Umum bangetNovember 7, 2009 1:02 pm

Sabtu?
Acara Surya Ahdi sudah bisa diprediksi…. kalo’ nggak malas-malasan setelah ngantar anak-anak ke sekolah, kemungkinkan kedua cuma satu; ke pasar, belanja ikan. Kegiatan rutin yang tidak harus dilakukan tapi pattern-nya selalu begitu. :(

Hari ini sedikit berbeda meskipun sebetulnya tetap sama. :)
Setelah ngantar anak-anak sekolah, aku nongkrong depan tv nonton ronde lanjutan kisah cicak dan buaya..he.he… Lewat jam 8, aku ke pasar dan cerita normal pun kembali berulang.

Tapi hari ini, aku melihat dua ekor ikan laut yang cukup besar yang aku belum pernah lihat sebelumnya. Begitu aku tanyakan ke penjualnya, si penjual langsung ngomong, “ini ikan Chevron”

Ha…? Ikan Chevron? istilah baru lagi nih. Sejak pertama kali tinggal di Duri, aku sudah mengenal istilah daun ubi Caltex untuk sejenis daun ubi yang ‘katanya’ yang beli keluarga pegawai Caltex (nama Chevron Indonesia sebelum tahun 2002) dan ‘katanya’ harganya lebih mahal dibandingkan daun ubi yang bukan jenis ini. Tapi ikan Chevron? Ini istilah baru yang aku belum pernah dengar.

Aku pun nanya, “Ikan apa?”
Ikan Chevron”
“Nama ikannya apa?”
“Ikan bulan. Ikan ini cuma bisa ditangkap kalo’ ada bulan”
“Memang ikannya enak?”
Enak lah, namanya aja ikan Chevron. Kalo’ bukan orang Chevron nggak bakal beli ikan ini”

Ha…ha…ha.. sampai ke titik ini aku cuma bisa senyum-senyum geli. Lebay banget si penjual ini.

“Berapa sih sekilonya?”
Ditanya seperti ini, penjual ikan ini terlihat kagok dan agak ragu njawab, sampai akhirnya keluar juga, “tiga puluh ribu sekilo”
“Bisa kurang nggak?”
Penjual pertama ngomong, “tadi pagi sebetulnya harganya 35. Kalo’ bukan dipesan orang Chevron aku nggak berani bawa ikan ini.”

Aku senyum-senyum lagi karena….. kembali lebay…..

Tapi karena penasaran pengen tahu seperti apa rasa ikan ini, aku pun kembali nanya, “boleh kurang nggak?” dan langsung dijawab penjual yang satu lagi dengan jawaban, “dua lima sekilo” dan aku kunci dengan “kalo’ boleh 20 sekilo, bolehlah…” dan mengejutkan……. deal…. ikan ini dijual 20 ribu sekilo. Aku pun ngambil ikan yang lebih besar yang beratnya 2 kilo.

Mau dipotong-potong atau biarin seperti ini?” tanya penjual itu.
“Dipotong-potong tolong”.

Penjual itu pun pergi sekitar 10 meter dari tempatnya dan terlihat dia membersihkan sisik tapi kemudian menghilang. Beberapa saat kemudian, dia muncul dengan bungkusan ikan yang sudah dipotong-potong. Ikan Chevron……, ada-ada aja.

Sampai di rumah, aku bersihkan ikan itu dan terheran-heran karena potongan ikannya nggak utuh. Kalo’ potongan-potongan ikan itu digabungkan, setidaknya ada 7 atau 8 potongan yang hilang. Cara memotongnya pun agak aneh, sangat tidak lazim..

Masih penasaran juga sih, apakah memang ikan ini enak sampai penjual itu mencuri 7 - 8 potong atau apakah memang harga ikan ini mahal sehingga si penjual tidak ikhlas dengan harga 20 ribu / kilo? Ntahlah… ikannya belum dimasak jadi belum bisa berkomentar.

Cuma yang masih bikin senyam-senyum adalah istilah “ikan Chevron” yang aku belum pernah dengar sebelumnya dan alasannya pun kayaknya nggak nyambung. Kalo’ dibilang ikan chevron karena harganya mahal, sebetulnya harga nggak mahal. Banyak ikan lain yang dijual di pasar ikan yang harganya bisa 2 kali lipat harga yang ditawarkan. Jadi maksudnya apa? Istilah “ikan chevron” sebagai pemikat calon pembeli? Ntahlah…. yang jelas, istilah itu bikin aku senyam-senyum dan kalau pun aku akhirnya mbeli ikan itu karena aku penasaran pengen tahu apa bener ikan ini enak dan bukan cuma karena istilah ikan chevron yang disebutkan penjual (yang sudah mencuri bagian ikan yang dijualnya)   emoticon

keluargaku, Perasaanku. 8:14 am

Seperti rencana, hari ini kami ke Pekanbaru, nginap di wisma sungkai di Rumbai. Besok Dhyaksa ujian drum, semacam kenaikan tingkat gitu (yang teknisnya aku belum tahu). Dua tiga minggu lalu aku sudah reserve 2 kamar di wisma sungkai dan dua hari lalu dapat konfirmasi dari Rumbai Accommodation team.

Dua hari yang lalu, papa datang dari Palembang dan rencana awalnya hari ini akan kami ajak nginap di Pekanbaru tapi karena beliau masih capek beliau memutuskan untuk stay di rumah aja di Duri. Otomatis Rita juga nggak ikut.

Kemarin sore, Dewi sudah mbisiki aku kalo’ Adeanna nggak mau ikut ke Rumbai. Dia mau belajar kelompok atau sejenisnya dengan teman-temannya. Dia mutuskan untuk tetap di Duri. Aku dan Dewi sepakat untuk mbiarkan dia mengambil keputusan dan kalo’ dia memang nggak mau ikut, kami akan biarkan. Pagi ini, waktu sarapan, Ade betulan ngomong kalo’ dia nggak mau ikut ke Rumbai.

Senang juga sih karena anakku sudah besar, sudah bisa memutuskan apa yang dia mau dan sudah berani pisah dengan orang tuanya. Hitung-hitung persiapan kalo’ suatu saat dia harus sekolah di tempat yang berbeda dengan kami; persiapan supaya dia terbiasa jauh dari orang tuanya.

Tapi yang agak mengejutkan justru suara dalam hatiku… Ada rasa takut, ada rasa sedih, ada rasa nggak mau dia di Duri jauh dari kami. Tapi suara hatiku harus dilawan, aku harus menunjukkan ke Adeanna kalo’ aku sudah menganggap dia besar dan aku menghargai apa yang diputuskannya. Aku pun perlu terus meyakinkan hati bahwa keputusan Ade keputusan yang baik untuk persiapan kehidupannya ke depan.

Ternyata jangankan hidup berjauhan dengan anak, pisah satu malam pun bukan sesuatu yang mudah untuk dijalani orang tua… :)

keluargakuNovember 6, 2009 6:40 pm

Alhamdulillah, menjelang subuh hari ini, di Palembang, sudah lahir cucu ke-11 bapa dan ibu, Muhammad Rizki Kurniawan, putra ke-3 saudara ku yang nomor 3. Proses kelahirannya normal meskipun diawali pecahnya ketuban sekitar pukul 10 tadi malam.

keluargaku, Perasaanku.October 7, 2009 10:17 am

"Papi, ayuk ade di kamar mandi Papi ya. Jangan masuk."

Begitu kalimat yang belakangan sering aku dengar dari putriku, Adeanna. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terdengar.

Ada tiga kamar mandi di rumah yang kami huni (rumah sewaan dari perusahaan he..he..he…he… Aku sebut sewaan abis memang ada potongan gaji untuk urusan perumahan ini.. ); satu kamar mandi yang ada di kamar utama, satu kamar mandi untuk anak-anak dan satu kamar mandi di belakang.

http://jemedusun.multiply.com/photos/album/1/Sibayak_42_PT._CPI_Duri_Riau

Yang agak unik, meskipun ada kamar mandi khusus anak-anak yang letaknya persis di depan kamar mereka, anak-anak lebih suka masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamar tidur orang tuanya. Bahkan untuk urusan kencing pun mereka lebih suka masuk ke sana. Khusus untuk Dhyaksa, bahkan saat aku sedang tidur pun dia mengendap-endap masuk ke kamar mandi di kamar itu.. Aku nggak tahu, mungkin ini lebih ke perasaan aman saja ketika tahu dia dekat orang tuanya,…. barangkali… :)

Waktu pulang dari Palembang kemarin, di hotel Novotel Jambi pun Adeanna masuk kamar mandi dan mengunci kamar mandi itu. Sesuatu yang juga tidak biasa dia lakukan.

Anakku sudah besar, sudah mulai menjadi gadis kecil. Sudah mulai ingin privasi…. Luar biasa, anak yang terlahir 9 tahun lalu di sore Idul Adha 2000 itu sekarang sudah jadi gadis kecil yang sebentar lagi mungkin sudah mulai puber. Keajaiban alam.. Padahal kalo’ diingat-ingat, rasanya baru kemarin aku jadi anak kecil, masa hampir 25 - 30 tahun yang lalu itu rasanya belum lama aku tinggalkan…. eh…. sekarang ternyata anakku sudah besar…

Hm…. subhanallah, semoga rakhmat, karunia dan bimbingan Allah selalu menyertai setiap hari-hari yang dilalui anak-anakku. Semoga anak-anakku selalu mendapatkan berkah iman dan menjalani kehidupan mereka dalam tuntunan Agama Islam, amien..

keluargakuOctober 6, 2009 9:27 am

Jaman dulu, waktu masih kecil di kampungku yang waktu itu terisolir yang untuk ke Baturaja yang jaraknya hanya 40 - 50 km pun harus ditempuh dengan perjalanan hampir setengah hari dengan mobil atau naik kereta api yang hanya lewat 3 kali sehari yang stasiunnya sekitar 15 km dari kampungku, ada penomena menarik yang bikin senyum.

Masyarakatnya hidup dan mengkonsumsi makanan dari kebunnya sendiri. Beras dari ladang atau dari sawah sendiri, yang diproses dengan dua pilihan; (a) digiling pake’ mesin modern yang ada 3 di kampungku, atau (b) digiling dengan cara tradisional dengan alat yang disebut isaran. Sayur pun diambil dari kebun sendiri, pucuk ubi, daun muda berbagai jenis labu (tahok labu), batang lengkuas muda, bayam atau pun kangkung, semuanya dari kebun sendiri. Untuk protein hewani diperoleh dengan makan ikan yang ditangkap sendiri dengan memancing, menjala atau pun menjaring. Ada kalanya ikan pun ditangkap dengan menggunakan bubu atau perangkap lain untuk ikan yang lebih besar. Semuanya produksi sendiri.

