Ananta kembali menyanyi lagu batak dengan dentingan gitar tak berirama dari gitar mainananya. :)

February 20, 2011

Bukit Siguntang

Waktu masuk SMP di pertengahan tahun 1985, untuk pertama kalinya ada kewajiban untuk ikut penataran P4 untuk semua siswa baru SMP dan SMA di Indonesia. Aku pun jadi ikut penataran P4 selama 1 minggu lengkap dengan ‘pengenalan’ ilmu cinta tanah air dengan istilah-istilah yang tidak membumi seperti ‘wawasan wiyata mandala’ dan segala macam yang sejujurnya tidak begitu penting untuk diingat istilahnya karena tidak membumi. Yang menarik dari penataran ini adalah para tutornya sendiri sebetulnya juga tidak begitu mengenal dan meyakini apa yang diajarkan tapi lebih karena keharusan melaksanakan program yang ‘harus’ dilakukan saja. Tapi posting ini tidak akan mengulas soal penataran P4 yang sejujurnya tidak begitu penting itu meskipun aku sependapat bahwa kecintaan pada tanah air merupakan satu hal yang harus dibangun pada jiwa setiap anak. Tapi aku tidak sependapat bahwa indoktrinasi merupakan metoda yang perlu digunakan untuk proses itu. Menurutku, semangat kebangsaan dan cinta pada tanah air seharusnya dibangun dengan tauladan bersikap para pemimpin dan kemudahan mengenal negeri ini lewat buku atau pun media lain yang memungkinkan anak mengenal bangsanya dengan lebih dekat :)

Aku tidak ingat kapan aku mulai mengenal lagu ‘Gending Sriwijaya’ yang jelas aku mengenal pelajaran mengenai sejarah Sriwijaya tidak lama setelah aku mengenal huruf. Aku mendapatkan pengetahuan tentang kerajaan ini dari membaca buku di perpustakaan sekolah tempat Bapa mengajar waktu aku masih di kampung. Nama ‘Bukit Siguntang’ pun mulai aku kenal digabung dengan kata ‘Siguntang Mahameru’ yang aku dengar di lagu ‘Gending Sriwijaya’.

Waktu masih di kampung, aku selalu membayangkan kalo’ "Siguntang Mahameru’ dalam lagu Gending Sriwijaya adalah ‘Gunung Meru’ yang merupakan cungkupan tanah yang cukup luas di pinggir jalan ke arah Plaju yang menjadi tempat penguburan warga keturunan. Dari proses penataran ini aku kemudian tahu kalo’ ‘Gunung Meru’ bukanlah ‘Siguntang Mahameru’ yang dimakdus lagu ini.

Sampai aku mulai kuliah di Bukit Besar, aku tetap tidak tahu lokasi persis Bukit Siguntang meskipun aku tahu informasi kalo’ Bukit Siguntang lokasinya di Bukit Besar. Meskipun aku kuliah di Bukit Besar. Di pertengahan tahun kedua kuliah, aku mulai pacaran dengan Dewi dan sering njemput dia pulang sekolah. Aku kemudian tahu kalo’ Bukit Siguntang lokasinya hanya sekitar 200 meter dari sekolah Dewi, di lokasi yang sedang dibangun menjadi tempat wisata sejarah dengan menonjolkan beberapa kuburan tua yang kemudian dilengkapi dengan gazebo-gazebo untuk tempat duduk dan sebuah bangunan dua lantai tanpa dinding. Setelah Dewi tamat SMA, proses bersentuhan dengan Bukit Siguntang pun berakhir sampai kami cuti beberapa minggu lalu, kami mengajak anak-anak ke Bukit Siguntang sebagai bagian pengenalan sejarah.

Kondisi Bukit Siguntang masih seperti yang aku kenal meskipun suasananya sekarang menurutku lebih bersih. Makam itu masih ada di sana, dan undakan anak tangga yang panjang itu masih membentang di sisi depan dekat gerbang masuk dan di sisi kiri. Aku masih melihat susunan batu alam asli yang menghitam di bagian kiri dan masih melihat gazebo dan juga tempat-tempat duduk yang dibuat dengan nuansa ‘jaman dahulu kala’ meskipun sebetulnya semuanya buatan masa kini.

Secara umum, menurutku, Bukit Siguntang yang sekarang lebih layak untuk dikunjungi dan lebih layak dijadikan tempat rekreasi keluarga meskipun tidak banyak peninggalan sejarah yang bisa dilihat karena seingatku tidak ada prasasti atau peninggalan lain kecuali kuburan-kuburan panjang yang masih sering dikunjungi para peziarah dengan tujuan-tujuan mistis yang menurutku tidak logis……

February 15, 2011

Sincia

Filed under: Umum banget

Jaman dulu, sebelum presiden Soekarno membuat keputusan kalo’ masyarakat keturunan Tionghoa tidak boleh tinggal di pedesaan, menurut orang-orang tua yang lahir di awal abad 20, ada beberapa keluarga Tionghoa yang tinggal di Kedaton tapi aku tidak pernah melihat kondisi ini karena aku lahir menjelang pertengahan dekade 70an. Seingatku, di masa kecilku, masyarakat di kampungku relatif homogen kecuali ada cukup banyak pendatang dari jawa dan pendatang dari daerah iliran yang nangguk upahan (menjadi orang upahan untuk membersihkan kebun atau pun tugas-tugas lain).

Waktu pindah sekolah ke Palembang di paruh kedua 1984, aku tinggal diapit dua orang batak, Om Silaban pegawai PT. Pusri dan istrinya tante Ros (Lumban Batu) dengan Om Simamora pegawai PT. Pertamina dengan istrinya tante Lumban Batu (guru SMP). Aku tidak pernah tahu nama depan Om Silaban, Om Simamora dan istrinya. Aku pun mulai mengenal perayaan natal dan pernak-perniknya. Bertetanggaan dengan Om Silaban ini membuat aku jadi tahu beberapa lagu batak di luar yang aku pernah nyanyikan di sekolah. Aku pun merasa jadi dekat dengan orang batak karena keluarga ini baik sekali.

Meskipun ini tinggal diapit kedua keluarga ini merupakan persentuhanku pertama dengan orang batak tapi sebetulnya aku sudah mengenai masyarakat batak sejak aku mulai bisa membaca. Sejarah mengenai Ompu Pulo Batu (Si singamangaraja XII) dan biograpi beberapa pahlawan kemerdekaan asal tapanuli sudah aku baca sejak awal aku bisa membaca.

Di sekolahku, tidak ada murid keturunan Tionghoa. Satu-satunya keluarga keturunan Tionghoa yang ada di dekat tempat tinggalku cuma keluarga Engkong yang Acong salah satu cucunya umurnya aku pikir sama atau sedikit di bawahku. Tapi tidak ada persentuhan langsung yang membuat aku tahu banyak mengenai aktifitas budayanya.

Dari saudaraku yang sudah SMP, aku tahu kalo’ ada temannya yang izin tidak masuk sekolah karena Sincia-an, sesuatu yang aku juga tidak tahu apa maknahnya. Sejak saat itu, aku pun jadi familiar dengan kata Sincia. Setelah jaman Gus Dur, aku mengenal istilah Imlek yang kemudian jadi salah satu hari libur nasional. Belakangan aku baru tahu kalo’ Sincia itu sama dengan Imlek yang artinya ‘tahun baru’ china.

Lima tahun yang lalu, salah satu iparku menikah dengan seorang keturunan Tionghoa dan tiga tahun yang lalu, salah satu iparku yang lain juga menikah dengan keturunan Tionghoa. Tapi tetap aku tidak tahu seperti apa perayaan Sincia atau Imlek itu. Sampai tahun ini, waktu pulang ke Palembang, aku diundang datang ke rumah kontraktor yang sedang ngerjakan proyek rumah dan rukoku ke rumahnya.

Kami pun pergi, bukan cuma aku dan keluarga tapi juga dengan 2 saudara dan keluarga. Dari pengamatan yang aku lihat, ternyata, perayaan Sincia atau Imlek sebetulnya mirip dengan perayaan yang lain seperti lebaran atau perayaan lain. Aku melihat orang bersilaturahmi, datang, ngobrol dan makan. Persis seperti itu. Hidangan yang disajikan juga tidak berbeda dengan hidangan di perayaan lain yang aku kenal. Ada pempek dan penganan lainnya juga. Bahkan dari iparku aku tahu kalo’ gulai opor dan ketupat pun juga disajikan dalam perayaan imlek / sincia.

Pengalaman baru yang menarik….. :)

Museum

Filed under: keluargaku, Sejarah...

Aku nggak begitu mperhatikan tulisannya musium atau museum sih kata Bahasa Indonesia yang benar dan aku juga tidak pengen ngecek kamus untuk mastikannya. Feelingku sih, kata yang benar itu mungkin museum.

Waktu cuti ke Palembang dua minggu lalu, ada satu hal yang berbeda yang kami sekeluarga lakukan dibandingkan dengan cuti-cuti sebelumnya. Dari cerita-cerita ringan dengan anak-anak mengenai museum ternyata membuat Dhyaksa dan Adeanna ngebet pengen lihat museum. Jadinya beneran deh, kami pun masuk ke dua museum yang berbeda di Palembang.

Hari senin pagi, kami pergi ke museum Balaputra Dewa di belakang mahkamah militer Palembang dan ternyata,…..museumnya tutup kalo’ hari senin. Penjaga yang nongkrong di pos security pun ndatangi kami di tempat parkir dan nginformasikan kalo’ museum tutup dengan tambahan kalimat, "tapi kalu nak photo-photo boleh tapi bayar dulu di pos situ. Tolong kasih tahu jugo turis itu."

Hampir bersamaan dengan aku markirkan mobil di depan museum itu, memang ada seorang bule mbonceng motor seorang perempuan juga datang di sana. Dari obrolan singkat dengan bule itu, kayaknya sih logat Bahasa Inggrisnya ngarah-ngarah ke orang Francis atau orang Jerman. Tapi bukan itu yang aku pengen soroti. Yang menarik jugo pungli yang coba dilakukan oleh penjaga soal boleh photo-photo tapi bayar di penjaga, sesuatu yang sejujurnya sangat aneh.

Sebelum penjaga itu pergi, aku bilang kalo’ aku hanya akan keliling ke belakang naik mobil setelah itu keluar. Di belakang, aku melihat kalo’ ada kru PalTv (stasiun televisi swasta Palembang) sedang shooting dan ada juga anak-anak SMA sedang nongkrong di pojokan belakang. Di bagian belakang museum ini, ada beberapa rumah limas yang kondisinya baik tapi aku tidak tahu seperti apa bagian dalamnya karena memang tidak turun dari mobil.

Hari rabu, kembali anak-anak minta ke museum. Kami pun mampir ke museum Sultan Mahmud Badaruddin II yang lokasinya dekat jembatan ampera. Kami pun masuk bertujuh (kami berlima ditambah Bapa dan Adek) dengan membayar tiket masuk Rp.2000,- per orang untuk pengunjung dewasa dan Rp.1000,- per orang untuk anak-anak. Bangunannya bagus, terbuat dari kayu-kayu terbaik. Ketika menginjakkan kaki ke lantai yang terbuat dari kayu, sangat terasa kalo’ kayunya kayu yang kuat dan kualitas terbaik.

Isi museumnya sebelumnya tidak istimewa karena memang tidak banyak yang ditampilkan di sini. Ada photo-photo dan diorama yang menggambarkan perang antara pasukan Palembang dengan Belanda yang berakhir dengan tertangkapnya Sultan Mahmud Badaruddin II, juga ada pakaian pengantin tapi secara umum aku tidak melihat sesuatu yang istimewa di museum ini. Yang menarik justru ada photo almarhum Yai Toha (kakek Dewi) bersama beberapa pejabat jaman Belanda lainya dengan judul, "pakaian pejabat kesultanan Palembang". Aku pribadi sih meragukan apakah memang pakaian pejabat kesultanan Palembang waktu itu memang seperti ini karena Yai Toha bukan pejabat kesultanan Palembang (memang masih ada kesultanan Palembang di tahun 1930 - 1940an?). Setahuku, Yai Toha adalah pejabat pemerintahan Belanda sebelum kemerdekaan dan jadi pejabat kejaksaan setelah kemerdekaan. Jadi……, aku meragukan keabsahan judul photo ini.

Hari kamis, kami kembali ke museum Balaputra Dewa yang tutup waktu hari senin dengan membayar tiket masuk Rp.1000,- per orang untuk dewasa dan separuh harga untuk anak-anak. Ruangan pameran pertama di museum ini menampilkan gambaran kesultanan melaka (ruang malaka) yang hanya kami masuki sebentar. Isi ruangan ini adalah photo-photo kota Malaka dan gambaran pemerintahan kesultanan Malaka.

Di sebelahnya adalah ruangan pameran masa megalitikum yang menggambarkan masyarakat di daerah Pasemah lengkap dengan fosil dan juga alat-alat yang digunakan oleh masyarakat jaman megalitikum. Isi ruangan ini cukup lengkap dan menurutku sangat menarik dengan catatan kualitas penerangannya kurang baik. Listriknya tidak bisa dinyalakan karena itu ruangannya jadi agak temaram.

Setelah melalui ruangan ini, kami berjalan ke sebuah bangunan terbuka yang dipenuhi arca-arca hindu. Cukup banyak arca yang ditampilkan cukup banyak dan aku bisa memberikan penjelasan cukup panjang ke anak-anak (dengan pemahamanku yang hanya sebatas pemahaman pelajaran sejarah di SMP dulu).

Dari ruang arca ini, kami masuk ke ruang pameran yang khusus menampilkan sejarah sriwijaya dengan segala pernak-pernik dan prasasti-prasasti terkait.

Dengan menuruni 3 undak anak tangga, kami pun masuk ke ruang pameran jaman kemerdekaan yang menampilkan tekstil (tenunan), kerajinan gerabah termasuk peralatan makan yang terbuat dari tanah liat yang di juga aku temui di masa kecilku, dijual oleh pedagang-pedagang dari daerah Kayu Agung dengan ‘perau kajang’nya. Di ruangan ini juga ada replika penggilingan pada, perlengkapan berladang dan alat-alat untuk mencari ikan seperti jala, jaring, dan perlengkapan menangkap ikan yang lebih sederhana yang terbuat dari anyaman rotan seperti bubu dan beberapa alat yang aku pernah lihat di masa kecilku meskipun aku tidak begitu kenal namanya.

Di ruangan ini juga ditunjukkan perlengkapan dapur seperti kukuran kelapa yang mirip dengan yang dipakai keluargaku di masa kecilku. Aku juga melihat isaran padi, yang dulu aku ingat juga dipakai di kampungku. Isaran padi dari kayu lengkap dengan pemutarnya yang gunanya untuk memisahkan beras dari kulit padi.

Dalam proses ke museum Balaputra Dewa ini, aku melihat museumnya bagus sekali untuk pengajaran sejarah. Isi museum dan penataannya baik yang membantuku memberikan penjelasan ke anak-anak. Anak-anak juga terlihat sangat antusias di museum ini dan mereka pun belajar cukup banyak hal. Mereka belajar bukan hanya mengenai jaman prasejarah atau awal jaman sejarah tapi juga belajar mengenai bagaimana masyarakat pedesaan jaman dahulu (sampai akhir 70an) hidup; sesuatu yang aku pernah alami tapi mereka tidak akan pernah lihat di jaman sekarang.

Aku pikir, pergi ke museum bisa jadi salah satu agenda yang menarik kalo’ cuti lagi. Ngajak anak-anak dan keponakan kembali ke museum ini atau ke museum lain di kota yang lain. Wisata ke museum bisa jadi wisata yang murah dan mendidik.

February 13, 2011

Les piano

Filed under: keluargaku

Sudah cukup lama Adeanna les piano dan belakangan kemampuannya semakin baik. Tapi sejujurnya aku tidak punya kompetensi untuk menentukan apakah permainannya baik atau tidak karena aku tidak ngerti piano. Satu-satunya cara untuk punya kompetensi itu adalah belajar..

Jadi, ceritanya….., akhirnya, setelah cukup lama menimbang, aku mutuskan les piano juga. Karena gurunya nggak mau les private di rumah, jadinya aku les di bina musika dengan status murid lepas yang tidak terdaftar di sekolah Yamaha tapi belajar dengan kurikulum Yamaha. Bedanya adalah, aku tidak punya kewajiban ikut ujian kenaikan tingkat kalo’ mau melanjutkan ke jenjang-jenjang yang lebih tinggi.

Pelajaran pertama dimulai tadi malam dan menurutku pelajarannya asyik. Jadi ingat pelajaran waktu kelas 2 SMP, belajar mbaca not balok dan kayaknya lebih mudah belajarnya dibandingkan waktu sekolah dulu. Koq jadi gampang ya nerjemahkan not balok itu. Dan pandanganku sih, main piano mirip dengan mengetik, jadi tidak sulit….:)

Waktu pulang les tadi malam, aku dapat PR dua lembar untuk dilatih di rumah. Pagi ini, aku mulai latihan, bergantian dengan Adeanna. Dan hasilnya? aku bisa menguasai 6 lembar tambahan di buku panduan belajar, bukan hanya 2 lembar PR yang diberi. Jadi kalo’ les lagi minggu depan, sepertinya aku bisa minta PR yang lebih banyak dan pelajaran-pelajaran yang aku sudah bisa tidak perlu minta diajari gurunya tapi cukup aku tunjukkan saja kalo’ aku sudah bisa… :)

Adeanna sendiri, aku jadikan guru di rumah, tempat aku nanya hal-hal yang aku tidak yakin. :)

February 12, 2011

Penalty

Filed under: keluargaku

Disiplin tu sangat penting untuk kehidupan tapi bukan hal mudah untuk mbuat anak-anak yang sempat mengalami masa pasang surut kedisiplinan kembali disiplin. Kalo’ pagi, sering kali Dhyaksa membiarkan tempat tidurnya berantakan, atau membiarkan handuknya yang basah tergeletak di kamarnya dari pagi sampai sore hingga mau mandi lagi, atau anak-anak biarkan sepatunya tidak masuk ke lemari sepatu tapi dibiarkan tergeletak, berantakan di porch saat pulang sekolah.

Masalah kedisiplinan juga termasuk untuk urusan sikat gigi. Sering kali mereka ngaku sudah sikat gigi padahal waktu diperiksa jelas sekali kalo’ giginya belum digosok. Untuk urusan sholat pun kedisiplinan ini masih perlu ditingkatkan karena sering perlu diingatkan berulang baru mereka bergerak.

Untuk urusan belajar dan latihan musik juga anak-anak perlu ditingkatkan kedisiplinannya. Waktu ketemu guru les piano Adeanna, gurunya ngasih saran supaya anak-anak diberi jadwal latihan di rumah supaya pelajaran musik di tempat les-nya bisa dilatih di rumah. Tapi faktanya….., seringkali jadwal itu tidak diikuti dan harus diingatkan berkali-kali.

Mulai awal bulan lalu, Dewi nerapkan aturan yang sedikit berbeda di rumah. Aku nggak tahu Dewi dapat ide dari mana yang penting idenya efektif. Ada aturan main yang jelas yang dibuat dengan anak-anak; kalo’ mereka tidak sholat di salah satu dari 5 waktu sholat, uang jajan untuk hari besoknya langsung hangus dan anak-anak tidak dapat uang jajan. Kalo’ anak-anak lupa sikat gigi, dendanya uang jajan mingguan dipotong Rp.1000,-. Potongan dengan jumlah yang sama juga berlaku kalo’ anak-anak lupa merapikan tempat tidur, tidak latihan musik dan lupa mbereskan sepatu. Hasilnya efektif. Tapi sisi negatifnya, anak-anak protes minta supaya aturan yang sama juga diterapkan ke aku dan Dewi. Bedanya, kalo’ penalty untuk anak-anak Rp.1000,- , untuk orang tua, setiap kasus pelanggaran aturan yang terjadi dendanya lima kali lipat.

Hasilnya………..? Besok paginya, aku langsung kena penalty Rp.5000,- karena aku tidak membereskan selimut di kamar ketika bangun tidur. Pulang kantor sore-sore, aku kena penalty Rp.5000,- lagi karena aku tidak memasukkan sepatuku ke lemari sepatu. Tapi besok-besoknya, aku juga jadi berusaha tidak kena penalty dan jadi lebih disiplin.

Mudah-mudahan aja ke depan semua jadi lebih disiplin. Kayaknya strategi ini bakal efektif kalo’ diterapkan dengan konsisten karena semua anggota keluarga tidak mau kena penalty. :)

Mesir

Filed under: Sejarah...

Tanpa kepentingan apa pun, tidak mendukung maupun menolak, tidak bersorak dan juga tidak mencercah…….., hanya ingin mencatat sejarah kalo’ Jumat malam (11 Februari 2011), Husni Mubarak, presiden ke-4 Mesir mengundurkan diri setelah hampir 3 minggu didemo rakyat. Apakah ini kemenangan demokrasi? Apakah ini kemenangan pihak-pihak tertentu? Aku tak tahu.

January 7, 2011

Belajar bisnis

Filed under: keluargaku, Perasaanku.

Minggu lalu, setelah mutusin nggak melanjutkan perjalanan ke Palembang tapi justru pulang ke Duri, aku mendengar Adeanna ngomong, "kalo’ nggak jadi ke Palembang, kita beli kain flanel dulu Pap ya."… Permintaan yang aku jawab dengan, "adikmu sakit, masak kita mampir ke pasar. Udah ntar aja kita beli di Duri."

Sejujurnya aku nggak tahu kain flanel itu mau diapain sampai kemudian mulai hari minggu aku melihat Ade dan mamanya sibuk motong-motong kain dengan motif yang sudah dibuat sebelumnya, lalu mulai menjahit. Di titik ini, aku juga masih belum dapat gambaran apa yang sedang disiapkan dan aku juga nggak nanya-nanya.

Hari senin pun datang, Adeanna mulai sekolah dan ternyata….hasil karyanya itu dijajakannya ke teman-temannya di sekolah meskipun yang aku dengar proses marketingnya agak lucu karena promosinya hanya ditunjukkan ke teman-temannya aja. Pulang sekolah hari senin itu, aku dengar tidak ada satu pun hasil karyanya yang laku :) meskipun aku juga dengar kalo’ dia mendapatkan beberapa pesanan dengan motif-motif lain.

Hari selasa, kembali Adeanna berangkat ke sekolah dengan membawa hasil kerajinan tangannya (boneka-boneka, gantungan kunci, dll) dan sorenya aku dengar dia membawa pulang uang Rp 34.000,-. Waktu dia cerita soal hasil bisnis (hmmm)-nya hari itu, aku cuma ngomong singkat, "bagus kamu belajar berkarya seperti itu, tapi ingat, jangan sampai ngganggu pelajaran sekolahmu ya." Hari rabu, kembali aku dengar dia melakukan hal yang sama dan kemarin sore, aku dengar omset (ha…. ha… ha…) penjualan kumulatifnya sudah Rp 64.000,-.

Yang lucu, waktu kemarin sore aku ajak ngobrol dengan pertanyaan, "berapa sih modal yang Ayuk pake’ untuk bisnis itu?" dia justru menjawab, "modal itu apa Pi?". Waktu aku jelaskan maknah modal dan apa aja yang harus dihitung sebagai modal, jawaban yang aku terima justru bikin aku tambah senyam-senyum, "Ya…nggak tahu Pap, berapa modalnya….nggak ngerti" katanya dengan balik tersenyum.

Waktu aku jelaskan kalo’ dalam bisnis itu harus ada perhitungan yang jelas ketika menentukan harga dengan basis modal produksi, jawaban yang aku terima kembali, "nggak ngerti Pap ya… koq bingung ya…". Dan waktu aku tanya sudah balik modal belum dengan hasil penjualan Rp 64.000,- yang dia peroleh, kembali aku dapat jawaban, "balik modal itu apa, Pap?". Jawaban yang membuat aku harus memberi penjelasan yang sayangnya juga tidak begitu dipahami dengan sempurna :)

Akhirnya……aku cuma bilang, "Papi suka Ayuk sudah belajar berbisnis. Papi suka Ayuk sudah mulai bikin kerajinan tangan terus dijual ke teman-teman Ayuk. Itu bagus. Papi suka banget. Nggak usah bingung mikir-mikir modal atau untung deh. Kalo’ Ayuk seneng ngerjainnya, Papi udah seneng. Nanti juga Ayuk akan tahu sendiri gimana ngitung modal atau untung ruginya. Yang penting sekarang, Ayuk jalani aja dulu. Tapi yang penting juga…. jangan sampai ngganggu pelajaranmu ya."

Seneng sekali mengetahui kreatifitas Adeanna. Senang melihat dia sudah mulai mengepakkan sayapnya melihat dunia dengan cara pandang dan gayanya sendiri meskipun aku merasa masih jauh dari sempurna. Mudah-mudahan pelajaran-pelajaran kecil dari proses kreatif yang dia jalani menjadi batu loncatan dan jembatan untuk dia melangkah lebih maju di kehidupannya nantinya, amiin…. :)

December 30, 2010

Aborsi

Filed under: keluargaku

"Papi mau cuti ke Palembang akhir Desember", kataku beberapa waktu yang lalu pada anak-anakku. Dan mengejutkan ketika aku menemuka kedua anakku yang sudah sekolah ternyata mengungkapkan pandangan yang berbeda, "Kami mau sekolah Pap. Kan tanggal 3 Januari sudah masuk sekolah". Mendapat challenge yang bener seperti ini membuatku sedikit surut tapi maju lagi dengan, "kan bisa minta izin. Ntar biar Mama minta izin sama wakil kepala sekolah. Kalian izin satu minggu. Tanggal 10 baru kalian masuk sekolah". Setelah diskusi panjang lebar (yang sejujurnya aku nggak begitu tahu mereka beneran paham yang didiskusikan atau tidak), akhirnya disepakati (atau diputuskan?) kalo’ mereka ikut ke Palembang.

Satu minggu sebelum natal, murid-murid SD Cendana pun sudah libur tanpa menerima raport sementara siswa SD Mutiara sudah menerima raport sebelum mulai libur. Tapi kami belum bisa mulai cuti karena kena jadwal "standby"; harus ada minimal 50% pegawai di setiap fungsi ngantor di peak season liburan sekali pun. Dan karena aku sudah mendapatkan prioritas cuti waktu lebaran, sekarang aku harus rela jadi di-2nd priority-kan. Aku baru bisa ngabiskan 7 hari kerja sisa cutiku setelah ada yang pulang (supaya 50% tetap terpenuhi).

Seperti biasa, dua tiga hari sebelum mulai cuti, Dewi sudah selesai dengan semua persiapan yang matang. Tas-tas pakaian, perlengkapan makanan anak-anak dan keperluan lain sudah siap dan tinggal diangkat ke mobil. Dan kemarin sore, begitu jam kerja berakhir, aku langsung cabut dan berangkat ke Rumbai. Kami nginap di Rumbai dulu sebelum melanjutkan perjalanan ke Jambi subuh besoknya dan terus ke Palembang.

Di sekitar jam 18.30, kami sudah masuk ke gate yang di dekat simpang bingung Rumbai dan langsung ke messhall dan setelah itu langsung ke wisma sungkai; masuk kamar untuk nontol final AFF 2010 dan kemudian tidur.

Tapi…… (aku tidak tahu jam berapa), Dewi mbanguni aku, ngasih tahu kalo’ Ananta panas. Suhu badannya lebih dari 39 derajat, hanya beberapa point saja kurangnya dari 40 derajat. Yang bikin runyam; koq tumben-tumbennya anak ini nggak mau minum obat, bahkan disuruh minum air putih pun susah. Bahkan untuk dikompres pun anak ini keberatan…. runyam deh. Ditambah lagi, posisi tidurnya pun melingkar; mbuat aku tidak bisa menerapkan ‘cara bijak’ orang China; meluk anaknya ketika anaknya demam supaya terjadi pertukaran panas. Yang bisa aku lakukan kemudian adalah narok kedua telapak tanganku di dadanya. Minimal terjadi pertukaran panas dari telapak tangan. Tapi karena kontaknya tidak lebar, pertukaran panasnya tidak optimal.

Malam pun tetap bergerak menuju subuh dan aku pun tidur bangun dalam proses ini meskipun aku yakin Dewi lebih begadang dibandingkan aku. Setelah sholat shubuh, aku sempatkan tidur sebentar dan waktu Ananta bangun aku bisa peluk dia sambil duduk; dadanya nempel di dadaku sementara tanganku bisa memeluk belakang tubuhnya untuk pertukaran panas yang lebih optimal.

Keraguan pun mulai menyeruak. Apakah kami harus tetap melanjutkan perjalanan ke Palembang atau harus mengambil keputusan lain. Setelah sholat subuh, aku putuskan untuk menunda perjalanan meskipun keputusan akhir belum final. Aku telephone ke Palembang, ngabarkan kondisi yang dihadapi dan pilihan yang mungkin ku ambil.

Menjelang berangkat ke messhall untuk sarapan di sekitar jam 07.00, suhu tubuh Ananta sudah di kisaran 37.9 derajat dan tingkahnya sudah kembali normal. Kebimbangan kembali menyeruak; terus ke Palembang setelah sarapan atau batal.

Setelah dari messhall, kami ke SPBU dan Ananta terlihat semakin segar meskipun suhu tubuhnya masih di atas normal. Godaan untuk meneruskan perjalanan ke Palembang pun semakin membesar.. tapi… dengan berbagai pertimbangan, akhirnya diputuskan batal. Kami kembali ke Duri saja. Kami pun mampir ke (ngecek) rumah di dekat PCR sebentar, membeli bubur ayam untuk Ananta dan terus berangkat pulang ke Duri. Perjalanan yang sudah sudah direncanakan dengan sangat matang itu pun akhir di-aborsi.

Sesuai janji reservasi saat masih di Rumbai, sore ini kami ke pediatrician di Duri hospital dan ternyata….Ananta harus blood test. Setelah menunggu sebentar, hasilnya pun keluar. Ananta kena radang tenggorokan. Meskipun bukan penyakit yang berbahaya tapi melanjutkan perjalanan ke Palembang dengan kondisi seperti ini bukanlah keputusan yang bijak. Dan kalau pun perjalanan diteruskan, di Palembang, kami justru tidak akan bisa liburan karena harus ke dokter. Keputusan meng-aborsi perjalanan adalah keputusan yang tepat.

Sore tadi, Ananta sudah tidur dengan nyenyak dan waktu dia bangun aku pangku dan aku merasakan keringatnya sudah membasahi belakang kepala dan juga tengkuknya. Kalo’ masih kecil dulu, ibu akan bilang, "la lepun, la hampir sembuh". Semoga anakku akan cepat sembuh dan kami bisa liburan di Duri, jalan kaki bertiga setiap pagi sampai aku masuk kerja lagi karena Adeanna dan Dhyaksa akan mulai sekolah tanggal 3 Januari.

Cuti di Duri? Aku pikir bukanlah keputusan yang buruk….. :)

December 18, 2010

Lele

Filed under: Umum banget

Lele? Hmm… ikannya enak meskipun bukan ikan yang paling enak. Tapi suka males kalo’ beli lele sebab kulitnya licin dan susah dibersihkan. Tapi aku dapat ilmu baru dari salah satu orang Palembang di Duri; pelajaran sederhana yang membuat urusan mbersihkan lele jadi gampang.

Biasanya, kalo’ mbersihkan lele, ada 2 teknik yang aku gunakan. Teknik pertama dengan pasir. Pasirnya digenggam lalu kulit lele diurut pake’ pasir. Sisi negatifnya adalah waktu dicuci agak report karena ada kemungkinan pasirnya tertinggal. Teknik kedua; dengan disisir pake’ pisau yang sisi negatifnya tidak mudah dilakukan dan tidak langsung membuat kulit lele jadi bersih.

Tapi…teknik yang aku baru pelajari dan aku baru praktekkan 2 kali dan ternyata sukses sangatlah sederhana. Lele tinggal direndam di air hangat kuku selama beberapa saat. Proses mbersihkannya jadi mudah karena dengan sedikit disiram dan disisir dengan tangan / jari, lendir kulitnya langsung mengelupas dan kulit lele langsung berubah bersih; agak keputih-putihan.

Pelajaran sederhana yang ternyata efektif

December 11, 2010

Nehi-Nehi

Filed under: Kuliner

Di Palembang, ada satu tempat makan yang sangat terkenal. Dari jaman masih kecil (dan ternyata, kalo’ membaca sejarahnya, ternyata dari awal masa kemerdekaan…), satu-satunya makanan yang dijualnya adalah martabak yang isinya dua butir telur bebek yang disiram dengan kari kental (dengan banyak kentang) dan cukup banyak daging yang sudah empuk. Merk dagangnya martabak HAR. Nama yang berhubungan erat dengan singkatan nama sang pendiri yang sudah almarhum.

Kalo’ orang ngomong makanan di Palembang, selain pempek dengan segala tipenya, model dan tekwan, makanan yang hampir dipastikan disebut orang adalah martabak HAR. Waktu kecil, kalo’ sedang ke Palembang, aku diajak bapa makan martabak HAR di seberang mesjid agung, persis di ujung jembatan penyebrangan di depan mesjid agung; bersebelahan dengan sebuah ‘Apotik Anda’ tempat bapa biasa membeli obat mata untuk ibu.

Dulu sih… makan martabak HAR betul-betul oke punya; karinya kental penuh dengan kentang dan banyak dagingnya tapi sekarang… karinya sudah encer, kentangnya hampir tidak ditemukan, dan sangat jarang ketemu dagingnya……tapi, ya….. tetap bikin kangen.. kalo’ ke Palembang, tetap juga pengen makan martabak HAR.

