Hari ini aku ke kantor cuma setengah hari karena pagi tadi aku sudah minta izin untuk urusan dinas ke Dumai, photo dan sidik jari di imigrasi dumai - perpanjangan passport. Anak-anak juga hari ini izin nggak sekolah.
Karena urusannya urusan dinas, karena passport untuk aku itu bagian dari kebutuhan kerja - he…he…he… sok dan gaya..he…he…he.. - jadi aturan transportasi antar distrik harus diikuti dengan konsisten, tidak menggunakan kendaraan pribadi tapi naik bis interdistrik. Kami pergi ke Dumai naik bis keberangkatan pertama, pukul 07.00 berangkat dari terminal bis interdistrik di Duri. Sampai di Dumai menjelang pukul 08.30, langsung naik kendaraan kecil perusahaan ke kantor imigrasi Dumai, di-drop.
Begitu masuk ke kantor imigrasi, aku langsung menghubungi staff kontraktor yang standby di sana. Setelah ketemu langsung masuk di ruang tunggu sampai dapat nomor tunggu untuk panggilan diphoto, diambil sidik jari dan wawancara.
Sekitar pukul 09.30, Adeanna dipanggil, terus photo, sidik jadi dan wawancara. Yang unik seperti biasa, mencocokkan namaku Surya Ahdi yang masih tetap sering salah ditulis Andi, Hadi, dsb. Kalo’ petugas yang mewawancarai tadi, namanya sulit..he…he…he..
Setelah itu, giliran aku, juga lancar meskipun waktu diinterview pertanyaannya standard, "Kedaton itu desa atau kota?"
Setelah itu giliran Ananta dan ternyata,….. sulit ei, Ananta tidak bisa diam jadi nggak bisa diambil photo. Karena itu, gilirannya diambil alih Dewi lalu Dhyaksa. Setelah itu baru balek ke Ananta lagi.
Tapi urusan tetap tidak gampang, Ananta cenderung diam, steady, tapi begitu kameranya mau dijepret dia bergerak. Komputernya sampai heng beberapa kali… Karena sulit, dipanggillah orang-orang lain dan setiap selesai beberapa orang, Ananta dicoba lagi dan hasilnya….. tetap tidak bisa. Sampai menjelang pukul 11, akhirnya photo Ananta bisa diambil.
Aku dan petugasnya pun mengucap, "Alhamdulillah" dan prosesnya pun dilanjutkan dengan wawancara. Prosesnya pun standard, sang pewawancara yang tadi pagi mewawancarai aku digantikan pewawancara yang baru. Sang pewawancara pertama cuma ngomong, "hati-hati, nama bapaknya sulit, AHDI bukan ANDI"
Wawancara pun lancar sampai kemudian, sang pewawancara menatapku sambil bertanya, "anaknya laki-laki atau perempuan?" dan aku jawab, "laki-laki"
Pewawancara itu pun kembali mengeluarkan sabdanya, "tapi di akte kelahiran ini tulisannya perempuan"
Aku pun melongok ke copy-an akte kelahiran itu dan ternyata…, tulisannya memang perempuan dan bukan laki-laki. Ha…? Perempuan? Yang bener aja. Shock juga. Dengan muka bloon aku pun nanya, "jadi apa yang harus saya lakukan Pak?"
"Nanti Bapak minta surat keterangan aja dari catatan sipil kalo’ anak ini laki-laki. Terus Bapak kirim ke sini"
"Terus passportnya gimana?"
"Passportnya tetap diurus tapi tidak akan diserahkan sampai kami mendapatkan surat keterangan itu"
Wuih… lega juga, ada solusinya. Tinggal sekarang ngurus ke catatan sipil Bengkalis yang aku nggak tahu ada perwakilannya di Duri nggak, ngurus surat keterangan sekaligus ngurus supaya akte kelahirannya diganti…
Setelah proses ini, aku pun nelpone dispatcher transport Dumai minta jemputan dari kantor imigrasi ke terminal. Sekitar pukul 11.15 jemputan datang dan sekitar pukul 11.30 kami sudah nongkrong di kantin dekat terminal bis interdistrik Dumai. Berangkat ke Duri pukul 12.00.
Di tengah perjalanan, aku baru ingat kalo’ tadi Ananta belum disidik jarinya. Kayaknya baik aku maupun petugas di imigrasi itu terlalu senang karena Ananta sudah diphoto sampai-sampai lupa kalo’ belum ngambil sidik jari. Ncoba ngingat-ngingat waktu Ade dan Dhyaksa balita, ngurus passport disidik jari atau tidak juga aku lupa, waktu itu disidik jari atau tidak.
Sekarang tinggal pasrah aja, kalo’ nanti dihubungi kontraktornya perlu sidik jadi, ya….. terpaksa harus ke Dumai lagi tapi kalo’ ternyata memang nggak perlu sidik jari syukur…. Tapi yang lebih crusial lagi sebetulnya tugas mendapatkan surat keterangan dari catatan sipil yang aku nggak tahu tempatnya dan ngurus penggantian akte kelahirannya.