Penduduknya tidak minum susu kecuali sekelompok kecil saja yang mengkonsumsi susu pabrikan. Semantara yang lain tidak minum susu meskipun punya ternak kerbau atau pun sapi yang cukup banyak karena minimnya pengetahuan dengan pengolahannya (atau justru karena susu ternaknya memang nggak ada :) )

Makan daging ayam atau itik atau bebek? Itu baru dilakukan kalo’ salah satu dari 3 kejadian ini terjadi; (a) lebaran idul fitri atau lebaran idul adha, (b) ada unggas yang sakit yang biasanya dipotong, sayang nanti kalo’ mati jadi nggak bisa dikonsumsi, jadi haram - ha…ha…ha… ternak sakit koq justru jadi santapan, sesuatu yang waktu itu tidak disadari sebagai praktek yang salah…. Aku nggak tahu apakah sekarang praktek ini masih dijalankan atau tidak, dan (c) kalo’ ada keluarga dari luar kampung datang berkunjung; ntah keluarga yang merantau ke lampung pulang kampung atau dari tempat lain. Biasanya untuk event seperti ini, keluarga akan memotong beberapa ekor unggas dan mengundang keluarga yang datang dari jauh makan di rumah.

Kalo’ telur, hampir setiap pagi aku makan telur ayam kampung mentah (kuningnya saja) yang kadang-kadang karena ketidak tahuan anak kecil membedakan telur ayam dengan telur itik, aku salah pilih telur. Tapi tidak semua anak bisa mengkonsumsi telur setiap hari. Aku bisa melakukan itu karena Bapaku punya banyak itik di sawah dan juga ayam.

Telur, secara umum bukan makanan yang bisa dikonsumsi setiap hari oleh masyarakat. Tidak seperti sekarang yang banyak sekali telur ayam ras, dulu telur yang ada di kampung hanyalah telur ayam kampung saja dari ternak sendiri. Karena itu, makan telur menjadi sesuatu yang mewah… - ternyata menjadi mewah itu gampang sekali…. :)

Biasanya anak-anak di kampung itu kalo’ menjelang kenaikan kelas mengungkapkan nazar (semacam janji pribadi) yang umumnya, "aku nak mehebus sikok, atau due, atau tige teloh amun aku naik kelas" - aku akan merebus satu, dua tau tiga telor kalo’ aku naik kelas. Janji mewah yang akan langsung dipenuhi kalo’ naik..

Urusan telor rebus ini juga menjadi ritual yang penting. Perjalanan dari kampung ke Lubuk Batang Baru (40 km ke arah Baturaja), atau ke Baturaja atau pun ke Palembang yang cukup panjang membuat ibuku selalu menyiapkan bekal makanan sebelum berangkat. Lauk standard yang digunakan adalah telor rebus yang memang aman di perjalanan dan tidak merepotkan di samping gampang dimakan.

Kebiasaan menyiapkan bekal ini pun masih terbawa-bawa sampai sekarang. Setiap kali kami akan berangkat dari Palembang ke Duri, ibu pun tetap menyiapkan bekal; ayam goreng, pempek dsb dan yang tidak pernah terlupakan; telor rebus yang sayangnya ternyata bukan termasuk makanan favorit untuk anak-anak jaman sekarang. Karena itu telor rebus yang dijadikan bekal tidak habis dimakan dan terpaksa dengan sedih dan berat hati dibuang di perjalanan karena basi (kadang untuk aku dan keluargaku cuma 5 orang termasuk balita, ibu menyiapkan sampai 8 butir telor rebus)

Karena itu, pulang sekali ini, dari awal, aku sudah ngomong ke ibuku supaya mengurangi bekal telor rebus ke jumlah seminimal mungkin supaya tidak terbuang. Bekal lainnya pun porsinya dikurangi karena kalo’ di perjalanan makan juga tidak terlalu banyak. Alhamdulillah, beliau sepakat dan sekali ini, kami pulang dari Palembang ke Duri tidak dibekali telor rebus lagi tapi ayam goreng yang jumlah potongannya juga masih banyak sekali - separuhnya pun tidak habis, untung tidak basi sampai di Duri.

Kasih sayang ibu memang luar biasa. Sebagai anak, semua tindakan yang dilakukan orang tua seperti yang ibu selalu lakukan perlu menjadi renungan untuk menjadi anak yang baik dan berbakti pada orang tuanya. Mudah-mudahan aku termasuk kelompok anak-anak yang seperti ini, dan mudah-mudahan anak-anakku pun termasuk anak-anak seperti ini, amien..

Umum banget 9:02 am

Perjalanan pulang ke Palembang memang selalu menyisakan catatan ringan yang kadang bikin senyum, bikin nyengir bahkan kadang-kadang bikin jengkel. Kalo’ urusan makanan, sekarang sudah semakin banyak penjual makanan yang bersih dan rasanya enak di perjalanan - bukan tempat makan tempat bis istirahat yang harganya mahal dan tidak fresh, tapi makanan yang harganya relatif normal dan fresh.

  • Di spot Pekanbaru - Jambi, minimal bisa mendapatkan makanan di Pangkalan Kerinci, di Pematang Reba, atau di Belilas. Meskipun setelah Belilas, aku tidak menemukan tempat makan yang oke punya sampai Jambi (sekitar 4.5 jam perjalanan).
  • Di spot Jambi - Palembang, relatif lebih banyak karena setiap 1.5 jam perjalanan bisa ketemu tempat yang cukup ramai yang identik dengan tersedianya tempat makan.

Tapi yang aku pengen catat bukan soal tempat makan. Aku justru pengen mencatat mengenai mushollah yang selalu ada di pompa-pompa bensin yang ada di sepanjang jalan. Yang menarik adalah semua pompa bensin itu menyediakan mushollah kecil yang memang didesign untuk menjadi mushollah. Tapi yang menarik,…. di spot Pematang Reba - Jambi (5 jam perjalanan), ada sekitar 9 - 10 filling station. Tapi rata-rata mushollanya tidak terurus dan tidak ada air. Catatanku hanya ada 2 - 3 filling station yang ada airnya.

Sedikit berbeda dengan perjalanan dari Jambi ke Palembang yang rata-rata filling stationnya dilengkapi dengan tempat BAB dan BAK yang relatif bersih meskipun kalo’ mushollahnya ada juga yang kurang terurus. Tapi yang paling oke tempat sholatnya justru di filling station di Sungai Lilin yang tampilannya kurang oke karena sudah tua tapi di bagian belakangnya justru terdapat mesjid yang sangat terurus lengkap dengan rumah peristirahatan yang bisa disewa per malam.

Andaikan semua filling station ini musholla dan kamar kecilnya terjaga, air wudhu-nya selalu tersedia, wuih… perjalanan akan menjadi semakin nyaman.

Umum banget 8:45 am

Sabtu minggu lalu, perjalanan dari Pekanbaru menuju Jambi cukup menyenangkan. Jalan yang akhir bulan Juni lalu masih agak rusak menjelang perbatasan Riau - Jambi sudah diperbaiki, hanya ada spot pendek sekitar 2 km yang masih ada lubang-lubang kecil. Seperti biasa, perjalanan dicoba dibuat sesantai mungkin, berangkatnya pun tidak dipaksa selepas subuh tapi ditunda sampai lewat pukul 7 pagi, meskipun kenyataannya tidak selalu sesantai yang dibayangkan. Sementara kondisi fisik juga sudah semakin tua (walah…… sok tua he..he..he..), sudah mulai nggak bisa maksa seperti dulu lagi.

Menjelang pukul 3 sore, sudah lewat Merlung, leher sudah mulai panas, kepala agak pusing, ngantuk.. diputuskan untuk berhenti mencari filling station mau tidur… tapi koq nggak ketemu juga ya…. Aha…. ya sudah mampir aja di kantor resort sebuah instansi berseragam sekitar 40 km menjelang Jambi, , sepertinya tempat ini pasti menyenangkan untuk istirahat karena operasi ketupat mungkin belum berakhir jadi kemungkinan memang disediakan tempat untuk istirahat.

Dengan pede, mobil pun masuk dengan pelan memasuki pekarangan kantor yang halamannya luas ini. Tapi koq sepi ya? Terus ternyata gersang…. hmmmm….. parkir di mana nih? semua tempat koq panas ya? Wow, sampai di depan kantor ternyata ada kendaraan yang berhenti dan menutup lebih dari sebagaian jalan… mobil nggak bisa masuk nih..

Mobil pun dimundurkan dan terlihat di sebalah kiri kantor ini ada jalan ke belakang. Aku pun masuk ke jalan kecil ini yang ternyata jalan memutar ke belakang kantor dan keluar di sisi lain kantor ini. Di spot ini aku melihat ada tempat parkir yang beri kanopi bagus, panjang dan sepertinya memang disiapkan untuk tempat parkir yang nyaman dan tidak ada yang parkir di sana. Memang baik yang punya kantor ini (*^%$%$&#), ada tempat parkir bagus untuk orang-orang yang mau istirahat.

Aku pun parkir mundur, merebahkan sandaran kursi dan mulai mencoba istirahat. Belum berapa lama (kurang dari 5 menit), ada petugas berseragam datang dan aku buka kaca jendela. Petugas itu menegur karena tadi ketika masuk ke pekarangan kantor ini aku tidak lapor. Begitu aku bilang di kantor kecil yang di dekat gerbang masuk kosong tidak ada orang, petugas itu bilang kalo’ di dalam ada petugas. Begitu aku jelaskan kalo’ tujuanku mau numpang istirahat, tidur sebentar, petugas itu pun pergi.

Tapi….. hanya beberapa menit (juga kurang dari 5 menit), datang lagi petugas lain, juga berseragam. Begitu dibukakan jendela mobil, petugas ini meminta aku pindah karena tempat parkir teduh yang aku sedang gunakan adalah tempat parkir pimpinan. Kalo’ aku parkir di sana, nanti mereka dimarah pimpinannya. Aku diminta pindah parkir ke pekarangan mesjid yang cukup besar dan indah di pojok halaman kantor ini. "Kalo’ mau tidur-tiduran, silahkan tidur di sana," kata petugas ini.