Kalo’ sekarang sih, martabak HAR tokonya bukan cuma di seberang mesjid agung dan di persimpangan dari Mega Ria Palembang tapi sudah menyebar ke mana-mana; ada yang di dekat simpang sekip, ada juga yang di komplek pertokoan ilir barat permai dan banyak lagi. Bahkan, di Batam dan di Jakarta pun sekarang sudah ada. Dan yang berbeda dari jaman dulu adalah makanan yang dijual bukan cuma martabak tapi juga makanan jenis lain juga. Bahkan kalo’ di simpang sekip, sudah ikutan njual nasi… he..he..he..

Kalo’ di pasar plaju (pojokan jalan abdullah), dari kecil juga ada sebuah toko yang njual martabak yang mirip dengan martabak HAR… tapi aku lupa namanya karena jarang makan di sini. Di masa akhir SMA, di muara gang sentosa plaju (Jalan Ki Anwar Mangku), muncul juga tempat makan martabak yang juga mirip dengan martabak HAR. Di awal masa kuliah, aku juga melihat ada tempat makan martabak yang baru tidak jauh dari puskesmas plaju tapi martabaknya menggunakan sayur dan tidak pake’ kari; tapi pakai kuah warna hitam mirip kecap (yang ternyata sama dengan martabak yang aku kenal di Duri ~ orang di Duri nyebutnya martabak mesir… Nggak tahu juga sih, emang dari Mesir? Nggak ada jaminan karena aku lihat keturunan India juga mbuat martabak seperti ini.

Beberapa tahun yll, di Johor Bahru, aku menemukan makanan India yang lain yang tidak aku temukan di Palembang, Duri, Dumai maupun di Pekanbaru. Namanya roti canay (aku lupa tulisannya gitu atau bukan). Dari acara kuliner di TV, aku jadi tahu kalo’ di Medan ada komunitas keturunan India yang menjual roti cane; yang aku asumsikan sama dengan roti canay.

Beberapa minggu yang lalu, Dewi cerita kalo’ ada istri teman di kantor cerita kalo’ ada yang njual rote canay di Duri. Kami pun keliling dan berakhir dengan satu kesimpulan….tidak ada penjual makanan khas India di Duri :(

Awal minggu ini, aku, Dewi dan Ananta ncari jualan serabi dan ternyata di tempat jualan serabi di depan rumah sakit di pangkal jalan sudirman ada juga jualan makanan khas India; salah satunya roti cane. Waktu dibawa pulang, ternyata… Dhyaksa dan Ade doyan dan mereka pun minta lagi. Jadinya malam ini, kami pun nongkrong di sana lagi makan roti cane, sate dan serabi….dan yang menyenangkan…. ternyata meskipun pesanannya beragam dan banyak …. total harga yang harus dibayar masih lebih murah dibandingkan biaya jajan yang biasanya.

Kayaknya asyik juga kalo’ lebih banyak jenis makanan yang bisa dinikmati di Duri; terlebih kalo’ harganya dibuat sedikit rendah dari biasanya….; dibuat sama dengan harga makanan di Pekanbaru la minimal… atau kalo’ mau lebih oke lagi, dibuat sama seperti harga jajanan di Palembang :)

Meong…

Filed under: Pikiranku

Kalo’ nonton lawak terus ada yang ngomong "meong", biasanya tendensinya negatif. Tapi tulisan ini justru akan melihatnya dari sisi positif. Pagi ini aku dapat pelajaran dan seekor kucing peninggalan tetangga sebelah kanan, orang Afrika Selatan keturunan Belanda, yang sudah repatriasi awal tahun ini. Setelah bule ini meninggalkan Duri, kucingnya yang tinggal di Duri pun jadi sering nongkrong di dekat garasi (bahkan kayaknya tidur di garasi) dan kalo’ lapar sering nongkrong di depan pintu dapur. Sejak kucing ini sering ‘nongkrong’ di sekitar rumah, Ananta juga jadi suka kucing meskipun tetap dijaga supaya sukanya tidak sampai megang-megang dan sejenisnya.

Pagi ini, seperti biasa, sabtu, aku punya jadwal rutin yang terpaksa aku tunda karena Ananta ngotot pengen ikut ke pasar padahal aku ke pasar naik motor. Untuk ngalihkan perhatiannya, aku pun ke belakang rumah dan ngajak Ananta duduk di belakang garasi, memperhatikan kucing yang tiduran di jalan ke arah garasi dan juga nunjukkan pohon durian yang aku tanam tahun lalu, sementara Dewi ke depan rumah, ngeluarkan motor, helm, sepatu dan juga karung yang akan aku bawa ke pasar. Setelah Dewi kembali ke belakang rumah, aku pun mutar - kaki ayam - samping rumah, ke depan, dan langsung cabut ke pasar.

Pulang dari pasar, seperti biasa, motor diparkir di belakang dan aku pun mbersihkan ikan ditemani Ananta. Nah… pelajaran menarik pun di mulai. Setiap kali ada bagian ikan / ayam yang aku buang dan alirkan di ditch - selokan jalur air hujan yang mengitari rumah, aku melihat kucing ini dengan tenang menunduk ke dalam ditch dan mengambil potongan itu. Setelah dapat, dia makan potongan itu dengan tenang dan akan mengulang urutan kerja yang sama lagi. Kejadian ini terjadi berulang-ulang sampai aku selesai membersihkan ikan.

Yang menarik perhatianku adalah….ketika dia sedang fokus mencoba mengambil satu potongan ikan / ayam, dia tidak tergoda untuk mengalihkan perhatiannya pada potongan lain yang juga mengalir. Dia tetap fokus pada potongan yang diincarnya dan membiarkan potongan yang lain lewat. Dan ketika dia sedang menikmati potongan yang berhasil diambilnya pun, aku tidak melihat ekspresi yang menunjukkan dia menginginkan lebih dari apa yang dia punya.

Ada 3 pelajaran menarik dari  apa yang aku lihat hari ini:

  1. Kucing fokus pada apa yang dia kerjakan dan melakukan pekerjaannya dengan optimal sampai hasilnya didapat. Pelajaran kehidupan bahwa manusia pun perlu fokus pada apa yang dia kerjakan untuk mendapatkan hasil yang optimal.
  2. Kucing tidak rakus. Kucing tahu bahwa kehidupan tidak memerlukan lebih dari apa yang dibutuhkan. Karena yang dibutuhkan cuma satu potong, dia tidak menginginkan lebih dari apa yang dia butuhkan. Sementara manusia, selalu menginginkan lebih dari apa yang dibutuhkan. Hutan-hutan ditebangi tanpa melihat manfaatnya pada kehidupan….dan sejenisnya.
  3. Kucing mensyukuri apa yang dia dapat. Dia menikmati dan mensyukuri rezeki yang dia miliki. Ketika berhasil mendapatkan sesuatu. Dia nikmati itu dengan takzimnya, sampai bersih, tuntas dan tidak meninggalkan polutan / sampah. Sementara manusia mengejar dunia seakan lupa pada hari setelah kehidupan dan manusia mengejar dunia, kadang, dengan mengabaikan syukur pada ilahi…………

Pelajaran menarik…..meskipun mungkin tidak begitu mudah untuk dijalankan… :)

December 7, 2010

Senandung dan musik

Filed under: keluargaku

Aku mengenal musik dari masa kecilku di desaku. Sepanjang yang aku ingat, sepanjang hidupku, sejak kecil aku sudah mengenal musik dan aku sudah kenal keindahan yang terkait musik dan lagu. Di masa kecilku, mak cek, adik bapaku, selalu bermain musik di rumah bersama teman-temannya. Beliau bisa menggunakan berbagai alat musik yang ada waktu itu; gitar, ketipung, gendang, seruling, tamborin, biola dan alat-alat musik lain. Mereka bermain musik hampir setiap malam di teras rumah kami dan biasanya teman-temannya akan tidur di teras itu dan bubar di waktu subuh.

Kalo’ sedang banjir, mereka akan bermain musik keliling kampung. Peralatan musiknya ditempatkan di atas perahu dan mereka keliling kampung bermain musik sambil menikmati banjir di atas perahu. Tapi sejak hampir 30 tahun terakhir… banjir sudah tidak sering terjadi lagi dan kalau pun banjir tidak cukup besar untuk dinikmati. Banjir yang terjadi sekarang hanya ngotori kampung saja, tidak bisa dinikmati seperti di waktu kecilku.

Di masa kecilku, sebelum aku mulai sekolah, mak cek membuatkan aku sebuah gitar kecil yang bentuknya sangat indah meskipun tidak bisa disetel. Gitar itu sering aku pakai untu pura-pura bermain musik dengan sangat gembira meskipun suaranya tidak seperti musik yang benar karena memang tidak bisa disetel.

Di masa kecilku, aku sering bernyanyi diiringi gitar mak cek. Di sekolah pun aku sangat suka bernyanyi; lagu-lagu tentang cinta tanah air yang aku pelajari dari orang tuaku. Hampir setiap malam, aku mendengar dan menikmati suara bapa menyanyi dengan suara beliau yang merdu. Beliau sangat mahir membaca not baik not balok maupun not angka dari sebuah buku musik dan lagu yang sangat tebal yang diterbitkan departemen pendidikan dan kebudayaan dan merangkai not-not yang beliau baca menjadi aluran suara nyanyian yang merdu. Aku pun sering mendengar suara ibuku yang juga merdu menyanyi.

Lagu dan musik menjadi bagian yang indah dari masa kecilku. Ketika masih sekolah di desa, salah satu keinginanku adalah menjadi seorang penyanyi, aku sangat menikmati bernyanyi di depan kelas dan aku sangat menikmati membayangkan aku menjadi penyanyi. Tapi di masa kecilku, aku juga ingin menjadi penari. Aku ingat, waktu kelas 4, kalo ditanya aku mau sekolah di mana, ada kalanya aku menjawab kalo’ aku mau sekolah di ASTI di Yogya, sekolah tari yang tentu aku tidak punya bayangan mengenai sekolah itu dan juga mengenai kota Yogya yang saat itu belum pernah aku kunjungi. Aku mengenal ASTI hanya dari buku yang aku baca.

Waktu pindah ke Palembang, kelas VI SD, aku tidak lagi suka bernyanyi di depan kelas. Aku tidak siap menyadari kalo’ ternyata bernyanyi di depan kelas di Palembang tidak boleh dengan suara kencang, harus lembut-lembut sementara aku selalu bernyanyi dengan suara kencang, bersemangat dan penuh perasaan… (termasuk perasaan ge-er he..he..he..). Aku ingat, Bu Rusimah, kepala SD Negeri 138 Palembang waktu itu,  sampai perlu keluar dari kantornya dan mengintip ke kelasku yang ada di sebelah kantor beliau karena aku bernyanyi dengan kencang seperti biasa aku bernyanyi. Tapi aku tetap bernyanyi, sampai saat ini. Aku masih selalu bernyanyi di rumah, di kamar mandi, di jalan, sambil nyupir, sambil bekerja di ruanganku di kantor….tapi tidak di depan orang banyak.

Aku mengenal permainan gitar dari kecil tapi permainanku tidak pernah berkembang baik. Aku tidak cukup telaten untuk belajar dan berekperimen dengan musik untuk membuatku mahir bermain musik. Aku hanya bisa memain gitar untuk diriku sendiri dan tidak pernah keberanian untuk bermain musik di depan orang lain kecuali keluarga. Aku juga tidak punya kemampuan untuk menyetel gitar. Biasanya aku bermain gitar dengan gitar kakakku, gitar mak cek atau pun gitar sepupuku yang sudah disetel sebelumnya. Kalo’ disuruh nyetel….aku tidak bisa (sampai saat ini ~ syukurnya, sekarang ada alat elektronik yang bisa jadi panduan waktu nyetel, jadinya aku bisa ngepasin sendiri nada gitar di rumah). Tapi kegemaranku akan musik dan kegemaranku menyanyi tetap aku lakukan.. di rumah dan di kantor (tapi hanya untuk diriku)… :)

Anak-anakku pun lahir. Di saat kelahiran Adeanna, aku meminjam gitar dari temanku, Meidian Prima, salah satu pegawai CPI yang alumni politeknik sriwijaya. Aku mainkan gitar dengan lagu-lagu cinta dan doa-doa untuk anakku. Aku iringi hari-hari awal Adeanna di dunia dengan petikan gitar yang seringkali dibarengi air mata seiring aku menyanyi.

Anak-anakku pun semakin besar. Aku selalu menginginkan mereka mengenal musik tapi aku tidak pernah memaksa bermain / belajar musik karena aku percaya dan aku ingin mereka mengenal musik karena mereka ingin; karena mereka menikmati keindahannya.

Dengan keinginan mereka sendiri, Adeanna pun belajar piano di bina musika (sekolah musik yamaha) sementara Dhyaksa belajar drum. Karena piano mahal (dan aku belum menganggapnya perlu beli piano yang harganya mahal tapi cukup dengan keyboard yamaha yang harganya relatif murah dengan fungsi yang mirip dengan piano), dia aku belikan keyboard. Sementara Dhyaksa aku belikan drum yamaha yang aku anggap cukup untuk dia belajar musik.

Mereka pun belajar musik dengan gembira. Meskipun kadang aku melihat kejenuhan dan kemalasan berlatih muncul, tapi aku senang karena anakku bermain musik dan aku senang karena mereka belajar musik dengan benar. Aku percaya, musik dan senandung adalah bagian kehidupan yang indah yang perlu mereka kenali dan jadikan bagian hidup mereka.

Karena keperluan bermusik Adeanna semakin meningkat, akhirnya….aku pun beli piano beneran dan keyboard-nya aku kirim ke Palembang. Sementara Dhyaksa pun mulai belajar main gitar meskipun dia tetap tidak mau kursus gitar. Dia hanya menirukan permainan gitarku yang pas-pasan. Tapi aku percaya, suatu saat dia akan mulai belajar dan bermain gitar dengan cara yang benar karena aku melihat ada bakat dalam dirinya. Kemarin sore, aku melihat Dhyaksa dan Adeanna bermain piano bersama dan permainan mereka enak didengar (meskipun Dhyaksa tidak pernah belajar main piano. Dia hanya menirukan apa yang dilakukan Adeanna).

Ananta pun sama.  Aku pun melihat bakat musik dalam anak ini. Dari umur 1.5 tahun dia sudah selalu menyukai drum, memukul drum dengan gerakan yang baik meskipun tanpa keindahan suara. Aku pun melihat minatnya bermain gitar dan juga bermain piano. Kalo’ melihat gitar tergeletak, dia akan mulai memetik dengan petikan yang tidak bernada. Dia pun menekan-nekan tuts piano dengan sangat gembira dan gerakannya baik meskipun juga tanpa nada yang terstruktur.

Anak-anakku juga punya kegemaran menyanyi meskipun masing-masing punya karakter yang berbeda. Adeanna relatif malu-malu dan tidak akan mengeluarkan suaranya dengan sempurna tetapi dia bisa bernyanyi sebetulnya. Dhyaksa pun sama. Dia bisa bernyanyi dengan artikulasi yang sangat matang tapi dia tidak terlalu percaya diri dalam menyanyi. Suara yang dia keluarkan terdengar biasa karena dia tidak menyesuaikan nada lagu yang dinyanyikannya dengan nada terbaik yang cocok dengan tone suaranya. Dalam bernyanyi pun dia malu-malu. Dia tidak akan mengeluarkan suaranya dengan optimal dan perlu dorongan yang lebih untuk membuatnya mengeluarkan apa yang dia bisa. Kadang-kadang, aku jadi jengkel dan kadang-kadang suaraku pun naik kalo’ melihat dia menyanyi seadanya. Aku ingin anak-anakku bernyanyi dengan perhayatan, bernyanyi dengan menikmati keindahan musik dan aku ingin mereka bernyanyi dengan kebanggaan akan kualitas suara yang mereka keluarkan. Dan saat ini, aku melihat mereka belum sampai pada tingkatan itu tapi aku percaya….suatu saat mereka akan sampai pada tingkatan itu.

Dari ketiga anakku. Ananta agak sedikit berbeda. Dia bernyanyi dengan gembira. Dia menikmati nyanyian yang dia keluarkan dan dia terlihat lebih ekpresif dalam mengungkapkan kegembiraan dan suasana hatinya. Sering aku melihat dia menari sendiri, sering aku melihat dia berjoget dalam nyanyian yang dia bunyikan. Di mobil pun aku sering melihat dia dengan ekspresif menggerakkan tubuh bahkan terkesan menari sambil menikmati musik yang keluar dan sound system mobil.

Dalam hal meng-ekspresikan perasaannya, aku melihat dari ketiga anakku, Ananta lebih ekspresif, lebih mengingatkanku pada aku di masa kecilku. Tapi aku percaya ketiga anakku memiliki kemampuan dan minat juga bakat yang sama dalam bermusik dan bersenandung. Tapi jalan mereka masih panjang…mereka masih dalam pencarian mood yang paling pas dengan kepribadian dan jiwa mereka masing-masing.

Aku sendiri….sampai saat ini masih tetap menyenangi musik dan tetap bersenandung meskipun senandungku hanya aku keluarkan untuk diriku sendiri dan untuk keluargaku. Aku hampir tidak pernah bernyanyi di depan orang lain baik di kantor maupun di lingkungan sosialku.

Jerawat?

Filed under: keluargaku

Beberapa bulan lalu, Adeanna pulang sekolah dengan cerita yang berbeda. Dia nceritakan kalo’ salah satu temannya - anak kelas 5 SD - yang tinggal tidak jauh dari rumah kami sudah ‘mens’. Aku sih senyum-senyum aja karena kata ‘mens’ bukan kata yang luar biasa dalam rumah kami dan anak-anak juga sudah sangat kenal kata itu karena memang mereka disiapkan untuk kenal kata-kata seperti itu.

Tahun lalu, seingatku, Adeanna ikut workshop ‘pra-mentruasi’ yang diadakan salah satu biro psikologi yang ada di Duri. Dan, katanya…. waktu ikut workshop itu dia dapat banyak informasi mengenai anatomi tubuh, mengenai perkembangan manusia dan perubahan-perubahan yang terjadi, termasuk juga mengenai pengalaman bulanan yang akan dialami wanita normal.

Kalo’ Adeanna pulang sekolah dan sorenya terlihat lesu dan cemberut, aku dan Dewi kadang-kadang ncandai dengan pertanyaan khas, "kenapa Yuk cemberut? lagi mens?" dan biasanya dia akan mesam mesem ketawa karena memang dia belum mengalami dan sejujurnya aku tidak bisa mengukur sedalam apa pemahamannya mengenai kata itu selain familiarnya kata itu di telinganya dan juga pemahaman yang dia dapat dari workshop tahun lalu, dari cerita teman-temannya dan juga dari obrolan-obrolan kami di rumah.

Hari jumat minggu lalu, sore-sore, Adeanna leyeh-leyeh di bale-bale di living room, nutupi hidungnya. Sambil mendekat, aku tanya, "koq idungnya ditutup?" dan ternyata….ada bentolan kecil di hidungnya yang berwarna kemerahan. Dhyaksa dan Rita ncandai dengan ngomongin kalo’ itu jerawat. Sambil senyam-senyum aku bilang, "kalo’ Ayuk sudah jerawatan, artinya ayuk sudah gede tu. Bentar lagi mens" dan semua pun tertawa. Ndengar itu, Ade pun jawab dengan tangkasnya, "xxx (nama orang) jerawatan dua tahun lalu tapi baru mens tahun ini"…. Kami pun kembali senyam senyum.

Tapi jerawat? beneran Adeanna jerawatan? Ternyata bukan tu…. :)
Tapi meskipun itu bukan jerawat, aku langsung jelaskan mengenai kulit manusia, mengenai pori-pori dan kaitannya dengan pembuangan kotoran di bawah kulit yang kalo’ terhambat karena porinya tertutup bisa jadi jerawat. Dan ujungnya aku akhiri dengan pesan sponsor, "makanya….kulit muka harus dibersihin ya… biar nggak jerawatan".

December 5, 2010

Strategi Marketing

Filed under: Umum banget

Tidak begitu banyak retail besar yang aku lihat (karena memang tidak banyak pemain retail besar di Indonesia bukan?). Dari semua retail yang aku ketahui, matahari memang punya strategi marketing yang menurutku lebih unggul dibanding yang lain. Matahari punya keahlian ‘memancing’ hasrat orang untuk berbelanja (bahkan untuk yang tidak mereka perlukan) dengan sedikit iming-iming ‘discount’ atau pun ‘voucher’.

Malam sabtu minggu lalu, setelah makan malam di tenda di sekitar UNRI lama, kami pun ke mall SKA. Salah satu tujuannya adalah membeli sepatu sekolah untuk Dhyaksa (yang rajin sekali merusak sepatu sekolah…he..he…he.. dalam 1 tahun sepatunya bisa rusak 2 - 3 kali). Sekali ini, sudah diputuskan kalo’ sepatu sekolahnya harus tipe yang memakai tali.

Karena banyak discount, belanjaan pun bergerak lebih luas dari planning awal. Aku jadi beli sepatu, Dewi jadi beli sendal… Setelah dari kasir, eh… dapat kupon discount 50 ribu dan Ananta pun berhenti di tumpukan boneka dan bantal warna-warni. Karena kupon ini hanya berlaku kalo’ belanja minimal 100 ribu, jadi beli 2 bantal + 1 boneka kecil dengan harga total 125 ribu. Waktu sampai di kasir, ternyata….. karena tidak ada pun item ini harganya lebih dari 50 ribu, kupon discount tidak berlaku. Pembelian pun dibatalkan.

Tapi…. godaan untuk menggunakan kupon discount belum hilang. Justru sekarang bergerak ke boneka harimau yang harganya 200 ribu dan sudah sempat diletakkan di meja kasir sampai akhirnya Ananta membatalkan pilihannya dan memiliki fire truck dengan remote control seharga 150 ribu.

Memang diperlukan kedisiplinan yang tinggi untuk tidak tergoda dengan iming-iming marketing para retailer dan terasa sangat beruntung tinggal jauh dari pusat iming-iming ini. Kalo’ di Duri, satu-satunya retailer besar yang ada cuma ramayana dengan stock yang tidak beragam. Jadi bisa lebih safe dari jebakan ’strategi marketing’.. :)

Kuliner Pekanbaru ~

Filed under: keluargaku, Kuliner

Minggu lalu, tanggal 28 November, salah satu sepupuku menikah di Palembang. Rencananya sih aku ngambil PB (personal business) leave 3 hari, mau pulang menghadiri acara itu. Tapi karena sesuatu dan lain hal, aku akhirnya memutuskan untuk tidak pulang sementara PB sudah diambil. Dengan seizin atasanku, PB leave-ku pun dikurangi dari 3 hari menjadi 1 hari saja; hari jumat minggu kemarin.

Karena anak-anak sekolah, meskipun hari jumat aku PB, aku stay di rumah aja. Cuma keluar waktu nganter Dewi belanja sayur di warung mesjid ushuluddin dan nonton di rumah sampai waktunya sholat jumat. Menjelang jam 2, baru kami sekeluarga keluar dari rumah ke SD Mutiara, njemput Adeanna pulang sekolah dan langsung ke Pekanbaru, nginap di wisma di Rumbai.

Sampai di Rumbai menjelang jam 4.30 sore, kami langsung check-in di wisma dan langsung ke gramedia mbeli mouse dan beberapa perlengkapan sekolah yang dibutuhkan Adeanna. Di gramedia, kami juga melihat okulele dan gitar kecil yang dipatok di harga Rp.256 ribu; pengennya mbeliin Ananta gitar kecil supaya kalo’ lagi main gitar, Ananta bisa ikutan main gitar sendiri.

Setelah dari gramedia, kami pun bergerak ke mesjid di kampus UNRI, sholat magrib. Dalam perjalanan, aku menemukan kalo’ cukup banyak tempat makan "malamam" di pinggir jalan-jalan di komplek ini; mulai dari sate, somay sampai burger, canay, kebab maupun ’surabi’.

Setelah sholat, kami pun nongkrong di salah satu tenda pinggir jalan dan memesan 5 porsi somay (harganya dipatok Rp10 ribu/porsi) dan ternyata…. Adeanna nambah. Sesuatu yang luar biasa mengingat anak ini makannya selalu sedikit. Dhyaksa dan Adeanna juga mesan 2 porsi kebab dan aku akhiri pesanan kami malam itu dengan sebuah ’surabi’..

  • Somay yang dijual sebetulnya tidak istimewa. Kuahnya agak encer meskipun bisa dibilang cukup enak dengan paduan yang pas antara kualitas makanan pinggir jalan dengan harga yang dipatok. Adeanna minta tambah satu porsi menjad indikasi bahwa somay-nya not bad :)
  • Waktu aku bilang ada kebab, Ade dan Dhyaksa sangat antusias pengen nyoba karena ‘katanya’ mereka sudah lupa bentuk dan rasa kebab padahal waktu hampir 4 bulan di Sydney, mereka makan kebab 2-3 kali seminggu. Begitu kebabnya datang, aku senyum-senyum karena gulungan kebabnya tipis (harga per porsinya Rp10 ribu). Aku bandingkan dengan kebab yang dulu suka dibeli waktu di Sydney, ukurannya 4 kali lipat  ukuran kebab yang ini. Soal rasa? Aku tidak ikut nyicipi tapi aku juga tidak mendengar protes apa pun dari kedua anak ini. Kalo’ dibandingkan harganya sih…. kebab di Sydney $3.50 - $4.00 jauh lebih murah dibandingkan kebab di UNRI yang Rp10 ribu / porsi ini karena baik ukuran gulungan maupun panjang gulungannya beda dan isinya lebih banyak… :(
  • ‘Surabi’ terdengar asing di telingaku. Aku lihat cara mereka memasak dan mengingatkan aku pada orang yang masak ’serabi’ tapi aku tidak tahu apakah ’surabi’ sama dengan ’serabi’. Begitu pesananku diantar…..aku baru tersenyum dan ternyata….’surabi’ sama dengan ’serabi’… he..he..he..he…

Meninggalkan UNRI sekitar jam 7 malam, kami memutuskan ke mall SKA dan keluar dari sini sekitar jam 10 malam. Perut pun mulai terasa lapar dan sepanjang jalan dari mall SKA sampai ke melewati pasar Rumbai, kami tidak menemukan tempat makan yang membuatku ‘tergoda’ untuk mampir. Sampai akhirnya kami berenti sebuah ruko yang menjual mie rebus yang ‘ternyata’……maksudnya Indomie rebus dan kami pun putuskan jalan lagi. Tidak berapa jauh menjelang bundaran Rumbai sebelum masuk komplek CPI, kami menemukan sebuah tempat makan ‘Mi Surabaya’ dan kami pun memesan 2 porsi kwetiau goreng dan 1 porsi batagor. Komentarku….. ‘not bad’. Porsi kwetiau dan batagornya jumbo… Rasanya not bad meskipun bumbu kacang di batagornya tidak seenak bumbu kacang somay di UNRI. Setelah ini kami pun pulang ke wisma.

Besok paginya, lewat jam 7 pagi, kami keluar. Agak berbeda dengan biasanya, kali ini aku putuskan tidak sarapan di messhall tapi ncari sarapan di dekat pasar bawah. Ada tempat makan India yang menjual roti canay. Tapi ternyata…..toko itu tidak buka; bukanya hanya sore sampai malam saja.

Dengan kecewa, kami pun bergerak ke jalan sudirman berhenti di sebuah ruko yang menjual mie aceh…tapi…. karena penjualnya tidak ramah, kami pun naik mobil lagi dan akhirnya memutuskan bebelok ke kiri dan menemukan sebuah tempat makan di depan pojokan hotel anom dengan sarapan yang rasanya ’sangat rata-rata’ dan porsinya kecil. :)

Setelah dari bengkel suzuki dan mampir di toko musik yamaha ujung Pekanbaru ke arah airport, kami pun bergerak ke Rumbai, mampir sebentar ngecek rumah di Rumbai dan akhirnya langsung makan siang di messhall.

Dan ujung-ujung….. aku selalu kesulitan mencari tempat makan di Pekanbaru. Selama lebih 13 tahun menjadi warga Riau, aku tetap belum menemukan tempat makan yang aku anggap ‘representative’ yang membuat aku nyaman untuk makan di sana berulang-ulang. Setiap kali ke Pekanbaru, aku selalu kembali pada kesimpulan…messhall di depan main office Chevron di Rumbai tetap menjadi tujuan utama kalo’ urusan kampung tengah… :)

November 26, 2010

Sedikit Sekali..

Filed under: keluargaku

"Sedikit sekali" adalah phrase yang sering sekali diucapkan Ananta. Kalo’ sedang makan, biasanya piringnya sudah diisi dengan makanan dan dia pun akan mulai makan. Tidak berapa lama dia makan, isi piringnya relatif tidak berubah; masih tetap sama dengan kondisi awal sebelum dia mulai. Tapi…di titik ini dia biasanya akan mulai minta ditambah, "Papi, minta tambah ikannya" misalnya, dia akan ngmong seperti itu. Setelah dia ngomong, biasanya aku atau Dewi akan mulai bergerak untuk menambahkan dan sebelum ikan tambahan masuk ke piringnya, dia sudah menambahkan phrase andalannya, "sedikit sekali" katanya dengan muka sedikit merajuk. Setelah dia ngomong begitu, biasanya akan ditambah lagi dan kembali akan terdengar kata-kata yang sama, "sedikit sekali…." katanya dengan ekspresi dan intonasinya yang lucu. Tapi di titik ini, kondisi akan berubah. Aku atau Dewi akan mengatakan, "itu di piringnya masih banyak. abisin dulu dong baru ntar tambah lagi." Kalo’ sudah dijawab seperti itu, Ananta akan mengatakan, "iya..iya abisin dulu ya." dan dia pun akan kembali makan.

Pagi ini, aku tidak kerja. Aku ngambil PB leave (personal business). Tadinya ada rencana mau pulang ke Palembang. Ada sepupu yang akan menikah besok. Tapi menimbang beberapa kondisi, akhirnya diputuskan tidak jadi ke Palembang tapi PB leave 1 hari tetap diambil. Jadi hari ini nggak kerja.

Waktu sarapan, aku cuma makan sayur aja. Nggak pake’ nasi. Waktu Dewi nanya koq nggak pake’ nasi aku cuma bilang, "ntar aja… sayur aja dulu". Setelah ngantar anak-anak ke sekolah, Aku, Dewi dan Ananta pun jalan kaki keliling komplek sibayak. Di perjalanan pulang kami mampir ke penjahit langgananku, ngambil 2 stel pakaian kerja sambil Dewi mbeli 2 bungkus gado-gado. Pulang ke rumah, kami pun makan gado-gado dan Ananta dengan gembira meminta kerupuk-kerupuk merah untuk dipindahkan ke piringnya dan kembali, phrase andalan itu keluar lagi, "sedikit sekali" katanya. Karena memang di piringku yang belum disentuh memang masih ada krupuk merah, langsung dipindahkan deh ke piringnya. Tapi… ketika di piringku sudah tidak ada kerupuk merah pun dia masih mengeluarkan phrase andalan lagi, "sedikit sekali" ha…ha…ha..

Selain sedikit sekali, dalam minggu ini, Ananta juga mengenal kata baru, "tabok" yang aku sendiri tidak begitu paham apakah maknahnya "memukul" atau ada maknah yang lain. Tapi dia suka sekali menggunakan kata-katan itu. Aku tidak tahu di mana dia mendapatkan kata ini tapi dia selalu menggunakannya dalam konteks yang juga tidak bisa aku pahami sepenuhnya. Misalnya dia mengatakan, "ayuk tabok"…. atau "tabok kakak". Aku dan Dewi pun mencoba meng-eliminasi penggunaan kata ini tapi sepertinya masih butuh waktu karena terlihat dia sangat "menikmati" menggunakan kata yang baru dikenalnya itu.

November 23, 2010

Another Job Accomplished

Filed under: Pikiranku, Aku belajar

Alhamdulillah, proses review performance appraisal tahap pertama tahun ini sudah selesai dilakukan kemarin. Penggodokan proposal akhir di team besar di mana aku berada sudah dilakukan kemarin dari pagi sampai sore. Proposal-proposal untuk setiap kelas salary grade sudah didapatkan. Langkah selanjutnya adalah proses di level yang lebih tinggi sebelum akhirnya dibicarakan di level operating unit dan diputuskan sebagai keputusan final.

Proses performance appraisal tahunan ini selalu menyisahkan pelajaran-pelajaran menarik. Pelajaran tentang tugas dan tanggung jawab. Pelajaran tentang kepemimpinan. Pelajaran mengenai fairness dalam bersikap dan mengambil keputusan. Pelajaran tentang mengemukakan hal yang benar dan mencoba menyisihkan personal perspective yang tidak didasari fakta dan/atau data karena yang dibicarakan pure apa yang dilakukan setiap pegawai di tahun berjalan saja, bukan asumsi, bukan kenangan dan juga bukan bayangan apa yang bisa dilakukan pegawai tapi pure cuma apa yang sudah dia lakukan di tahun berjalan.

Dari proses presentasi yang dilakukan para leader sebagai bagian dari proses penilaian, bisa dilihat juga kualitas kepemimpinan seseorang dan juga bisa dilihat kualitas pribadi setiap orang. Ada yang kelihatan menyiapkan segala data dan bahan presentasinya dengan optimal sehingga presentasinya pun optimal, ada yang terkesan menyiapkannya seadanya dan ada juga yang terkesan ‘tidak berusaha’ optimal dalam menyiapkan proses ini.

Dari proses yang terjadi juga terlihat ada yang sudah bisa berbicara dengan fakta saja tapi masih ada juga yang berbicara dengan membangun wacana. Dari proses tanya jawab juga kelihatan yang mana yang akan menjawab dengan lugas, tegas dan faktual dan ada juga yang bekelit dengan manis maupun berkelit dengan tidak manis.

Proses-proses ini menjadi ‘indikasi’ yang jelas mengenai kualitas kepemimpinan seseorang. Mengenai bagaimana setiap leader yang membernya sedang dibicarakan melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Dari proses yang terjadi juga, bisa dilihat dengan jelas ‘indikasi-indikasi’ kepribadian seseorang. Ada yang sangat jujur sehingga segala data dibuka lebar tanpa aling-aling, ada yang jujur tapi bisa memilah yang worthed showing dengan yang perlu disamarkan, ada yang terkesan sangat tidak jujur, ada juga yang terkesan berusaha menutupi sesuatu dengan tidak manis. Segala aspek dari proses-proses yang berlangsung menjadi sesuatu yang menarik untuk diamati dan dipelajari; pengamatan yang mudah-mudahan membantuku menjadi pribadi yang lebih baik dalam bersikap.

Sebagai anggota EQR leadership (he..he..he… istilahnya keren) yang bertindak sebagai ‘juri dan wasit’ yang kemudian mengambil keputusan akhir dari proses appraisal setiap aku dan teman-teman yang lain harus melepaskan diri dari original team yang kami masing-masing pimpin dan menempatkan diri sebagai anggota council yang berdiri independent dan melihat / menilai segala aspek yang dipaparkan dengan objektif. Dari proses ini, aku juga melihat ada yang sudah bisa menempatkan diri dengan purely objective dan masih ada juga yang masih developing menuju ke arah yang ideal.

Proses performance appraisal tahunan memang selalu menarik dan selalu ada pelajaran menarik yang bisa diambil.

http://sibayak42.blogsome.com/2008/12/19/aku-masih-harus-belajar/

November 21, 2010

Bendera Merah Putih

Filed under: keluargaku

Sambil metik gitar, aku ajak Ananta mendekat dan aku nyanyikan lagu "Bendera Merah Putih" dan aku surprised melihat expresi anak ini. Dia begitu gembira mendengar lagu ini. Dia pun mulai ikut menyanyikan lagu sederhana karya Bu Sud yang petikan gitarnya pun sangat sederhana itu. Setelah aku selesai nyanyi, Ananta kembali minta diulang, berkali-kali. Itu kejadian kemarin sore.

Pagi ini, setelah menyapu rumah. Aku duduk di living room sementara Ananta duduk di depan tv bersama Adeanna. Tak berapa lama, aku melihat dia bergerak masuk ke arah kamar-kamar tidur. Saat itu aku ambil gitar dan kembali aku nyanyikan lagu ini dan mengejutkan….; dengan tersenyum sumringah, Ananta berlari kembali ke living room dan langsung duduk di sebelahku ikut bernyanyi.

Lagu sederhana ini mengajarkan cinta tanah air dan semoga kecintaan itu menjadi bagian hidup anak-anakku.

Bendera Merah Putih karya Ibu Sud

Bendera merah putih
Bendera tanah airku
Gagah dan jernih tampak warnamu
Berkibarlah di langit yang biru

Bendera merah putih
Bendera bangsaku

Bendera merah putih
Pelambang brani dan suci
Siap selalu kami berbakti
Untuk bangsa dan ibu pertiwi

Bendera merah putih
Trimalah salamku

November 17, 2010

Lho Koq…?

Filed under: keluargaku

Lebaran Idul Adha terjadi satu hari setelah wukuf…. gitu kan aturan mainnya…. artinya Selasa dong. "Tapi….pemerintah bilang bukan selasa tapi rabu. Ikut pemerintah dong" gitu tulis seseorang kenalan di facebook dengan tambahan, "kita harus ikut pemerintah. Kalo’ kita tinggal di arab, kita ikut pemerintah arab. Tapi… karena kita tinggal di Indonesia, kita ikut pemerintah Indonesia."

Tapi posting ini tidak akan ngomong sedikit pun mengenai polemik (emang siapa yang berpolemik?) mengenai kapan Idul Adha yang bener tapi tetap masih ada hubungannya dengan Idul Adha versi pemerintah.

Sekitar jam 9 pagi, Ananta ndekati aku yang lagi asyik nonton tv di kamar dan ngomong, "Papi, ke ayuk fala" yang sejujurnya aku nggak nangkap arahnya ke mana sampai Dhyaksa ngomong, "Papi, adik itu ngajak ke rumah Farah" yang kemudian aku dapat informasi lebih lanjut kalo’ yang dimaksud adalah anak Tejo yang satu sekolah dengan Ananta. Karena lokasinya dekat lokasi penyembelihan hewan kurban, aku pun menjawab, "Iya, ntar kita lihat orang nyembelih kurban"….…. Nggak nyambung kan jawabannya… :)

Jam pun bergerak ke arah jam 10 pagi. Kami (kecuali Rita dan Ade) pun berangkat ke lokasi penyembelihan kurban di komplek Singgalang 1 dan ternyata…rute kendaraan pribadi dialihkan masuknya harus lewat samping mesjid raya sebanga.

Setelah parkir dan turun, aku yang make safety shoes dan Ananta yang make sepatu boot pun langsung mengarah ke bangsal tempat penyembelihan dan melihat proses yang terjadi dalam jarak kurang dari 2 meter dari sapi-sapi itu. Tapi karena lokasinya kotor, banyak darah, kami keluar dan pindah lokasi ke seberang parit saluran drainase di arah perumahan komplek singgalang. Ananta pun aku dudukkan di salah satu kursi, di bawah payung yang dipegang Dewi sampai sekitar jam 11 siang. Setelah sempat mampir ke rumah Tejo, kami pun pulang.

Tapi……… sebetulnya judul posting ini nggak ada kaitan dengan cerita kurban-kurban yang aku tulis ini. Judul posting ini justru terkait dengan kejadian malam ini. Mendekati jam 10 malam, aku tiduran di kursi living room di depan tivi sambil nge-browse internet di BB. Kemudian aku bergerak ke arah ruang makan, lalu balik masuk kamar. Tapi….. koq aku merasa ada yang aneh ya.. Koq semua ruang dalam rumah jadi bau masakan dan aromanya khas. Ini pasti gara-gara Ananta megang-megang sembarangan tangannya yang belepotan makanan. Tuduhan seperti itu pun muncul dalam hatiku.

Masuk ke kamar, Dewi menggeliat, membuka mata dan aku pun ngomong, "Kursi di depan tv tu pecaknyo perlu dicuci. Masak bau masakan mak itu. Pasti kotor galo oleh Ananta". Setelah ngomong begitu aku pun balik ke depan lagi, niatnya mau mengendus-endus bau yang ada di kursi itu. Tapi….. aku melihat ada piring Ananta di sana dan diatas piring itu ada burgo (burge) tanpa kua yang sudah penyet karena bekas ditindih. Aku juga melihat banyak bawang goreng di piring itu karena memang Ananta belakangan suka makan bawang goreng.

Dengan tertawa-tawa aku pun memindahkan piring itu ke dapur lalu balik ke kamar dengan tetap tertawa-tawa; menjelaskan ke Dewi bahwa sebetulnya bau makanan yang aku cium ke mana pun aku bergerak itu bukan karena kursi atau pun rumah kotor karena Ananta makan tapi karena waktu tiduran di kursi tadi aku tidur di atas piring itu. Bau bawang gorengnya kemudian nempel di baju yang aku kenakan…. Akibatnya…. ke mana pun aku bergerak di dalam rumah, bau itu ada…

Yang salah bukan Ananta, tapi aku. Kenapa juga waktu mau tiduran di kursi itu tidak pake’ ngecek dulu. Jadinya nindih piring berisi burgo deh….

November 16, 2010

Keanehan Lain

Filed under: Umum banget

Hari ini, tanggal 16 November 2010, kembali aku menemukan kondisi yang sejujurnya membuat hatiku tidak nyaman. Kembali, setelah beberapa tahun yang lalu,…. kembali kejadian yang mirip terulang. Kembali terjadi pemerintah menetapkan Idul Adha jatuh satu hari lebih lambat dibandingkan di Mekah. Sesuatu yang sejujurnya tidak bisa aku pahami.

Beberapa tahun yang lalu, saat kejadian seperti ini terjadi, aku memilih untuk mengikuti jadwal sholat yang mengacu pada hari Idul Adha, sehari setelah wukuf di Arafah. Waktu itu, aku memilih sholat Idul Adha di halaman SD Mutiara; partai PKS mengadakan upacara di sana. Tahun ini, hari kecilku mengatakan bahwa hari ini hari Idul Adha yang benar tapi aku tidak mendapatkan informasi lokasi sholat yang dekat dengan kantor. Satu-satunya lokasi yang aku dengar adalah tempat sholat warga Muhammadiyah di satu tempat di luar camp (yang aku tidak tahu di mana lokasinya).

Aku bukan pengikut ajaran / aliran apa pun. Aku bukan orang Nahdatul Ulama. Aku pun bukan pengikut aliran muhammadiyah. Aku tidak mengenal aliran dalam beragama. Aku mengikuti Islam sebagai agama yang benar yang melandaskan pada Al-Quran dan Sunnah Rosul. Bila tidak ada landasan yang pasti dalam Al-Quran, maka Sunnah yang menjadi panduan. Bila kemudian tidak ada contoh yang sangat sesuai dengan sunnah karena kasus yang dihadapi bukanlah kasus yang pernah terjadi di masa kehidupan Rosullullah,…. maka ulama yang menjadi tempat bertanya. Tapi apa pun yang dikatakan ulama bukanlah sesuatu yang mutlak karena sifatnya hanyalah pendapat yang dipengaruhi oleh pemahamannya dan juga pandangan-pandangannya terhadap setiap masalah.

Sekarang, kembali terjadi, hampir semua umat Islam di seluruh dunia merayakan Idul Adha hari ini tapi pemerintah, setelah sidang yang dihadari para ulama dan mereka yang berkompetensi, memutuskan bahwa Idul Adha jatuh besok… kembali hatiku tidak bisa menerimanya. Idul Adha terjalin erat dengan ibadah haji. Patokannya adalah Idul Adha jatuh satu hari setelah wukuf. Lah…. kalo’ wukufnya kemarin berarti hari ini dong Idul Adhanya. Logikanya begitu….. Tapi…. itu yang ada dalam pemahamanku dan juga cukup banyak orang.

Kalau alasannya bulan belum terlihat saat penentuan tanggal 1 (istilah yang sering disebut orang di tv adalah terlihatnya hilal yang aku juga tidak tahu maknahnya…), bukankah jaman sudah begini modern. Apabila di satu negara tidak terlihat kemudian di negara lain sudah terlihat, bukankah seharusnya itu yang menjadi patokan? Di jaman Rosullullah, bisa dipahami kalau informasi bulan yang terlihat di satu tempat tidak bisa dikabarkan ke tempat yang lain sehingga bisa jadi terjadi perbedaan hari tapi di jaman yang begini maju tetapi tetap berpegang pada keyakinan bahwa harus melihat sendiri di dalam negeri untuk menentukan tanggal 1 terasa sangat absur……

Agama adalah masalah keyakinan. Agama adalah masalah aturan dan tatanan yang aturannya jelas dan terukur….. Aku sangat tidak paham bagaimana mereka yang ‘katanya’ kompeten dan punya pengetahuan itu mengambil keputusan……….

Aku bingung dan merasakan keanehan…………… :(

November 14, 2010

Adeanna, Dhyaksa & Ananta

Filed under: keluargaku

Tiga anak dalam satu rumah membawa kegembiraan dan juga ketakjuban tersendiri. Kegembiraan memiliki tiga anak yang sehat dan nggemasi meskipun kadang bikin jengkel (he…he…he…). Ketakjuban karena anak yang rasanya baru lahir kemarin ternyata sudah kelas 5, 4 dan sudah lebih dari 2 tahun sekarang. Luar biasa membayangkan bayi-bayi kecil dengan berat di kisaran 3.5 kg itu sekarang sudah jadi anak-anak yang punya aktifitas masing-masing, punya hobi masing-masing punya minat masing-masing dan juga punya personality masing-masing yang unik.

Ananta sekarang sudah bisa pergi dan pulang sekolah sendiri. Dewi tidak perlu lagi menemani. Yang perlu dilakukan hanya membantunya bersiap karena Ananta sudah bisa memasang sepatunya sendiri (meskipun kalo’ make’ celana kadang terbalik :)
Kalo’ mau berangkat sekolah, Ananta tinggal menunggu bis sekolah di porch rumah. Setelah naik bis, urusan selesai, tinggal menunggu bis sekolahnya berhenti di depan rumah waktu dia pulang sekolah.

Tapi ada yang berbeda dengan Ananta setelah dia tidak ditemani ke sekolah. Mulai dari menunggu bis sampai kepulangan, dia akan ‘pura-pura’ besar, pura-pura tidak mau diurus, pura-pura bisa mengurus sendiri. Kesannya dia ingin menunjukkan ke teman-temannya dan juga gurunya kalo’ dia tidak perlu dibantu dalam bayak hal. Kesannya dia ‘pengen kelihatan’ mandiri. :)

Tapi…. kalo’ sudah di rumah, urusannya jadi lain. Anak ini agak kolokan kalo’ lagi di rumah. Sering minta digendong dan kalo’ tidak diikuti ngambek. Kalo’ sore, dia sering ngajak ‘jalan kaki’…tapi…. faktanya baru berjalan empat rumah sudah harus digendong dengan alasan, "capek" hmmm….

Dibandingkan dua anak yang lain, Ananta sedikit berbeda. Kalo’ Ade dan Dhyaksa dari kecil selalu konsisten mencium tanganku setiap kali aku mau berangkat kerja setiap pagi, Ananta berlaku berbeda. Dia tidak mau melakukan hal itu meskipun yang lain melakukan. Dia bersikap seperti ini sejak dia sekolah sendiri…..

Yang berbeda lainnya dibanding kedua anakku yang lain adalah; Ananta lebih keras kepala. Kalo’ ibuku sih bilang….. Ananta itu mirip aku waktu masih kecil dalam banyak aspek…. termasuk keras kepala dan ‘keukeh’-nya.

Dhyaksa juga punya cerita sendiri yang juga menarik. Anak ini sempat jadi ’anak bungsu’ cukup lama. Sekitar 7 tahun anak ini berstatus anak bungsu sampai akhirnya adiknya lahir dan ‘kebungsuannya’ hilang. Aku menangkap ada yang berubah dari anakku yang ke-2 ini sejak adiknya lahir. Dia jadi mudah tersinggung. Aku sih memahaminya sebagai sindrom ‘anak bungsu’.

Menurutku, Dhyaksa anak yang cerdas. Dia bisa dengan cepat mempelajari sesuatu meskipun dia belum bisa memfokuskan diri pada satu hal. Sejak lebih dari 1 tahun yang lalu dia latihan drum dan minggu kemarin dia ikut ujian kenaikan tingkat dari tingkat 9 ke tingkat 8 (dari 10 grade yang ada di kursus drumnya - di Duri cuma ada sampai grade 5). Begitu keluar dari ujian, dia cuma ngomong singkat sambil senyam senyum, "banyak salahnya…." yang aku terjemahkan dia salah mbaca not balok yang disodorkan tim penguji sehingga ‘nggebuk’ drumnya ada salahnya.. Tapi ya… nggak apa-apa, kalau pun belum naik tingkat, dia bisa latihan lagi dengan lebih giat supaya kalo’ ujian lagi bisa lebih baik.

Di antara teman-temannya, aku menangkap kesan kalo’ Dhyaksa ini idola anak-anak cewek… (Cieh….suit….suit…ha…ha…ha…). Agak geli juga memonitor status FB dan juga message FB-nya yang lebih banyak berkomunikasi dengan anak-anak cewek dan kesannya….’suit…suit…’ gitu. Kemarin sore, aku ngantar Dhyaksa latihan pramuka dan yang lucu,… begitu turun dari mobil… ada anak perempuan manis juga turun dari mobil warna putih yang parkir di depan kami dan begitu lihat Dhyaksa, anak itu tersenyum malu-malu seperti anak ABG yang ketemu ABG idamannya…ha…ha…ha…

Luar biasa, mengamati anak-anak umur 9 tahunan sekarang sudah mulai menunjukkan prilaku seperti ini meskipun sejujurnya aku juga dulu waktu kecil sama aja…ha…ha….ha….. Seingatku aku pertama kali tahu beda cantik dengan tidak cantik itu waktu kelas 4 SD…. aku bisa membedakan kalo’ mertua eks. camat pinggir itu cantik.. Terus waktu pertama kali pindah ke SDN 138 Palembang di 14 Agustus 1984, aku bisa melihat kalo’ ada anak yang waktu itu rangking 3 (Eriasi Daryati kalo’ nggak salah namanya) cantik (untuk ukuran cantik anak kelas 6 SD di masa itu (yang ternyata…..setelah kemudian satu sekolah lagi di SMA 4 (1988 - 1991), ternyata nggak cantik…ha..ha…ha….)

Adeanna dan Dhyaksa saling menyayangi tapi belakangan mereka suka ribut kalo’ berdekatan. Ributnya juga bukan untuk hal-hal yang penting. Kadang ribut cuma karena senandung Dhyaksa yang tidak disukai Ade atau sebaliknya. Tapi…. kalo’ sedang nggak dekatan, mereka saling cari.

Waktu Dhyaksa ‘di-vonis’ kena radang usus buntu oleh dokter ‘resident’ yang sedang mbantu di RS. Chevron dan harus diinapkan di RS, Adeanna nangis sejadi-jadinya. Waktu mbesuk di rumah sakit pun dia tidak mau masuk dan hanya nangis di luar.

Tadi malam kondisi yang sama juga aku lihat. Kemarin sore, Dhyaksa minta izin nginap di rumah Rasyid (yang sudah pernah nginap di rumah kami 2 minggu yang lalu) dan aku izinkan. Setelah makan malam Dhyaksa pun diantar ke sana. Dewi nonton di kamar, sementara aku browsing di dekat pintu kamar mandi…(lokasi laptopku..ha..ha..ha..) sementara Adeanna menyendiri di living room nonton sendiri dengan cemberut. Begitu aku tanya alasannya ternyata dia sedih karena Dhyaksa tidak ada di rumah. Untuk meredakan kesedihannya, tadi malam Adeanna diizinkan tidur di kamar kami; sesuatu yang sudah lama tidak dilakukan. :)

Kalo’ pulang sekolah hari sabtu, Adeanna akan cerita dengan antusias soal resep masak baru yang dia pelajari di sekolahnya. Tapi minggu lalu, dia pulang dengan cemberut karena ternyata dia jengkel karena proses masak kue bolu dengan teman-temannya di sekolah lambat. Untuk meredakan kejengkelannya sore sabtu minggu lalu, dia pun difasilitasi untuk masak kue bolu di rumah. Sorenya, aku melihat se-loyang kue bole dengan pernak-pernik kehijauan tersaji di meja makan.

Urusan pianonya juga unik. Dulu, waktu dia mulai kursus piano sekitar 1 - 2 tahun yang lalu, aku sebetulnya lebih suka kalo’ dia les gitar atau biola karena menurutku gitar dan biola lebih fleksible pemakaiannya dibandingkan piano, bisa di mana saja. Di samping itu, tentu saja……. harga gitar dan biola lebih murah dari harga piano…ha..ha..ha.. Tapi belakangan, aku lihat dia sudah cukup mahir main piano meskipun harus lebih giat latihan supaya bisa lebih bagus lagi permainan. Dua minggu lalu, ada konser musik yamaha di Duri dan Adeanna tampil bergantian dengan teman-temannya yang masih di step 2 (dari entah berapa step pelajaran piano yang ada). Nggak dapat piala platinum atau pun gold sih, dapatnya silver tapi permainannya menurutku cukup baik (dengan catatan, perlu lebih giat latihan supaya bisa main sebaik Ais, teman karibnya di dekat rumah yang juga masih di step 2).

Kemarin sore, Adeanna cerita kalo’ hari ini (minggu) dia akan keluar camp, ke rumah Nabilah, teman satu kelasnya, belajar kelompok. Dengan tersenyum aku tanya di mana rumah temannya dan jawabannya mengambang, "di daerah rumah-rumah di dekat pagar sibayak itu Pap". Jawaban yang mengambang yang diikuti dengan lanjutan, "anter Pap ya…"

Pagi ini, aku pun betulan ngantar Adeanna naik motor dan parkir di gate-4. Dan takjub sekaligus geleng-geleng kepala ketika Ade nunjukkan kalo’ rumah temannya itu rumah yang persis di ‘tusuk sate’ persimpangan sibayak blok C yang kalo’ dihitung dari rumah berarti jaraknya cuma 6 rumah + 2 jalan + 1 free space. Tidak berbeda jaraknya dengan perjalanan ke rumah Ais (Mas Sadono). Yang berbeda cuma yang satu dalam camp yang satunya di luar pagar camp. Dengan senyam-senyum aku bilang, "alah…dasar anak manja, segini aja minta diantar" dan dijawab Ade dengan cepat, "iya, memang manja" katanya sambil balas senyam-senyum.

Waktu mbuka helm di parkiran gate-4, Ade nanya, "Ntar pulangnya gimana Pap?". Pertanyaan yang langsung aku jawab dengan, "Ya jalan kaki aja sendiri. Deket gini koq" dan Ade pun njawab, "iya deh….jalan kaki"

Anak-anakku semakin besar, semakin beragam kejadian harian yang aku temuan dan aku percaya keberagaman ini akan menjadi sesuatu yang indah untuk dikenang….

November 13, 2010

Pramuka

Filed under: keluargaku

Awal tahun ini, kami menerima sebuah paket kiriman ibuku dari Palembang. Setelah dibuka, ternyata isinya adalah semua perangkat pramuka yang aku gunakan 26 tahun yang lalu; mulai dari segala pernak-pernik pramuka maupun piagam-piagam pramuka yang aku punya; mulai dari piagam sebagai komandan pemimpin perkemahan pramuka sekecamatan maupun piagam-piagam lain. Paket ini pun dibarengi sepucuk surat yang mengisyaratkan kalo’ pengiriman ini bertujuan untuk menumbuhkan semangat anak-anakku untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang dulu aku selalu ikuti; pramuka, nyanyi, dsb…dsb….

Tapi….. nggak ada gerak tu dan aku juga tidak mengarahkan anak-anak untuk ikut pramuka karena aku ingin anak-anak melakukan apa yang mereka sukai dan inginkan supaya mereka lebih senang melakukannya. Adeanna ternyata memilih untuk belajar masak dan piano. Dhyaksa lebih memilih belajar drum dan tidak belajar gitar atau biola seperti ’sebetulnya’ aku inginkan.

Kemudian…….. awal tahun ini, Dhyaksa mendapatkan seorang teman baru. Sebetulnya bukan teman baru sih karena dulunya juga anak ini tinggal di Duri, di Sibayak juga, tidak jauh dari rumah. Tapi beberapa tahun yang lalu, keluarganya pindah tugas ke Minas dan awal tahun ini balik lagi tugas di Duri.

Yang menarik dari pertemanan yang baru aku lihat ini adalah perbedaan cara berteman yang menurutku menarik; terkesan lebih dalam dari sekedar teman.

Dua minggu lalu, Dhyaksa main ke rumah Rasyid dan tidak lama kemudian nelphone ke rumah minta izin ikut ke lapangan pramuka, diajak Rasyid masuk pramuka. Hmm…. pucuk dicinta ulam tiba dong… Dhyaksa pun ikutan ke lapangan pramuka dan ternyata… mereka semua baru ikutan dan semuanya belum pake’ seragam pramuka. Kemarin, Dhyaksa sudah ngukur baju pramuka dan mudah-mudahan minggu depan seragamnya sudah selesai dan bisa digunakan.

Senang melihat akhirnya anakku ikutan pramuka dan semoga dia belajar bukan hanya tentang kepemimpinan tapi juga tentang sikap ksatria. Mudah-mudahan pramuka bisa memfasilitasi pengembangan anakku menjadi anak yang lebih mandiri.

Getto 2010

Filed under: Umum banget

Tiga minggu lalu, SLN Getto 2010 diadakan di Kasuarina Park Duri. Acaranya seru, persiapannya juga seru. Menurutku sih, ini Getto yang paling seru yang pernah aku rasakan dalam 13 tahun aku jadi pegawai CPI.

Bukan cuma permainan yang banyak disediakan tapi juga ditampilkan kesenian daerah, stan eksibisi dari semua tim di SLN operation yang mengusung dua message sekaligus; (a) FSWP elements dan  (b) diversity dengan menampilkan ciri khas dan juga pernak-pernik daerah-daerah di Indonesia. Ada stan yang menampilkan khas tapanuli, ada juga yang menampilkan sunda, jawa, sumatera barat, maupun daerah-daerah lain. REM team menampilkan khas tapanuli dan REM leaders beserta istri menampilkan tarian tor-tor yang diakhiri dengan peng-ulos-an SLN#1 yang akan mengakhiri tugasnya di SLN.

Banyak hal yang menarik dari persiapan get-together ini; baik dari persiapan umunya maupun dari persiapan detail dari setiap team. Banyak hal-hal positif yang teramati dari tindak tanduk semua yang terlibat (dengan tentu ada juga dong yang kurang positif).

Aku melihat adanya kerjasama yang baik sekali di semua tim di SLN. Aku juga melihat semangat ibu-ibu (khususnya ibu-ibu REM) yang luar biasa baik dari persiapan tarian sampai urusan persiapan stan eksibisi. Aku melihat totalitas semua yang terlibat dalam penyelesaian tanggung jawab masing-masing.

Saat persiapan seksi logistik pun aku melihat totalitas yang luar biasa yang ditunjukkan seorang group leader di DSM team dalam penyiapan lokasi; dimulai dari proses koordinasi dengan FM untuk penyiapan kursi, meja, tenda, penataan panggung maupun koordinasi lebih teknis seperti lighting dan sound system. Luar biasa…dan menimbulkan kekaguman melihat hasil kerjanya dan para teknisi yang menjadi anggota seksi logistik.

Konsistensi totalitas ini pun beliau tunjukkan setelah acara getto selesai. Aku melihat beliau mengkoordinasi proses clearing lokasi sampai sore dan dilanjutkan besoknya; finalisasi proses clearing bersama crew housekeeping dari FM.

Aku juga melihat style kepemimpinan yang baik dari proses yang aku amati. Aku melihat seorang pemimpin yang menjadi ketua panitia menunjukkan bukti kepemimpinan; bukan hanya mengejar dan menuntut hasil tapi menjadi bagian dari proses-proses kerja yang dilakukan.

Setiap acara seperti ini selalu menyisakan kesan-kesan yang mendalam dan penilaian-penilaian tentang mentalitas dan juga moralitas orang-orang yang terlibat. Setiap acara seperti ini menjadi sarana yang sangat efektif untuk mengenali setiap orang yang terlibat dengan lebih utuh; bukan hanya dari apa yang terlihat tapi juga dari aspek-aspek personality yang tidak terlihat.

Setelah proses getto 2010 yang luar biasa ini, tantangan untuk panitia di tahun-tahun mendatang menjadi lebih besar lagi; tuntutan minimal yang harus dipenuhi adalah menyamai pace yang sudah diset oleh panitia tahun ini.

Good job untuk CEO acara ini (CEO ini bukan Chief Executive Officer lho tapi Chief of Event Organizer he..he..he..) dan good job juga untuk semua personnel yang terlibat (meskipun masih banyak juga yang sebenarnya cuma nampang nama aja…ha…ha..ha….

September 28, 2010

Kakak, Ayuk, Nanta

Filed under: keluargaku

Ananta umurnya sekarang sudah 27 bulan. Sudah semakin lincah, semakin banyak kata yang bisa diucapkannya dengan sempurna dan kalimat-kalimnat yang keluar dari mulutnya pun sudah semakin jelas. Dia sudah bisa mengucapkan namanya sendiri. Bukan Ananta tapi Nanta. Dia belum bisa mengatakan aku tapi dia membahasakan dirinya Nanta.

Di luar itu, tingkah lakunya pun sudah semakin beragam. Di antaranya sudah hampir 2 bulan ini dia tidak mau lagi makai pamper sekali pun sedang tidur. Di satu sisi, positif juga sih artinya dia sudah siap untuk tumbuh lebih besar dan dari keuangan bisa mulai mengurangi pengeluaran biaya pamper. Tapi di sisi lain juga ada negatifnya. Kalo malam dia suka bangun dan agak rewel kalo’ mau kencing.

Ada juga yang menarik dari beberapa kali ngajak Ananta ke tempat belanja. Waktu ke Pekanbaru, di depan kasir hypermart, dia ngambil sendiri coklat lebih dari satu batang dan ngotot harus beli sebanyak itu dengan alasan untuk kakak dan ayuknya.

Sore ini, Dewi cerita kalo’ Ananta ke warung mesjid ushuluddin (MAU) di dalam komplek dan ngotot mbeli permen ‘kojek’ 3 buah dengan alasan untuk ayuk, kakak dan Nanta. Tapi…. waktu makannya eh… ternyata dia makan sendiri.. ha..ha..ha..

Bohong

Pagi ini aku membaca tulisan Mas Sukinto Anggono di facebook "Alasan utama berbohong adalah untuk menjaga citra diri supaya di hadapan orang lain tampak lebih baik daripada kenyataan yang ada. Orang yang bisa menerima diri tidak akan merasa perlu berbohong".

Sering juga aku mendengar kalimat yang bunyinya kurang lebih, "sekali berbohong, kamu akan terus berbohong untuk memastikan kebohonganmu diterima sebagai kenyataan".

Ngomong soal bohong, aku pengen nulis tentang kebohongan kecil yang aku lakukan sekitar 5 kali dalam rentang waktu hanya 4 jam di suatu hari Jumat. Kebohongan yang ditrigger oleh pernyataan iparku pada seseorang.

Waktu pulang lebaran, ada dua target utama yang ingin aku raih; (a) silaturahmi dengan keluarga, bertemu sanak saudara, khususnya dengan orang tua dan (b) menyelesaikan urusan pembangunan sebuah rumah seluas 275 m2 + 3 unit townhouse 2 lantai di sebidang tanah hook yang aku beli dengan uang pinjaman perusahaan. 

Karena proyek pembangunan ini menggunakan uang pinjaman perusahaan, pembangunan harus mengikuti aturan yang ditetapkan perusahaan; pembangunan tidak boleh dilakukan sendiri tapi harus dilakukan oleh kontaktor dengan kontrak yang dilegalisasi di notaris untuk memperkuat kepastian hukumnya. Kontrak yang sudah dilegalisasi notaris pun harus diserahkan ke perusahaan sebagai prasyarat pembayaran ke kontraktor.

Koordinasi dengan kontraktor sudah dilakukan sejak jauh sebelumnya untuk urusan design; bentuk rumah termasuk design bagian-bagian detail dan spesifikasi bahan.  Menjelang libur lebaran, kami (aku dan kontraktor) pun pergi ke notaris langganan sang kontraktor dengan membawa paket kontrak yang mencakup kontrak, gambar-gambar teknis dan juga RAB yang mencantumkan detail volume, pembiayaan dan juga spesifikasi bahan yang akan digunakan untuk setiap kegiatan yang menjadi bagian proyek pembangunan ini. Setelah berdiskusi dengan notarisnya, disepakati bahwa proses tandatangan akan bisa dilakukan sore harinya setelah staff notaris menyelesaikan semua penyiapan dokumen terkait dan kontrak asli yang sudah dilegalisasi bisa langsung dibawa pulang.

Tapi…. waktu sorenya aku balik ke notaris, ternyata…… tu kontrak belum dikerjakan oleh staff sang notaris dengan alasan, "Tadi aku keluar. Sekarang aku baru nak mulai nggawekenyo. Tapi dokumen setebel ini rasonyo dak mungkin selesai sore ini". Hualah….. gagal deh prosesnye. Aku pun pulang ke desaku dengan satu proses yang menggantung yang diharapkan akan bisa diselesaikan sebelum aku kembali ke Duri.

Pulang ke Palembang setelah lebaran, aku langsung berkoordinasi dengan kontraktor untuk menyelesaikan proses legalisasi kontrak ini tapi ternyata jawabannya, "staff notaris yang megang dokumen itu belum masuk."

H-2 sebelum aku pulang ke Duri, aku minta bantuan iparku untuk menghubungi kontraktor; memastikan finalisasi legalisasi kontrak ini dan ternyata iparku menggunakan jurus jitu, "adik aku tu nak balek ke Riau hari jumat sore. Jadi urusan kontrak nih harus selesai paling lambat hari jumat pagi" — padahal aku akan pulang ke Riau hari sabtu bukan hari jumat. Malamnya, aku kembali berkoordinasi dengan kontraktor dan dapat komitmen dari notarisnya kalo’ prosesnya akan diselesaikan hari jumat pagi.

Jumat pagi, kami sudah hadir di notaris menunggu penyelesaian proses ini. Menjelang jam 12 siang, dokumennya pun selesai ditandatangani dan proses akhir legalisasi notarisnya dilakukan setelah sholat jumat dan aku pun bisa membawa pulang kontrak yang sudah dilegalisasi untuk diproses di Duri.

Di luar suksesnya proses legalisasi kontrak ini, ada satu penyesalan yang sangat menyiksa batin. Karena baik kontraktor maupun staff notarisnya ‘aware’ kalo’ aku harus berangkat siang itu setelah proses penandatangan kontrak, ada beberapa kali mereka menanyakan pertanyaan terkait keberangkatan seperti, "sore ini naik pesawat jam berapa?", "anak-anak gimana ke airportnya?" dan pertanyaan-pertanyaan lain yang menunjukkan kalo’ mereka ingin memastikan aku tidak terlambat ke airport dan aku pun (dengan rasa bersalah dan menyesal) memberikan jawaban yang meluruskan kalo’ aku akan berangkat sore itu. Ada sekitar 5 kali aku mendapatkan momen seperti ini dan aku merasakan sesak dan rasa bersalah yang dalam setiap kali aku memberikan jawaban.

Berbohong memang menjengkelkan dari dua sisi; (a) ada perasaan tidak nyaman dan kesadaran akan dosa ketika harus berbohong untuk hal yang kecil sekali pun tapi dibarengi dengan (b) perasaan malu ketika harus mengakui berbohong yang juga tidak nyaman.