Aku pun pindah parkir ke pekarangan mesjid yang panas itu, melihat ke tempat parkir teduh yang menggiurkan itu dan baru nyadari kalo’ tempat parkir teduh itu memang tempat parkir seorang kapolres dan wakilnya…. Ya iyalah, jelas aja aku disuruh pindah tempat parkir….he..he..he..he..he…

Dengan semangat ingin istirahat, aku pun turun dari mobil dan masuk ke selasar mesjid,…hmm… cukup bersih.. tapi kayaknya ada natural call pengen BAK nih, aku harus ncari kamar kecil. Aku pun ke belakang mesjid bagus ini dan menemukan tempat berwudhu yang cukup panjang nempel di bagian belakang mesjid ini. Di sebelah tempat wudhu itu, aku menemukan kamar kecil yang terbuka, aku pun mendekat dan langsung mencium bau khas kamar kecil yang tidak dibersihkan. Tapi aku tetap masuk….dan menemukan…..tidak ada tempat airnya dan di klosetnya aku melihat 3 potong benda kering kehitaman (sudah tidak kuning lagi melingkar…. sudah hitam dan keras sepertinya - you know la….- mungkin sudah mingguan atau bulanan tergeletak di sana.

Melihat kondisi seperti ini, aku putuskan untuk membatalkan semua rencana, termasuk rencana istirahat. Perjalanan pun aku teruskan ke Jambi, check-in di Abadi Suite, istirahat.

Sayang sekali… mesjid besar yang indah itu ternyata ……. :(

PikirankuSeptember 21, 2009 7:23 am

Facebook memang jadi ladang yang positif untuk membuat renungan. Membaca tulisan-tulisan orang-orang di facebook bukan hanya memberikan pencerahan status teman-teman atau keluarga tapi juga memberi gambaran mengenai aspek lain termasuk kepribadian seseorang dan pola pikirnya. Mungkin tidak 100% akurat tapi banyak pelajaran yang bisa didapatkan.

Di facebook, aku membaca tulisan,  "the secret of success is to know something nobody else knows". Tulisan yang  pendek tapi menggelitik hati untuk mengulas. Tulisan pendek yang menggambarkan sebuah paradigma yang bisa jadi menjadi sesuatu yang lazim ditemukan. Paradigma bahwa orang akan berhasil bila dia mengetahui sesuatu sendirian..

Apakah ini salah? Aku pikir tidak sepenuhnya salah.
Tapi apakah ini benar? Aku pikir juga tidak sepenuhnya benar.

Di jaman dulu, bisa jadi paradigma ini akan sangat bener. Orang akan berhasil bila dia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain. Akan tetapi, di jaman di mana bekerja individu tidak lagi menjadi sesuatu yang istimewa, di mana keberhasilan juga ditentukan oleh bagaimana networking, bagaimana team work dan bagaimana koordinasi dilakukan, paradigma ini menjadi seperti gambaran hidup di masa lalu.

Di jaman sekarang, tidaklah mungkin seseorang menahan apa yang diketahuinya sendirian. Tidaklah mungkin orang menahan ilmu yang dimilikinya sendiri. Karena melakukan itu dalam kehidupan hanya akan menimbulkan kesulitan.
Manusia terlahir sebagai mahluk yang tidak bisa berdiri sendiri. Manusia memerlukan support dan bantuan dari orang lain di sekitarnya.

Ketika hanya dia yang tahu…. terus ke mana dia minta bantuan? Nggak ada… jadi sulit kan?
Ketika hanya dia yang tahu…. terus kepada siapa dia akan delegasinya tugasnya bila dia berhalangan? Nggak ada…. jadi rumit kan, orang ini jadi nggak bisa lepas dari tanggung jawab dan tugasnya 24/7, sesuatu yang tentu sangat berat
Ketika hanya dia yang tahu…. terus kepada siapa dia akan melepaskan tanggung jawabnya bila dia mendapat tanggung jawab yang lebih besar? Nggak ada… jadi semakin tidak mudah bukan? Kalo’ nggak ada orang yang bisa menjalankan tugas yang ditinggalkannya, tentu hanya ada 2 hal yang mungkin terjadi; (a) dia tetap mendapatkan tambahan tanggung jawab tetapi menjadi terlalu overloaded sehingga jaminan kualitas tidak dijamin, atau (b) dia batal dapat tambahan tanggung jawab karena potensi overloaded yang sudah bisa diprediksi di awal.

Jadi…. di jaman sekarang, menganut paradigma lama ini hanya akan menyulitkan. Jaman di mana orang akan menjadi pahlawan dengan menjadi satu-satuya orang yang bisa menyelesaikan pekerjaan sudah berakhir. Jaman ketika orang menjadi idola ketika dia menjadi satu-satunya orang besar di lingkungan yang kecil tidak lagi ditolerir. Jaman ketika orang menjadi panutan ketika dia berdiri di menara gading sudah menjadi sejarah masa lalu.

Jaman sudah berubah. Orang yang mengetahui sendirian apa yang orang lain tidak tahu hanya akan tergilas oleh roda kehidupan. Orang yang tidak ingin membagi ilmu pengetahuannya hanya akan tergilas oleh semakin dinamisnya kehidupan.

Jadi yang mana yang mau dipilih? mencoba sukses sendiri dengan paradigma masa lalu dan tergilas, atau menjadi lebih terbuka dan hidup dan berhasil dalam keberhasilan kelompok dan selalu berada dalam keberhasilan?

Yang perlu dijaga adalah kepastian bahwa setiap individu berkontribusi aktif dalam keberhasilan yang diraih secara berkelompok dan tidak menjadi benalu dalam kelompok…..

Umum banget, Aku belajar 6:50 am

Mendekati satu taun ini, Dewi dibantu oleh duo orang yang tinggal nggak jauh dari kantor lurah, di luar camp. Kedua-duanya perempuan yang umurnya lebih dari 50 tahun; yang satu membantu membersihkan rumah dan masak, sementara yang kedua tugasnya mbersihkan kamar mandi dan nyetrika. Yang tugasnya masak - membahasakan dirinya Mak Wo - hanya punya satu client jadi dari pagi sampai sekitar jam 2 siang selalu standby di rumah sementara yang nyetrika - dipanggil bibik - punya cukup banyak client, ada di rumah hanya ketika bertugas dan setelah itu segera pindah ke client-nya yang lain.

Sekitar 6 bulan yang lalu, Dewi mbisiki aku ngasih tahu kalo’ bibik nggak masuk, yang kerja ibunya - dipanggil Nenek - yang umurnya lebih dari 80 tahun. Dengan terheran-heran, penasaran tapi juga nggak begitu nyaman aku ngomong ke Dewi untuk lebih hati-hati. Kalo’ orang seusia itu mungkin bukan orang yang tepat untuk mbantu di rumah. Tapi setelah bertemu dan melihat seorang perempuan sepuh yang tampilannya segar, ceria dan badannya juga masih tegap, tidak bungkung, aku pun tidak meributkannya lagi. Terlebih karena hasil kerjanya cukup bagus dan nggak banyak ulah. Mencari tahu lebih dalam mengenai nenek ini, aku dapat cerita kalo’ nenek ini bosan kalo’ nggak punya kegiatan di rumah. Karena itu, beliau minta ke anaknya, bibik, pengen kerja.  

Sampai sekitar 3 minggu yang lalu, Dewi cerita kalo’ nenek nggak nyetrika. Nenek sakit dan digantikan cucunya (seorang perempuan muda umur di awal 20an). Kami pun datang ke rumahnya dan menemukan nenek ini tidur-tiduran di ruang kaluarga di rumahnya, memang sakit meskipun bisa bercerita dengan lancar. Minggu lalu, Dewi cerita kalo’ nenek ini masuk rumah sakit dan 2 hari sebelum Idul Fitri beliau meninggal dunia.

Ada pelajaran kehidupan yang aku peroleh dari nenek ini.

  • Pelajaran bagaimana orang memanfaatkan waktunya untuk berkarya, untuk menghasilkan sesuatu.
  • Pelajaran tentang maknah hidup mandiri dan tidak tergantung pada orang lain. Bagaimana seorang yang berusia 83 tahunan tidak mau berpangku tangan.
  • Pelajaran tentang maknah, "dalam rezekimu ada rezeki orang lain"…

Nenek ini telah memberi pelajaran baik, pelajaran baik yang mudah-mudahan diserap juga oleh anak-anakku. Selamat jalan nenek…

  • - Pelajra

Cerita mengenai nenek gosok yang meninggal di usia 83 tahun dan sampai sebulan sebelum meninggal masih bekerja..

keluargakuSeptember 20, 2009 2:43 pm

Pagi lebaran, sibuk? Ya nggak juga. Biasa aja lagi….
Bangun pagi pukul 5, terus sholat subuh, mandi, telephone sana-sini ke keluarga di Palembang, sarapan…..dan mendekati pukul 7 berangkat ke mesjid dan ternyata…. masih bisa parkir cukup dekat ke mesjid. Karena hari hujan, hari ini nggak jadi sholat di lapangan mesjid tapi sholatnya di dalam dan kembali…. masih banyak ruang kosong di dalam mesjid (meskipun tidak lama kemudian penuh bahkan tumpah ke pelataran mesjid bahkan masih ada juga beberapa barisan panjang sholat di rumput halaman belakang mesjid.

Tapi yang ingin aku tulis bukan ulasan sholat di mesjidnya tapi justru soal Ananta yang hari ini pertama kali ikut sholat Idul Fitri (belum pernah juga ikut Idul Adha di mesjid), bahkan kayaknya ini pertama kalinya dia diajak ikut sholat ke mesjid.

Dari awal, sudah dibagi tugas kalo’ Ananta akan ikut rombongan laki-laki; bertiga - aku, Dhyaksa dan Ananta, sementara rombongan ke-2 ya tentu rombongan yang perempuan bukan? Kami bertiga pun masuk ke dalam mesjid dan mengambil tempat. Begitu diturunkan dari gendongan, Ananta langsung kembali nempel ke aku sementara aku perlu sholat sunat tahiyatul masjid.

Aku kembali jauhkan dia tapi tetap di depanku seperti biasa kalo’ aku sholat di rumah. Aku pun berdiri sholat dan terlihat dia sedikit ketakutan meskipun tidak lama kemudian dia mulai berdiri tenang lalu duduk di sajadahku sampai akhirnya, sama seperti biasanya kalo’ aku sholat di rumah, dia mulai tiduran di sajadah itu. Aku pun rukuk, sujud sampai selesai rekaat ke-2 dengan tenang. Aku temukan Ananta sudah tidak merasa asing lagi dengan mesjid, bahkan aku melihat dia mulai merasa ‘at home’.

Menjelang pukul 07.30 jemaah pun diminta berdiri untuk sholat. Ananta menjauh dari aku dan mendekat ke dinding ke tempat seorang anak kecil (mungkin umur 3 - 4 tahun) yang berdiri di sana. Aku melihat Ananta mencoba mengakrabkan diri dengan anak itu. Sholat pun dimulai sementara Ananta belum juga balik ke sajadahku. Dia tetap bertahan di pinggir dinding.

Rakaat pertama pun berjalan dan selesai, Ananta masih bertahan di posisinya. Pertama sih tidak melakukan tindakan apa pun yang mengganggu tapi kemudian dia mulai ngutak-atik meskipun kemudian dia menghilang. Sepertinya dia bergerak ke barisan yang lebih belakang, tetap di dekat dinding kaca… Sholat pun berlanjut ke rekaat ke-2 dan Ananta tetap bertahan di barisan ke dua. Banyak terdengar anak kecil menangis di belakang tapi aku tidak mendengar suara atau pun tangisan Ananta. Anak ini kayaknya tenang.

Sholat pun berakhir, setelah salam ke kiri, aku pun menoleh ke belakang dan ternyata….. Ananta sedang duduk di dekat kotak sumbangan mesjid (banyak di sediakan….) yang hari ini juga tersedia ember hitam di atasnya untuk menampung sumbangan yang alokasinya berbeda dengan alokasi yang tertera di 3 partisi kotak itu.

Setelah minta maaf ke orang di kiri kanan yang mungkin merasa terganggu oleh aksi Ananta tadi, aku pun membawa Ananta keluar, duduk mendengarkan khutbah di dekat tangga depan yang menghubungkan lantai 1 ke lantai 2 mesjid… tapi….yang terjadi kemudian…. Ananta malah jadi semakin keasyikan di mesjid ini. Dia malah mulai naik tangga itu. Aku minta Dhyaksa mengiringkan di belakangnya. Tapi kemudian aku putuskan untuk mengambilnya dan aku ajak pindah turun bawah tangga menuju jalan masuk mesjid dan kembali…. Ananta juga asyik-asyiknya naik turun di tangga ini.

Akhirnya…. aku putuskan untuk ngajak Ananta ke rumputan di pojok kanan depan mesjid supaya aku tetap bisa mendengat khutbah. Karena tidak mungkin mengambil sendal (yang aku juga sudah nggak tahu di mana lokasinya karena seluruh jalan masuk ke arah depan mesjid dipenuhi jamaah dalam syaf-syaf sholat, aku pun menggulung celanaku dan tanpa alas ngajak Ananta ke rumputan itu. Aku pun duduk di semen pinggiran taman mesjid membiarkan Ananta main di sana sampai kemudian khutbah berakhir dan aku ajak Ananta balik ke mobil, pulang. Dalam perjalanan pulang, Ananta tidur.

Menarik…. hari ini, Ananta pertama kali masuk ke mesjid tetapi aku merasa anak ini sudah mulai terbiasa dengan suasana mesjid meskipun aku masih punya pe-er untuk menjaga mobilitasnya di dalam mesjid supaya tidak mengganggu orang lain. Seingatku, dulu Dhyaksa, aku mulai ajak sholat jumat ke mesjid di umur lebih dari 2 tahun. Mungkin, ada baiknya Ananta aku mulai ajak sholat jumat ke mesjid mulai sekarang di umur 15 bulannya…. Ntahlah, yang jelas ketika aku diskusikan ini dengan Dhyaksa, dia angin-anginan; awalnya setuju..tapi begitu aku bilang… ke mesjidnya naik mobil nggak bisa lagi naik motor, dia sepertinya jadi kurang setuju. :)

Pikiranku, Perasaanku. 8:57 am

Kemarin, aku membaca di wall salah satu keponakanku:

"(really!) Ied doesn’t mean new dresses.. may be a new life and spirit.. For the next 11 months"

yang aku tanggapi dengan menulis,

"That is the essence of the Ied joy… the spirit every family should re-actualize, something parents must develop in their children…."

Apakah Idul Fitri berarti konsumtif? Apakah idul fitri bermaknah menyediakan makanan berlimpah? Apakah idul fitri bermaknah bertukar baju dengan yang baru?

Aku mencoba menyikapinya dengan mengatakan bahwa idul fitri seharusnya tidak menjadi momen untuk melampiaskan keinginan atau pun godaan untuk konsumtif. Tidaklah perlu menjadikan idul fitri sebagai momen di mana masyarakat umum menjadi ‘ladang’ yang ter-eksploitasi secara luar biasa oleh dunia bisnis. Tereksploitasi dengan godaan membeli atau pun menyiapkan makanan yang berlimpah. Tereksplotasi dengan godaan beragam jenis pakaian yang memikat.

Bukankah Islam mengajarkan kesederhanaan? Bukankan Islam mengajarkan kejernihan dan bukan kepura-puraan. Bukankah Islam mengajarkan empati; menunjukan keperdulian pada lingkungan dengan menempatkan diri setara dengan lingkungan?

Idul Fitri, tidak harus disikapi dengan berbondong-bondong memasuki mall, masuk ke pasar, membeli baju-baju lebaran untuk anak-anak. Idul Fitri perlu disikapi dengan kesederhanaan. Setiap keluarga perlu menanamkan bahwa bukan tampilan luar yang penting tapi lebih ke kedalaman batin. Menjadi tugas orang tua untuk memastikan bangkitnya pemahaman kawula muda Islam bahwa Islam merupakan agama yang melihat essensi dan bukan tampilan luar, Islam adalah agama yang mengajarkan kebersihan hati dan ketulusan dalam sikap dan bukan ‘plastik-plastik‘  diplomasi kehidupan yang seringkali dipenuhi kepura-puraan.

Menjadi tugas setiap orang tua untuk menanamkan pada keluarganya bahwa bersikap sederhana tidak berarti tidak berbudaya. Kesederhanaan bisa menjadi kekuatan yang luar biasa untuk menahan godaan zaman….

Ah… jadi susah endingnya nih tulisan, udah aja dulu ya… lanjutannya silahkan diteruskan sendiri :)

Umum bangetSeptember 19, 2009 11:03 am

Duri, kota kecil bahkan secara administratif nggak bisa disebut kota. Dari sisi demografi, Duri,

  • Menurut http://id.wikipedia.org/wiki/Duri,_Bengkalis punya jumlah penduduk yang hampir separuh jumlah penduduk Pekanbaru. ==> Komentarku; yang bener aja, kayaknya lebay deh…
  • Dari sisi komposisi kependudukan, meskipun nggak punya sumber data populasi tapi aku yakin untuk nulis kalo’ mayoritas (bahkan hampir semua) penduduk Duri pada dasarnya pendatang baik pendatang dari daerah sekitar (dalam radius 50 km) maupun pendatang dari kabupaten lain bahkan propinsi lain di Indonesia.

Dengan komposisi kependudukan seperti itu, yang mayoritas muslim dan menjelang lebaran umumnya pulang ke kampung halaman masing-masing, aku memprediksi kalo’ Duri akan relatif sunyi di hari lebaran ini. Tapi,….. ke pasar hari ini, aku menemukan kondisi yang betul-betul kontradiktif. Duri tidak sunyi bahkan menurutku hari ini, aku merasa hari ini adalah hari yang paling sulit menemukan tempat parkir di pasar Duri dan hari ini, pertama kalinya, aku merasakan traffic jam yang betul-betul mati, bukan hanya tersendat tapi sempat tidak bisa bergerak sama sekali.

Pasarnya pun sama, begitu banyak orang lalu lalang meskipun tidak semua lapak berisi pedagang. Ternyata, denyut perekonomian Duri tetap berjalan di saat puncak hari-hari menjelang lebaran ini. Ternyata, masih banyak sekali orang-orang yang menghabiskan lebarannya di Duri..

keluargakuSeptember 13, 2009 12:01 pm

Ketiga anakku punya pola tingkah yang berbeda-beda meskipun sebetulnya ketiganya mirip; bikin senyum:

Ananta

  • Bolak balik ngangkat telephone, pura-pura nelphone dengan action sempurna…..lama sekali kalo’ sudah mudah on-action. Pokoknya betul-betul full action deh.
  • Seminggu ini agak susah makan. Bukan karena nggak bisa makan tapi lebih karena nafsu makannya menurun. Begitu sendok menyentuh bibirnya, yang dilakukan cuma satu; lidahnya menyembul menutup pintu mulutnya dan tetap dipertahankan di posisi itu sampai sendok menjauh.
  • Tempat nongkrong di living room yang paling disukainya adalah sandaran sofa yang memang cukup lebar. Dengan santai dia naik ke atas sofa kemudian dengan santai juga naik ke sandarannya dan tidur di atas sandaran itu. Untuk memastikan safetynya, yang kami lakukan adalah mendorong sofa itu sedekat mungkin ke dinding.

Dhyaksa

  • Sudah cukup lama aku nggak pernah ndengar dia memainkan drumnya meskipun les drumnya di bina musika tetap jalan. Mungkin mulai bosen atau gimana, yang jelas belakangan dia mulai ribut minta dibelikan gitar. Belum aku penuhi sih, pengen ngukur dulu tingkat antusiasnya seperti apa; jangan-jangan cuma momentary lagi :)
  • Pulang-pulang dari les drum, dia mbawa proposal yang langsung bikin aku senyum-senyum; pengen tetap les drum tapi pengen ditambah les private di rumah. Setelah diajak diskusi, akhirnya sampai pada satu kesimpulan; lebih baik tetap les di bina musika aja.

Adeanna

  • Mulai banyak makan tetapi yang bikin senyam-senyum, ternyata anak ini sukanya bukan nasi yang normal. Anak ini suka nasi yang lembek… meskipun belum bisa disebut bubur sementara yang lain nggak suka.
  • Kalo’ diajak ke pasar, meskipun suka, selalu diawali dengan wanti-wanti di awal, "Papi jangan ninggalin ya. Papi nggak boleh jauh-jauh"
  • Sudah mulai rajin mbantuin mamanya masak meskipun dalam porsi terbatas. Hari ini kegiatannya mbantui mamanya mblender ikan tenggiri untuk pempek; persiapan lebaran dan sekarang sedang sibuk mbantui masak kue.
Keindahan, Perasaanku.September 12, 2009 7:46 pm

Kemarin aku nge-link (connected) dengan seorang perempuan muda di FB yang menggunakan nama ‘Haitami’ salah satu tokoh masyarakat Kedaton, seorang pensiunan kepala kantor agama yang setelah pensiun kembali ke Kedaton dan menjadi imam di mesjid di Kedaton sampai akhir hayatnya. Aku belum mengenal anak yang baru memulai kuliah di Depok ini.

Hari ini aku membuka FB-ku dan menemukan update status "apa kesempatan kedua itu ada? miss you Muhammad Sjamil Haitami ♥ " yang sejujurnya menimbulkan dua kemungkinan:

  • Pacarnya kah? Tapi aku bantah dengan berpikir kalo’ dua-duanya pake’ nama Haitami, nggak mungkin pacaran dong..
  • Berarti ini ayahnya dan mungkin ayahnya sudah meninggal.