Aku tidak mau lagi berbohong. Aku jadi ingat Aa Gym yang nganjurkan untuk tidak berbohong karena sebetulnya berbohong tidak ada manfaatnya. Kalau pun aku menyanggah kalo’ aku akan berangkat jumat sore dan terus terang bilang kalo’ aku akan berangkat sabtu pagi, aku tetap percaya kalo’ proses legalisasi kontrak ini akan tetap selesai hari jumat karena kantor notaris itu tutup hari sabtu.

Aku menyesal dan tidak mau berbohong lagi… Kapok emoticon

September 26, 2010

Pagi Minggu

Filed under: keluargaku

Kami sekeluarga nyampe di Duri hari minggu sore, 7 hari yang lalu. Aku mulai kerja hari Kamis. Hari senin, aku ke kantor sebentar, mbaca e-mail. Hari selasa ke Pekanbaru ngganti ban mobil. Hari rabu, ngendon di rumah dan hari kamis baru masuk kerja. Seminggu berlalu, hampir tidak ada kegiatan fisik yang aku lakukan; nggak jalan, nggak sepedaan dan nggak olahraga.

Hari ini, pagi-pagi, setelah sarapan, kami siap-siap mau jalan kaki tapi ternyata,…. yang jalan kaki cuma bertiga aja; aku, Ananta dan Dewi. Anggota keluarga yang lain tidak mau ikut. Jadi…ya… kami pun cuma jalan bertiga dan hebatnya… Ananta bisa jalan dari rumah sampai ke playground di sebelah library cafe tanpa digendong. Ananta jalan kaki lebih dari satu kilometer sebelum akhirnya kami mutuskan untuk berhenti sejenak di playground; Ananta main prosotan..

Setelah itu, kami pun melanjutkan perjalanan (dengan Ananta tetap jalan kaki) sampai di depan komplek kerinci. Tujuannya jelas; kami mau melihat fire truck yang memang station-nya di sana. Kebetulan sekali, waktu kami tiba, 2 unit fire truck sudah disiapkan di depan fire station itu. Sepertinya para crew fire fighter sedang bersiap mau latihan minggunan (jalan kaki) seperti yang biasa kami lihat.

Kami pun mendatangi crew ini dan minta izin supaya Ananta bisa melihat fire truck dari dekat. Yang pertama aku tunjukkan adalah ruang tempat supir dan juga penumpang fire truck duduk. Lalu kami mengelilingi fire truck itu sambil aku memberi penjelasan ke Ananta soal hose (selang) dsb…dsb… yang nempel di sana. Juga mengenai lampu-lampu yang juga ada di truck itu. Hanya kurang dari 10 menit, kami pun meninggalkan fire station itu dan Ananta pun mulai rewel minta digendong..

Aku nggak tahu apakah perjalanan hari ini memberikan kesan bagi Ananta. Yang jelas, aku percaya Ananta mendapatkan pengalaman baru karena hari ini pertama kalinya dia betul-betul bisa menyentuh fire truck yang sebenarya setelah sekian lama dia selalu bicara tentang ‘faye ta:k’

Dalam perjalanan pulang, kami mampir ke commissary membeli minuman lalu mampir di library sebelum akhirnya pulang dan tiba di rumah menjelang jam 10.. beberapa menit lalu :)

September 25, 2010

Langganan

Filed under: Umum banget

Sejak pindah sekolah di Palembang, tanggal 14 Agustus 1984 sampai hari ini, aku bisa katakan kalo’ membaca koran adalah satu satu kegiatan yang paling rutin aku lakukan. Waktu masih sekolah, setiap hari aku ikut membaca koran di rumah sepupuku yang memang langganan koran kompas. Setelah aku punya uang sendiri, aku langganan koran sendiri dan keadaan berbalik; giliran sepupuku yang ikut membaca koran kompas yang aku langganan.

Langganan koran memang mengasyikkan; ada kepastian mendapatkan koran setiap hari dan tidak perlu ke pasar karena koran diantarkan ke alamat. Yang paling menarik adalah fakta bahwa harga langganan koran lebih murah dibandingkan harga kumulatif kalo’ beli ketengan setiap hari selama satu bulan. Ada perbedaan harga sekitar 10% lebih murah, yang sejujurnya, membuat membeli koran dengan langganan menjadi semakin menarik.

Kalo’ langganan majalah tahunan malah kondisinya lebih menguntungkan lagi. Sejak tahun 1999, aku langganan majalan bulanan Ayah Bunda yang kemudian juga berkembang dengan langganan majalah-majalah lain seperte Parenting bahkan sekarang ada juga langganan 2 majalan anak-anak yang semuanya disupply oleh femina group.  Yang paling menarik dari langganan tahunan ini adalah dapat diskon yang bukan hanya besar (30% - 40%) tapi juga ada paket hadiah langganan untuk setiap proses renewal yang dilakukan setahun sekali. Mbayarnya juga gampang karena tinggal di-charge ke kredit card dan yang paling penting….. majalahnya diterima di rumah (di Duri, Riau) justru sebelum hari H tanggal edar yang tertulis di setiap edisinya. Biasanya majalah diterima 2-3 hari sebelum tanggal edisi yang tercetak di cover majalah.

Tapi….. kenikmatan berlangganan seperti itu tidak bisa dinikmati sepenuhnya di Duri. Kenikmatan langganan koran dengan harga yang didiskon di Palembang atau kenikmatan langganan majalah dari femina group yang aku dapatkan sampai hari ini tidak bisa aku nikmati untuk urusan langganan koran di Duri.

Sejak kerja di Duri, aku langganan koran kompas. Awalnya dari agen koran yang ada di pasar Simpang Padang. Biaya langganannya lebih tinggi dibanding kumulatif harga jual bulanan karena perhitungan langganan koran di Duri agak nyentrik. Biaya langganan dihitung dengan menghitung kumulatif harga eceran koran di pasar (30 hari x harga ecer harian) dan masih ditambah lagi sejumlah uang fee untuk biaya pengantaran. Hasilnya, bukan hanya biaya langganannya jadi sama seperti membeli harian tapi juga faktanya jadi setiap hari harus ada biaya pengantaran yang di-charge ke konsumen.

Kondisi yang aneh ini aku terima dari hari ke hari selama aku tinggal di Duri (sudah 13 tahun lebih beberapa hari). Semakin banyak tanggal merah, pada dasarnya secara matematis konsumen justru rugi karena harga langganan + fee-nya sudah dipatok. Dulu aku pikir kondisi langganan seperti ini aku alami karena aku berhubungan dengan agen koran yang salah tapi kemudian setelah aku pindah langganan ke agen yang lain (sudah sekitar 10 tahun terakhir aku pindah ke agen yang lain), ternyata…. harganya tetap sama dan cenderung naik setiap tahunnya.

Yang paling bikin jengkel adalah kenyataan kalo’ tidak ada jaminan koran hari ini akan diterima hari ini. Yang paling sering terjadi adalah koran hari ini diterima besok. Akibatnya seringkali informasi yang diterima jadi tidak update lagi karena sudah nongol di tv dan sudah dibaca di internet.

Tapi gimana pun, mbaca koran tetap tidak bisa dikalahkan oleh berita tv atau pun membaca di internet. Meskipun berita yang diterima akan relatif sama tapi membaca koran memberikan excitement yang berbeda. Selain itu masih banyak informasi-informasi yang tidak nongol di situs online beberapa koran atau majalah yang ada justru nongol di koran printed. Jadi….ya….. dengan ‘tidak dipaksa’ tapi adakalanya jengkel dan tidak puas, aku tetap langganan koran (dengan selalu didatangi pikiran / ide untuk menghentikan langganan) :)

Saat nurani hilang

Filed under: Pikiranku, Sejarah...
Politik memang lucu, menggemaskan dan asyik untuk diamati… tata krama menjadi tidak penting, aturan main juga tidak penting, kejujuran juga tidak penting…. rekayasa? hmmm…. bukan sesuatu yang luar biasa. Ada kepentingan? ayo kita bergandeng tangan….. nggak sehaluan, kita saling beradu punggung yok… tapi………. koq masih ada juga yang tertarik nyemplung ya???  (dikutip dari wall FB-ku)
Awal mei 2010 (tanggal 5? Sri Mulyani mengundurkan diri dari jabatan menteri keuangan, efektif tanggal 1 Juni dari managing director world bank). Diawali dengan keributan-keributan politis di DPR yang mengindikasikan friksi pemerintah dengan para politikus di DPR (partai-partai tertentu), lalu kemudian Sri Mulyani di-soft landing-kan kalo’ istilahnya priyo (P huruf kecil) yang wakil ketua DPR dan kemudian terbentuk sekretariat gabungan yang ujung-ujungnya kembali mesra politis. Ternyata yang ditembak cuma Sri Mulyani.
Sekarang, kejadiannya mirip, ada kasus sisminbakum (aku nggak begitu pasti singkatannya bener atau nggak), kemudian ribut-ribut soal posisi jaksa agung, terus ada sidang di MK dan berakhir dengan keputusan "yang katanya" tidak secara tegas memberi garis yang clear yang kemudian menimbulkan perbedaan persepsi (a) jaksa agung sudah berhenti terhitung keputusan dibacakan dan (b) tidak ada kalimat dalam keputusan yang menyatakan jaksa agung sudah harus berhenti karena keputusannya tidak berlaku surut.
Komentarku? Semuanya tergantung kepentingan siapa dan untuk rakyat? Rasanya sih nggak ngaruh soal apakah jaksa agung sekarang masih dipakai atau tidak. Yang ngaruh untuk rakyat adalah kepastian sistem dan penegakan hukum supaya aturan bisa dijalankan dengan benar, kepentingan rakyat didahulukan, ditempatkan lebih tinggi di atas kepentingan pemerintah, politikus atau pun para praktisi ekonomi.
Jadi? Ya gitu deh…… ribut-ribut ini sebetulnya nggak ngaruh ke rakyat. Yang terpengaruh hanyalah segelintir orang, yang sayangnya, punya kekuatan untuk membuat kepentingan pribadinya "seakan-akan" menjadi kepentingan bangsa. Padahal? emoticon
September 24, 2010

Ge-Er

Filed under: Umum banget

Ge-Er, Narsis atau apa pun istilahnya sebetulnya wajar-wajar aja. Tapi ke-ge-er-an ternyata bisa bikin senyam senyum juga ketika sadar kalo yang di-ge-er-kan itu ternyata bukan kenyataan.

Dari kecil, orang di kampungku mengenal aku sebagai Anto. Semua orang memanggilku dengan nama itu. Karena ibu dan bapaku dua orang kepala sekolah di dua sekolah yang berbeda (dari 3 sekolah yang ada di desaku) yang hampir semua anak di kampungku sekolah di sana. Semua orang di desaku mengenal orangtuaku dan hampir semua orang memiliki hubungan personal - bukan hubungan kekerabatan - (langsung atau tidak langsung) dengan kedua orangtuaku. Hampir semua orang yang umurnya 25 - 55 tahun pernah menjadi murid orangtuaku.

Waktu masih sekolah di desa, aku termasuk anak yang dikenal selalu rangking pertama (kecuali di kelas 5, waktu kenaikan kelas aku rangking 2 - di bawah teman semejaku Darmili yang sekarang jadi pengusaha dengan beragam bidang usada di desaku. Aku juga aktif dalam kegiatan ekstrakulikuler seperti pramuka yang aku selalu menjadi komandan dalam setiap kegiatannya. Ditambah lagi waktu kelas VI SD, aku pindah dari desa ke Palembang, baru 2 bulan aku jadi murid di SDN 138 Palembang, aku langsung terpilih jadi juru bicara di acara cerdas cermat di TVRI Palembang…. (masuk tv gitu lho… he..he..he..) sesuatu yang membuat namaku menjadi lebih terkenal (huala…sok-sok terkenal hik…hik…hik…). Tapi itu semua perasaanku yang belum tentu kebenarannya. Tapi kalo’ ge-er ya tetap aja ge-er.. :)

Pulang lebaran kemarin, aku menyempatkan diri berjalan menyusuri hampir semua jalan dan lorong yang ada di kampungku; mengobservasi perubahan-perubahan yang terjadi; rumah-rumah baru yang luar biasa banyaknya yang aku tidak tahu siapa pemiliknya. Aku juga mengobservasi rumah-rumah yang aku anggap tidak berkembang yang mengindikasikan pemiliknya tidak ikut dalam derasnya perbaikan ekonomi di desaku karena naiknya harga karet yang menjadi komunitas utama di sana. Dari proses observasi yang aku lakukan, aku menemukan beberapa hal yang menarik:

  1. (Prediksiku - bukan data) ada lebih dari dua ribu rumah di desaku dan yang mengembirakan adalah banyak sekali rumah baru di samping rumah-rumah lama yang bagus dan terkesan mengikuti perkembangan zaman. Aku melihat kulkas, tv, parabola, kendaraan bermotor sudah bukan sesuatu yang luar biasa lagi sekarang. Peralatan-peralatan ini sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari di desaku. Aku melihat juga sepeda motor yang baru dibeli dibawa orang masuk hutan tanpa terlihat kekhawatiran kalo’ motornya rusak.
  2. Dari proses jalanku yang cukup panjang yang salah satu targetnya adalah mengidentifikasi siapa saja yang berhak menerima zakat, aku menemukan hanya 25 dari begitu banyak rumah di kampungku yang aku anggap tidak sepenuhnya mengikuti deras majunya perekonomian di sana. Tapi yang menarik; dari 25 rumah itu pun aku tidak bisa langsung menyimpulkan kalo’ ke-25 rumah ini penghuninya layak dapat zakat karena ada beberapa rumah yang tampilan casing-nya sederhana tapi aku melihat kulkas, parabola dan sepeda motor nangkring di sana - satu indikasi bahwa ke-sederhanaan yang aku lihat belum tentu benar.
  3. Aku menemukan kalo’ orang di kampungku masih mengenal namaku meskipun tidak semua orang langsung bisa mengenali aku saat pertama bertemu. Dari perjalanan ini, aku menemukan ada orang yang begitu melihatku langsung menyebut namaku ‘Anto’ tapi ada juga yang ketika pertama bertemu perlu bertanya, "ngan ni anak sape?" yang kemudian setelah aku sebutnya nama orangtuaku dan namaku mereka akan ngomong, "au…. anak mamak Ali. Au pacak aku gok ngan tu". Temuan yang masih menguatkan ke-ge-er-anku kalo’ orang di desaku masih mengenal aku…

Tapi……….. itu belum mengcover semua cerita yang mau aku tulis. Ntar dulu….. Bagian yang ini baru seru… temuan yang membuat semua ke-ge-er-anku harus dihilangkan.

Setelah sholat idul fitri, seperti biasa kami berkunjung ke rumah almarhumah Bung Sak (adik bapaku) tidak jauh dari mesjid. Rumah itu sekarang dihuni oleh putra beliau yang paling tua. Setelah itu, kami mampir ke putra beliau yang lain yang rumahnya juga di dekat situ. Setelah itu, kami mampir ke rumah saudara nenekku yang juga di dekat mesjid. Lalu mampir ke rumah ex. Pasirah - pemimpin daerah yang mencakup bebeberapa desa yang dalam struktur pemerintahan sumatera selatan (sampai tahun 1985) di bawah camat tapi di atas kepala desa (Krie / Mbarap). Lalu ke rumah Pangeran Wantjik yang istrinya saudara kakekku dari pihak ibu. Sampai di titik ini, aku masih dapat merasakan kalo’ aku masih dikenal orang.

Kemudian kami mampir ke rumah bibiku (adik bapaku yang bungsu). Tidak berapa lama kami datang, ada sekelompok ibu-ibu (4-5 orang) datang dan membaur bersama. Karena aku tidak mengenal ibu-ibu ini, aku pun bertanya pada bibiku dan mendapat informasi kalo’ salah satu ibu-ibu ini adalah mertua sepupuku yang menikah 2 tahun yang lalu. Ibu itu pun bertanya siapa aku.

Ketika ibu-ibu itu mau pulang, mertua sepupuku itu pun pamit dan ibu itu ngomong ke aku , "kami ndulu ye.. behusek ke huma ye… "…. Lalu ibu itu kembali menambahkan, "sape name ngan tadi. Aku dekde tahu" Hualah….. ternyata aku tidak dikenal oleh mertua sepupuku. Bahkan namaku pun tidak termasuk dalam ingatannya. Ternyata, asumsiku kalo’ semua orang yang umurnya lebih dari 25 tahun pernah mendengar namaku tidak benar. Aku tidak seterkenal yang aku pikirkan…hua…hua…hua…

Sambil aku nulis posting ini, Ananta nyanyi di belakangku, "malu aku malu, pada cemut melah, yang memalis di dinding." ….. emoticon

September 21, 2010

Romantika

Filed under: Umum banget

Mau dibawa ke mana posting ini ya? Judulnya koq romantika? Emang ada kaitan dengan asmara atau roman? Nggak tu….. Ini kaitannya dengan romantika hidup di kota yang cukup jauh dari pusat keramaian; yang secara ekonomi maju yang membuat semua harga jadi lebih mahal.

Waktu mau berangkat ke Palembang, aku ngecek ban mobil dan kayaknya sudah mulai menipis tapi aku putuskan untuk tidak menggantinya dulu karena malas ke Pekanbaru. (Koq harus ke Pekanbaru?). Kami pun pulang ke Palembang dan kemudian kembali pulang ke Duri tanpa melakukan penggantian ban. Begitu sampai di Duri dan kembali ngecek kondisi ban, aku simpulkan kalo’ penggantian ban tidak boleh ditunda.

Kemarin sore, aku sudah menghubungi beberapa toko ban di Pekanbaru nanyain mereka punya stok ukuran ban yang aku perlukan tidak dan ternyata…. dari beberapa toko yang dihubungi hanya satu toko yang punya stok. Di Duri sebetulnya juga ada beberapa toko ban tapi aku memilih untuk menghubungi toko ban di Pekanbaru dengan 2 alasan terkait selisih harga yang cukup signifikan dan kualitas pekerjaan yang juga beda. Jadi pagi-pagi pergi deh ke Pekanbaru; langsung ke toko ban yang sudah dihubungi dan ternyata pekerjaannya selesai dalam 25 menit.

Indahnya romantika tinggal di kampung he..he..he..

September 20, 2010

Pemimpin

"Pemimpin sejati berdiri paling depan ketika menghadapi masalah dan berdiri paling belakang ketika merayakan keberhasilan pasukannya", satu kalimat yang aku sering dengar dari atasanku. Kalimat indah yang sangat dalam maknahnya.

Dalam operational excellence (OE), pemimpin menjadi anchor yang menentukan arah keberhasilan suatu tim. Setiap pemimpin harus bisa menunjukkan 4 hal penting untuk memastikan tercapainya tujuan yang diraih:

  1. Setiap pemimpin harus punya mimpi (visi)
  2. Setiap pemimpin harus bisa meng-engage orang lain untuk memvisualiasikan visinya (dengan berkomunikasi) untuk mendapatkan acceptance dari orang lain dan diikuti dengan support dan commitment to action dari semua orang yang di-engage
  3. Setiap pemimpin harus bisa menunjukkan kalo’ dia bagian dari proses dan bukan hanya mandor. Pemimpin adalah kaum pekerja yang ikut terlibat dalam proses. Pemimpin harus berdiri bersama orang-orang yang dipimpinnya; menunjukkan personal involvement yang akan mendorong semua orang juga terlibat dengan konstruktif. Pemimpin adalah bagian dari proses dan solusi dan bukan kaum mandor yang hanya menerima hasil kerja orang lain, dan
  4. Setiap pemimpin harus secara teratur mengevalusi proses dan hasil yang dijalani untuk melihat apakah ada opportunity untuk membuat proses dan hasil yang diraih menjadi lebih baik; lebih efektif, lebih effisien dan lebih reliable.

Pemimpin adalah orang yang berjiwa besar; pemimpin adalah orang yang harus bisa menjadi panutan. Pemimpin harus berada di depan saat menghadapi masalah dan memberikan ruang pada orang yang dipimpinnya untuk merasakan nikmatnya kebanggaan atas keberhasilan yang diraih tim. Pemimpin berdiri di depan ketika menghadapi permasalahan dan berdiri di belakang ketika merayakan keberhasilannya.

KPR

Filed under: Umum banget

Aku mengenal istilah KPR sejak kecil meskipun aku tidak pernah tahu seperti apa prosesnya. Lagian kalo’ mau KPR selalu perlu DP yang nilainya sebelumnya tidak sedikit. Tapi kemudian aku belajar kalo’ KPR itu menarik, nyentrik, menyenangkan meskipun juga bikin jengkel… Nah loe?!

11 tahun yang lalu, aku membeli rumahku yang pertama, cash bukan kredit, di Palembang. Rumah sederhana di Palembang di lahan yang luasnya kira-kira 330 m2 dan luas bangunan kira-kira 120 m2 kurang sedikit. Setelah dibeli, rumah ini pun mulai dirombak sedikit-sedikit dengan beberapa kali proyek penyulapan sampai akhirnya jadi seperti sekarang dengan ukuran bangunan sekitar 135 m2 (di luar teras dan carport).

Proyek pertama yang dilakukan adalah proyek pengubahan tampilan; dapur diubah menjadi ruang tamu dan ruang tamu asli disulap jadi dapur supaya depan rumah mengarah ke jalan akses mobil. Proses ini cukup ‘lama’ karena separuh rumah dari pertengahan sampai ke dapur asli betul-betul diruntuhkan lalu dibangun lagi menjadi bagian depan rumah. Sementara perubahan ruang tamu menjadi dapur tidak begitu sulit karena hanya mengkonversi ruangan yang ada dengan beberapa tambahan. Hasil akhirnya; berubahlah ruang tamu asli menjadi dapur, ruang makan dan kamar mandi. Sementara bagian tengah rumah tidak mengalami perubahan.

Setelah proses ini, project lanjutannya adalah mengganti pagar rumah ini dengan pagar tembok keliling dibarengi dengan penambahan tanah di pekarangan untuk membuatnya lebih tinggi  dari jalan. Setelah project ini selesai rumah pun sudah berubah total tampilannya; bukan hanya tampilan bangunan tapi tampilan secara menyeluruh.

Setelah proyek ini selesai, kegiatan lanjutannya adalah menambah ruang multi fungsi; di sebelah ruang nonton; ruangan dengan peruntukan untuk tempat kumpul-kumpul tapi bisa juga bisa diaktifkan sebagai kamar tidur bila diperlukan.

Proyek terakhir yang dilakukan adalah penambahan kamar mandi di kamar tidur utama yang dibarengi dengan scope peningkatan elevasi lantai kira-kira 25 cm dari ketinggian aslinya. Akhirnya setelah 11 tahun, rumah ini berubah total dari kondisi aslinya dan aku pikir nilainya sudah naik beberapa kali lipat dibandingkan rumah aslinya. :)

Lebih dari 7 tahun yang lalu, aku ditawari sebuah rumah di Klender Jakarta Timur; rumah dua lantai ukuran total 120 m2 dengan kamar tidur 3+1 di samping gudang dan 2 kamar mandi. Meskipun sebetulnya ada jalan akses yang ukurannya bisa dilewati mobil tapi mobil tidak bisa dibawa masuk parkir di halaman rumah ini karena ada tiang listrik yang mengurangi ruang. karena itu mobil harus diparkir di sebuah mejid yang letaknya kurang dari 60 meter jaraknya dari rumah ini. Rumah ini aku beli dengan pembayaran pertama sekitar 30% dari harga jual. Tadinya perjanjiannya sisanya akan dicicil bulanan dalam jumlah tertentu tapi ternyata, kemudian, ……. aku diminta untuk melunasi semua sisanya dalam rentang waktu kurang dari 9 bulan. Karena memang nggak punya duit, ya… terpaksa aku minjam dari KKMC (koperasi karyawan minyak Caltex) :)

Setelah dibeli, tidak banyak perubahan yang dilakukan di rumah ini meskipun ada juga beberapa tambahan fasilitas untuk kenyamanan. Secara umum, aku kurang intense mengurusi rumah ini dengan berbagai alasan. Seingatku cuma ada 2 perubahan penting di rumah ini; (a) perubahan bagian dalam dan luarnya untuk memperkuat dinding dan memperindah plafond dan (b) perubahan sertifikatnya dari HGB menjadi SHM yang prosesnya sejujurnya membuat aku jengkel karena berbagai alasan pribadi.

Sebelum membeli rumah di Jakarta, aku ditawari sebuah rumah tua di lahan yang cukup luas di Lubuk Batang Baru; rumah milik pasangan tua yang tidak punya anak. Pasangan ini menawarkan rumahnya dengan sangat murah dengan persyaratan ada jaminan mereka bisa menghuni rumahnya sampai mereka meninggal (keduanya sudah meninggal 3 tahun yang lalu). Berperang dengan batin antara mengambil keuntungan dari tawaran harga yang sangat rendah atau memilih untuk tidak menyambut tawaran ini karena bertentangan dengan nilai nuraniku, akhirnya aku putuskan tidak menyambut tawaran ini.

Kurang dari 5 tahun yang lalu, aku dan adikku keliling di Palembang dan menemukan sebuah proyek perumahan di dekat sarana olahraga di Palembang yang akan jadi lokasi arena Sea Games tahun depan (Jakabaring). Iseng-iseng kami pun mendatangi pengembangnya dan tanpa rencana aku pun memesan sebuah rumah yang dibayar kredit. Tapi aku sama sekali tidak terlibat dalam proses pengurusan kredit ini karena semuanya diurus oleh adik dan saudaraku yang perempuan. Setelah jalan cicilan hampir 3 tahun, aku putuskan untuk mengakhiri kreditnya; semua sisa hutana ku lunasi tanpa pernah aku terlibat sedikit pun dalam proses administrasinya emoticon

Sudah lama aku pengen punya rumah di Pekanbaru tapi selalu terkendala karena dua hal; (a) aku tidak punya waktu untuk ncari rumah dan (b) aku tidak mau repot :(
Sampai kemudian, di pertengahan Maret tahun ini, aku dapat informasi dari salah satu member timku kalo’ ada perumahan baru di dekat politeknik di Rumbai. Aku pun iseng-iseng hari Sabtu jalan ke Pekanbaru dan langsung tertarik dengan lokasinya. Aku pun memesan satu unit rumah tipe 70 - 3 kamar tidur.

Untuk proses pembelian rumah yang satu ini, aku lakukan sendiri semuanya dari awal. Ternyata urusan kredit rumah dengan pengembang itu nyentrik dan agak aneh. Saat awal deal pembelian rumah, ternyata tidak ada perjanjian jual beli yang dilakukan. Yang dilakukan cuma membayar DP 20% dari harga jual yang bisa dicicil beberapa kali sampai bangunannya selesai.. Hebatkan…! aneh, nyentrik tapi cukup menyenangkan. Yang paling menyenangkan sebetulnya, meskipun tidak ada ikatan perjanjian, DP-nya bisa dicicil…. sampai lunas 20% nilai jual pada saat akad kredit… luar biasa.. :)

Pertama kali memutuskan mengambil rumah ini, aku hanya membayar cicilan DP pertama 15 juta yang menandai bahwa aku mau beli rumah. Aku tidak menandatangani surat apa pun dan pengembang juga tidak memberikan kontrak apa pun kecuali selembar kuitansi bermaterai 6000  yang menyatakan kalo’ aku membayar 15 juta sebagai cicilan DP untuk sebuah rumah di lokasi yang ditulis. Sisa DP-nya aku lunasi lebih dari 3 bulan kemudian dengan 3 kali menyicil :)

Yang menarik lagi adalah temuan kalo’ sebulan setelah aku bayar cicilan DP pertama,  ternyata pengembangnya sudah mulai mengerjakan pondasi. Bulan selanjutnya sudah mulai terbentuk rumah. Bahkan di akhir bulan ke-3, saat cicilan DP aku lunasi, rumahnya sudah terlihat rapi meskipun belum finishing.

Di awal bulan Juni, aku dan Dewi diminta datang ke bank BTN untuk interview. Karena interviewnya harus di Pekanbaru dan bukan hari Sabtu (meskipun ternyata bisa diminta hari Sabtu kalo’ mau), terpaksa aku ambil PB (personal business leave) satu hari untuk interview yang ternyata sangat berbeda dengan yang aku bayangkan. Interview itu sebetulnya bukan interview, tapi hanya mencocokkan data saja dan langsung tandatangan. Done… cuma segitu aja.. Proses yang sejujurnya membuatku berpikir kenapa nggak dipermudah dengan mengirimnya via pos ke Duri, kemudian aku tandatangani dan dikirim ulang ke Pekanbaru..

Akhir bulan Juli, aku dapat sms ngabarkan kalo’ KPR sudah disetujui dan aku diminta menyiapkan sejumlah uang di rekening BTN (yang baru aku buat untuk proses ini) untuk cicilan pertama, biaya administrasi dan biaya-biaya yang lain yang aku tidak terlalu perhatikan).

Pertengahan bulan puasa, aku dihubungi pengembang yang ngasih tahu kalo’ akad kredit dengan BTN akan dilakukan dan aku diminta ke Pekanbaru. Permintaan yang tentu saja aku tolak - ngapain ke Pekanbaru bulan puasa. Aku minta diundur setelah lebaran aja tapi ternyata pengembangnya ngotot dan akhirnya justru mereka + notaris dari BTN yang datang ke Duri untuk menyelesaikan proses ini.

Nah…. proses yang ini baru menarik; nyentrik sekaligus bikin bingung tapi juga membuat aku merasa  bloon.. :) :(

  1. Pertama aku diminta membaca dokumen akad kredit yang menjelaskan kalo’ aku kredit sejumlah uang ke BTN dan akan dibayar dengan dicicil flat. Setiap lembar dokumen ini harus aku parap seperti standardnya proses kontrak dan aku tandatangani (Dewi juga harus tandatangan).
  2. Setelah ini, aku dijelaskan soal asuransi jiwa yang sudah dicover dalam akad kredit ini yang memberikan jaminan asurani bila aku meninggal, hutangku pada BTN akan dilunasi oleh perusahaan asuransi sehingga ahli warisku tidak punya hutang. Serah terima polis ini pun harus aku tandatangani. — belum ada yang aneh di sini….
  3. Setelah ini, aku dijelaskan soal asuransi kebakaran yang memberikan jaminan kalo’ dikemudiaan hari (selama proses KPR berlangsung sampai cicilan lunas) terjadi kebakaran, maka perusahaan asuransi akan memberikan penggantian sejumlah uang yang setara dengan nilai rumah —- hmm, belum terasa aneh.
  4. Proses yang terasa aneh baru mulai muncul ketika harus berhadapan dengan perwakilan pengembang. Ada dua hal yang diminta; (a) tandatangan serah terima uang sehingga uang yang aku pinjam dari BTN akan dipindahtangankan ke pengembang padahal akad jual beli belum ada, dan (b) aku diberi checklist yang berisi beberapa pernyataan yang bisa dijawab dengan ‘ya’ atau ‘tidak’ tapi default-nya sudah diisi ‘ya’ oleh pengembang. Pertanyaannya sih sederhana; misalnya apakah aku sudah melihat lokasinya? apakah aku sudah melihat kondisi bangunannya? Pertanyaannya wajar kecuali ada satu pertanyaan yang setelah aku tandatangani bikin aku senyum kecut…’Apakah saudara bersedia melakukan akad jual beli meskipun listrik dan air belum mengalir ke rumah yang dibeli sampai waktu yang belum bisa ditentukan?’  –> kembali dengan jawaban default yang sudah diconteng duluan oleh pengembang; ‘ya’. Dokumen ini aku tandatangani dengan pertimbangan; (a) aku tahu listrik Pekanbaru memang parah sehingga timingnya tidak bisa dijanjikan, dan (b) air memang tidak akan mengalir karena air dari sumur bor tidak bisa naik tanpa listrik (pompa).

Saat proses akad kredit ini terjadi, photo bangunan yang dibeli dibawa dan kemarin aku lakukan verifikasi ulang di Rumbai. Bangunannya sudah hampir selesai.
Yang nyentrik adalah aku tidak merasa melakukan akad jual beli. Yang aku lakukan hanyalah akad kredit yang ternyata….. akad kredit itu ~ akad jual beli. Proses balik nama dan sebagainya sudah diproses dengan akad kredit yang dilakuan. Tidak dengan AJB. emoticon

Meskipun secara umum aku menemukan ada beberapa keanehan yang nyentrik dalam proses yang aku alami tapi sejauh ini sih aku belum melihat sesuatu yang membuatku tidak nyaman. Aku masih tetap percaya kalo’ beberapa temuan yang perlu diperbaiki itu akan diperbaiki pengembangnya dan aku juga masih tetap yakin kalo’ listriknya akan menyala dalam waktu yang tidak terlalu lama supaya rumahnya bisa dihuni (minimal kalo’ lagi di Pekanbaru sebulan sekali :) )

Tapi…. dari proses yang aku lalui, aku dapat kesadaran baru bahwa sebetulnya… kalo’ mau KPR nggak usah lewat pengembang. Lebih baik KPR sendiri karena harga bangunan pengembang selalu lebih mahal dibandingkan kalo’ membeli rumah pribadi yang bukan dari pengembang. Perbedaan harganya bisa cukup significant. Alasan lainnya adalah kalo’ rumah pribadi sarana listrik dan airnya pasti sudah oke dan kualitas bangunannya pun kemungkinan akan bagus karena dibuat sendiri (meskipun ada juga kemungkinan dapat kualitas yang buruk). Tapi yang jelas… kalo’ beli rumah pribadi, halamannya bisa lebih luas dibanding mbeli dari pengembang untuk harga yang sama.

Tapi….yang jadi issue adalah tidak semua orang familiar dengan proses KPR ke bank sementara kalo’ lewat pengembang kesannya praktis. Semua diurus pengembang (dengan beban pembiayaan ke konsumen tentunya)… he…he…he…. Itung-itung pengalaman; sekarang jadi tahu gimana proses KPR..