Aku lihat-lihat photo di FB-nya dan menemukan satu photo yang aku kenal orangnya (alm. Haitami) dan aku komentari yang membuat aku dan anak ini bertukar informasi. Aku hubungi Bapaku di Palembang dan dapat informasi bahwa benar nama yang disebut anak ini sudah meninggal belasan tahun yang lalu.

Ada rasa terharu dan terenyuh merasakan kerinduan seorang anak pada figur ayahnya yang sudah tidak mungkin lagi ditemuinya secara fisik. Ada rasa haru merasakan kasih sayang yang tersirat dalam kata-kata yang ditulisnya. Aku pun komentari statusnya dengan menulis:

Meskipun nggak ada kesempatan kedua, kiriman doa dan kerinduan anak pada ayahnya merupakan bentuk kasih sayang yang indah..

Kamu anak yang baik, Rachmalia. Mudah-mudahan kamu termasuk anak soleha, amien.

Yang menarik dan agak lucu; ketika anak ini nulis, "…..aku panggil om atau apa nih?…." yang aku jawab dengan jawaban optional:

Boleh manggil om (gaya masa kini), atau mamang (gaya Palembang) atau mamak (gaya kedaton). Kalo’ mau terasa nuansa kampungnya, pake’ mamak aja kali ya :)

Kalo’ resminya sih namanya Surya Ahdi tapi kalo’ di Kedaton orang nggak kenal nama itu, mereka tahunya Anto.

………..

Selalu menyenangkan menemukan keturunan orang-orang Kedaton yang mungkin tidak lagi secara inten terikat dengan kampungnya. Tapi aku percaya orang-orang ini sedikit banyak masih menyimpan ikatan batin dengan kampung halaman orang-orang di atasnya.

Dan selalu menyenangkan menemukan anak-anak yang menunjukkan kasih sayangnya pada orang tuanya. Semoga anak-anak seperti ini selalu mendapat hidayah Allah dan selalu mendapatkan jalan yang terang dalam kehidupannya, amien.

Umum banget, PikirankuSeptember 8, 2009 9:08 pm

Malam ini, aku mbaca wall satu group dan nemukan tulisan seorang anak muda, - dicuplik asli tanpa perubahan tanda baca

"ade kabar lemak dk lemak
robet anak ajid humahnye di parak pabrik lan sabut nak bebini tgl 7 oktobr kele di kuningan, nntukan tglnye gk pemintaan btinenye die diwek dkde di rembkonknye gk sanak2nye lagi, maslahnye tgl 15 sept ini dai sebelah btine nk mnta duet 2 juta rupiah, nah baknye robet ni inggak dk ktk tanngung jawab nk ngurusi kwinan robet ni, kalu ade jeme2 yang ade grup ini pacak mbantu robet ngijekan duet 2 juta tu,au se ihklasnye kian nk bntu die, kami yang ade di depok ni la be usaha nk mantu die."

Tulisan sederhana tapi menimbulkan kerisauan hati. Ada beberapa poin penting dari tulisan ini yang merisaukan hati dan menggugahku untuk mendokumentasikannya dengan memberikan ulasan pandangan pribadi mengenai apa yang ditulis.

  1. Seorang laki-laki ingin menikah. Dia lamar sendiri seorang perempuan pada keluarganya, lalu disetujuinya sendiri kapan pernikahan ini akan dilangsungkan dan juga disetujuinya sendiri biaya-biaya yang akan dishare. Persetujuan ini dibuatnya dengan keluarga perempuan yang dilamarnya tanpa meminta pendapat atau pun berembug dengan sanak keluarganya. Apakah ini salah?
    Menurutku, tidak ada yang salah dalam proses ini, meskipun secara budaya Indonesia mungkin terasa sangat jangkal. Dalam pernikahan (secara Islam), pernikahan akan syah apabila ada 2 saksi dan ada wali nikah yang mewakili calon pengantin perempuan. Dengan pikiran itu, maka memang tidak ada kewajiban harus ada wakil (wali) dari calon pengantin laki-laki dalam proses pernikahan ini. Dengan kata lain kalau pun seorang laki-laki memutuskan untuk menikah tanpa berembug dengan keluarganya…. tidak ada masalah (dengan berbagai konsekuensinya termasuk dianggap menentang budaya).
  2. Dalam budaya Indonesia secara umum, setiap individu terikat pada rumpun keluarganya sehingga setiap tindak tanduknya dan setiap keputusan penting yang akan diambilkan (terlebih soal pernikahan) perlu didiskusikan dengan sanak keluarganya (khususnya orang tua). Seperti yang aku tulis di bagian # 1, menurutku meskipun ini budaya tetapi tidak merupakan satu keharusan….. tetapi…. ketika seseorang memutuskan untuk bersikap yang berbeda dengan adat, ketika seseorang memutuskan untuk menjadi mahluk individu dan membuat keputusan-keputusan penting ini tanpa merasa perlu melibatkan sanak keluarganya, dia pun harus sudah memahami bahwa ada tanggung jawab moral untuk tidak membebani sanak keluarganya dengan segala hal yang terkait dengan keputusan yang diambilnya.
    Karena itu, ketika kemudian, setelah mengambil keputusan tanpa diskusi, tanpa minta pendapat dari orang tua lalu kemudian kembali ke orang tua untuk minta dana untuk membiayai keputusannya, menurutku ini sudah jungkir balik prosesnya…. Menurutku sih ini terlalu!  Menampilkan diri mandiri tapi tidak mandiri.. :(
  3. Dalam budaya Indonesia secara umum, keluarga (utamanya orang tua) akan menanggung biaya pernikahan anaknya (baik laki-laki maupun perempuan). Meskipun menurutku ini tidak salah tapi aku memilih untuk melihatnya dengan cara berbeda. Bila anaknya perempuan, maka menjadi kewajiban orang tua sang perempuan untuk menikahkan. Dengan pertimbangan itu, aku memandang memang orang tua memiliki tanggung jawab untuk menanggung biaya yang timbul dari proses pernikahan dan walimahnya sesuai dengan kesanggupannya. Tapi bila anaknya laki-laki, dengan pertimbangan nomor 1 tadi, aku memandang, orang tua tidak punya kewajiban untuk itu. Seorang anak laki-laki harus memikul beban tanggung jawab ini. Kalau pun dalam prakteknya orang tua seringkali membantu (dalam porsi yang cukup banyak bahkan mungkin semuanya), aku memandang bantuan orang tua ini bukan satu kewajiban tapi lebih merupakan bentuk ungkapan kasih sayang (bila orang tuanya memiliki kecukupan). Dengan pikiran seperti itu, ketika orang tuanya tidak memiliki kecukupan, tidaklah pantas menganggap orang tua laki-laki ini tidak bertanggung jawab seperti tulisan yang aku cuplik ini.

Menurutku, menjadi laki-laki dibarengi tanggung jawab untuk menjadi seorang pemimpin. Dan seorang pemimpin harus menampilkan dirinya sebagai orang yang tangguh dan bertanggung jawab (dalam segala maknahnya).

Umum bangetAugust 31, 2009 4:08 am

Kira-kira 3 bulan lalu, salah satu teman di kantor ngirim beberapa kriteria orang yang addicted to facebook dan waktu itu aku reply dengan nulis kira-kira, "Syukur, aku cuma masuk 2 dari beberapa kriteria itu, jadi belum ketagihan…"

Sekarang….. koq jadi ketagihan bener……………….. sampai Dhyaksa juga ketagihan tapi ketagihan main games di facebook.

Perasaanku.August 18, 2009 9:53 pm

Malam ini, kerinduan itu menyeruak, kerinduan akan seorang guru yang sangat cerdas yang melaksanakan tugasnya dengan tanggung jawab.

Malam ini, kerinduan itu menyeruak, kerinduan akan hari-hari indah yang ku lalui sebagai seorang murid di sebuah SMP, kerinduan menjadi murid yang merasakan kasih sayang guru dalam pelajaran-pelajaran yang diberikan beliau di kelas.

Malam ini, air mataku menitik, semak rasa dalam dadaku menahan keharuan mengenang masa lalu yang indah yang aku lalui di sekolahku yang di kelilingi sawah.

Malam ini, kerinduanku pada sosok guru terbaik yang pernah aku miliki, Pak A.H. Hasibuan mengisi relung-relung batinku. Tak terasa sudah 5 tahun sejak terakhir aku bertemu beliau.

Temanku Widjanarko menulis di wall facebook-ku (Agustus 11, 2009):

Bro, masih inget dak sepenggal kalimat:……"Tuti you are my best student"….

yang aku jawab,

Kalu lihat format kalimatnyo, itu punyo Pak Rabun Sutrisno Dwijowardojo, salah sikok guru yang menurutku oke punya..
Yang aku dak biso lupo tu caro pengucapan best beliau yang betul-betul njawani….

Pak Rabun, sedikit guru yang aku anggap selalu faham apo yang diajarkenyo luar dalam dan pelajaran apo pun yang beliau ajarke nak Fisika, Geograpi atau pun pelajaran lain, aku merasoke pendalaman beliau yang luar biasa; indikasi kecerdasan luar dalem..

Sehari sebelumnya, Widjanarko juga nulis di wall group alumni SMP Negeri 30 Palembang di facebook

Untuk Bp. Raboen Soetrisno Dwidjowardojo (Alm), yang selalu memotivasi Angkatan II dengan kisah keberhasilan anaknya di Australia,"TUTI YOU ARE MY BEST STUDENT." (kata-kata tsb pasti diingat setiap siswa-siswanya). Dan untuk "The Unforgetable Suhu", Bp. Abdul Halim Hasibuan………….salut……

yang aku tanggapi

Widja,
Tulisanmu tadi siang di wallku betul-betul menyentuh..
Pak Rabun dan Pak Hasibuan; 2 guru SMP 30 yang nimbulkan kesan. Guru yang berdedikasi, cerdas dan punyo visi yang jelas.

dan dijawab Widja dengan

Inget lagi waktu mbantu Bapak kito tu pindah rumah……. bener-bener unforgetable moment…..
Beliau pernah ke kantor aku waktu masih di Jl. Kol. Atmo……. haru nian,…… apolagi kalo ketemu kau
—-(deleted by Surya Ahdi)—-…….pacak digendongnyo kau…..

dan aku jawab dengan keharuan dan rasa rindu yang menyeruak..

Aku pernah ketemu beliau tahun 2004, ado bapak-bapak datang-datang langsung meluk dan ncium pipi aku sementaro aku bengong,….belum sadar kalu itu Pak Hasibuan. Sudah diciumnyo, baru aku lihat beliau dan sadar kalu aku sedang ketemu salah sikok guru terbaik yang aku punyo.. salah sikok guru yang bukan cuma pinter tapi jugo penuh dedikasi dan bangga dengan tugasnyo.

dan aku pun menulis di wall facebook-ku

Surya Ahdi menikmati kerinduan pada hari-hari lalu; saat indah merasakan didikan beberapa guru terbaik yang cerdas, penuh dedikasi dan mencintai tugas dan tanggung jawab yang diembannya. Menikmati rasa pedih dan sedih dalam kerinduan yang membahagiakan. Semoga kebahagiaan dan rahmat Allah selalu menyertai beliau-beliau ini….
Keindahan, Sejarah..., Aku belajarAugust 8, 2009 9:17 pm

Siang itu, aku nonton berita di tv dan ada penampilan W.S. Rendra di Universitas Indonesia tahun 1977. Penampilan yang garang dan menggetarkan jiwa….. Malam ini, ku tanya paman youtube dan ku temukan;

http://www.youtube.com/watch?v=DdwQFoB7Tcc

Matahari terbit pagi ini
Mencium bau kencing orok di kaki langit
Melihat kali coklat menjalar ke lautan
Dan mendengar dengung lebah di dalam hutan

Lalu kini, dia dua penggala tingginya
Dan ia menjadi saksi
Kita berkumpul di sini memeriksa keadaan

Kita bertanya
Kenapa maksud baik tidak selalu berguna
Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga

Orang berkata
Kami punya maksud baik
Dan kita bertanya
Maksud baik saudara untuk siapa

Ya
Ada yang jaya
Ada yang terhina
Ada yang bersenjata
Ada yang terluka
Ada yang duduk
Ada yang diduduki
Ada yang berlimpah
Ada yang terkuras

Dan kita di sini bertanya
Maksud baik saudara untuk siapa
Saudara berdiri di pihak yang mana

Kenapa  maksud baik dilakukan
Tetapi makin banyak petani kehilangan tanahnya
Tanah-tanah di gunung
Sudah menjadi milik orang-orang di kota
Perkebunan yang luas
Hanya menguntungkan segolongan kecil saja
Alat-alat kemajuan yang diimpor
Tidak cocok bagi petani yang sempit tanahnya

Tentu saja kita bertanya
Maksud baik saudara untuk siapa
Kita mahasiswa tidak buta
Jangan matahari semakin tinggi
Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala
Dan di dalam udara yang panas
Kita juga bertanya
Kita ini dididik untuk memihak yang mana
Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini
Akan menjadi alat pembebasan
Ataukah akan menjadi alat penindasan
Kita menuntut jawaban

Sebentar lagi matahari tenggelam
Dan malam tiba
Cicak-cicak bernyanyi di tembok
Rembulan berlayar
Tetapi pertanyaan-pertanyaan kita tidak akan mereda
Ia akan muncul di dalam mimpi
Akan tumbuh di kebon belakang

Dan esok hari
Matahari akan terbit kembali
Senantiasa hari baru akan menjelma
Pertanyaan-pertanyaan kita akan menjadi utan
Atau masuk ke kali
Akan menjadi ombak di samudera
Di bawah matahari yang ini
Kita bertanya
Ada yang menangis
Ada yang mendera
Ada yang habis
Ada yang mengikis
Dan maksud baik kita memihak yang mana

Pikiranku, Keindahan, keluargaku, Sejarah..., Perasaanku. 6:04 am

Anakku, Adeanna, ku dengar lagu ini di masa kecilku, di awal-awal masa sekolahku. Ku dengar ibuku, Kajutmu, mengajarkan lagu ini di kelas yang beliau ajar; sebuah lagu indah tentang cinta pada tanah air, tentang bakti pada bangsa yang ku cintai, lagu pujian tentang gugusan pulau yang menjadi negeriku.

Di masa kecilku, dengan pemahamanku yang belum sempurna, ku nikmati keindahan lagu ini, ku nikmati nilai-nilai yang ditanamkan lagu ini dan kunikmati suara merdu ibuku menyanyikan lagu ini.

Anakku, di minggu-minggu awal kelahiranmu, lagu ini menemani hari-harimu di kamar pojok rumah Kerinci # 36, lagu yang ku nyanyikan dengan penuh perasaan dan terkadang lelehan air mata penuh doa supaya kau menjadi anakku yang mencintai bangsamu, mencintai tanah air kita. Ku nyanyikan lagu ini dengan penuh perasaan diiringi gitar yang aku pinjam dari temanku; Meidian Prima.

Pagi ini, anakku, kembali ku nyanyikan lagu ini dan kembali air mataku tak terbendung. Ku tulis pesanku ini padamu dengan air mata yang berlinang. Ku tulis catatan kecilku ini dengan cintaku padamu, dengan cintaku pada tanah airku dan cintaku pada bangsaku. Ku tulis catatan ini juga dengan doa dan harapan-harapan besar tentang doa yang ku titipkan dalam namamu.

Anakku, menjadi apa pun kau dalam hidupmu, pilihan hidup apa pun yang kau pilih dalam hidupmu. Aku percaya kau akan selalu memilih yang terbaik bukan cuma untuk dirimu tapi juga untuk bangsa dan tanah airmu.

Anakku, Bapa dan Ibuku, Unggang dan Kajutmu, sudah menunjukkan dan membuktikan cinta dan hormatnya pada bangsa dan tanah airnya dengan baktinya; memilih kembali ke desanya mengabdi membangun dalam pendidikan dan melupakan iming-iming keindahan dan kemudahan hidup yang mereka bisa raih di masa muda mereka. Kini, anakku, saat kalian, saatnya kita semua membuktikan cinta dan bakti kita pada bangsa ini, pada tanah air kita.

Anakku, air mataku masih berlinang, seduh sedanku masih belum bisa ku akhiri…

Tanah Tumpah Darahku
gubahan Cornel Simanjuntak dan Sanusi Pane

Tanah tumpah darahku yang suci mulia
Indah dan permai bagaikan intan permata
Tanah airku tanah pusaka ibuku
Slama hidupku aku setia padamu

   Kali gunung langitmu yang biru nirmala
   Pantai hutan lautmu ku cinta semua
   Tanah airku ku puja kau di hatiku 
   Terima salamku hormat setia padamu

Bumi ibu pertiwi yang suci mulia
Indah berseri bagaikan taman segara
Tanah airku tujuan segala daya
Dirgahayulah diri ratuku bahagia

catatan:
Anakku Dhyaksa dan Ananta, catatan kecil ini pun aku tujukan untuk kalian. Mudah-mudahan kalian bertiga, anak-anakku, akan selalu menjadi suluh dan pelita hati dan hidupku untuk tetap berjalan lurus meniti hari-hariku; meniti hari-hari dengan keyakinan dan integritas yang ku yakini

PikirankuAugust 5, 2009 6:12 am

"Kalo’ anda masih selalu perlu disuapi,.. anda belum bisa jadi pemimpin"

Sebuah kalimat yang penuh maknah yang perlu selalu diucapkan setiap mulut dengan perlu memastikan telinga yang dekat dengan mulut mendengar kalimat itu dengan jelas. Kalimat yang perlu dicernah dengan ketenangan batin, mencermati setiap kata yang terucap dengan kejernihan hati, tanpa emosi - proses mendengar yang perlu dibarengi dengan proses belajar menjadi lebih baik.

Seorang pemimpin harus menjadi nakhoda yang bukan cuma memiliki mimpi, memerintahkan para kelasi menjalankan tugasnya tapi juga menjadi penentu langkah-langkah yang harus dijalankan dan mengambil keputusan di saat-saat kritis. Diperlukan pendalaman bukan hanya apa yang terlihat di luar tapi juga pendalaman fakta-fakta tersembunyi yang tidak terlihat di permukaan. Seorang pemimpin, perlu mengenali medan perangnya. Mengenai tantangan dan juga kesempatan-kesempatan yang tersembunyi.

Ketika melihat sesuatu yang baik, seorang pemimpin perlu menyelam lebih dalam untuk mendapatkan gambaran yang benar apakah yang terlihat baik memang baik atau hanya baik di permukaan dengan segala lubang-lubang di bagian dalamnya. Apakah keindahan yang dinikmati memang keindahan hakiki atau hanya sebuah keindahan fatamorgana.

Seorang pemimpin memang harus menghargai semua yang baik dan mengappresiasinya. Namun demikian menikmati yang baik tanpa pendalaman apa yang tersembunyi di belakangnya hanya akan menyisakan keruntuhan yang tinggal menunggu waktu.

Ketika melihat sesuatu yang jelek pun, seorang pemimpin perlu melihat lebih jernih; apakah keburukan yang terlihat memang buruk atau tersimpan potensi-potensi kebaikan yang akan sangat mudah terlihat dengan hanya menyibak tabir yang menyelimutinya. Seorang pemimpin perlu melihat segala sesuatu dari sudut pandang keliling (360 derajat) supaya bisa menyibak fakta-fakta dan kenyataan-kenyataan di sekelilingnya.

keluargakuAugust 3, 2009 6:09 pm

Minggu lalu, pertama kalinya Ananta aku ajak naik sepeda. Dia duduk di tempat dulu anak-anak yang memang dipasang di belakang sepeda dan setelah hampir satu putaran ngelilingi sibayak,… dia ketiduran di atas sepeda. Konsekuensinya,….. aku pun harus turun dari sepeda dan minta bantuan Adeanna nggendong Ananta sementara aku ndorong 2 sepeda sekaligus dengan jalan kaki.

Hari minggu, kembali Ananta naik sepeda. Dia duduk di belakang sepeda yang dikendarai Dewi sementara aku dan Adeanna ngawal dari belakang. Setelah capek’ sepedaan kami pun berhenti di playground, mbiarkan Adeanna main prosotan dengan Ananta. Sepertinya anak ini menikmati meskipun terlihat agak ngeri-ngeri….tapi ketagihan.

Masih di minggu lalu, Ananta mulai naik motor-motoran untuk anak-anak yang dulu tahun 2003 aku beli 750 ribu di Dumai. Dulunya sih, motor-motoran ini memang bisa digas dan bisa dikendarai anak-anak dengan kecepatan maksimal sekitar 30 km/jam. Tapi sekarang nggak bisa lagi. Aku nggak tahu masalahnya di baterinya atau ada konslet karena dulu seingatku Dhyaksa suka mainin motor-motoran ini di pasir sebelum rusak.

Ananta sepertinya betul-betul menikmati permainannya yang baru. Dia bolak-balik naik, turun, naik, turun dan terus seperti itu sampai kemudian dia betul-betul duduk di atas motor-motoran itu dan sibuk mempermainkan alat yang menyerupai radio komunikasi polisi.

Hari minggu sore, Ananta pun kami bawa toko sepeda, mbeli sepeda untuk anak 1 tahun dan sekarang dia sudah mulai sibuk naik-turun sepedanya…tapi…begitu sepedanya didorong, dia akan bergegas turun tanpa perduli sepedanya sedang jalan. Sepertinya dia takut jatuh.