Sederhana

Filed under: Umum banget

Hari Sabtu, kami masuk Jambi batas kota Jambi menjelang 11.30 dan langsung mulai ncari tempat makan yang bisa nyajikan makanan yang beragam dan hangat. Sampai di pertigaan sebelum hotel matahari, kami belok kiri menuju jalur ke kantor gubernur dan akhirnya memutuskan mampir di restauran jaringan nasional yang terkenal yang restaurannya bagus, bersih, banyak mobil-mobil bagus parkir dan suasananya menyenangkan.

Kami makan siang di restauran yang namanya sama dengan restauran yang ada di pojokan tugu tani (aku nggak nulis namanya biasa nggak kena kasus Prita ha..ha..ha..). Begitu masuk, di pojok kanan langsung terlihat uap yang mengebul dan ada mangkok-mangkok yang menandakan adanya masakan berkuah yang mengundang selera. Di sebelahnya juga ada sate padang. Kami pun terus masuk dan duduk di sebuah meja berkursi 7 atau 8 yang bagian atasnya bisa diputar. Hidangan pun disajikan lengkap dengan gulai kepala kakap ukuran besar dan soup tulang/daging yang mengundang selera. Kami pun makan siang dengan lahapnya; bahkan Adeanna yang biasanya sulit makan pun sampai perlu nambah lauk dan nambah nasi… bahkan… waktu kami meninggalkan restauran ini kami pun masih sempat minta dibungkuskan 2 potong ayam gulai dan 2 potong ayam pop untuk dimakan anak-anak sambil jalan.

Secara umum, aku melihat restauran ini berkelas dengan pelayanan yang betul-betul membuat konsumennya nyaman di dalamnya; suasanannya nyaman, pelayanannya ramah dan teratur ditambah lagi rasa masakannya yang memang enak… meskipun… kalo’ soal harga memang sudah bukan rahasia kalo’ restauran ini harga makanannya berbanding terbalik dengan namanya… tapi…. aku pikir soal harga tidak menjadi soal selama nilai yang dirasakan konsumen sesuai.

Minggu siang, lewat jam 11 siang, kami masuk perbatasan kota Pekanbaru dan langsung menuju pusat kota dan tiba di dekat poltabes. Seperti biasa, aku selalu kesulitan mencari tempat makan yang membuatku nyaman di Pekanbaru. Di pojokan depan poltabes, kami kembali menemukan restauran yang namanya sama dengan restauran yang di Jambi. Kami pun berhenti di sini.

Ketidak nyamanan sudah mulai terasa di tempat parkir. Petugas parkir tidak memberikan service yang dibutuhkan. Kesannya hanya mengejar setoran parkir… silahkan masuk parkir tanpa dipandu, silahkan keluar tanpa dipandu dan nanti kalo’ sudah keluar kamu harus bayar.. :(

Begitu masuk ke dalam restauran ini, aku tidak merasakan nuansa yang sama dengan yang di Jambi. Nuansanya betul-betul seperti rumah makan minang yang banyak aku temukan; tidak ada yang luar biasa. Lantainya kotor, mejanya tidak dibersihkan sempurna; agak lengket dan masih ada sedikit sisa nasi pengunjung sebelumnya. Kami pun makan. Dari sisi rasa sebetulnya bisa dikategorikan mirip dengan yang di Jambi meskipun kualitas bahannya (khususnya soup-nya) sepertinya yang di Jambi lebih baik.

Waktu naik ke lantai 2 untuk sholat Dzuhur, aku juga menemukan kondisi yang tidak mengindikasikan jaringan nasional; toilet di pojok tempat wudhu tidak begitu bersih, tempat wudhu-nya airnya menguning ntah karena karat atau karena endapan lumpur..

Dalam dua hari aku masuk ke dua tempat makan dalam jaringan yang sama tapi kualitas yang aku terima tidak sama…

Miki Mutiara

Filed under: Umum banget

Pulang ke Palembang jalan darat selalu menyisakan cerita menarik. Salah satu yang menarik dari perjalanan kemarin adalah perubahan strategi perjalanan pulang. Biasanya, kalo’ pulang dari Palembang ke arah Duri, keputusannya jelas; selalu dari awal merencanakan nginap di Jambi dan besoknya baru dilanjutkan Jambi - Pekanbaru dengan dua kemungkinan; terus ke Duri di hari yang sama (sampai malam) atau nginap di Rumbai dulu.

Tahun ini, rencana perjalanan diubah. Dari awal memang tidak direncanakan nginap di Jambi tapi nginap di Belilas; mau nyoba nginap di hotel Miki Mutiara yang aku baru lihat pertama kali (aku dengar soal hotel ini dari Kak Yushar Yushi yang pernah nginap di sana). Karena tujuan perjalanan cukup jauh dari Palembang; perjalanan pun dimulai lebih awal. Kami berangkat dari rumah Plaju sebelum jam 6 pagi, terus mampir di Kebun Duku sebelum memulai perjalanan jam 6.30 pagi. Sampai di Jambi, waktu menunjukkan pukul 11.45 waktu kami berenti di sebuah restauran jaringan nasional yang terkenal untuk makan siang.

Setelah makan siang dan sholat Dzuhur yang dijamak dengan Ashar, kami pun meninggalkan restauran jam 12.30 dan berhenti di Batang Gangsal menjelang jam 17.00. Sampai di hotel Miki Mutiara sedikit lewat jam 17.30.

Seperti biasa, begitu masuk ke hotel yang belum dikenal; ada dua pertanyaan yang diajukan ke receptionist; (a) berapa rate kamar dan (b) boleh lihat kamarnya nggak. Kami pun minta ditunjukkan kamar deluxe yang rate net-nya 225 ribu. Kamarnya ukuran kira-kira 4 x 4 ditambah kamar mandi bershower yang dilengkapi air panas. Kami pun minta ditunjukkan family room yang ukurannya lebih luas dengan dua king bed dengan rate 275 tanpa air panas. Kami pun ditunjukkan VIP room yang sebetulnya tidak lebih istimewa dari deluxe room (kecuali ada seperangkat kursi tamu dan alat pemanas air minum) yang rate-nya 375 ribu. Yang paling menarik sebetulnya family room karena kamarnya luas dan tempat tidurnya ada dua tapi karena lokasinya di lantai 2 pojok kami memutuskan nginap di deluxe room yang dekat receptionist dengan tambahan extra bed. Besoknya kami sarapan nasi goreng di tempat makan hotel itu dengan charge 10 ribu per kepala.

Di satu sisi, sebetulnya tidak ada yang istimewa dengan hotel ini. Hotelnya sederhana, mungkin masuk kategori hotel melati tapi karena lokasinya di kota kecil dan tidak ada pilihan lain (kecuali wisma Bali yang tidak punya lahan parkir khusus) hotel ini jadi istimewa.

Dari sisi harga, sebetulnya 225 ribu / malam itu terlalu mahal karena hotel Aston di Pekanbaru mematok harga 288 ribu / malam net :) tapi karena memang tidak ada pilihan lain (kecuali mau maksa jalan malam sampai ke Pangkalan kerinci atau 3.5 - 4 jam sampai ke Pekanbaru) ya harga segitu jadi tidak luar biasa.

Dari sisi kualitas pelayanan; sebetulnya hampir tidak ada pelayanan sih kecuali numpang nginap aja. Handuknya tipis (sudah terlalu sering dicuci kayaknya) tapi karena ada fasilitas air panas dan ada genset yang memastikan listrik selalu tesedia jadinya ya…. cukupan deh.. :)

Dari sisi keamaman, aku pikir aman karena ada petugas security yang tidak berseragam yang sekaligus menjadi tukang parkir yang menjaga area parkir mobil. Soal sarapan sebetulnya tidak istimewa karena yang disajikan adalah nasi goreng tanpa lauk (kecuali telur yang dimasak bareng nasi jadi tidak begitu kelihatan telurnya. Tapi… karena praktis dan tidak perlu cari makan lagi jadinya ya…. bagus deh..

Menimbang pilihannya cuma ada 3; nginap di Pematang Reba di wisma yang kurang bersih, tanpa pelayanan dan tidak ada jaminan keamanan, atau nginap di Pangkalan Kerinci yang kualitas hotelnya aku kurang tahu (kecuali hotel yang ada di komplek RAPP yang rate-nya tinggi banget) atau terpaksa ke Pekanbaru menempuh perjalanan malam yang aku tidak nyaman mengemudi; maka pilihan ngingap di hotel ini aku pikir bisa jadi tradisi yang bagus untuk dilakukan di perjalanan Palembang - Duri selanjutnya.

Sekitar pukul 8 pagi, kami meninggalkan hotel ini dan sebelum pukul 12 siang sudah makan di restauran di Pekanbaru. Setelah sholat dan mampir ke rumah Pekanbaru yang belum bisa dihuni karena listriknya belum nyala… sekitar jam 13.15 kami pun berangkat ke Duri dan tiba di rumah sekitar jam 15.30.

August 29, 2010

Kantor Pos

Filed under: keluargaku

Post Office? Kayaknya sudah semakin tidak populer tu… orang tidak lagi sering mengirim surat lewat kantor pos karena sudah banyak jasa ekpedisi yang ‘katanya’ lebih secured dan lebih cepat. Orang juga sudah tidak lagi mengirim surat karena sudah ada e-mail dan sms yang bisa mewakili komunikasi jarak jauh. Terlebih di saat jaringan sosial seperti facebook sudah sangat mudah dijangkau. Bahkan orang-orang di kampung pun sudah sangat familiar dengan jaringan ini dan bisa mengaksesnya lewat handphone.

Tapi menurutku, kantor pos tetap perlu dilestarikan sebagai salah satu bukti sejarah kehidupan meskipun faktanya….; kotak-kotak pos yang jadi tempat orang memasukkan surat sebelum diambil petugas pos yang ada di dalam komplek CPI pun sudah tidak dirawat lagi. Bahkan sekarang… PO BOX yang banyak di kantor pos di komplek pun sudah tidak aktif lagi. PO Box yang dulu aku miliki pun aku sudah lupa nomornya; apa lagi kombinasi 4 angka dua digit untuk membukanya….aku sudah lupa.

Tapi hari Kamis ini, ada yang menarik. Ananta dan teman-teman sekolahnya (play group) diajak gurunya ke kantor pos. Di sana mereka mendapat penjelasan mengenai fungsi kantor pos. Cuma dapat bingkisan kartu pos. Di akhir sesi kunjungan ini, setiap anak mengirim kartu pos untuk orang tuanya dengan prangko Rp 200. Ananta pun mengirim satu untuk aku dan Dewi yang sayangnya sampai hari ini belum juga sampai…. :)

Faye Tak

Filed under: keluargaku

"Faye Tak" begitu phrase yang sering aku dengan diucapkan Ananta. Awalnya sih aku nggak ngerti apa yang dia maksud sampai kemudian 3 - 4 minggu ini aku mulai paham kalo’ yang dia maksud adalah ‘fire truck’ - mobil pemadam kebakaran.

Setiap kali melewati fire station di depan komplek Kerinci, aku melihat ekspresi gembira di wajah anakku ini. Dia akan mulai berdiri dan ribut mengatakan "faye tak….faye tak…" sambil kemudian menggumamkan "ni nu ni nu" menirukan bunyi sirene yang biasa keluar dari fire truck ketika berjalan. Aku tidak tahu dari mana anakku mengenal istilah fire truck meskipun dalam bayanganku, anak umur 26 bulan ini mengenalnya dari tivi. Dalam 2 minggu ini, aku lihat Ananta juga sering sekali menonton fire truck di youtube; melihat fire truck in action dan dia sangat menikmatinya..

Beberapa hari ini, Rita punya ide ngajak Ananta ke fire station di depan Kerinci supaya Ananta bisa melihat fire truck dari dekat dan sepertinya perlu aku lakukan supaya anak ini lebih puas…

Rokok

Filed under: Umum banget

Rokok, salah satu hal aku paling tidak suka meskipun aku merasa ada sedikit kompromi dalam caraku menyikapi rokok. Di masa kecilku, aku ingat Bapaku yang saat itu masih aktif merokok rokok ‘Commodor’ - salah satu merk rokok yang jarang terdengar tapi di masa lalu merupakan salah satu jenis rokok yang dihisap oleh tenaga perkapalan Pertamina. Beliau akhirnya berhenti merokok tahun 1997 setelah salah satu adik kesayangannya meninggal dunia karena paru-parunya rusak.

Rokok jenis lain yang sering ada di rumah kami adalah rokok gudang garam keretek yang warnanya merah. Rokok ini akan muncul di rumah kalo’ Bapa sedang main catur dengan salah satu teman karibnya yang umurnya mungkin 10 - 15 tahun lebih muda. Permainan catur ini bisa berlangsung 3 - 4 kali dalam seminggu hingga larut malam - kecuali kalo’ mereka berdua sedang pergi menjala ikan di sungai. Dari permainan catur Bapaku ini, aku mengenal kalo’ pangkal rokok kretek itu rasanya manis karena kadang kala teman Bapaku itu, kami menyebutnya Mak Dah, minta dinyalai rokoknya ke dapur kami yang masing menggunakan tungku dengan bahan bakar kayu api (ha..ha..ha..).

Secara prinsip, aku tidak pernah mengenal rokok, kecuali perkenalan kecil ‘membantu’ Mak Dah menyalakan rokoknya di dapur itu. Tahun 1984 aku pindah ke Palembang dan aku melihat kakakku yang paling tua yang saat itu masih di SMA asyik merokok dengan teman-teman sekolahnya padahal aku tahu orangtuaku saat itu mencoba berhemat supaya anak-anaknya semua bisa sekolah. Karena kesadaran prihatin itu, aku menekatkan kalo’ aku tidak akan pernah merokok kecuali aku bisa membeli rokok dengan uang hasil keringatku sendiri. Dan alhamdulillah, sampai hari ini, aku masih tetap bisa bertahan tidak merokok.

Saat masih kuliah, kalo’ lagi kumpul-kumpul dengan teman-teman sekelas, ada kalanya aku dengan minta izin mengambil rokok dari mulut mereka (kalo’ mereka merokok di dekatku) dan mematikannya. Sesuatu yang aku pikir ‘keterlaluan’ tetapi syukurnya mereka bisa memahami. Tidak pernah ada konflik (meskipun aku yakin awalnya mereka jengkel).

Setelah menikah, ada sedikit kompromi kecil. Ada beberapa kali seingatku aku membelikan rokok untuk saudara mertuaku yang di Bandung maupun yang di Palembang. Sesuatu yang dulu tidak akan pernah aku lakukan dan pernah aku tekatkan untuk tidak aku lakukan. Tapi dengan berbagai pertimbangan, kompromi-kompromi kecil ini aku toleransi.

Awal bulan puasa ini, teman-teman satu kelas di 3A1 SMA Negeri 4 tahun 1991 merencanakan kumpul di rumah Muzzammil; salah satu teman satu kelas yang sekarang menjadi manager engineering di salah satu perusahaan di Batam. Kami pun mulai berbagi tugas; menghubungi teman-teman untuk minta konfirmasi kehadiran. Aku pun dapat tugas untuk minta konfirmasi dari Endo, salah satu sepupuku yang dulu satu kelas dan duduk satu meja denganku. Lewat Endo, aku juga dapat tugas untuk dapat konfirmasi dari Yulvarika, satu-satunya teman di SMA 4 yang pernah aku ajak pacaran, yang sayangnya sebelumnya juga sudah pernah diajak pacaran oleh Endo dan ditolak, dan ternyata aku juga ditolak….(meskipun sampai hari ini aku tetap yakin kalo’ waktu itu Ika mau sama aku..tapi dia nolak pacaran dengan aku karena dia pernah nolak Endo..ha..ha..ha..ha.. Karena Endo satu kantor dengan Ika, jadi aku minta Endo yang minta konfirmasi Ika.

Waktu ngobrol via telephone itu, Endo cerita kalo’ dia pernah dapat rokok Marlboro dari Duri waktu Rio, adiknya, kerja praktek di Duri. Menurut Endo rasa rokoknya beda; tidak sama dengan rokok Marboro yang sering dia hisap. Aku pun menghubungi Rio minta penjelasan ciri rokok ini dan cuma dapat dua penjelasan kecil "Belinya di warung di luar komplek tapi aku lupa tempatnya. Waktu beli harus nanya Marlboro luar. Kertas pembungkusnya mirip rokok Dji Sam Soe".. Hmmm….

Siang ini, aku ajak Adeanna ke Sebanga, karena satu-satunya tempat yang aku pikir bisa dijangkau dari wisma pinggir (tempat Rio tinggal waktu kerja praktek di Caltex akhir tahun 2002 (atau awal 2003) itu cuma daerah Sebanga. Aku datangi setiap toko yang menjual rokok dan hasilnya…. nihil… ternyata rokok marlboro luar itu bukan barang pasaran… Tapi aku dapat informasi baru kalo’ rokok ini dikenal sebagai marlboro lembut.

Dalam perjalanan pulang dari Sebanga ke rumah, aku terpikir untuk mampir ke toko kangen di gate 3 yang dulu menjadi salah satu toko paling ngetop di Duri. Begitu nama ke penjual, yang aku dengan cuma gumaman kecil, "hmm… yang soft" (oh….istilahnya yang soft…baru tahu). Waktu aku tanya, "ada nggak?" Aku tidak langsung mendengar jawaban tapi aku lihat perempuan sipit yang menjaga toko itu menunduk di mejanya dan beberapa saat kemudian mengeluarkan 4 bungkus rokok marlboro yang bungkusnya memang lembut. "Ada satu slop nggak? Berapa banyak sih satu slop tu?", tanyaku dengan bloonnya dan aku mendapat jawaban, "biasanya isinya 10 satu slop tapi nggak ada. Yang ada cuma itu aja". Waktu aku tanya harganya dengan muka bloon, jawaban yang aku terima adalah "20 sebungkus" dan ternyata nggak bisa ditawar..

Hasilnya, pulanglah aku dengan 4 bungkus rokok marlboro import pesanan khusus Endo. Meskipun cuma dapat 4 bungkus, minimal aku sudah buktikan kalo’ aku berusaha menepati janjiku pada sepupuku…. 4 bungkus itu hasil ‘usaha’ mencari door to door….. Duh…. rokok, sudah susah dicari, harganya cukup mahal, bikin penyakit lagi tapi koq tetap banyak yang mau beli ya… heran…. :(

August 14, 2010

Akhir

Filed under: Pikiranku

Segala sesuatu yang memiliki awal, akan selalu berakhir pada suatu akhir. Kisah kehidupan diawali dengan kelahiran dan diakhiri dengan kematian (meskipun sebetulnya, kematian yang terjadi juga merupakan kelahiran yang baru di alam kubur dalam maknah yang tersirat). Kisah cinta pun diawali dengan jatuh cinta dan diakhir dengan dua kemungkinan; perjalanan cinta diakhiri dengan berpisah karena kematian atau berpisah dalam kehidupan dunia.

Perjalanan masa sekolah pun memiliki awal dan akhir, dimulai dengan mendaftar sekolah dan diakhiri dengan kelulusan. Masa kerja pun begitu, diawali dengan tandatangan perjanjian kerja (dalam segala maknahnya) dan diakhiri dengan berakhirnya perjanjian yang bisa bisa terjadi dengan beberapa sebab; kematian, phk, dsb…dsb… atau pun tercapainya masa usia pensiun.

Apa pun istilah yang digunakan; kelulusan, kematian, putus cinta, atau pun pensiun, pada dasarnya semuanya mengindikasikan bahwa akhir dari satu fase merupakan satu keniscayaan yang harus diterima dengan hati yang lapang meskipun memang setiap perubahan akan melahirkan kekhawatiran, melahirkan perbedaan-perbedaan namun sebetulnya keniscayaan ini harus dihadapi sebagai satu fenomena kehidupan yang normal. Segala sesuatunya perlu dihadapi dengan hati yang lapang.

Berakhirnya masa kerja bisa disebabkan oleh banyak hal. Aku menemukan ada yang mengakhiri masa kerjanya karena kematian menjelang, ada juga orang disekitarku yang mengakhiri masa kerjanya dengan sepotong surat pengunduran diri, ada juga yang karena dipecat meskipun yang paling banyak berakhir dengan datangnya usia pensiun.

Mengamati bagaimana orang menghadapi usia pensiun sangatlah mengasyikkan. Banyak pelajaran kehidupan yang bisa dilihat. Aku menemukan beberapa orang menghadapi usia pensiunya dengan persiapan yang sangat luar biasa; semua proses dipelajari lebih awal dan semua persyaratan diikuti dan dijalani dengan muka yang jernih, sikap yang bersahaja dan itikat yang positif; semua proses dijalankan dengan baik tanpa usaha untuk menyulitkan siapa pun. Semuanya dipermudah. Bahkan semua proses sudah diselesaikan menjelang waktu persiapan pensiunnya muncul.

Ada juga yang menghadapinya dengan cuek; terkesan tidak perduli. Masa menjelang pensiun diisi dengan kegiatan normal seakan-akan dia tidak akan pensiun. Tidak ada usaha untuk mengetahui proses atau pun hal-hal lain yang perlu disiapkan. Semua kesehariannya tetap normal; semua berjalan seakan-akan hari yang menjelang masih sama dengan hari-hari yang sudah dilalui. Sampai kemudian waktunya tiba, baru proses yang harus diikuti dijalani dengan tertatih; dijalani seperti apa adanya tanpa usaha untuk membuatnya lebih cepat atau pun membuatnya lebih lambat. Roda kehidupan dibiarkan berjalan seperti apa adanya.

Ada juga fenomena yang menarik. Ketika masa menjelang pensiun justru diisi dengan sikap-sikap yang mengindikasikan seakan-akan masa pensiun adalah akhir dari segalanya sehingga muncul sikap-sikap yang menunjukkan perlawanan pada sistem; perlawanan pada proses yang terjadi dan usaha untuk membuat proses yang seharusnya mulus menjadi tidak mulus. Penolakan untuk mengikuti proses ditunjukkan baik dengan cara yang halus maupun dengan cara yang vulgar.

Variasi tingkah / pola - yang sebetulnya juga mengindikasikan jati diri seseorang - juga teramati dalam cara menyikapi perubahan format cash-flow ketika menghadapi pensiun. Ada yang menghadapi proses ini dengan legowo, membiarkan prosesnya berjalan baik tapi ada juga yang menghadapinya dengan fight untuk memperjuangkan hal-hal kecil dalam nominal-nominal yang tidak significant. Ada yang fight memang untuk sesuatu yang benar sesuai aturan meskipun ada juga yang fight untuk sesuatu yang sebetulnya tidak jelas landasannya dan sulit untuk dipahami.

Variasi pola juga terlihat dalam mensikapi perubahan lingkungan; ada yang memasuki masa menjelang waktu akhir tugasnya dengan usaha yang optimal untuk membuat hubungan baik yang ada menjadi semakin baik dan memperbaiki hubungan yang sebelumnya kurang baik menjadi baik yang tentu tujuannya untuk membuat masa ketika waktunya datang hubunga yang baik terpelihara. Ada juga yang terkesan cuek dan membiarkan semuanya berjalan seperti biasa. Meskipun ada juga yang memasuki masa ini justru dengan sikap-sikap yang kontra produktif dan membuat hubungan yang positif menjadi tidak positif.

Semua tingkah pola ini menunjukkan jati diri. Yang secara sadar atau pun tidak sadar bisa menjadi indikasi bagaimana seseorang menghadapi hidupnya; apakah seseorang termasuk manusia yang amanah atau jenis lain…

Semoga pelajaran-pelajaran kehidupan yang aku amati dan rasakan dalam keseharianku selalu menjadi cermin dan selalu menjadi saranaku belajar untuk menjadi lebih baik.

Pempek Modifikasi (?)

Filed under: Umum banget

Masih ada kaitannya dengan posting http://sibayak42.blogsome.com/2010/07/24/caluk/, dua hari yang lalu Tejo ngasih tahu kalo’ pesanan caluk 2 kilo dari Bangka sudah datang. Sorenya kami mampir ke rumahnya ngambil empat bungkusan caluk dengan dua tipe yang berbeda; ada yang warnanya agak gelap dan ada yang warnanya agak kemerah-merahan. Kata Tejo sih, yang warnanya gelap lebih enak.

Tadi pagi, aku seperti biasa ke pasar dan pulang mbersihkan ikan kakap, ikan senangin, ayam dan ikan tuna yang aku bawa dari pasar sementara di dapur aku mencium bau caluk yang sedang digongseng untuk membuatnya kering dan siap digunakan. Setelah digongseng, saluk yang tadinya padat berubah jadi bubuk dengan sebagian lagi menempel di wajan yang digunakan.

Menjelang pukul 11 siang, aku njemput anak-anak ke sekolah dan waktu pulang menemukan Dewi dan Rita sedang ngadon pempek di wajan yang tadi digunakan untuk menggongseng caluk.. ternyata Dewi dan Rita sedang mbuat pempek caluk, modifikasi pempek yang aku belum pernah makan tapi aku bayangkan akan enak rasanya meskipun agak bau… :)

update setelah berbuka

Rasa pempek caluk ternyata memang unik…unik karena rasa caluknya. setelah makan 3 potong, aku mulai merasa mual, Dewi merasa pusing-pusing.. ha..ha..ha.. terpaksa sisanya dibuang aja :)

August 1, 2010

Bakso

Filed under: Umum banget

Malam jumat, sekitar pukul 20.00, aku lagi baca koran di ruang keluarga, telephone berbunyi..tone-nya ring dua kali yang maknahnya dari kantor. Tidak berapa lama, Adeanna menyerahkan telephone dan, "Sur, besok malam xxx ngundang makan malam di rumahnya." begitu kalimat yang aku dengar malam itu dari atasanku yang ternyata masih juga di kantor sampai jam segitu. Tapi koq undangan makan malamnya sepertinya beda sekali ini, biasanya undangannya lewat e-mail. Tidak lama, aku tahu jawabannya, ternyata setelah dinner akan ada meeting dan aku harus menghubungi beberapa direct reportku.

Malam sabtu pun tiba, menjelang pukul 19.00 aku mandi, 19.15 aku berangkat dan ternyata….sudah banyak yang hadir dan mulai makan. Seperti biasa, suasananya santai dan prasmanan. Aku pun mulai mengambil makanan. Diawali dengan seporsi es xxx (aku tidak tahu namanya), kemudian dua buah martabak kecil, terus seporsi sate padang dan aku akhiri dengan semangkok bakso… dan aku akhiri di sini karena rasanya sudah sesak.. (kenyang gitu lho… :) )

Suasana makan malamnya tidak ada yang berbeda. Seperti biasa, ada beberapa pegawai F&B dari team FM team (Facility Management) yang melayani dan seperti biasa, suasananya santai dan tidak formal. Pakaiannya pun santai. Tapi aku merasakan dua hal yang berbeda malam itu;

(a) sate padangnya enak sekali. Rasa mericanya sangat terasa dan membuat tubuh terasa hangat. Sepertinya aku belum menemukan sate padang yang rasanya seperti ini di Duri. Ada dua kemungkinan sih, aku yang kurang hunting atau memang ini dibuat khusus oleh pegawai kontraktor FM team.

(b) baksonya juga enak sekali. Aku mengambil 3 bakso ukuran jumbo dan banyak sayuran tanpa mengambil mie. Sambil makan aku ngobrol dengan beberapa orang dan Deny ngomong kalo’ dia sangat menyukai makan di bakso KS (sengaja namanya nggak aku tulis full) yang buka beberapa waktu lalu dan menurutnya baksonya enak sekali. Deny cuma ngomong begitu tapi aku berasumsi kalo’ bakso enak yang sedang aku nikmati ‘kemungkinan’ sumbernya dari situ.

Pulang ke rumah, sekitar pukul 12.30  setelah meeting malam itu selesai sekitar pukul 11.30, aku merencanakan ngajak keluarga ncicipi bakso KS. Kalo’ aku merasakan enaknya bakso yang aku makan di rumah SLN-1 malam itu, aku juga pengen anak-anakku merasakan taste yang sama.

Sedikit lewat jam 5 sore kemarin, kami pun sudah nongol di warung (aku nyebutnya warung aja) bakso KS yang belakangan sering disebut orang itu dan mulai makan…tapi…. ternyata rasanya tidak seenak yang aku rasakan malam sebelumnya. Berarti yang aku makan malam sebelumnya bukan bakso KS.

Bakso KS sendiri gimana dong? Menurutku baksonya enak… meskipun tidak seenak bakso yang makan malam sebelumnya :(
Mau makan lagi di sini? Nggak tahu deh…. tapi kayaknya kalau pun makan lagi di sana nggak bakal sering-sering… :)

July 29, 2010

Tidur Sendiri

Filed under: keluargaku

"Abang mau nggak tidur dengan kakak?" tanyaku pada Ananta kemarin siang
"Mau", jawab Ananta
"Tidurnya di kamar kakak ya." kataku lagi
"Ya", jawab Ananta

Setelah makan siang kemarin, aku dan Dewi pun mulai merekah-rekah bagaimana penempatan tempat tidur di kamar Dhyaksa supaya Ananta bisa ikut gabung tidur di sana. Kamar tidur ini akan nyentrik karena bentuknya L, ada daerah ukuran sekitar 2 x 1.75 meter di luar daerah utama di kamar ini yang jadi lokasi komputer anak-anak dan juga jadi tempat Dhyaksa narok gitar dan meja 3 tingkat yang dulu aku design dan siapkan untuk jadi tempat mandi Adeanna waktu bayi (yang ternyata tidak pernah digunakan). Sementara tempat tidur single yang ditempati Dhyaksa diletakkan sejajar dengan pintu masuk kamar. Daerah kosong di antara tempat tidur dan daerah L ini selama ini dijadikan tempat sholat.

Diskusi siang kemarin membawa kami pada kesimpulan; tempat tidur queen cocok untuk dimasukkan ke kamar ini dan bisa ditempatkan di lokasi komputer. Komputer bisa ditempatkan di area sholatnya sementara meja 3 lantainya bisa dipindahkan ke teras.

Sore kemarin, pulang kerja, begitu Dhyaksa pulang dari les, kami pun mulai hunting ke toko furniture yang ada di jalan Hangtuah, ncari springbed ukuran queen yang bagus. Ada dua tempat tidur yang menarik dan harganya reasonable dan akhirnya kami memiliki yang sedikit lebih 3 cm pendek tapi terlihat lebih baik designnya lebih halus dan lebih enak ditiduri (dicobain tiduran). Kami pun pulang.

Sampai di rumah, kami pun mulai merapikan ulang kamar Dhyaksa. Sedikit berbeda dengan rencana awal, komputer ternyata tidak bisa ditempatkan di areal sholat tapi harus ditematkan di sebelah rak buku. Sedikit lewat jam 6 sore, pegawai toko itu mengantar springbed itu ke rumah dan langsung mengaturnya di tempatnya.

Waktu Adeanna dan Dhyaksa masih belajar di ruang keluarga, Ananta dan Rita mewarnai majalah anak-anak di kamar Dhyaksa. Semua anak-anak suka dengan suasana kamar yang baru. Bahkan Adeanna malam ini pun minta diizinkan tidur di kamar Dhyaksa; tidur di tempat tidur yang lama sementara Ananta dan Dhyaksa akan tidur di tempat tidur yang baru.

Menjelang waktu tidur, semua anak pun masuk ke kamar dan mulai berbaring di tempat masing-masing. Tapi…. Ananta mendadak bangun dan bergerak turun dari tempat tidurnya, pindah ke kamar sebelah (kamar kami) dan naik ke tempat tidur dan tiduran di tempat biasa dia tidur. Sebentar kemudian, aku ajak dia kembali ke kamar Dhyaksa dan aku pun ikut tiduran di sebelahnya. Cukup lama dia bertahan di sana sampai kemudian, kembali dia turun dari tempat tidur dan kembali pindah ke kamar kami sampai kemudian dia betul-betul tertidur di tempat di mana dia biasa tidur. Setelah Ananta tertidur lelap, Dewi memindahkannya kembali ke kamar Dhyaksa dan malam ini, Ananta pertama kali tidur tidak di sebelah kami. Malam ini, sepanjang malam, Ananta tidur di sebelah kakaknya di tempat tidur baru mereka.

Anakku sudah mulai besar. Semoga mereka menjadi anak-anak yang mandiri. Semoga Ananta menjadi anak yang mandiri dan semoga saudara-saudaranya bisa menjadi panutan dan guru yang baik bagi adiknya, amiin..

July 28, 2010

Bingkisan

Filed under: Umum banget

Tulisanku awal tahun lalu ternyata berlanjut (http://sibayak42.blogsome.com/2009/01/31/what-have-i-done/).

Di pertengahan tahun lalu, memberku yang aku tulis dalam tulisan itu aku transfer dalam program internal rotation di team besarku ke area kerja remote. Internal rotation sendiri punya 2 tujuan penting; (a) mengembangkan organisasi dengan memastikan adanya pengembangan kemampuan members yang ada di setiap area kerja dengan memberikan exposure yang berbeda pada member-member yang ada dengan tujuan meningkatkan pengalaman dan juga pemahamannya terhadap proses kerja dan tantangan kerja yang ada, di samping juga akan memfasilitasi member terkait memperluas networkingnya yang pada akhirnya akan membantu peningkatan karirnya di masa mendatang; yang diharapkan pada akhirnya akan menjadi gain yang besar pada kemampuan organisasi / team menangani pekerjaan-pekerjaan yang ada dengan lebih safe, efektif dan effisien, dan (b) memberikan penyegaran organisasi dengan memastikan memindahkan personnel yang sudah lama di remote area ke basis di Duri sebagai bagian usaha untuk mencegah aspek-aspek negatif yang mungkin timbul dari proses bekerja di remote area di mana pekerja tinggal jauh dari keluarganya dalam arrangement waktu 5 - 5.

Pulang kerja kemarin sore (sekitar jam 17.30 - sebelum kemudian dipanggil lagi ke kantor untuk meeting terkait organizational capability development sampai mendekati jam 20.00), di kursi ruang depan aku disambut Dewi penyerahan sebuah plastic bag dengan sebuah bingkisan di dalamnya, "Ado bapak-bapak yang datang tadi, tadi dak kenal. Dio nyerahke bingkisan ini. Dio minta di’njukke ke Pak Surya. Bingung jugo nak nolaknyo jadi diterimo bae. Bapak itu ngakunyo namonyo Gin…."

Dengan tersenyum aku terima bingkisan itu sambil ngomong, "Yo sudah, kito lihat bae apo dio isinyo". Begitu dibuka, aku menemukan sebuah baju lengan pendek ukuran L dan selembar surat dengan tulisan miring bersambung yang rapi.. cara tulisan yang sekarang sudah jarang dipelajari di sekolah dan anak-anak tidak menggunakannya lagi:

Duri, 27-07-2010
Kepada yth
Bapak Surya Ahdi
di
tempat

Assalamualaikum Wr Wb,

Pak, Saya ucapkan banyak terima kasih atas nasehat / bimbingan / pengetahuan & perhatian yang telah bapak berikan / arahkan kepada Saya, sehingga Saya dapat melaksanakan tanggung jawab / pekerjaan tersebut dengan baik sebagaimana mestinya.

Sebagai tanda ungkapan terima kasih Saya, izinkanlah Saya memberikan bingkisan ini dan Saya mohon janganlah bapak menilainya bingkisan ini dari bentuk dan harganya. Semoga bapak berkenan menerimanya.

Sekali lagi terima kasih yang tak terhingga dari saya S.Gin…. 21xxx  (nama dan nomornyo sengaja saya hilangkan sebagian)

Hormat saya
ttd
S. Gin…, 21xxx

NB: Kami sekeluarga mengucapkan "Selamat menyambut bulan suci ramadhan". Semoga bulan suci ini membawa berkah bagi kita semua, kesehatan / keselamatan menyertai langkah kita dan kami sekeluarga mohon maaf lahir & batin. Amin ya robbal alamin.

July 24, 2010

Musik

Filed under: keluargaku

Dua minggu lalu, Dewi ditelephone guru piano Adeanna, dengan satu pertanyaan kunci; apakah Adeanna sudah dibelikan sebuah piano di rumah? Aku cuma nanggapi cerita Dewi soal telephone ini dengan senyum karena sebetulnya akhir dua tahun lalu aku sudah nyari piano di toko yamaha di Pekanbaru dan terkejut karena ternyata harga piano itu sangat mahal; 40 jutaan yang sejujurnya membuatku memutuskan untuk bilang tidak membeli dengan satu pikiran jelek di kepala "masak sih alat musik harus semahal itu… Kalo’ beli rumah juga ada yang dp-nya cukup segitu… Gila banget harga alat musik seharga dp rumah". Ntar aja deh.. beli piano barunya ntar aja kalo’ Adeanna sudah betul-betul terampil bermain piano biar worthed ngeluarin duit segitu banyaknya.

Lalu aku pun mulai mencari supplier piano second di Pekanbaru tapi akhirnya aku putuskan untuk tidak meneruskan membeli karena aku meragukan kejujuran supplier yang sempat beberapa kali berhubungan itu. Akhirnya… aku memutuskan membeli alat musik elektronik yang menyerupai piano (dengan 5 oktaf) yang bisa diset jenis suara yang dikeluarkannya. Harganya hanya sekitar 10% harga piano baru. Problem solved, Adeanna bisa make’ alat ini untuk berlatih bahan les pianonya di rumah (meskipun dia tidak pernah semangat melakukannya :( ) dan yang paling penting, aku bisa ikutan main meskipun hanya dengan mengandalkan kemampuan memindahkan kombinasi kunci seperti permainan gitar saja (karena memang alat musik ini bisa dimainkan dengan satu tangan dengan modal tahu kunci dasar A-G saja. :)

Tapi…. akhir minggu lalu, kembali guru les itu nelphone lagi dengan satu kalimat kunci, "pelajaran di tempat lesnya sekarang sudah mengharuskan Adeanna punya piano sendiri di rumah karena pelajarannya sudah lebih sulit dan range not yang dimainkan sudah semakin besar".

Waktu Dewi nyeritain telephone ini, tanggapanku cuma saran supaya Dewi nanya ke ibu guru itu ada nggak yang mau jual piano second yang masih bagus. Dan ternyata.. masih ada. Minggu lalu, waktu aku baru nyampe di Jakarta untuk meeting hari Senin, Dewi menghubungi ngabarkan kalo’ piano second-nya sudah datang dan Adeanna senang mainnya.

Waktu aku pulang dari Jakarta, aku temukan Adeanna memang lebih rajin latihan dan terlihat senang melakukannya. Dan yang membuat aku terkejut tapi senang adalah….. ternyata memang dia sudah cukup mahir bermain piano :)

Martabak

Filed under: keluargaku

"Pap, tata boga itu apa sih?" begitu pertanyaan Adeanna ke aku sekitar seminggu yang lalu waktu aku sedang asyik nge-FB di depat laptop di dekat pintu kamar mandi di kamarku; pertanyaan yang aku jawab dengan, "rasanya sih tata boga tu soal masak memasak Yuk. Tapi ntar ya, kita lihat google dulu." Ternyata…. setelah dicek di google, maknahnya memang soal masak memasak.

Singkat cerita, sore itu aku menandatangi selembar kertas yang dikirim sekolah yang isinya pilihan ekstra kurikuler yang akan bisa dipilih oleh siswa-siswi SD Mutiara. Adeanna pun memiliki tata boga dan aku setuju dengan kalimat pamungkas, "gitu dong… anak Papi harus belajar masak."

Tadi siang, Adeanna ngomong kalo’ dia mau mraktekkan pelajaran yang dia dapat di sekolah tadi tapi dia ngungkapkan dengan disclaimer "kalo’ nggak enak nggak apa-apa Pap ya. Kata bu guru, kan masih belajar". Aku nanggapi disclaimer ini dengan senyum saja.

Menjelang jam 2 siang, aku dapat telephone dari atasanku, ngajak meeting di kantor bareng dua rekan leader yang lain untuk ndiskusikan dua incident beruntun yang terjadi minggu ini di daerah operasi sumatera dengan fokus diskusi pada pengembangan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah terjadinya incident yang sama di daerah operasi di mana aku bekerja. Meeting ini pun dimulai sedikit lewat jam 2 dan terus berjalan sampai lewat jam 7 malam. Awalnya sih yang meeting cuma berempat saja. Tapi lewat jam 4 ada tambahan 5 orang peserta meeting dan sedikit lewat jam 5 meeting semakin rame dengan kehadiran SLN-1.

Setelah sholat magrib, menjelang jam 7 malam, aku menerima telephone dari Dewi nanyain makan di mana yang aku jawab dengan makan di rumah tapi tidak perlu ditunggu. Aku pun kembali mengikuti meeting ini sampai akhirnya selesai sekitar pukul 7.30 malam. Menjelang jam 8, dalam perjalanan pulang aku dapat telephone dari Adeanna dan kalimatnya cuma singkat, "Pap, kapan pulangnya? Koq lama banget sih? Nggak mau …….. anaknya aja" Ada bagian kalimatnya yang aku tidak begitu jelas menangkapnya.

Sampai di rumah, Dewi ngajak makan dan ternyata…. Dewi dan Adeanna belum makan sementara Dhyaksa, Ananta dan Rita sudah makan duluan. Dan tenyata…. di meja makan, di tempat di mana aku biasa duduk sudah tersedia dua buah martabak hasil karya Adeanna sore ini. Martabaknya enak meskipun gorengannya agak aneh… tidak kekuning-kuningan tapi putih.. dan gorengannya putus tidak mulus. Setelah diskusi, aku baru tahu kalo’ adonan martabaknya memang sedikit unik. Adonannya bukan dibuat dari tepung terigu tapi dibuat dari sagu (tepung kanji) sesuai dengan resep yang diperolehnya dari gurunya.

Tapi gimana pun, aku pikir martabaknya enak.. terlebih karena aku makannya dengan cuka pempek buatan Dewi yang memang selalu ada stoknya di kulkas. :)

Caluk

Filed under: Umum banget

Caluk atau calok atau terasi (http://id.wikipedia.org/wiki/Terasi) sebetulnya bukan sesuatu yang istimewa. Penampilannya pun sebetulnya biasa aja. Bahkan kalo’ ditinjau dari bau, sebetulnya agak kurang recomended. Tapi……… kalo’ manfaatnya, sejujurnya mengasyikkan… :)

Dari tahun ke tahun, kami di Duri mengkonsumsi terasi untuk mbikin sambel; baik sambel ‘menire’ (tomat kecil yang biasa digunakan bule untuk bahan salad) atau pun sambel lain (mangga, kueni, atau pun tomat biasa). Penggunaan terasi membuat sambal jadi lebih enak di lidah..

Bentuk menire bisa dilihat di link ini http://www.student.chula.ac.th/~51459181/salad.jpg. Ada benda bulat mirip tomat di bagian kiri bawah photo ini, itulah menire…

Kalo’ di Palembang, menire ini sangat banyak dan harganya relatif murah. Masyarakatnya lebih menyukai menire dibandingkan tomat karena rasanya memang beda, lebih asam dan lebih memikat selera. Kalo’ dibuat sambel, rasa sambelnya memang terasa lebih ‘merangsang’ lidah –> Orang Palembang nyebutnya ‘Cung Kediro’.

Kalo’ di Duri, aku belum pernah melihat menire dijual di pasar meskipun ada orang Palembang di Duri ngasih tahu kalo’ ada juga yang jual tapi sedikit dan harus subuh-subuh ke pasarnya. Tapi untuk urusan supply makanan bule, aku sering melihat ada mobil yang suka nyupply sayuran untuk bule door to door menjual ‘menire’ ini. Dewi juga pernah beli dengan harga Rp15.000/250 gram (jadi kira-kira Rp 60.000 / kg). Aku dengar yang ini disupply dari Medan.

Di belakang rumah, kami nanam menire tapi tidak banyak, hanya cukup untuk konsumsi 1 - 2 kali seminggu saja dan stoknya Senin Kamis. :(
Aku sudah minta ke Bapak tukang kebun di rumah kami untuk lebih memperbanyak tanaman menire ini dalam polybag (tulisannya bener nggak sih) supaya stok harian bisa selalu tersedia, tapi kayaknya belum tu.. yang banyak ditanam dalam polybag di belakang rumah sementar baru cabe.

Dari tahun ke tahun, keperluan terasi keluarga kami di Duri disupply dari Palembang. Kami selalu minta Mbak Ina, yang dulunya, sejak tahun 1983, mensupport almarhum ibu Tuti di Kebun Duku. Biasanya terasi yang dikirim ke Duri sudah siap dikonsumsi. Terasinya sudah digongseng jadi sudah masak dan tinggal digunakan. Tahun lalu, Mbak Ina menikah dan pindah ke Depok, mbuka warung makan di dekat UI (dengan merek dagang Warung Mang Gani) dan impactnya…………… kiriman calok / terasi ke Duri pun terhenti.

Kemarin siang, Dewi menyajikan sambel ‘menire’ berterasi yang bahan menire dan cabe-nya diambil dari tanaman di belakang rumah. Ngobrol sambil makan, aku nanyain kondisi stok terasi dan dapat informasi dari Dewi kalo’ stoknya sudah sangat menipis. Sambil guyonan aku pun ngomong ke Dewi, "Cak mano kalu kito minta tolong Tejo bae, minta dikirimi dari Bangka’, yang cuma ditanggapi Dewi dengan senyum dan jawaban, "Tapi Papi cuma ngomong bae kan? Idakke galak ngomong nian ke Tejo". Aku pun cuma senyam-senyum.

Kemarin sore, aku lihat Tejo (Aryo Tejo, salah satu member di teamku yang aslinya dari Bangka) datang ke ruanganku untuk urusan Contracting Plan (CP) pembelian spare part tahun 2011. Setelah urusan CP selesai, aku pun ngobrol soal terasi dengan Tejo dan ternyata… klop…. untuk keperluan terasi di rumahnya, Tejo selalu dapat kiriman dari keluarganya di Bangka. Jadi aku tinggal ngomong, "aku nitip terasi juga Jo ya, kalo’ kamu dikirimi, aku pesan juga" dan Tejo pun setuju.

Yang menarik; waktu Tejo nanyain sambil cengar cengir, "berapa banyak Bang? dua kilo?"
Pertanyaan yang sejujurnya bikin aku nyengir juga… (emang calok tu mau jadi lauk utama hmm….) dan aku tanggapi dengan pick-up the phone dan dial home, nanya ke Dewi dengan pertanyaan, "kalo’ pesan 2 kilo cukup nggak?". Akhirnya jadi deh mesan terasi ke Tejo dua kilo. :)

Sampai di rumah, Dewi baru komentar, "Kalu caluk duo kilo itu Pap, mungkin baru abis duo tahun"…. :)

July 17, 2010

1st Day at School

Filed under: keluargaku

Hari pertama sekolah memang selalu menarik. Pengalaman Ananta sekolah pertama kali juga menarik. Mulai tanggal 12 Juli (Senin), Ananta resmi mulai sekolah di play group Anugerah kepunyaan Bu Kila Wayan; sekolah yang sama dengan play group tempat dulu Adeanna dan Dhyaksa juga belajar. Meskipun resminya sudah sejak 12 Juli tapi efektif mulai masuk sekolah bukan tanggal 12 Juli tapi 13 Juli karena waktu hari Senin Ananta belum begitu fit kondisinya jadi diputuskan untuk belum masuk sekolah.

Hari Selasa tanggal 13 Juli, baru Ananta masuk sekolah pertama kali, naik mobil. Besoknya naik bis sekolah dan kayaknya mulai keranjingan tu…. dia nggak mau lagi sekolah naik mobil, pengennya naik bis. Tapi belum berani duduk sendiri, duduknya harus di sebelah Dewi.

Di sekolah ceritanya juga agak nyentrik. Kalo’ gurunya nyanyi lagu anak-anak, Ananta cuek meskipun anak-anak yang lain mengikuti dengan ceria. Dia sukanya lagu-lagu yang sering dia dengar di rumah aja.. :)

Soal mainan juga masih perlu belajar berbagi… Kalo’ mainan sedang dia mainkan, dia belum mau berbagi.

Hari-hari pertama Ananta di sekolah masih agak nyentrik. Mudah-mudahan ke depan semakin baik. :)

July 11, 2010

Kamar kos

Filed under: Umum banget

Kos? Apa sih beda nyewa rumah petak (orang Palembang nyebutnya bedeng) dengan nge-kos? Sejujurnya aku tidak punya gambaran mengenai perbedaannya meskipun dulu aku selalu membayangkan kalo’ kos itu maknahnya menyewa satu kamar di dalam sebuah rumah yang dihuni oleh banyak orang sementara menyewa rumah petak maknahnya menyewa satu unit rumah yang bentuknya coupled dengan unit yang lain. Perbedaan lain yang aku selalu bayangkan dari dulu adalah kamar kos maknahnya ya…. tidak besar sehingga tidak mungkin untuk memasak di dalamnya meskipun mungkin saja ada kamar mandi di dalamnya, sedangkan rumah petak sudah dilengkapi dengan sekatan untuk tidur, sekatan untuk tempat masak/makan dengan kamar mandi yang bisa di dalam atau pun di luar.

Tapi itu semua bayanganku ketika masih SD - SMA. Ketika mulai kuliah, aku melihat teman-temanku kos di rumah-rumah petak yang ada di Bukit Besar. Mereka menyebutnya nge-kos meskipun aku tetap berpikir kalo’ mereka sebetulnya tidak nge-kos. Mereka pun makannya umumnya tidak memasak sendiri tapi makan di tempat makan yang memang dikelola oleh pemilik rumah petak (kos?) dengan sistem makan - bayar… :)

Tapi sekarang, tentu urusannya jadi lebih mudah. Untuk masak orang tidak perlu lagi masak di kompor (minyak?) tapi cukup nyolokin kabel rice cooker atau alat lain ke saluran listrik dan hidangan pun tersedia sehingga konsep kos yang maknahnya makan bergabung dengan induk semang atau makan di warung sudah tidak afdol lagi.

Tempat kosnya pun sekarang sudah lebih canggih; tidak berupa kamar di dalam rumah atau pun konsep rumah petak seperti yang dulu dihuni teman-temanku kuliah tapi sekarang kamar kos adalah kamar-kamar yang mirip dengan kamar-kamar penginapan yang masing-masing bisa saja punya akses langsung keluar, lengkap dengan kamar mandi di dalamnya.

Sebagai kota di mana begitu banyak kaum migran bekerja, Duri adalah tempat di mana akomodasi seperti rumah petak dan kamar kos menjadi sarana yang sangat dibutuhkan. Kamar kos dan rumah petak yang tersedia pun beragam bentuk, ukuran dan kualitasnya; dari yang kelas kumuh sampai yang kelas eksekutif.

Malam ini aku melihat satu bangunan dengan 10 kamar kos yang masing-masing punya pintu yang langsung ke halaman dan satu kamar mandi kecil di dalamnya di Duri. Bangunan kos satu lantai yang kamarnya berjejer masing-masing 5 pintu di setiap sisinya. Bangunannya menggunakan konsep minimalis dengan lantai kamar berkeramik.

Dua minggu lalu, Ardi mengutarakan keinginannya untuk nge-kos dan aku mendukung keinginannya itu untuk membuatnya lebih mandiri dan lebih berkembang. Sore tadi, dia mengutarakan lagi keinginannya dengan berita kalo’ dia sudah menemukan tempat kos yang baik.

Malam ini, aku dan Dhyaksa mengantarkannya ke tempat kosnya yang ternyata sangat memadai. Aku percaya, di luar ada kegelisahan dan ketakutan / kekhawatiran di dalam batinnya ketika akhirnya mulai nge-kos, keputusan yang diambilnya merupakan keputusan yang baik untuk membuatnya lebih mandiri.. :)

July 8, 2010

Jiwa

Filed under: Pikiranku

Rumah sakit Chevron itu agak unik karena tidak mengenal kelas-kelas untuk area rawat inapnya. Semua ruangan ukurannya sama dan arrangementnya juga sama; dua buah tempat tidur untuk dua pasien dengan satu kamar mandi dan satu tv. Standard, semua orang yang dirawat akan mendapatkan ruangan yang sejenis tidak tanpa melihat posisinya dalam organisasi.

Waktu di rumah sakit, Dhyaksa dapat ruangan yang cuma diisinya sendirian. Tempat tidur di sebelahnya kosong dengan tulisan "terima kasih untuk tidak duduk dan berbaring di sini". Himbauan yang menarik.

Malam pun menjelang, tempat tidur itu pun mulai menggoda tapi…….. ada tulisan itu tu. Sementara Dhyaksa sudah dua kali mengeluarkan statement, "Pap, tempat tidur itu nggak boleh dipake’, dilarang tu". Malam pun semakin menggulita… godaan itu pun kembali datang dan aku pun ngomong ke Dhyaksa, "kalo’ tidur di tempat tidur itu kayaknya enak Kak." dan kembali aku mendengar Dhyaksa menjawab, "iya…. tapi nggak boleh".

Aku bangga anakku bisa memberi penetapan yang kukuh kalo’ itu tempat tidur itu tidak boleh digunakan. Penetapan yang sekaligus mengingatkan aku akan peranku untuk menjadi contoh yang baik untuk anak-anakku; contoh bagaimana konsistensi dipegang meskipun untuk kepentingan diri sendiri. Dan malam itu…. tempat tidur itu pun dibiarkan kosong tak ditempati…… :)

Rumah Sakit..

Filed under: keluargaku

Malam kemarin dulu, sekitar pukul 3 malam, aku dengar Dhyaksa masuk ke kamar mandi, muntah cukup banyak. Paginya dia kembali muntah dan kemudian tiduran di ruang keluarga sampai dipanggil untuk niup kue ulang tahunnya. Tapi dia terlihat sangat tidak bersemangat dan tidak terlihat keceriaan sedikit pun. Rumah yang cukup rame dengan sepupunya yang sedang di Duri dan ikut hadir waktu dia niup lilin tidak cukup untuk membuatnya cukup gembira dan semangat. Setelah niup lilin, dia minta aku yang motong kue dan die kembali tiduran… hmmm…

Sebelum berangkat ke kantor, aku minta Dewi ngajak Dhyaksa ke dokter sebab biasanya kalo’ dia muntah seperti itu akan diikuti dengan demam. Sekitar jam 9 - 10 pagi, aku ditelephone Dewi yang ngabari kalo’ Dhyaksa dirujuk ke dokter bedah karena dicurigai radang usus buntu. Meskipun aku tidak yakin aku janji ke Dewi nemani waktu ke dokter bedah sorenya.

Sekitar jam 2 siang, aku ke rumah sakit, nemui Dhyaksa dan Dewi yang sudah nunggu mau nemui dokter umum yang tadi pagi meriksa Dhyaksa. Setelah ketemu dokter itu, kami pun diantar ke dokter bedah yang langsung melakukan ritual yang sudah aku baca di internet ‘meminta menekuk kaki kanan dan menekan bagian kanan perut"… dan saat ditanyai, Dhyaksa pun mengatakan kalo’ dia merasa sakit.

Dokter bedah ini pun bilang kalo’ memang ada tanda-tanda ke arah usus buntu tapi perlu dicek darah dan urine dulu. Waktu aku minta ditambah dengan x-ray, permintaan ini pun memenuhi. Kami pun ngambil sampel urine dan mengambil darah di lab lalu ke ruang x-ray. Setelah dapat hasil x-ray, aku kembali ke lab mengambil hasil, sebelum kembali ke ruang dokter bedah.

Saat membaca hasil x-ray, dokternya menunjukkan ‘jeroan’ Dhyaksa dengan penjelasan medis yang cukup mudah diikuti. Saat kemudian beralih ke hasil test urine, dokternya bilang kalo’ hasilnya agak aneh dan membuatnya ragu tapi untuk baiknya dokter menyarankan Dhyaksa dirawat di rumah sakit untuk diobservasi apakah memang kasusnya appendicitis atau bukan.

Dhyaksa pun check-in ke rumah sakit, dapat kamar E07 dan seperti seharusnya mulai diproses standard rawat inap, ditanyai informasi-informasi dan kemudian karena Dhyaksa disiapkan untuk operasi kalo’ memang kondisinya ‘kritis’, proses puasa pun dimulai di samping proses test alergi pun dilakukan. Saat proses pemasangan infus… dua perawat senior tidak berani melanjutkan karena tidak berhasil menemukan tanda-tanda pembuluh darah yang dicarinya baik di tangan kiri maupun di tangan kanan. Akhirnya proses ini dilakukan oleh dokter ahlinya yang ternyata juga tidak berhasil menemukan titik yang diinginkan.

Ketika dokter dan perawat ini bekerja, aku ungkapkan kalo’ aku nggak yakin kalo’ Dhyaksa menderita appendicitis karena aku melihat tanda-tanda dia kesakitan. Yang aku lihat adalah Dhyaksa yang demam. Karena itu, aku minta ditunjukkan ulang kertas izin yang aku tandatangani memastikan bahwa memang yang aku tandatangani adalah izin rawat inap saja.

Menjelang pukul 6.30, aku nemui perawat yang jaga dengan permintaan supaya ditanyakan ke dokternya apakah Dhyaksa diizinkan pulang karena semakin tidak yakin kalo’ Dhyaksa appendicits dan dijanjikan akan diinformasikan beritanya setelah perawat ini menghubungi dokter. Sekitar jam 6.30 malam, datangnya petugas membawa makanan dan segelas teh serta air putih satu termos dengan berita, "puasanya dibatalkan’ yang maknahnya infus pun dibatalkan. Dhyaksa pun makan; satu porsinya terdiri dari 2 potong daging, 2 potong tahu, 1 porsi sayur dan 1 porsi soup + 1 porsi nasi.

Malam itu, aku pun tidur di rumah sakit nemani Dhyaksa. Tidak ada yang istimewa sih kecuali catatan bahwa di rumah jauh lebih nyaman daripada di rumah sakit :(

Pagi kemarin, sekitar jam 8 pagi, aku dapat informasi kalo’ kecurigaan mengenai Appendicitisnya sudah berakhir tetapi Dhyaksa tetap di rumah sakit ditangani pediatrician. Menjelang jam 12 siang, aku dapat berita baik lain…, Dhyaksa diizinkan pulang dengan dibekali obat-obatan untuk dikonsumsi di rumah…

Duh… senangnya pulang ke rumah :)
Home sweet home kata orang londo… he…he..he…

July 7, 2010

Rame..

Filed under: keluargaku

Masih lanjutan posting terakhir, hari Jumat lalu, adikku ke Duri bawa mobil bareng satu saudaraku dan dua ipar + hampir semua keponakanku. Mereka berangkat dari Palembang sekitar pukul 8 pagi dan masuk Jambi sekitar jam 2 sore. Aku pikir mereka akan terus jalan untuk ngejar sampai ke Pematang Reba, simpang Rengat, paling lambat pukul 8 malam. Tapi…. yang terjadi justru tidak begitu, sampai pukul 4 sore mereka masih di Jambi, di sekitaran pasar Angso Duo, keliling kota Jambi. Betul-betul satu aksi yang bukan gayaku.

Sekitar jam 7 malam, ketika aku hubungi, mereka masih belum sampai ke perbatasan Jambi - Riau. Prediksiku, mereka akan sampai di perbatasan sekitar pukul 8 malam dan baru tiba di Belilas atau Pematang Reba di sekitaran jam 11 - 12 malam.

Jam 3 subuh, anakku dapat sms dari sepupunya ngabarkan kalo’ mereka sudah sampai di Pangkalan Kerinci tapi waktu aku hubungi sekitar jam 6, ternyata mereka belum masuk Pekanbaru. Mereka mampir di sebuah mesjid sekitar 45 menit sebelum Pekanbaru, tidur…. Menjelang jam 12 siang, mereka semua tiba di Duri; rumah kami pun ramai oleh celotehan anak-anak ini. Rumah pun ramai dengan anak-anak yang main musik.

Hari minggu, kami jalan ke Bagansiapi-api. Ini perjalananku kedua kalinya ke kota ini sementara untuk yang lain ini untuk pertama kalinya. Tadinya aku pikir yang dulu aku pernah lihat waktu ikut rapat dengan DPRD bulan Februari lalu baru sebagian kecil dari kota ini tapi ternyata… yang aku lihat waktu itu sudah semua yang ada di kota ini.

Nah…. karena rame ini masih berjalan, jadi postingnya belum bisa diakhiri dengan semua kisah yang ada. Tapi sebelum ngakhiri posting ini, aku perlu ncatat soal Nanda yang masuk ke kolam renang dengan pikiran kolamnya tidak dalam dan ternyata terlalu dalam untuk ukuran tubuhnya yang membuat dia harus ’sedikit fight’ untuk bisa mencapai ke tepi.. :)

Ah… akhir postingnya nggak manis nih… tapi biarin aja.. :)

Life style

Filed under: Umum banget

Ada nggak ya korelasi judul dengan isi posting ini? Nggak tahu juga tu. Nggak jelas bakal ada korelasinya. Yang jelas sih, waktu mau mulai nulis ini aku datang dengan tanpa bayangan akan seperti apa judul yang paling tepat, sampai kemudian…. terlintas phrase ‘life style’ dalam pikiranku dan aku langsung tulis aja di judul :)

Dua minggu lalu, keponakanku yang di Jakarta ngirim sms, "Mang, beliin tiket pesawat dong dari Jakarta ke Pekanbaru. Ntar waktu pulang, kami ikut Mang Ifit naik mobil ke Palembang". Sms yang bikin aku senyum karena keponakkanku itu (aku nggak yakin yang mana yang nulis) umurnya semuanya masih sepuluh tahun ke bawah tapi keberaniannya nulis seperti itu membuatku tersenyum simpul.

Singkat cerita, keponakanku ini nggak jadi terbang langsung dari Jakarta ke Pekanbaru. Sebagai gantinye mereka ke Palembang dan dari Palembang ikut mobil yang dikendarai adikku ke Duri.

June 23, 2010

Janji

Filed under: keluargaku

Malam kemarin, menjelang jam 22.00, aku menerima sms dari adikku, Fitrah Gunawan, "aku gisok nak ke Baturaje, ngawasi Bungsak". Sms yang tidak aku tanggapi lebih lanjut.

Bungsak (ibung = bibi, sak = besak = besar), adik kandung bapaku memang sedang sakit dan dirawat di rumah sakit di Baturaja. Hari senin minggu lalu, beliau masuk ke rumah sakit dan hari selasa minggu lalu, bapa dan ibu pulang ke Kedaton dan menjenguk beliau di Baturaja.

Menjelang jam 11 siang, aku menghubungi adik, mau diskusi mengenai pembelian sebidang tanah yang prosesnya sedang berjalan. Yang mengangkat telephone bukan adik tapi bapa yang setelah menanyakan khabar langsung cerita bahwa beliau sudah melewati Gunung Merakse, sebuah desa menjelang Baturaja dan beliau baru mendapat khabar bahwa bungsak baru saja meninggal dunia.

Innalillahi Wa inna ilaihi rojiun.. Hari ini, kembali janji manusia kepada sang kholiq dipenuhi. Setiap makhluk yang hidup di dunia memiliki janji dan waktu yang sudah ditetapkan. Setiap manusia akan kembali kepada yang menciptakannya dengan datangnya kematian. Hari ini, aku kehilangan bungsak (almarhumah Siti Akidah) dalam usia kira-kira 70 tahun.

Kematian adalah suatu keniscayaan. Tidak ada yang bisa menghalangi kematian. Kematian yang dialami orang-orang di sekitar kita merupakan tanda-tanda kebenaran alami sekaligus pengingat bagi yang hidup bahwa kematian akan datang; pengingat bagi yang hidup untuk menjalani hidupnya dengan jiwa yang bersih, meniti jalan yang benar dan sesuai dengan ajaran agama.

Selamat jalan Bungsak. Semoga arwahmu mendapatkan tempat yang baik di alam barzah ditemani amal ibadah yang kau lakukan dalam hidupmu. Kami yang ditinggalkan akan mengenalmu sebagai pribadi yang baik. Pribadi yang lurus. Pribadi yang tidak mementingkan diri sendiri. Pribadi yang sensitif, perasa dan mudah menangis bila hatimu tersentuh.

June 22, 2010

12 Tahun?

Filed under: keluargaku

Hari Kamis minggu lalu, aku ngirim undangan ke teman-teman di kantor dan juga beberapa teman yang tidak satu kantor untuk acara yang aku tidak tuliskan.

Tanggapan teman-teman beragam; ada yang guyonan dengan pertanyaan, "is it a farewell party?". Ada juga yang ngasih selamat dengan statement, "congratulation, bro, for the new assignment". Ada juga statement-statement yang lain yang semuanya tidak benar…. Aku tidak resign dan aku tidak mendapat penugasan baru, apalagi di tempat di luar wilayah kerja di Riau… jadi farewell party? tentu bukan.

Hari Sabtu pun datang. Seperti biasa, sudah jadi culture di Duri kalo’ para tamu akan datang lebih lambat dari jam yang ditulis di undangan yang ditulis acara mulai jam 16.00. Para tamu baru mulai datang sekitar pukul 16.30. Setelah cukup banyak yang datang, kami pun mulai menikmati hidangan yang sudah disiapkan Dewi bersama Rita dan Yanti; ada sate ayam, bakso, pindang tulang iga + daging, juga ada penganan kecil seperti kue sus (aku nggak tahu tulisannya gimana), getuk, pastel, klepon dan makanan ringan lainnya. Yang tidak kalah pentingnya adalah rujak yang juga memang sudah disiapkan sebagai penambah rasa yang berbeda..

Alhamdulillah, yang hadir cukup banyak. Dari sekitar 18 keluarga yang aku expect hadir, hanya 2 keluarga yang tidak hadir. Setelah cukup banyak yang selesai makan, baru aku siapkan kue ulang tahun Ananta yang ke-2; kue tar berbentuk segi empat dengan tulisan nama Ananta di sisi-sisinya dan tampilan mobil mewah, sedan warna merah, di bagian atasnya. Sedikit berbeda dengan ulang tahun Dhyaksa waktu umur 2 tahun yang ada juga mobil beneran di bagian atas kue, kue yang disiapkan untuk ulang tahun Ananta hanya punya gambar mobil yang aku tidak bisa bayangkan proses pembuatannya. Yang jelas, ketika kue dipotong, mobil ini ikut terpontong dan bisa dimakan..

Alhamdulillah, acara ulang tahun Ananta yang ke-2 yang digabungkan (tanpa diungkapkan) dengan ulang tahun pernikahan kami berjalan lancar. Persiapan makanan lebih dari cukup dan yang tidak kalah penting, undangan yang hadir cukup ramai.

Alhamdulillah, ketiga anakku tumbuh dengan sehat; yang bungsu sudah 2 tahun, menambah semakin semarak dan juga semakin indahnya 12 tahun usia pernikahan kami.

June 6, 2010

What A Day

Filed under: Umum banget, keluargaku

Hari ini, akhirnya sekitar 3 minggu yang malam-malamnya cukup padat dengan latihan drama 2 kali seminggu dari sekitar pukul 20.30 s/d 22.30 pun mencapai puncaknya. ‘SLN Sport Meet’, sebuah agenda tahunan SLN operation di mana semua team besar bertanding dalam kompetisi olahraga yang belakangan juga berkembang menjadi kompetisi kreatifitas pun mencapai puncaknya. Hari ini acara penutupan event ini dilakukan di Widuri Club dihadiri lebih lebih dari 600 anggota keluarga SLN operation.