Tapi…. dia sepertinya begitu menikmati kalo’ Adeanna yang naik sepedanya. Begitu dilihatnya Adeanna naik sepeda kecil itu, Ananta dengan gembira akan langsung ndorong keliling living room bahkan sempat-sempat masuk ke ruang makan dan ruang tidur.

Umum banget 5:59 pm

Sudah jadi sesuatu yang biasa sih sebetulnya, tapi lama kelamaan jadi merasa aneh juga. Sering kali aku nemukan orang nulis namaku salah, bahkan ada kecenderungan sudah dieja pun hasilnya tetap salah. Ahdi ditulis Adhi.

Sore ini pun aku menemukan keadaan yang sama. Minggu lalu aku njahitkan 2 stel pakaian kerja di tukang jahit langganan di gate 4 dan janjinya bakal selesai hari ini. Lunch break siang ini, aku mampir ke tukang jahit itu dan dapat jawaban kalo’ pakaiannya sudah selesai tapi belum bisa diserahkan karena bordiran lambang Chevron dan namaku masih dikerjakan oleh tukang bordir…. (yang jadi sub-contractor nya sang tailor? hmmm).

Untuk gampangnya, aku pun mbayar 2 stel pakaian itu 250 ribu terus aku pulang dengan kwitansi supaya bisa diurus pengembalian biayanya di kantor karena office assistant di kantorku sudah nagih kwitansinya tadi pagi; sudah banyak yang harus dia urus supaya jangan kelamaan. Perjanjiannya sore ini pakaian akan diambil anak-anak.

Pulang kerja, pukul 5 lewat sedikit, ternyata pakaiannya sudah ada di kamar dan begitu dicoba langsung terlihat namaku ditulis "Surya Adhi". Hmmm…… setelah nimbang-nimbang mau dibuang bordirannya sendiri, dikembalikan ke tukang jahit  atau dibiarkan seperti adanya; akhirnya aku pun mutusin mbiarin aja pake’ nama yang bukan namaku itu.

Pertanyaannya apakah memang sudah untuk tahu kalo’ nama yang bener itu Surya Ahdi sih? Koq bolak-balik orang nulisnya terbalik h dan d…. jengkel juga tapi mau marah ke siapa?..

Umum bangetJuly 25, 2009 8:03 pm

Awal minggu ini aku nyiapin paket kurang lebih 6.5 kg untuk dikirim ke Palembang. Pengen tahu biaya kirimnya berapa aku pergi ke salah satu perusahaan ekpedisi besar nasional yang punya counter di Duri dan dapat jawaban "biaya kirimnya 130 ribu"…. hmm…

Tiga hari yang lalu Dewi cerita kalo’ keluarga di Palembang ncoba teknik pengiriman yang aku dengar memang sudah lazim dilakukan beberapa orang Palembang di Duri; lewat IMI, perusahaan transportasi kelas ekonomi yang melayani (antara lain) Palembang - Dumai. Kiriman pempek dikirim dengan biaya 35 ribu… hmm.. menarik.

Kemarin sore, kami ke loket IMI di desa harapan dan dapat jawaban, "nggak ada tu kiriman dari Palembang". Nah lho…., jengkel kan. Terus nelphone ke Palembang dan dikonfirmasi ulang ke loket IMI yang di Palembang dan dapat jawaban, "mobil yang berangkat sore, rusak. Jadi pengiriman baru dilakukan tadi pagi" - maksudnya kemarin pagi.

Wah… gawat nih, pempek, dari kemarin dulu baru dikirim kemarin dan artinya baru nyampe di rumah siang ini… bisa runyam tu. Apa pempeknya masih bagus? Apa pempeknya nggak basi? Hmm…..

Sedikit lewat pukul 11 pagi ini, Dewi nelphone dulu ke loket IMI di Duri dan dapat jawaban kalo’ paket sudah sampai. Ke sana deh ngambil paket ini dan alhamdulillah, ternyata kiriman pempek dari Palembang ke Duri bisa tahan 2 hari tanpa disimpan di kulkas; atau jangan-jangan masih bisa tahan sampai 3 hari ya dengan packaging yang pas. Berarti, kalo’ ada acara di Duri, bisa nyajikan pempek asli dari Palembang nih.

Sambil ngambil paket pempek dari Palembang, kiriman 6.5 kg ke Palembang yang belum dikirim pun dititipkan ke IMI dengan biaya kirim hanya 25 ribu. Gede kan perbedaan biaya kirimnya 105 ribu dengan kualitas pengiriman yang sama bahkan IMI bisa lebih cepat karena kalo’ lewat perusahaan ekpedisi nasional itu lusa baru bisa diterima di Palembang sedang pake’ IMI bisa diterima besok (atau lusa the worst case). Perbedaannya cuma kalo’ lewat perusahaan ekpedisi diterima di rumah kalo’ lewat IMI harus dijemput di loket. Tapi ya…. tetap nggak ngaruh. Sepertinya untuk pengiriman-pengiriman yang nggak confidential, IMI jadi lebih menarik..

Persaingan yang nggak imbang untuk kualitas pelayanan yang tidak berbeda….

keluargakuJuly 18, 2009 8:46 pm

Dari sekitar pukul 5 sore sampai pukul 8 malam ini, kami sekeluarga nonton film ini; semacam lanjutan dari film prince narnia yang sangat bagus dan sempat ada game segala macem di PS.

Meskipun film ini menurutku bagus dan menawarkan banyak hal positif untuk diajarkan pada anak-anak, tapi posting ini nggak mbahas soal filmnya. Aku justru pengen ndokumentasikan kesan yang menarik waktu nonton; khususnya di adegan pertempuan antara pasukan caspians dengan pasukan narnians.

Kesan yang menarik justru ngamati tingkah laku Ananta waktu nonton film ini. Saat pertempuran di tv sedang berkecamuk, Ananta justru berdiri tegak di depan tivi, berdiri dengan posisi sikap sempurna sambil tangannya menunjuk-nunjuk seperti memberi perintah dilengkapi dengan kalimat-kalimat aneh dengan nada perintah.. kalimat-kalimat yang tentu saja tidak bisa dipahami karena anakku yang umurnya baru 13 bulan ini memang belum bisa berbicara.

Yang membuatku tersenyum justru pola, tingkah dan caranya ngomong yang mengesankan dia sedang memberi perintah pada sekumpulan pasukan. Tingkah yang membuat aku peluk dia dan langsung bilang, "Anakku, kau mendapat restuku untuk jadi tentara kalau kau mau. Aku restui kau menjadi seorang jenderal."

Aku selalu menyukai tentara (dan selalu nggak suka polisi…he..he..he..) dan waktu kecil aku juga suka main perang-perangan dengan teman-teman dan aku jadi jenderalnya (-:). Dan malam ini, melihat tingkah Ananta, aku jadi ingat kalo’ dulu, aku suka sekali pramuka dan menjadi pemimpin pasukan pramuka dan membayangkan diriku menjadi seorang kapten yang memimpin sekelompok tentara.

Dan malam ini….. aku melihat anakku, Ananta yang baru 13 bulan bertingkah seperti tentara yang di satu sisi menimbulkan kegelian dalam hati tapi di sisi lain juga membangkitkan ingatanku akan masa kecilku.

Anakku… kau bebas menjadi apa pun yang kau inginkan selama yang kau pilih baik untuk dirimu dan baik untuk masyarakat di sekelilingmu. Dan kau pun bebas untuk menjadi seorang tentara bila itu yang kau pilih suatu saat.

Seperti doa yang kutitipkan dalam namamu, Ananta Wiratama Putra; doaku selalu bersama mu untuk menjadi seorang perwira utama dalam kehidupanmu. Mudah-mudahan itu selalu menjadi pegangan hidupmu, amien.

Umum bangetJune 19, 2009 5:50 pm

http://jemedusun.multiply.com/photos/album/7/Rumah_Plaju#2

Good bye Kijang BG 2755 AW…. Setelah sekitar 7.5 tahun memilikimu sejak Desember 2001, akhirnya hari Rabu (17 Juni 2009) lalu, kau resmi bukan menjadi milikku lagi.

Dari Desember 2001 sampai Maret 2006, kau sudah membawaku dan keluargaku berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Membawaku dalam perjalanan Duri - Palembang dan perjalanan-perjalanan lain. Setelah kau ku standby-kan ke Palembang di Maret 2006, kau pun menjelajah Palembang, Kedaton, Baturaja ……… sampai akhirnya, 17 Juni 2009, kau resmi ku jual. Kau berpindah tempat parkir harianmu dari halaman rumah di Plaju ini ke salah satu halaman rumah di perumahan pegawai transmigrasi batumarta……

Kau memang bukan milikku lagi…, tapi kau tetap akan terus menjadi mobil pertamaku…

keluargakuJune 13, 2009 7:19 pm

Seperti biasa, kalo’ hari libur waktunyo santai… (katanya!). Tapi pagi ini, setelah ke sekolah Adeanna nyelesaikan proses daftar ulang, kami ke Ramayana mbeli buku-buku tulis untuk hadiah kenaikan kelas murid kelas IIE SD Cendana, kelas Dhyaksa. Di perjalanan pulang, mampir dekat kantor camat, mbeli duren yang baru turun dari truk. Harganya 3 buah 30 ribu (padahal dari FB aku tahu kalo di Palembang sekarang harga duren 3500/buah).

Sampai di rumah, mbuka duren-duren itu untuk anak-anak makan. Aku sih cuma nyicip dikit-dikit aja tapi efeknya langsung terasa; badan mulai pegal-pegal. Satu kondisi yang sudah aku rasakan dalam 2 tahun terakhir; kalo’ makan duren, tinggal tunggu efek sampingnya. Karena itu after lunch aku habiskan tidur sampai dibangunkan Dewi untuk kumpul-kumpul alumni Unsri di rumah kak Firman Hanif di komplek kerinci.

Sebelum ke rumah kak Firman, njemput anak-anak dulu ke swimming pool, latihan renang dan ngedrop mereka pulang. Nah…. dalam perjalanan pulang ini aku tertegun, tersenyum dan sempat ?><A??<<? mencari jawaban untuk satu shocking question yang ditanyakan Adeanna.

"Pap, Ayuk boleh nanya ya?"
"Nanya aja. Mau nanya apa?"
"Anu, Pap. Kalo’ orang yang sudah nikah itu, laki-laki sama perempuan, boleh nggak buka baju?"
"Ya, boleh aja…. kan di kamar mandi, orang buka baju kan waktu mandi"
"Bukan gitu Pap, maksudnya….. di kamar, suami istri itu nggak pake’ baju, cuma pake’ celana aja"

Sampai di titik ini aku tertegun; tersenyum dengan menunggu pertanyaan lanjutannya.