Acara penutupan hari ini ditata dengan apik; acara pengumuman pemenang non pertandingan seperti pemenang wasit terbaik, pemenang supporter terheboh atau pun kriteria non pertandingan yang lain, dipadukan dengan penampilan kreatifitas team-team di SLN operation dalam menampilkan drama.

Acara dimulai dengan menampilkan choir putra-putri keluarga SLN operation, lebih dari 30 anak laki-laki dan perempuan, menyanyikan lagu ‘Juara Sejati’ yang dulu dinyanyikan anak-anak idola cilik. Lagu ini memberikan gambaran bahwa juara sejati tidak selalu bermaknah pemenang suatu pertandingan. Tetapi juara sejati adalah orang-orang yang berani mencoba, melakukan yang terbaik untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan terus melakukan usaha perbaikan untuk menjadi lebih baik.

Anak-anak ini kembali tampil sebagai bagian penutup acara dengan menampilkan lagu "If We Hold Together" yang dinyanyikan Diana Ross (http://www.youtube.com/watch?v=5RuPyhmftrw&feature=related) yang menekankan pentingnya tetap bertahan dan tidak menyerah dengan kepercayaan bahwa impian yang dimiliki akan tercapai dengan keteguhan hati dan semangat juang yang kuat dalam persatuan.

Anak-anak menyanyi dengan indah dengan beberapa catatan untuk perbaikan di penampilan-penampilan di event yang lain.

Dalam team performance yang dibagi menjadi 5 team (Bangko FMT, The Rest of the World team (gabungan Gas Plant Operation, Production Measurement dan Operation Support), Bekasap FMT, REM (Reliability, Engineering & Maintenance) team dan Balam FMT, setiap team menampilkan kreatifitas yang berbeda dengan gaya yang berbeda. Persamaan umumnya adalah penekanan nilai-nilai yang dimiliki Chevron (http://www.chevron.com/about/chevronway/) yang mengedepankan pentingnya memastikan proses kerja yang benar dilakukan dengan cara yang benar untuk mencapai target-target yang ingin diraih dengan memastikan adanya usaha yang optimal untuk memastikan keselamatan people, environment and assets.

Di samping catatan bahwa REM team performance-nya dihargai sebagai penampilan terbaik melalui penampilan nilai team work dan trust yang perlu dibangun untuk menciptakan sinergy dalam drama komedi dengan setting istana raja jawa, saya mencatat penampilan Rest of the World team dengan gabungan penampilan drama yang dipadu dengan puisi "Sajak Burung-Burung Kondor’ karya WS Rendra untuk memperkuat alur cerita yang ditampilkan membuat pelupuk mataku berair.

Meskipun Rest of the World team mendapat penilaian total nomor 4 dari 5 team yang tampil hari ini, saya melihat nilai artistik yang dipadu dengan concern sosial yang sangat kuat dalam penampilan mereka.

http://poemforchildren.wordpress.com/2009/08/08/sajak-burung-burung-kondor-%E2%80%93-ws-rendra/

Catatan penutup posting ini adalah bahwa acara hari ini betul-betul menghibur, berbobot dan memberikan percerahan dan perspektif baru tentang kehidupan. Mudah-mudahan ke depan akan menjadi lebih baik.

May 22, 2010

hack

Filed under: Umum banget

Hacker? apaan tu?
Emang hacker tertarik dengan orang kebanyakan? untuknya apa nge-hack orang kebanyakan. Hacker mah pasti ncari korban yang bisa dia dapat untung. Kalo’ nge-hack orang kebanyakan, apa untungnya.

Itu adalah anggapan yang selama ini selalu aku pikir benar. Karena itu tidak ada sedikit pun kecurigaan kalo’ aku akan ngalami di-hack, sampai kemudian, pagi tanggal 12 Mei, waktu ncoba connect ke account facebook-ku, aku kaget karena ternyata aku nggak bisa masuk karena e-mail address yang aku gunakan tidak dikenal FB. Email yang aku punya tidak terhubung ke account FB sehingga accessku ditolak.

Penasaran, aku pun mbuka yahoo e-mail dan kembali terkaget-kaget karena ternyata password e-mailku sudah berubah. Karena itu aku nggak bisa masuk ke yahoo e-mailku. Untung ada e-mail cadangan yang aku tautkan ke yahoo accountku sehingga reset password bisa dilakukan. Paginya aku ke kantor dan ndapat e-mail dari teman kuliah, nanyain soal permintaan bantuan yang aku ungkapkan waktu chatting dengan dia beberapa jam sebelumnya. Aku pun jadi aware kalo’ aku sedang di-hack karena aku nggak pernah chatting-an. Password dan segala sesuatunya pun diubah dengan yang masuk kategori strong supaya YM dan yahoo e-mailku bisa lebih aman.

Selesai urusan yahoo e-mail account, aku nemukan kesulitan soal FB karena prosesnya tidak sesederhana di yahoo. Aku mengirim laporan ke FB soal laporan ini dan mendapat tanggapan tetapi tanggapannya tidak memuaskan dan tidak memberikan solusi. Account FB-ku tetap tidak bisa di-akses.

Besoknya hari libur. Aku dapat telephone dari teman yang dulu satu kantor yang nanyain nomor rekening BCA-ku. Katanya dia mau nransfer duit. Aku pun jadi aware kalo’ urusannya memang sudah mulai mengarah ke uang. Setelah mbuat klarifikasi kalo’ yang chatting-an dengan dia itu bukan aku tapi hacker, aku pun ngirim laporan ulang ke FB, kali ini soal penipuan dan syukur….. hanya dalam waktu 5 jam, FB-accountku sudah bisa kembali dan diganti passwordnya.

Setelah bisa masuk ke FB, aku mbuat klarifikasi di wall dan juga mbuat special note di FB soal kasus ini dan baru aware kalo’ cukup banyak temanku yang sudah dihubungi hackernya dan semuanya dimintai uang dalam range 800 ribu s/d 1 juta per orang. Syukurnya, teman-temanku tidak satu pun yang mengirim…

Pertama Untuk Ananta

Filed under: keluargaku

Sabtu, 10 April 2010, sekitar pukul 11, Ananta naik motor pertama kali. Tidak ada yang istimewa sih sebetulnya karena sebelumnya memang aku sudah belikan helm bersertifikat SNI ukuran kepalanya. Jadi waktu naik motor sebetulnya Ananta sudah dilengkapi dengan perlengkapan safety yang benar. Untuk membuatnya semakin benar Ananta juga aku lengketkan ke tubuhku dengan selendang yang diikat kencang.

Aku pun mulai membawa Ananta naik motor. Pertama jalan ke arah wisma antara, terus mutar di sekitar wisma dan bergerak balik ke arah sibayak sampai ujung. Tapi kemudian, aku terkaget-kaget karena ternyata anak ini sudah tertidur. Jadi ya…. pulang deh.

Mabit

Filed under: keluargaku

Sudah lama nggak nulis, rasanya sudah waktunya mulai nulis lagi tetang catatan kecil yang terjadi dalam rentang waktu hampir 2 bulan ini. Catatan pertama yang aku akan tulis di sini adalah soal mabit yang diikuti Adeanna.

Sabtu, 10 April 2010, Adeanna pertama kali tidak tidur di rumah. Dia ikutan acara mabil di sekolah. Aku nggak tahu persis apa yang dimaksud dengan mabit ini tapi yang aku dengar sih acaranya nginep di sekolah, bangun pagi sekitar pukul 4 dengan penalty disiram air kalo’ nggak mau bangun dan diisi dengan reungan malam.

Persiapannya seru, pake’ minta dibeliin bantal dan selimut khusus yang ternyata…. pada waktunya justru nggak mau dibawa ke sekolah, dibiarkan aja di rumah.

Yang menarik adalah melihat Adeanna bertingkah seperti orang dewasa. Waktu diantar ke sekolah, kami tidak diizinkannya mengantar sampai ke mesjid karena ‘katanya’ kayak anak kecil aja pake’ diantar. Kami pun dimintanya pulang segera setelah dia turun dari mobil.

Sekitar pukul 9 - 10 malam, kami pun ke sekolah lagi, mau ngecek dan kembali kami bukannya disambut dengan gembira tapi diminta pulang aja dengan kalimat, "ngapain sih pake’ datang-datang. Udah pulang aja." he..he..he..

Anakku memang sudah semakin besar. Sudah 10 tahun. Sudah berani tidak tidur di rumah.

April 4, 2010

Ijab Kabul

Filed under: Perasaanku.

Kemarin pagi, ada undangan menghadiri acara ijab kabul putri teman di kantor yang juga tetangga. Ini kedua kalinya aku menghadiri acara ijab kabul di Duri. Diiringi rintik hujan, acara yang berlangsung sederhana ini terasa sangat syahdu.

Menghadiri ijab kabul selalu menimbulkan kesyahduan yang dalam, menimbulkan rasa haru dan genangan air mata di pelupuk mata. Ada detik-detik yang sangat menggugah, di mana tugas dan tanggung jawab dialihkan dari orang tua pada seorang suami.

Di luar semua itu, aku mencermati kalimat-kalimat yang digunakan sebagai ijab dan kabul yang meskipun menyiratkan hal yang sama; ada ijab - aku menerjemahkan penawaran - dan ada kabul - yang aku maknai penerimaan, namun kalimat yang digunakan bisa berbeda dari satu daerah dengan daerah lain. Aku percaya tujuannya sama, menekankan adanya proses ijab dan kabul yang jelas dan dipahami maknahnya.

Kalo’ di Palembang, ijab dengan mahar seperangkat alat sholat untuk calon suami bernama Fulan dan calon istri bernama Fulana, misalnya, yang diucapkan seorang seorang ayah yang bertindak sebagai wali akan berbunyi,

"Fulan, aku nikahkan putri kandungku, Fulana, kepadamu dengan mas kawin seperangkat alat sholat, tunai" 

yang akan disambut sang calon suami dengan kabul yang bunyi,

"Aku terima nikahnya dengan mas kawin yang tersebut"

Ucapan kabul yang sederhana meskipun perlu jelas penekanan kata "nikah" karena ketika pengucapannya salah, proses akan diulang. Umumnya, pengucapan kata "nikah" yang salah menjadi penyebab utama proses harus diulang meskipun ada juga kasus pengulangan harus dilakukan karena terlambat memberikan kabul atau ucapan kabulnya terbata-bata atau terputus sehingga harus diulang.

Di Duri, ucapannya sedikit lebih panjang. Sang ayah yang jadi wali akan mengatakan,

"Fulan, aku nikahkan Fulana, putri kandungku, kepadamu dengan mas kawin seperangkat alat sholat, tunai" 

yang akan disambut sang calon suami dengan kabul yang bunyi,

"Aku terima nikah Fulana, putri kandung Bapak, dengan mas kawinnya, seperangkat alat sholat, tunai"

Meskipun ada perbedaan. Ada empat hal penting yang dipenuhi ucapan ijab kabul ini;

  1. Ada kejelasan siapa yang dinikahkan,
  2. Ada kejelasan hubungan antara yang dinikahkan dengan wali nikahnya,
  3. Ada kesepakatan mengenai serah terima pernikahan, dan
  4. Ada kesepakatan mengenai mahar yang harus dipenuhi sang calon suami.

Dalam Islam, mahar ditentukan oleh calon istri dan bukan oleh yang lain, termasuk orangtuanya. Mahar pun tidak boleh menyulitkan karena Islam mengajar kesederhanaan, tidak mempersulit proses dan tidak mempersulit apa pun.

Islam mengajarkan untuk membuat urusan mudah dengan tidak menghilangkan esensi. Untuk mahar pun berlaku. Tidak perlu mahar yang mahal bila itu memberatkan dan tidak perlu banyak bila itu sulit dipenuhi. Dilihat dari proses ijab kabul sendiri, mahar yang sedikit pun membuat urusannya jadi mudah…. wali tidak sulit untuk mengucap panjang-panjang yang berpotensi membuat prosesnya harus diulang dan, untuk kabul yang seperti dipraktekkan di Duri pun, akan mempersulit calon suami karena harus menjawab panjang tanpa terputus. Islam memang indah dengan segara aturannya yang mengikat tapi tidak memberatkan.

March 30, 2010

Tenet nomor 10

Filed under: Umum banget

"Pap, koq mobilnyo diidupke tapi tando baterenyo dak ilang jugo?" tanya Dewi lewat telephone sore kemarin. Dewi mau njemput perempuan muda yang akan nemani Dewi di rumah dari rumah seorang teman di komplek Merapi.

Dengan gaya sok tenang, aku pun menjawab, "Idak apo-apo. Cubo Jij matike bae mesinnyo terus idupke lagi. Ado masalah dengan charger baterinyo itu tu. Mudah-mudahan ilang setelah dimatike mesinnyo"

Dewi pun melakukan yang aku minta, tapi kemudian, "Masih jugo. Masih idup.. Setirnyo jugo berat"

Kali ini, aku pun mengambil kesimpulan dan ngomong, "Yo sudah. Dak usah pake’ mobil. Minta Rita bae yang njemput budak itu. Papi pulang bentar lagi.."

Setelah sholat ashar di mushollah kantor, aku pun pulang. Lebih cepat dibandingkan hari-hari biasanya (tapi sudah berakhir jam kerja tentunya). Sampai di rumah, aku langsung ke garasi, Dewi dan Ananta pun sudah siap. Semua masuk ke mobil dan aku pun menstart mobil..

Mesin hidup normal…beres…. tapi lihat ke dashboard, aku melihat tanda batere masih menyala terang. Hmm…. ternyata memang ada masalah dengan chargernya. Tapi nggak apa-apa, mobil masih bisa dipake’, bisa ke merapi.

Mobil pun mulai aku keluarkan dari garasi….tapi…. koq stirnya berat sekali ya… Hmm… Nggak bisa nih, mobil pun kembali dimundurkan dan masuk garasi lagi. Perjalanan dibatalkan. Di waktu yang sama, Rita pulang…  dan langsung diminta pergi lagi. Sementara aku mutuskan ncuci mobil, termasuk mencuci mesinnya.

Waktu mencuci mesin, aku tidak melihat tanda-tanda apa pun yang aneh. Aku telusuri kabel dari batere juga tidak menemukan sesuatu yang aneh. Semuanya normal. Tapi aneh ya… peralatan listrik memang tidak bisa langsung kelihatan jeleknya. Yang jelas ada masalah di charger batere tapi di mananya nggak jelas. Proses mencuci mobil selesai, aku pun masuk ke rumah dengan masih penuh penasaran… apa sih masalahnya dengan mobil ini. Nelphone ke bengkel resmi suzuki di Pekanbaru tidak sempat bicara dengan mekaniknya karena sudah hampir jam 5.

Sedikit lewat pukul 6 sore, rasa penasaran yang coba aku tahan (karena aku nggak bisa mbengkeli mobil sendiri) tidak terbendung. Aku keluar lagi, meriksa bagian mesin mobil lagi; kembali melihat kabel-kabel yang semuanya masih kondisi bagus dan tidak terlihat sesuatu yang aneh. Lalu bergerak ke arah depan dan agak sedikit kaget karena koq ada yang lainnya. Ada bagian yang aku rasanya nggak pernah lihat koq sekarang ada. Hmm… apa ya yang lain?

Aku pun melihat lebih dekat dan terkaget-kaget.. koq v-beltnya nggak nempel ditempatkan ya? V-belt itu sudah tidak melekat lagi ke 7 bagian yang bisa berputar tempat normalnya. Sekarang v-belt itu menggantung. Gitu aku tarik, langsung bisa diangkat. Periksa fisik? kondisinya baik. Aku tidak melihat goresan apa pun di v-belt ini. Aku juga tidak melihat retakan-retakan. Integritasnya masih bagus. Tapi koq bisa lepas ya?

Dengan penasaran aku coba pasangkan v-belt ini ke 7 tumpuannya tapi nggak bisa masuk, pendek. Artinya v-belt ini belum longgar, masih oke. Tapi koq bisa lepas ya. Ya sudah…..nggak usah dipasang, besok aja minta orang dari bengkel Suzuki dari Pekanbaru, sekalian minta dicek semua.

Aku pun mbaca buku panduan pemilik dan nemukan kalo’ v-belt ini sangat vital karena tidak berfungsinya v-belt menyebabkan bukan hanya charger batere tidak berfungsi tapi juga AC, power steering dan beberapa fungsi lain tidak berfungsi. Berarti sebetulnya mobil ini masalahnya cuma v-belt dong. Kalo’ v-beltnya sudah terpasang benar, semua masalah hilang…

Kalo’ gitu, worted nggak minta mekanik suzuki dari Pekanbaru ke Duri ya untuk masangin v-belt aja ya? Kayaknya kemahalan deh mbayar mekaniknya untuk masang v-belt aja; pasti ada biaya bensin, biaya makan terus biaya service + biaya total waktu kerja yang terpakai dari Pekanbaru - Duri p.p. Hm… kayaknya sebelum manggil mekanik suzuki dari Pekanbaru lebih bagus aku tanya bengkel Pak Duwarni di dekat gate-2 dulu deh. Biasanya mekanik dan electricians di bengkel ini bisa mengatasi semua masalah. Tapi kalo’ grand vitara bisa nggak ya? Tunggu besoknya deh…

Tadi pagi, aku sudah rencanakan mau mampir ke bengkel Pak Duwarni sebentar tapi sebelum ke sana aku mau nanya Mas Yatno dulu. Ternyata, menurut Mas Yatno, ada beberapa orang yang bisa mbantu kalo cuma masang v-belt. Kedua orang itu pun ke rumah dan mereka ncoba masangkan v-belt itu dengan membuka baut dinamo dan meng-adjust dinamonya sampai mentok ke mesin. Tapi ternyata…. v-beltnya masih tetap kependekan. Setelah cukup lama mereka mencoba dan ternyata gagal… mission aborted deh..

Aku nelphone ke bengkel suzuki Pekanbaru dan bicara dengan mekaniknya. Mekaniknya nggambarkan kalo’ prosesnya mudah. Hanya perlu menekan tensioner 14 ke kanan, pasti langsung masuk. Karena tidak tahu yang mana tensioner, aku pun nanya lagi, "tensioner itu yang mana?" dan dijawab kalo’ yang perlu aku lakukan cuma melihat baut 14 tidak jauh dari dinamo. Telephone pun ditutup dengan tetap aku nggak tahu yang mana itu tensioner.

Ya… sudah coba ke Pak Duwarni sebentar deh. Mudah-mudahan bisa. Gitu sampai di bengkel, ketemu laki-laki umur 40an yang jadi tangan kanan Pak Duwarni. Gitu aku jelaskan masalahnya, jawabannya anteng…. "Ya sudah. Mas pulang aja. Ntar ada yang ke sana". Dan memang ada mekanik dari bengkel Pak Duwarni ke rumah dan hasilnya….. proses pemasangan v-belt itu persis sama seperti yang dijelaskan orang bengkel suzuki Pekanbaru. Prosesnya juga sangat cepat, kurang dari 2 menit sudah selesai, sempurna. Gitu mobil dihidupkan, semua fungsi berjalan dan tanda bateri di dashboard pun langsung hilang. Problem fully solved.

Ternyata, tenet # 10 yang ada di Chevron OE tenets memang manjur. Urusan masang v-belt pun bisa sangat complicated kalo’ yang melakukan bukan ahlinya. Dua orang yang mbantu sebelumnya yang punya pengalaman banyak ngurus gas compressor ternyata tidak berhasil memasangkan v-belt yang sederhana yang waktu dilakukan oleh mekanik bengkel sangat cepat selesai dan hasilya baik.

Tenet # 10, konsultasikan / libatkan orang yang berkompeten dalam pengambilan keputusan atau tidakan lain memang manjur.. Urusan mobil, serahkan ke mekanik otomotif..

Dan yang luar biasa….. ongkos pemasangannya pun tidak dipatok. Sang mekanik bilang "terserah" waktu aku tanya berapa biayanya dan waktu aku serahkan selembar uang 50 ribuan, senyumnya merekah. Alhamdulillah, nggak perlu manggil mekanik dari Pekanbaru yang biasanya pasti di atas 500 ribu. Dengan 50 ribu, problem solved dengan tenaga ahli lokal yang tersedia di gate-2.

Tenet # 10 berhasil membuat masalah solved dengan effective dan effisien, hemat biaya… :)

March 27, 2010

Gunting Rambut

Filed under: keluargaku

Sudah sejak bulan lalu merencanakan nggunting rambut Ananta tapi selalu tertunda karena antrian panjang. Siang ini, untuk pertama kali dalam hidupnya, Ananta betul-betul digunting rambut di barbershop.

Gitu masuk, ada dua orang yang juga sedang antri. Ananta masuk ke antrian nomor 3. Tidak begitu lama, tiba gilirannya digunting. Aku duduk, mangku Ananta….tapi…. Ananta nangis dan semakin lama semakin menjadi. Jadi agak sulit ncari posisi yang pas dan akhirnya….. sang tukang gunting pun mulai menyentuhkan alat guntingnya ke kepala Ananta. Luar biasa…. Ananta yang tadinya nangis malah berenti nangis. Dia diam dan tertib selama proses pengguntingan. Awalnya terlihat masih agak takut tapi lama-lama jadi tenang.

Kurang dari 15 menit, proses pengguntingan pun selesai. Kami pun pulang dengan kepala Ananta yang rambutnya agak pendek. Ananta sendiri terlihat lebih menawan dengan rambut agak pendeknya dan dia terlihat menikmatinya.. :)

March 24, 2010

Kidal

Filed under: keluargaku

Masuk rumah, waktu pulang kantor sekitar pukul 16.30 sore ini, aku disambut Dhyaksa dan Ananta dengan senyum. Ananta menenteng gitar plastik mainan yang aku lupa kapan belinya dan terlihat dia asyik memegang gitar itu dengan sekali-kali memperagakan gerakan memetik. Posisi memegangnya agak nyentik. Bagian gagang yang biasanya dipegang dengan tangan kiri dipegangnya dengan tangan kanan sementara bagian kembungnya yang biasanya dipetik dengan tangan kanan justru dipetik dengan tangan kiri. Posisi menempatkan gitarnya pun terbalik, bukan senar mengarah ke luar tapi senar mengarah ke belakang, menelungkup ke arah badan.

Di urusan makan juga mirip, Ananta juga menggunakan tangan kiri. Kalo’ makan, dia selalu minta duduk di kursi sendiri. Sejak 4 - 6 bulan ini, aku praktis sudah kehilangan hak untuk duduk di kursi bersandaran tangan yang biasa aku duduki. Ananta menguasai kursi itu sementara aku harus duduk di kursi yang dulu selalu diletakkan di sebelah freezer di dapur. Posisi duduk Ananta selalu nyempil di antara aku dan Dewi.

Yang menarik, setiap kali makan, Ananta selalu minta makan di piring sendiri. Dewi selalu mengisi piring itu dengan nasi, sayur dan lauk yang sudah dipotong kecil-kecil. Kalo sayur yang disajikan bahannya wortel atau kembang kol atau brokoli, Ananta akan dengan sibuknya minta supaya porsi sayur di piringnya ditambah. Begitu porsi di piringnya sudah mulai berkurang, dia mulai ribut lagi minta ditambah. Selalu begitu prosesnya sampai sayur yang tersedia sudah dilihatnya habis.

Soal sayuran ini, aku selalu ledeki Dhyaksa dan Adeanna soal keengganan mereka berdua makan sayur. Dhyaksa makannya banyak, baik porsi karbohidrat maupun porsi lauknya - baik ikan maupun ayam - tapi kalo’ urusan sayur tidak begitu suka. Adeanna lebih nyentrik lagi, baik urusan karbohidrat maupun pendukungnya porsinya tidak banyak. Hanya sekali-kali saja aku melihat Adeanna makannya banyak.

Cara makannya pun berbeda. Kalo’ Dhyaksa makannya cepat, bahkan bisa dibilang sangat cepat. Aku sering ngingatkan dia soal mengunyah supaya kerja lambung agak ringan sementara Adeanna makannya lambat.

Dalam urusan makan, Ananta sedikit berbeda dengan saudara-saudaranya. Kalo’ Adeanna dan Dhyaksa dari kecil sudah makan dengan tangan kanan, Ananta justru sebaliknya; tidak mau makan dengan tangan kanan. Kalo’ makan, yang lebih aktif bergerak justru tangan kirinya. Menyuap nasi juga dengan tangan kirinya. Kalo’ dibetulkan, berubahnya hanya satu dua suap saja terus kembali ke format awal, lalu tangan kiri kembali berkuasa.. :)

Sepertinya, anak bungsuku ini punya bakat kidal. Tidak ada yang luar biasa sih dan juga bukan sesuatu yang salah. Cuma agak terasa lucu dan janggal saja mengingat di keluarga kami baik dari Kedaton maupun dari Kebun Duku tidak ada yang kidal. Extended family? seingatku cuma ada satu saudara sepupuku yang kidal. Dan kidalnya pun hanya untuk urusan kerja fisik. Untuk menulis dan kegiatan lain, dia tetap menggunakan tangan kanan.

Pertanyaan yang perlu dilihat adalah apakah kidal Ananta ini kidal permanen atau kidal karena belum mengenai kebiasaan di sekitarnya saja. Waktu yang akan menunjukkan hasilnya. Menurutku sih, kidal atau bukan kidal sama saja selama dia bisa berkembang dengan perkembangan yang sama baiknya dengan perkembangan anak-anak lain seusianya. :)

March 23, 2010

UAN lagi..

Filed under: Pikiranku

Pagi ini, aku mbaca tulisan temanku yang jadi dosen, yang sedang tugas scanning UAN di propinsi pemekaran Sumsel.

Dia nulis, "UN kalo bisa lulus dg nilai patokan yg tidak harus sama disetiap daerah tergantung pola dan proses pendidikan, sehingga ada keadilan dlm pendidikan"

catatan: disetiap yang tidak ditulis ‘di setiap’ itu tulisan aslinya

Aku pun memberikan perspektifku, "Kalu menurut aku sih Fals, kualitas pendidikan idak ditentukan oleh berapo banyak yang lulus atau sebesak apo nilai kelulusannyo, tapi oleh mak mano kualitas lulusannyo. Simplenyo, aku sependapat dengan JK bahwa harus ado standard kelulusan yang samo di semua wilayah Indonesia. Kalu ado yang kualitasnyo belum mencapai itu, itu bukan case yang harus mbuat standardnyo diubah…. tapi case untuk ntrigger peningkatan kualitas pendidikan dengan konstruktif (bukan dengan sulap….. )"

Yang dijawabnya dengan tulisan, "surya: bagaimana mengukur standar itu? apakah cara UN sdh tepat pak?"

catatan s dengan huruf kecil di Surya itu adalah tulisan aslinya.

Yang aku kemudian jawab dengan panjang lebar, "Dalam perspektifku, Fals, cara UN itu sudah sangat tepat, caro mensikapinyo yang perlu diubah pecak yang aku tulis di sini http://jemedusun.multiply.com/journal/item/22Idak seluruh lulusan SLTA akan berakhir di perguruan tinggi, ado yang akan langsung ‘bertempur’ di pasar kerja. Meluluske banyak siswa yang kualitasnya dipertanyakan samo dengan nyemplungke budak tak terlatih ke pertempuran para gladiator…. (sekali lagi ini perspektif pribadiku). Menurut aku, lulus 1 orang dengan kualitas yang baik, lebih bernilai dibandingkan lulus 10 dengan kualitas yang dipertanyakan. Soal pandangan bahwa lulusan kota lebih baik dari daerah, lulusan daerah yang lebih maju lebih baik dari yang dari daerah pinggiran, aku nemukan kondisi yang berbeda dengan pandangan itu pecak yang aku tulis di http://sibayak42.blogsome.com/2008/09/11/catatan-dari-interview-surabaya-yogyakarta/. Yang penting untuk dilakukan adalah melecut siswa untuk punyo mimpi akan masa depannyo dan menggembleng mereka dengan proses pendidikan yang sejalan dengan visi masa depan bangsa yang lebih baik itu (bukan cuma sulap-sulap sekedar untuk lulus UN). Sekali lagi ini perspektif pribadiku yang belum tentu sejalan dengan perspektif uwong lain…"

Yang dia jawab lagi dengan tulisan, "surya: ternyata pespektif anda sama dg sikap kebanyakan org terhadap UN, cuma bahasanyo bae yg beda awak lebih ilmiah dan bahasa tinggi (maklum biaso cakap dg wong asing kali ye..) he he… bagaimana membangun percaya diri sekolah, dinas pendidikan, pemda, dan siswa itu yg perlu dicari pemecahannyo sehingga spt kau bilang dak perlu cuma sulap2 sekedar tuk lulus UN ;) "

Yang kemudian aku jawab dengan menegaskan, "Fals, mulai dengan bersikap jujur, tampilkan kondisi apa adanya. Biarkan UN berjalan dengan jujur dan biarkan hasilnya bicara. Analisa plus delta proses pendidikan dengan jujur, terus mulai pembenahan dengan terkonsolidasi (dengan tetap mengedepankan kejujuran). Mereka yang tidak bisa bersikap jujur, pindahkan ke samping, biarkan mereka yang bisa jujur di depan dan memimpin. Hapuskan segala yang berbau nepotisme dalam penyusunan hierarki pendidikan. Kalu pendidikan Indonesia di jaman dulu biso baik (sebelum jaman inpres tahun 1977an (?), aku tetap yakin kalu kualitas itu biso diraih lagi dengan kejujuran dalam bersikap. Pertanyaan yang harus dijawab setiap warga bangsa, terlebih mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan adalah "Apakah saya sudah menjadi bagian dari proses kejujuran? Apakah saya sudah menyebarkan nilai kejujuran dalam keseharian saya?" … Kalu jawabannyo sudah, alhamdulillah, tinggal diteruskan. Kalu jawabannyo belum,….. tidak ada kata terlambat untuk melakukan perubahan…. "

Aku tetap meyakini bahwa standard pendidikan itu perlu dan standard itu perlu disikapi dengan konstruktif oleh semua pihak. Aku juga tetap meyakini bahwa banyak komponen bangsa ini yang setuju dengan UAN dan setuju dengan standard kelulusan, meskipun memang yang berunjukrasa atau pun muncul di tv lebih banyak yang menyuarakan sebaliknya.

March 22, 2010

Dinamika

Filed under: keluargaku

Sabtu kemarin, ke pasar ikan tapi nggak banyak pilihan ikan. Dalam perjalanan dari tempat ikan ke tempat parkir, aku mbeli 9 buah alpukat hampir masak, 10 ribu rupiah. Kemarin pagi, ternyata alpukat ini sudah masak semua dan langsung diblender, dicampur air gula dan susu coklat, dan langsung dimasukkan kulkas.

Kemaren sore, Adeanna makan jus alpukat ini dan masuk ke kamar. Aku dan Dewi lagi tiduran sambil nonton. Dengan isengnya, aku dan Dewi minta disuapi jus alpukat. Adeanna pun nyuapi kami berdua sampai jus di gelas di tangannya habis. Kami pun minta satu gelas lagi dan Adeanna pun nyuapi kami berdua bergantian sampai abis. Selama nyuapi, Adeanna tidak hentinya ngomong, "kayak anak kecil aja, Papi sama Mama minta disuapi…"

Tadi pagi, sarapan, Ananta manggil aku ke kamar ngajak sarapan. Karena aku belum datang juga ke meja makan, Dhyaksa ikutan ke kamar ngajak makan. Setelah aku jawab nanti aku nyusul, mereka pun kembali ke ruang makan sementara aku masuk kamar Dhyaksa, ngambil gitar.

Dengan nenteng gitar di tangan, aku pun masuk ke ruang makan dan berdiri di ujung meja makan dan ngomong, "Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu, selamat pagi. Pagi ini saya akan menghibur Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu"…. Jreng…. aku pun mulai main gitar lagu koes plus, "di sekolah yang ku tunggu, ku tunggu… dst". Setelah lagu ini aku pun melanjutkan dengan lagu lama yang aku juga nggak tahu kapan munculnya. Yang jelas aku nyanyikan ini bareng Dewi waktu pesta pernikahan kami hampir 12 tahun yll di gedung AEKI Palembang, "Wahai angin yang lalu.. Telah ku terima pesanmu… Dan selamat sampai di tanganku…. dst…."

Setelah selesai nyanyi yang kedua, aku pun ngomong, "Terima kasih Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu, silahkan meneruskan makannya dan terima kasih untuk partisipasinya" kataku sambil mulai bergerak dari satu kursi ke kursi lain sambil menadahkan tangan kananku. Di mulai dari Dhyaksa yang pura-pura ngasih duit, terus melewati Ananta yang cuma senyum, sambil aku mengucapkan terima kasih. Kemudian melalui Dewi yang juga cuma senyum. Lalu ke Adeanna yang juga pura-pura memberi uang dan terakhir ke Rita yang juga pura-pura ngasih uang. Setelah proses ini, aku pun mengembalikan gitar ke kamar dan kembali ke ruang makan dan baru makan.

Selama proses ini terjadi dan sesudahnya sangat menarik memperhatikan anak-anak tersenyum dan mentertawakan aku yang ngamen pagi-pagi.

March 20, 2010

Cangkul

Filed under: keluargaku

Sudah 2 minggu ini, Ananta paling suka dengan lagu menanam jagung. Gitu aku mulai duduk di depan laptop, dia mulai minta dipangku. Begitu mulai dipangku, Ananta akan mulai ngomong, "cangkul…cangkul…." dan terus ngomong seperti itu sampai aku mulai nanyi. Gitu suara nyanyian mulai terdengar, Ananta mulai mengetukkan tangannya sesuai irama.

Gitu juga waktu kami ke Pekanbaru hari Selasa beberapa hari yang lalu. Dalam perjalanan pulang, lewat dari Kandis, Ananta sudah sibuk dengan "cangkul…cangkul…" nya dan diam begitu aku mulai nyanyi. Gitu aku berhenti nyanyi, dia mulai lagi dengan permintaannya. Untuk setelah melewati simpang tiga Ayu field, Ananta bisa dialihkan perhatiannya. Kalo’ nggak ya…. terpaksa deh nanyi lagu itu satu jam tanpa henti selama perjalanan dari Kandis ke Duri.. :)

Betok

Filed under: Umum banget

Sudah lebih 12 tahun tinggal di Duri dan secara rutin ke pasar di hari Sabtu atau Minggu, belanja ikan mingguan, tapi belum pernah melihat ikan betok dijual, pagi ini aku melihat jualan ikan betok terselip di antara ikan sepat yang dijual seorang ibu di pasar ikan yang tengah.

Ikan betok bukan ikan yang luar biasa meskipun ikan ini punya keistimewaan; di samping rasanya yang gurih dan enak, saat dimasak, ikan ini akan mengeluarkan minyak dari tubuhnya yang membuat gulainya (atau pindangnya) jadi sangat enak. Keistimewaan ikan ini adalah kemampuannya hidup ketika tidak ada air. Ikan ini bisa berendam di dalam lumpur bahkan punya kemampuan untuk naik ke daratan bergerak dari tempatnya ke tempat lain yang masih punya genangan air.

Di masa kecilku, di saat kemarau, genangan lumpur di dekat batanghari kecil (ada jembatan bambu pendek yang kami namai jambat pandak) menjadi tempat yang menarik untuk menjamah (meraba-raba) ke dalam genangan lumpur yang kadang-kadang mulai pekat dan menemukan sekumpulan ikan betok di dalamnya.

Ciri-ciri fisik ikan ini lumayan khas. Di samping ukurannnya yang tidak bisa terlalu besar, ciri yang menarik adalah sisinya yang hitam agak kebiruan, pantak (duri di bagian atas dan bawah tubuhnya yang digunakan untuk perlindungan diri) yang tajam dan kalo’ kena sakit (mungkin ada racunnya - mungkin lho, aku kan bukan ahli ikan) dan bentuk kepalanya yang agak cembung menyerupai cembungnya gambar kepala manusia purba (lebay).

http://id.wikipedia.org/wiki/Betok

March 19, 2010

Aksi Kreasi SD Cendana

15 Maret 2010 malam, menghadiri acara SD Cendana "Aksi Ceria tahun 2010" yang meriah di widuri club betul-betul mengesankan. Sangat menyenangkan melihat anak-anak SD itu menunjukkan kreasi; mulai dari anak-anak yang main band, menampilkan berbagai macam tarian daerah dan tari kreasi, peragaan busana sampai penampilan pantomim, sulap dan kabaret. Komentar pertama yang ingin aku share adalah "luar biasa". Anak-anak SD ini betul-betul luar biasa.

Dari sisi musik, menyenangkan melihat anak-anak main band dengan sangat tertib dan indah penataannya. Musiknya indah, kualitas permainannya baik. Gebukan drum putra Bang Irman malam itu betul-betul bagus, juga permainan gitar anak-anak lain (ada laki-laki, ada juga yang perempuan) yang aku tidak kenal juga baik. Juga permainan biola seorang gadis kecil juga memukau.

Saat menampilkan tarian-tarian, belum semua anak-anak ini menunjukkan keluwesan. Ada juga yang masih terlihat kaku. Namun kekakuan yang ditampilkan justru menjadi salah satu aspek yang menarik dari penampilan mereka. Aksi yang paling menarik terlihat waktu anak-anak ini menampilkan tari tor-tor dengan iringan lagu sinanggar tulo. Menyenangkan melihat di tengah penampilan, banyak orang tua yang ikut naik, ikut menari, bergerak dari satu anak ke anak lain, menyelipkan lembaran-lembaran uang ke tangan anak-anak itu. Di akhir tarian ini, saat uang-uang ini dikumpulkan, penuh satu topi besar (tapi aku nggak tahu nominalnya).

Saat peragaan busana juga menarik. Pasangan-pasangan anak-anak laki-laki dan perempuan masuk ke panggung bergantian menampilkan busana yang mereka kenakan. Ada yang sederhana designnya, ada juga yang designnya meriah, ada yang terlihat sangat mahal. Cara mereka menampilkan pun sangat bervariasi. Anda yang terlihat sangat elegan, ada yang terlihat agak malu-malu (Dhyaksa termasuk kelompok ini), ada juga yang terkesan sangat percaya diri, cuek dengan gaya seenaknya tapi sangat menarik (seperti penampilan Dika - teman Dhyaksa).

Secara menyeluruh, aku pikir acara ini luar biasa. Bukan cuma luar biasa dari pengembangan dan penampilan kreatifitas dan self confidence anak-anak dan para guru pembimbingnya tapi juga luar biasa dari kemeriahannya dan jumlah penonton yang sesak memenuhi ruangan. Kursi yang banyak yang ditata rapi tidak cukup untuk menampung semua penonton. Jumlah yang berdiri sama banyaknya dengan yang duduk.

Namun acara yang baik dan kreatif ini sedikit diganggu dengan tingkah pola para orang tua yang tidak memberikan contoh baik cara bersikap. Saat penampilan di panggung sedang sangat menarik, banyak sekali orang tua yang dengan cuek dan tidak berperasaan maju ke depan panggung untuk tujuan sangat pribadi; mengambil photo atau pun video dari depan tanpa memperdulikan kalo orang lain terhalang haknya untuk menikmati penampilan di panggung. Ada juga yang tidakk sampai ke depan tapi berdiri di kursinya tanpa merasa kalo’ orang lain yang dari belakang terganggu pandangannya ke depan dan orang lain yang tertib mengambil photo atau video dari belakang jadi terganggu.

Di setiap acara seperti ini, aku melihat beragam pola sikap yang memberikan gambaran mengenai bagaimana manusia akan menjalani hidupnya. Ada penampilan orang-orang yang hanya mementingkan kepentingannya sendiri, ada penampilan orang-orang yang tidak menenggang rasa orang lain, ada penampilan yang tertib, penampilan yang sopan, penampilan yang penuh dengan kepura-puraan atau pun penampilan yang sangat elegan dan murni.

Acara-acara seperti ini juga menjadi sarana yang baik untuk memberikan pelajaran ke anak-anakku. Ulasan yang aku berikan mengenai apa yang aku lihat di acara ini saat pulang ke rumah mudah-mudahan memberikan gambaran bagaimana pola sikap dan pola hidup yang aku harapkan mereka jalani di kehidupan mereka.

Pelajaran kehidupan bisa diperoleh dari setiap kesempatan. Mudah-mudahan aku, keluargaku dan orang-orang disekitarku selalu mengambil pelajaran dari setiap bagian kehidupan yang kami jalani.

March 12, 2010

Betapa negeriku..

Filed under: Umum banget

Masih terkait akte kelahiran Ananta yang jadi penyebab passportnya belum keluar meskipun passport semua anggota keluarga yang lain sudah diperbaharui http://sibayak42.blogsome.com/2009/11/17/passport-pertama-untuk-ananta/, aku masih rutin ngecek ke kantor camat; ngecek akte kelahiran pengganti sudah keluar belum. Aku datang awalnya dua minggu sekali seperti anjuran petugas kecamatan tapi kemudian mulai aku ulur-ulur menjadi satu bulan sekali dan selalu dapat jawaban yang sama, "belum selesai". Jawaban yang selalu membuat aku tersenyum simpul dibarengi jengkel.

Aku juga tidak mencoba mencari tahu apakah ada jalur khusus untuk membuat proses ini cepat selesai. Sampai dua hari yang lalu, setelah makan siang aku nelphone petugas kecamatan yang nerima berkas dan dijawab, "Bapak datang aja ke kantor nanti jam 3".

Hmmm, jam 3 sore, aku pun betul-betul ke kantor camat dan nemukan antrian masih tetap ada. Puas menunggu di petugas yang di depan dan belum dilayani juga karena petugas itu sedang sibuk dengan dua orang perempuan yang punya setumpuk bukti terima berkas, dan sibuk ncari akte kelahiran yang cocok dengan surat bukti itu dari tumpukan akte kelahiran yang ada. Sepertinya kedua perempuan ini petugas dari kelurahan karena mereka sepertinya sudah saling akrab.

Aku pun masuk lebih dla ke ruang atasan petugas yang di depan. Karena sudah berulang kali datang dan menemukan atasan ini, mukaku sepertinya sudah dikenal; ada penyambutan yang menunjukkan dia sudah merasa familiar dengan aku. Nada bicaranya pun ramah, sama ramahnya seperti sebelumnya. Tapi kali ini, aku merasa lebih diperhatikan, mungkin karena waktu yang terlalu lama (sudah 4.5 bulan) hanya untuk mengurus perubahan jenis kelamin di akte kelahiran.

Pegawai ini pun memencet tombol handphone-nya menghubungi seseorang di Bengkalis minta dilihatkan berkas. Tidak lama kemudian dia pun mengarah ke aku dan dengan sopan bilang, "Bapak bikin berkas baru aja ya"

Hmmm, aku jadi semakin penasaran, "berkas lamanya ada kan?"
satu pertanyaan yang dijawabnya dengan, "maksud Bapak?".
Aku jawab lagi dengan mengatakan, "maksud saya, akte kelahiran yang lama ada kan?"
"Sudah dikirim ke Bengkalis Pak"
"Ada bukti pengirimannya?"
"Ada Pak. Kita kirim"
"Tapi koq bikin berkas baru?"
"Ya itu Pak, berkas itu hilang…"

Hmmm……. , "terus gimana Bu?"
"Bapak bikin berkas baru aja. Bapak siapkan aja photo copy surat nikah, kartu keluarga, surat kelahiran dari rumah sakit. terus nanti Bapak isi formulir baru"

Aku pun mengeluarkan semua dokumen yang memang sudah aku siapkan. Sebelum pulang, aku masih sempat bertanya, "Berapa lama Bu?"
"Bapak tunggu dua minggu lagi ya"

Aku pun pulang dengan tidak yakin kalo’ dua minggu lagi akte kelahiran itu akan keluar. Nyengir merasakan indah sekali administrasi pemerintahan di negeriku…..

March 10, 2010

Simple Hair Cut

Filed under: Umum banget

"Pake piso Bang?" tanya pegawai barbershop itu.

"Nggak usah" jawabku

"Dipijat Bang?" tanyanya lagi

"Nggak usah" jawabku

"Praktis sekali Bang" katanya

"Kalo’ bisa praktis kenapa dibuat sulit" jawabku sambil tersenyum

"Iyalah Bang" kata pegawai barbershop itu sambil tangannya menerima tips pelayanan yang aku berikan padanya

Itu adalah cuplikan pembicaraanku dengan petugas di barbershop kemarin sore setelah aku dan Dhyaksa selesai dipotong rambut. Seperti biasa, aku menggunakan potongan rambut yang sudah standard aku gunakan kurang lebih 5 - 6 tahun terakhir, potongan rambut pendek ukuran 1 - 3 yang hasilnya membuat kulit kepalaku kelihatan. Karena kemarin aku menggunakan ukuran nomor 1 (yang paling pendek), hasilnya pun semakin terlihat.

Diawali menjelang habis lunch break dan akan kembali ke kantor, aku minta bantuan Dewi untuk bikin appointment ke barbershop, potong rambut pukul 16 sore. Sekitar pukul 16.10, Dewi nelphone ngingetin appointment itu tapi aku tidak bisa langsung ke barber shop karena lagi meeting. Sehabis meeting pukul 16.15, aku langsung cabut, pulang, njemput Dhyaksa di rumah dan langsung ke barbershop.

Gitu masuk (sekitar pukul 16.30), aku langsung melihat namaku sudah dilewati oleh beberapa orang meskipun tetap terlihat remark kalo’ appointmentku pukul 16.00. Karena sudah terlambat aku diminta menunggu. Sekitar pukul 16.50, salah satu kursi kosong dan aku langsung minta Dhyaksa dipotong duluan. Aku pun kembali menunggu sambil mbaca koran tapi koq nggak ada panggilan juga ya? karena memang belum kursi yang kosong. Sampai kemudian sekitar pukul 17.10, Dhyaksa sudah hampir selesai, aku pun berdiri dan menuju kasir, mbayar biaya gunting Dhyaksa.

Aku baru nyadari kenapa tidak tersedia kursi kosong. Ternyata orang-orang yang sedang digunting betul-betul sedang menikmati pelayanan yang luar biasa dari para petugas barbershop. Di mulai dengan treatment kursi direbahkan lalu mulai proses pencukuran kumis dan jenggot yan dilanjutkan dengan treatment pijit yang memakan waktu yang membuat menunggu 45 menit menjadi tidak cukup lama untuk mendapatkan tempat.

Hmmm… ada rasa jengkel mulai mendera. Sekitar pukul 17.15, Dhyaksa selesai proses guntingnya (sementara bapak-bapak di kursi lainnya, yang sudah nangkring di sana sebelum Dhyaksa mulai digunting, masih tetap asyik menikmati pelayanan super yang sedang disajikan…). Aku pun dichannelkan ke petugas yang kosong ini.

Sebelum duduk di kursi gunting, aku ajuka pertanyaan singkat ke petugas itu, "bisa selesai proses guntingnya kurang dari 15 menit?". Pertanyaan yang aku lihat tidak bisa dipahami arahnya oleh petugas ini tapi dia menjawab, "bisa,…. tapi jadi agak ragu-ragu ngguntingnya".

Aku pun naik ke kursi dan langsung kasih order standard, "nomor 1 ya" dan proses pengguntingan pun mulai dilakukan. Dan hasilnya, petugas barbershop ini mencapai rekor (he..he..he..) terbarunya, ternyata dia bisa menyelesaikan proses pengguntingan, dihitung dari saat aku mulai naik ke kursi itu sampai ketika aku menyerahkan tips setelah diservice, dalam hitungan waktu kurang lebih 11 menit. Luar biasa….

Catatan ini aku akhiri gitu aja deh meskipun sebetulnya yang ingin aku dokumentasikan adalah betapa sebagian orang menghabiskan waktu untuk tampil well groomed dan seringkali proses yang dilakukan sebetulnya terlalu menyita waktu dan membuat orang lain mengantri terlalu lama. Tidak ada yang salah sih sebetulnya. Tapi kalau aku disuruh nunggu terlalu lama untuk urusan beginian…. sejujurnya aku sangat jengkel…he..he..he..

March 7, 2010

Petualangan Dhyaksa

Filed under: keluargaku

Setelah selesai nanam durian tadi pagi, aku dan Dhyaksa memutuskan meneruskan jalan-jalan pagi yang sempat tertunda. Kami pun pergi dan masuk ke jalan mawar, belok kiri menurun di jalan kecil di sebelah kiri warung somay Jakarta dan nyusuri jalan ini. Sampai di persimpangan di dekat jalan di belakang ex. kantor Lurah jaman dulu, aku mutuskan belok kiri dan terkaget-kaget karena ternyata jalan yang aku pikir buntu itu ternyata tembus ke jalan pipa PPB line.

Kembali mutar ke kiri dan kembali masuk ke jalan mawar, kami pun kembali masuk ke jalan sebelum kursus LIA tidak jauh dari ruko yang dulunya lokasi kantor lurah, terus menyusuri jalan ini sampai akhirnya memutuskan untuk masuk ke jalan Hangtuah.

Setelah ngisi bensin, kami pun terus menuju ke simpang garoga dan berbelok kiri di depan mesjid Arafah, masuk ke jalan Tegal Sari (?). Di persimpangan ke kanan tidak lama setelah melalui rumah pejabat kecamatan yang besar sekali, aku memutuskan untuk tidak mengikuti jalur aspal ke arah kiri tapi justru masuk ke jalan kecil ke arah kiri yang sejujurnya aku tidak tahu ke mana ujungnya.

Terus menyusuri jalan ini, aku akhirnya menemukan kalo’ jalan kecil ini berakhir, meskipun tetap ada jalur yang menandakan kalau ada motor yang sering lewat di jalan ujung jalan ini. Aku pun memutuskan untuk terus mengikuti jalur motor ini. Setelah melewat dua bangunan bertingkat yang dibangun hanya untuk dijadikan sangkar burung walet, aku terhenti di dekat jalan yang becek dan berair.

Ada keinginan untuk berbalik arah tapi melihat di ujung jalan yang becek dan berair itu jalanlah lebar, mulus (meskipun tetap jalan tanah)  dan bisa dilewati mobil, aku pun memutuskan untuk melintasi jalan becek dan berair ini. Melewati spot ini, aku baru tahu kalo’ jalan mulus yang aku lihat adalah jalan lokasi (jalan field) yang ujungnya di sebuah well pad, pompa produksi.

Aku pun menyusuri jalan ini tanpa kepastian di mana ujungnya. Yang aku lakukan hanyalah menyusuri alur pipa 4" yang mengalirkan minyak dari well ini dengan keyakinan kalo’ pipa ini akan berakhir di sebuah jalan yang aku kenal.

Tapi… jalan kembali becek dan beberapa kali motor terasa slip. Dhyaksa mulai sekali-kali mengajak berbalik arah, tapi aku yakinkan kalau jalan ini akan berakhir di jalan yang bagus yang membawa kami ke tempat yang kami kenal.

Kondisi jalan yang kami lalui tidak sama meskipun tetap jalurnya jalur jalan produksi; kadang-kadang kering dan enak dilalui, kadang-kadang lembut bahkan di beberapa spot becek dan agak licin. Sendal jepit yang aku kenakan sudah penuh dengan lumpur karena harus menjejakkan kaki ke lumpur ketika motor slip. Dhyaksa sih masih tetap bersih karena memang dipesani supaya tetap tenang di belakang motor. Pesan tambahannya adalah ‘jangan megang pundak’ sebab mengurangi kebebasan bergerak untuk ngimbangi kondisi jalan / slip. Dia cuma diizinkan megang pinggang.

Cukup panjang jalan yang dilalui dan malah terkesan mulai masuk ke area yang tidak dekat dengan perkampungan sampai akhirnya kami menemukan sebuah bangunan yang tidak selesai, sepertinya stadion yang sudah terlihat bentuknya akan jadi tempat duduk penonton sepakbola tapi tidak selesai dikerjakan.

Kami pun terus berjalan dan aku ngomong ke Dhyaksa kalo’ jalan ini akan berakhir di Pematang GS atau Bekasap GS. Kami pun terus berjalan, dua kali lagi melalui jalan yang becek sebelum akhirnya aku melihat pipa 4" sudah berujung pada pipa yang lebih besar, pipa 8" atau 10". Dengan senyum aku bilang ke Dhyaksa kalau kami sudah dekat dengan jalan aspal.

Sampai di pangkal sebuah turunan yang terlihat agak licin (tapi ada bekas track mobil lewat), aku melihat ujung-ujung tangki dan gas boot. Setelah mesanin Dhyaksa untuk tidak banyak bergerak karena turunannya licin, aku pun melewati turunan ini, berusaha tetap berada di jalur bekas ban mobil yang tidak lebar. Sampai di dasar turunan, jalan pun mulai menanjak lagi dengan tetap licin dan aku harus memastikan motor berada di jalur bekas ban mobil. Di ujung tanjakan ini jalan sudah kering. Perjalanannya pun diteruskan dan ternyata…… jalan ini berakhir di persimpangan persis di depan Bekasap GS.

Aku pun membelokkan motor ke arah kanan dan berhenti di luar pagar Bekasap GS, persis di dekat test separator. Motor aku matikan dan aku mulai menunjukkan equipment-equipment yang ada di gathering station ini dan juga jalur-jalur pipa. Akhirnya aku akhiri penjelasan ke Dhyaksa dengan memberikan gambaran bagaimana produksi dari production well diolah di gathering station ini, bagaimana minyak dipisahkan dan dikirim ke Dumai, bagaimana gas diolah sampai bisa digunakan dan bagaimana air terproduksi diolah hingga bisa kembali diinjeksikan ke dalam bumi untuk mendorong produksi.

"Boleh masuk nggak Pap?" tanyanya
Hmm… anakku tertarik dengan proses produksi minyak. Mudah-mudahan perjalanan hari ini menumbuhkan keingintahuannya dan semoga itu mendorongnya untuk lebih giat.

Durian

Filed under: keluargaku

Durian? Hmmm…. aku suka sekali,… meskipun sudah beberapa tahun ini aku mencoba mengontrol kesukaan pada durian. Bahkan di dua tahun terakhir, aku sama sekali mencoba untuk tidak menyentuh makanan enak yang baunya tidak disukai sebagian orang ini. Alasannya sederhana sih…. setiap makan durian, sedikit sekali pun sudah cukup untuk membuat tengkukku terasa berat.. jadi, ya… terpaksa tahu diri, umur sudah semakin naik.. :)

Seingatku, waktu kecil di kampung, keluargaku tidak pernah punya kebun durian meskipun memang ada beberapa pohon durian yang tersebar di beberapa kebun yang berbeda; di danau anyar, seingatku cuma ada 2 batang pohon durian, di pulau - ada 3 atau 4 pohon, di danau lais - ada sekitar 6 atau 7 batang pohon durian, sementara di kebun-kebun yang lain seingatku tidak ada pohon durian….. dan yang menarik…. durian-durian ini, seingatku, tidak pernah berbuah lebat meskipun selalu berbuah. Karena letak kebunnya agak jauh dan tidak sering dijenguk (emangnya sakit? he..he..), ya… seringnya kalah cepat dan kalah rezeki dengan para tupai. Tetapi memang sih, setiap tahun ada hasilnya.

Tapi…. seingatku juga, meskipun bapa dan ibu tidak punya kebun durian, setiap tahun kami kebanjiran durian. Di masa kecilku aku ingat, dapur rumah belakang (ada dua rumah yang terpisah tapi hanya terpisah 2 - 3 meter satu dengan lainnya) selalu dipenuhi tumpukan durian masak yang siap diolah menjadi tempoyak (asam durian).

Seingatku di masa kecilku, bapa selalu mborong (istilah untuk membeli borongan) beberapa pohon yang berbuah lebat di kebun-kebun orang lain, jadi setiap tahun pesta durian pun selalu terjadi. Meskipun memang tidak pernah dijadikan bisnis karena mborongnya hanya supaya semua anggota keluarga bisa menikmati durian sepuasnya dan setiap tahun bisa punya stok tempoyak dalam jumlah yang banyak…

Tapi… itu cerita jaman dulu. Jaman sekarang? sangat sulit untuk mendapatkan durian dari kebun orang lain karena jalur jual beli sudah semakin baik. Transportasi yang membaik membuat pasaran durian menjadi naik. Orang tidak lain menjualnya di kampung tapi membawanya ke kota besar, termasuk Jakarta, karena harganya lebih menggiurkan. Harga durian di kampung pun ikut naik. Jadi ya…. masanya pesta durian di kampung pun harus berakhir. Sementara durian dari belasan pohon yang ada tidak selalu lebat dan tidak begitu dikontrol; saingannya juga nambah, bukan lagi hanya tupai tapi juga orang-orang yang lewat.. :)

Semenjak pindah ke Duri, waktu pindah ke krakatau # 06 di tahun 2000, aku sempat nanam 2 batang pohon durian dan 2 batang pohon mangga di halaman rumah. Tapi sangat disayangkan, kedua pohon durian itu tidak pernah beranjak, tidak tumbuh subur bahkan akhirnya mati. Sedikit berbeda dengan 2 pohon mangga yang aku lihat sekarang setiap tahun berbuah cukup lebat. Meskipun aku nggak pernah makan satu buah pun karena sudah tidak tinggal di sana lagi, tapi rasanya senang melihat kedua pohon mangga yang aku tanam tumbuh dan menghasilnya.

Pindah ke Sibayak # 42 di tahun 2005, kembali yang aku ingin lakukan adalah menanam durian. Tapi aku belum pernah menemukan bibit durian. Sampai kemarin pagi, waktu ke pasar, aku menemukan jualan bibit durian yang kata penjualnya durian montong tapi aku putuskan tidak membelinya karena sulit membawanya pulang dengan motor yang sudah penuh muatan ikan.

Pagi ini, setelah bersepeda pagi dengan Dhyaksa dan Ananta, aku ngajak Dhyaksa jalan-jalan dengan motor ke luar camp. Di sekitar SMP negeri yang dekat gate 3 aku melihat seorang bapak memikul 2 keranjang yang isinya bibit-bibit tumbuhan. Aku berbalik arah mengejar bapak itu. Ternyata,… aku menemukan bibit mangga, bibit jambu dan bibit durian.

Aku pun putuskan membeli. Tawarannya 65 ribu untuk setiap bibit yang katanya durian montong. Setelah ditawar disepakati harga 50 ribu dengan bonus sekantong kecil pupuk perangsang buah. Katanya sih… 3.5 tahun akan berbuah.

Aku dan Dhyaksa pun pulang dan menanam durian itu di belakang rumah. Tapi…. sampai di rumah, langsung dapat ledekan dari Rita, "150 ribu kan sebatangnyo?" tanyanya.
Waktu aku bilang harganya 50 ribu, Rita langsung bilang, "Dak mungkin durian montong 50 ribu sebatang. Kemarin aku lihat di jalan mawar hargonyo 150 sebatang"..

Ntahlah…. durian montong atau bukan. Terserah. Yang jelas, akhirnya keinginan nanam durian di sibayak 42 pun tercapai. Mudah-mudahan memang durian motong. Kalau bukan pun, apa mau dikata. Yang penting keinginan menanam sudah terpenuhi. :)

March 1, 2010

Banjir

Filed under: keluargaku

Palembang adalah kota yang awalnya dipenuhi sungai-sungai kecil yang saling berhubungan dan berakhir di sungai musi. Satu kondisi yang membuatnya di masa lalu dikenal sebagai "Venesia dari Timur". Kalo’ melihat photo-photo Palembang di masa lalu yang ada di multiply.com, ada satu photo yang menggambarkan bahwa jalan tengkuruk sebetulnya adalah sebuah sungai. Kondisi yang sama sekali tidak akan bisa dibayangkan bila melihat kondisinya sekarang.

Begitu juga di belakang rumah kebun duku yang aku dengar kalo’ di masa lalunya saluran air kecil yang sekarang lebarnya hanya sedikit lebih lebar dari 1 meter pun sebetulnya sungai yang airnya mengalir jernih, tempat perahu lewat dan tempat anak-anak bermain air, sekarang hanya menyisakan parit yang tidak lebar yang airnya menghitam dan penuh tumpukan sampah. Palembang yang sekarang, tidaklah sama dengan Palembang di masa lalu.

Sekitar 20 tahun yang lalu, ada proyek reklamasi yang mengubah hamparan rawa di daerah Jakabaring menjadi pematang yang kemudian ditumbuhi bangunan-bangunan perumahan dan sarana olahraga. Bangunan yang juga kemudian tumbuh berkembang dengan semakin maraknya perkantoran di daerah ini, mulai dari kantor kejaksaan sampai kantor kepolisian kota.

Sekitar 18 tahun yang lalu, di akhir tahun 1991 sampai awal tahun 1992, Palembang dilanda banjir. Aku ingat waktu itu, rumah digenangi air. Di gang sentosa, plaju, sepanjang lorong mega mendung kena banjir dan airnya sampai ke persimpangan tiga di dekat komplek SD sentosa.

18 tahun kemudian, kembali banjir melanda. Kemarin siang aku nelphone ibu dan dapat informasi kalo’ rumah sudah mulai dimasuki air di dapur, kamar samping, kamar ibu dan kamar sebelahnya juga di ruang keluarga. Yang belum digenangi air hanya ruang tamu, kamar adik dan ruang sholat. Ruangan ini memang sekitar 15 cm lebih tinggi dibanding ruang keluarga.

Tapi pagi ini, aku nelphone ke Palembang, aku dapat informasi dari Bapa kalo’ seluruh rumah sudah terendam air. Di ruang-ruang yang kemarin belum kemasukan air sekarang sudah masuk sampai di mata kaki. Ibu sudah dijemput Yuk Ina ke rumahnya kemarin sore sedangkan Bapa masih bertahan di rumah. Bila kondisi memburuk, Bapa pun akan ke rumah Yuk Ina atau ke rumah Yuk Yun.

Hmm…. perencanaan wilayah memang memerlukan perencanaan ruang yang baik. Perencanaan ruang yang memberikan jalur resapan air, jalur perlintasan air dan jalur retensi aliran air. Perencanaan kota yang menghilangkan sarana yang sudah disediakan alam menyimpan potensi bencana.

Tapi mau gimana lagi.. kalo’ sudah banjir seperti ini, yang harus dilakukan tidak banyak.. Meskipun banjir tidak diharapkan dan kalo’ melihat trendnya baru akan terjadi belasan tahun sekali, tapi yang paling bijak adalah mulai meninggikan lantai rumah satu batu bata lagi supaya kalau pun banjir datang tetap lantainya di atas permukaan air…

Yang menarik, ada komentar temanku SMA di wall FB-nya, "Alhamdulillah, air berlimpah-limpah sampai dak biso ditampung lagi"…. Luar biasa :)

Selamat Jalan kawan…

Filed under: Perasaanku.

Innalillahi wa inna ilahi rojiun…

Dengan rasa sedih dan air mata yang masih mengambang di bibir mataku, aku lepaskan kepergianmu kawan. Kau pergi dengan meninggalkan kenangan akan sosok seorang teman yang baik, teman yang santun dan teman yang selalu menyenangkan hati orang-orang di sekelilingmu.

Semoga Rahmat dan Hidayah Allah selalu menyertaimu dalam kehidupanmu yang baru dan semoga hal-hal baik yang sudah kau berikan dalam hidupmu yang singkat menjadi benih-benih yang tumbuh subur menghiasi kehidupanmu yang baru. Amien..

Beristirahatlah kau dengan tenang, temanku. Semoga arwahmu mendapatkan ketenangan….

Ku tuliskan kalimat ini di milit 0391314 sore ini; ungkapan perasaanku akan kepergian seorang kawan yang baik, kawan satu kelasku di teknik elektro Unsri. Kawan yang santun dan agak pemalu yang aku kenal hampir 19 tahun yang lalu. Ada rasa kehilangan atas kepergiannya, ada tangisan tersedan dan ada lelehan air mata kecil di pelupuk mataku. Air mata yang ku seka diam-diam dalam kamar ketika aku menulis di wall facebok dan air mata yang juga menetes ketika aku mengangkat takbir sholat ghoib untuk arwahnya. Selamat jalan, Eko Susanto, kawanku.

Lunch break siang ini, aku lihat Endah Komalasari menuliskan berita duka, ungkapan selamat jalan padamu di wall facebookmu. Saat ku cek wall facebookmu, aku menemukan empat ungkapan duka yang seakan-akan mengatakan kau sudah pergi. Saat ku tanya pada teman-teman sekelas aku tak dapat jawaban. Noly Hendri mencari tahu dari Asyik Darmawan tapi tidak mendapatkan berita. Kejelasan ku terima dari Endah yang nginformasikan kalo’ kamu meninggal pukul 09.30 pagi ini karena tabrak lari taxi. Ku cek beritamu di http://megapolitan.kompas.com/read/2010/03/01/10422385/Pengendara.Motor.Tewas..Diduga.Jadi.Korban.Tabrak.Lari

Masih aku tak begitu yakin, kawan. Sampai aku dapat informasi dari Noly Hendri soal kepergianmu yang dapat konfirmasi dari Handi yang sedang di rumah duka.

Kau memang sudah pergi, kawan. Kepergiaan yang cepat, kepergian yang tidak diduga. Menyisakan sesak dalam dada, perih di mata dan rasa sedih. Namun kepergianmu memberikan sentakan dalam batin dan peringatan akan kehidupan yang hanya sebentar yang sedang ku jalani yang mudah-mudahan akan bisa diisi dengan hal-hal yang baik.

Selamat jalan kawan. Aku ikhlaskan kepergianmu. Semoga kuburmu lapang dan tenang, kawan. Semoga kau ditemani amal ibadahmu menyongsong hari kebangkitan…

Untuk kawanku, Eko Susanto yang hari ini pergi untuk selamanya. Anggota ketiga kelas 1991 teknik elektro unsri yang pergi. Setelah Murti Ningsih yang pergi di tahun 1994 karena Leukemia dan Mestriana tidak lama setelah tamat kuliah.

February 27, 2010

Ndak Mau

Filed under: keluargaku

"Ndak mau" adalah phrase yang belakangan tren digunakan Ananta di rumah. Setiap kali ditawari sesuatu, yang akan terdengar adalah phrase ini. Mulai dari tawaran makanan sampai tawaran jalan-jalan. Tapi biasanya begitu orang lain mulai bersiap-siap jalan, pakai sepatu atau sandal, dia akan langsung ikut.

Phrase yang sama juga sering sekali digunakannya untuk urusan pakaian. Ada tren baru juga di urusan ini. Kalo’ biasanya Ananta tidak pernah rewel soal pakaian, dua minggu terakhir dia agak rewel. Dia memaksa memilih sendiri pakaiannya di rumah dan yang luar biasanya, pilihan pakaiannya selalu ncari pakaian yang bagus yang untuk pergi ke luar rumah. Celana pendek dari bahan kaos yang biasanya digunakannya di rumah sekarang tidak disukai lagi. Kalo’ ditawari pakai celana atau baju, dia akan langsung minta dibukakan lemari pakaiannya dan memaksa untuk memilih pakaiannya sendiri. Kalo’ tidak dilayani, dia nangis dan baru akan berhenti nangis kalo’ lemarinya sudah dibuka dan dia sudah berhasil memegang pakaian yang diinginkannya. Karena proses pencariannya belum sempurna, setiap kali dia dari ngambil pakaian, lemarinya agak berantakan. :)

Anakku sudah semakin besar, sudah 20 bulan. Sudah mulai tahu pakaian bagus. Sudah punya keinginan tampil well-groomed… nggak kayak bapaknya yang masih juga lebih suka pakaian seadaanya dengan ‘menu’ utama…. sandal jepit warna merah yang sudah sangat kusam… he..he..he..

Mudah-mudahan keinginan tampil well-groomed yang ditunjukkannya dibarengi juga dengan tumbuhnya sikap percaya diri dan sikap positif lainnya.