"Pap, boleh nggak?"

Sampai di titik ini, aku harus menjawab dan aku jawab,

"Boleh!"
"Koq boleh Pap?"
"Suami istri itu setelah nikah boleh"

Dhyaksa pun ikutan ngomong,

"Nggak dosa Pap?"
"Ya nggak. Suami istri itu, memang dua orang. Tapi mereka itu satu" —— jawaban yang aku yakin tidak mereka pahami.
"Jadi boleh Pap suami istri itu di kamar dua-duanya nggak pake’ baju?"
"Boleh"
"Kalo’ nggak pake’ celana Pap?" - tanya Dhyaksa
"Boleh aja"
"Kelihatan semuanya Pap? Emang boleh?"
"Boleh"
"Nggak dosa Pap?"
"Ya nggak. Kalo’ belum nikah nggak boleh, berdosa. Tapi kalo’ sudah nikah, boleh"

Sampai di titik ini Adeanna kembali ngomong,

"Tapi koq Ayuk sama Kakak nggak pernah lihat Papi sama Mama nggak pake’ baju di kamar?"
"Iya, nggak. Masak Papi sama Mama nggak pake’ baju ada anak-anak. Nggak mungkin kan?"

Waktunya masukkan pesan

"Karena itu, kalo’ pintu kamar orang tua ditutup, anak-anak nggak boleh nyelonong masuk. Anak-anak harus ketuk pintu dulu dan jangan buka pintu kecuali sudah diizinkan masuk."

Dan waktunya ncari tahu koq timbul pertanyaan aneh ini

"Koq anak-anak mendadak nanya ginian sih? Ada apa tadi di kolam renang?"
"
1Nxxxxx tadi cerita kalo’ Abi sama Uminya nggak pake’ baju di kamar" - 1Nxxxxxx itu nama seorang anak, temannya anak-anak. Anak yang kami juga kenal keluarganya.
"Terus?"
"
Iya, dia cerita gitu. Berdosa nggak Pap kalo’ anak-anak lihat orang tuanya nggak pake’ baju gitu?"
"Nggak boleh. Anak-anak nggak boleh lihat orang tuanya nggak pake’ baju."

Setelah anak-anak turun di rumah; sambil meneruskan perjalanan ke komplek kerinci, aku dan Dewi ngobrolin pertanyaan menarik anak-anak sore ini. Di satu sisi, pertanyaannya mengejutkan tapi di sisi lain pertanyaannya bagus, kritis dan harus dijawab dengan jawaban yang benar yang memberikan gambaran yang benar pada anak-anak tanpa masuk terlalu jauh atau mengundang pertanyaan yang lebih detail.

Mudah-mudahan jawaban-jawabanku memberkan gambaran yang benar pada anak-anak dan membuat mereka menjadi lebih baik, amien..

keluargakuJune 12, 2009 6:38 am

Malam Senin, Adeanna belajar agama untuk persiapan ujian hari pertama. Fokus pelajarannya mengenai mukjizat-mukjizat yang dimiliki para nabi serta isro’ mi’raj. Pelajaran dimulai dari maknah bahasa dan diteruskan dengan maknah perjalanan, proses perjalanan, proses penyampaian berita dan penolakan orang-orang di mekah dan penerimaannya.

Hari Senin siang, Adeanna cerita kalo’ dia senang sekali hari itu karena bisa njawab semua pertanyaan dengan benar. Bahkan ketika pertanyaannya cuma minta 3 dari 10 hal, dia berani menuliskan 10 hal itu semuanya dan bukan cuma 3. Dia juga cerita kalo’ dia nyium-nyiumi kertas soal karena senang. Intinya dia menikmati harinya karena dia merasa berhasil dan sukses….

Hhmmm…. waktunya indoktrinasi dan aku betul-betul lakukan indoktrinasi bahwa semua orang itu pintar, cerdas dan memiliki kemampuan. Yang membedakan cuma mereka yang belajar akan jadi pintar sementara mereka yang tidak belajar tidak pintar. Kalo’ mau pintar harus rajin-rajin belajar.

Aku juga jelaskan kalo’ belajar itu bukan lamanya belajar yang penting tapi proses belajar dan kecerdikan memanfaatkan sarana yang ada untuk mempercepat proses mengingat dan memahami. Lama belajar tapi tidak faham tidak ada nilainya.

Untuk njelaskan maknah ungkapan ke-2 ini aku ajak dia kembali ke malam Senin yang proses belajarnya cuma 45 menit tapi dia bisa mengingat dan faham semua yang harus dipelajarinya. 10 item bisa di hafal dengan mudah, begitu juga yang lain seperti 13 rukun sholat bisa dihafal dengan mudah dengan memanfaatkan apa yang ada termasuk dengan penyingkatan.

Sepertinya dia faham dan mudah-mudahan dia akan praktekkan lagi.

Malam selasa, belajar matematika dan hari selasa siang aku dapat cerita kalo’ tidak semua soal dapat dijawab dengan benar semuanya tapi kebanyakan jawabannya benar.

Malam rabu, belajar IPS dan siangnya aku terkagum-kagum sekaligus keheranan karena Adeana cerita lagi kalo’ dia tidak bisa menjawab semua pertanyaan dengan benar. Pelajaran IPS kelas 3 sekarang ternyata mirip dengan pelajaran IPS siswa SMP kelas 1 jaman dulu. Jenis uang kartal dan uang giral ternyata sudah dipelajari di kelas 3 SD. Begitu juga konsep pasar, konsumen, produsen juga sudah dipelajari di kelas 3.

Tapi… yang menarik bukan itu. Adeanna bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan konsep-konsep sosial itu dengan benar karena belajarnya komprehensif. Yang dia tidak bisa jawab justru pertanyaan sederhana yang aku tidak tahu apa tujuannya ditanyakan di ujian sekolah.

"Gambar pahlawan apa yang ada di lembaran uang Rp.5000,-?"

Satu pertanyaan aneh yang sejujurnya aku nggak bisa memahami tujuannya apa dan manfaatnya apa untuk dijadikan soal ujian sekolah. Menurutku bukan gambar siapa yang penting untuk dipahami siswa tapi nilai uang Rp.5000 itu; "nilai intrinsik"nya atau pun nilai lainnya. Dengan guyonan aku cuma nyengir dan ngomong ke Dewi, "Ini ujian sekolah atau kuis di TV sih?"

KulinerMay 26, 2009 8:28 pm

Masih minggu lalu, Dewi cerita kalo’ Dewi, temannya, istri salah satu teman - tetangga di Krakatau dulu cerita kalo’ ada tempat jajan bakso baru di jalan Hang Tuah. Waktu lewat hari Sabtu lalu, kami memang ketemu tempatnya tapi nggak mampir.

Malam ini, dicoba deh ke pondok bakso "Mekar". Lokasinya tidak jauh dari rumah makan kapau di jalan hang tuah. Mesan 3 porsi mie ayam dan 2 porsi bakso. Setelah itu, nambah lagi satu porsi dengan pesan khusus pada sang penjual, "mie-nya agak banyak ya" dan ternyata setelah mie ayam tambahan ini datang, porsinya tetap tidak banyak. ;)

Setelah makan, sambil nunggu Adeanna menyelesaikan makannya aku ngobrol dengan sang penjual yang wajahnya mirip dengan Mbah Raji, tukang urut yang punya banyak pelanggan di dalam camp. Dan ternyata memang yang jual ini anak Mbah Raji.

Makanannya gimana?
Komentarku sih sederhana (dan aku sudah sampaikan ke yang njual); mie ayamnya enak tapi porsinya kekecilan. Aku makan 2 porsi masih belum kenyang juga (nah lho….). Positifnya yang jual nanggapi feedback itu dengan konstruktif dan mudah-mudahan aja kalo’ mampir ke sana lagi porsinya jadi lebih besar. Di luar urusan porsi, menurutku mie ayam di sini paling enak di Duri saat ini.

Kuliner 8:19 pm

Akhir minggu lalu aku dapat cerita dari kolega di kantor kalo’ dia dan istrinya ikut dalam peresmian library cafe di lokasi bekas library di dekat komplek Merapi, CPI, Duri. Katanya sih harganya relatif murah dan menunya lengkap…. (sekali lagi "katanya")

Malam Kamis minggu lalu, perpisahan seorang expat yang bertugas di REM dan kembali aku mendengar ada yang cerita tentang library cafe tapi dengan nuansa yang berbeda; menunya biasa saja tapi majalah yang ada di sana majalah bekas…. (sekali lagi "katanya").

Kamis menjelang lunch time, kami sekeluarga pun ke sana dan mesan minum dan makanan. Kesan pertama yang muncul, ternyata banyak yang ada di daftar menu sebetulnya nggak tersedia; jadi ya… milih makanan yang standard saja dan hebatnya……. acara nunggu setelah mesan itu bukan cukup lama tapi sangat lama padahal cafenya sepi. Cuma ada sekitar 15 orang konsumen aja. Tapi nunggu minumnya hampir 30 menit; makanannya lebih lagi.

Waktu makanannya datang ternyata rasanya biasa aja tu… Secara umum; menurutku sih….. cafe yang dioperasikan hotel pangeran ini tidak istimewa. -:)

Sejarah...May 15, 2009 8:41 pm

".. Di awal abad ke-20, …. Indonesia menggugat, menggugat penjajahan……. Di awal ke-21 ini,….. Indonesia juga menggugat; gangguan dari luar dan juga gangguan dari dalam…."

Malam ini, aku menyaksikan kearifan, kerendahan hati, kesantunan berpolitik dan keahlian menangapi kritik yang tidak proporsional yang banyak terdengar dalam 3-4 hari terakhir.

Pidato politik pasangan calon presiden SBY dan juga calon wakil presiden Prof. Boediono menunjukkan bukan pidato berkualitas yang disampaikan sekedar lips service, tapi terlihat sebagai keteguhan sikap untuk melakukan yang terbaik untuk bangsa dan negara.

Mudah-mudahan; pasangan ini bisa menjadi presiden dan wakil preside Republik Indonesia mendatang yang akan membawa Indonesia pada kehidupan berbangsa yang lebih baik, amien.

http://pemilu.detiknews.com/read/2009/05/15/204005/1132314/700/boediono-ri-butuh-pemimpin-yang-tak-campuradukkan-bisnis-keluarga

http://pemilu.detiknews.com/read/2009/05/15/203644/1132312/700/boediono-saya-akan-buat-ri-lebih-sanggup

http://inilah.com/berita/politik/2009/05/15/107356/alasan-sby-pilih-boed-tidak-carmuk/

http://inilah.com/berita/ekonomi/2009/05/15/107361/boediono-ekonomi-ri-tak-full-ke-pasar-bebas/