Sabtu?
Acara Surya Ahdi sudah bisa diprediksi…. kalo’ nggak malas-malasan setelah ngantar anak-anak ke sekolah, kemungkinkan kedua cuma satu; ke pasar, belanja ikan. Kegiatan rutin yang tidak harus dilakukan tapi pattern-nya selalu begitu.
Hari ini sedikit berbeda meskipun sebetulnya tetap sama.
Setelah ngantar anak-anak sekolah, aku nongkrong depan tv nonton ronde lanjutan kisah cicak dan buaya..he.he… Lewat jam 8, aku ke pasar dan cerita normal pun kembali berulang.
Tapi hari ini, aku melihat dua ekor ikan laut yang cukup besar yang aku belum pernah lihat sebelumnya. Begitu aku tanyakan ke penjualnya, si penjual langsung ngomong, “ini ikan Chevron”
Ha…? Ikan Chevron? istilah baru lagi nih. Sejak pertama kali tinggal di Duri, aku sudah mengenal istilah daun ubi Caltex untuk sejenis daun ubi yang ‘katanya’ yang beli keluarga pegawai Caltex (nama Chevron Indonesia sebelum tahun 2002) dan ‘katanya’ harganya lebih mahal dibandingkan daun ubi yang bukan jenis ini. Tapi ikan Chevron? Ini istilah baru yang aku belum pernah dengar.
Aku pun nanya, “Ikan apa?”
“Ikan Chevron”
“Nama ikannya apa?”
“Ikan bulan. Ikan ini cuma bisa ditangkap kalo’ ada bulan”
“Memang ikannya enak?”
“Enak lah, namanya aja ikan Chevron. Kalo’ bukan orang Chevron nggak bakal beli ikan ini”
Ha…ha…ha.. sampai ke titik ini aku cuma bisa senyum-senyum geli. Lebay banget si penjual ini.
“Berapa sih sekilonya?”
Ditanya seperti ini, penjual ikan ini terlihat kagok dan agak ragu njawab, sampai akhirnya keluar juga, “tiga puluh ribu sekilo”
“Bisa kurang nggak?”
Penjual pertama ngomong, “tadi pagi sebetulnya harganya 35. Kalo’ bukan dipesan orang Chevron aku nggak berani bawa ikan ini.”
Aku senyum-senyum lagi karena….. kembali lebay…..
Tapi karena penasaran pengen tahu seperti apa rasa ikan ini, aku pun kembali nanya, “boleh kurang nggak?” dan langsung dijawab penjual yang satu lagi dengan jawaban, “dua lima sekilo” dan aku kunci dengan “kalo’ boleh 20 sekilo, bolehlah…” dan mengejutkan……. deal…. ikan ini dijual 20 ribu sekilo. Aku pun ngambil ikan yang lebih besar yang beratnya 2 kilo.
“Mau dipotong-potong atau biarin seperti ini?” tanya penjual itu.
“Dipotong-potong tolong”.
Penjual itu pun pergi sekitar 10 meter dari tempatnya dan terlihat dia membersihkan sisik tapi kemudian menghilang. Beberapa saat kemudian, dia muncul dengan bungkusan ikan yang sudah dipotong-potong. Ikan Chevron……, ada-ada aja.
Sampai di rumah, aku bersihkan ikan itu dan terheran-heran karena potongan ikannya nggak utuh. Kalo’ potongan-potongan ikan itu digabungkan, setidaknya ada 7 atau 8 potongan yang hilang. Cara memotongnya pun agak aneh, sangat tidak lazim..
Masih penasaran juga sih, apakah memang ikan ini enak sampai penjual itu mencuri 7 - 8 potong atau apakah memang harga ikan ini mahal sehingga si penjual tidak ikhlas dengan harga 20 ribu / kilo? Ntahlah… ikannya belum dimasak jadi belum bisa berkomentar.
Cuma yang masih bikin senyam-senyum adalah istilah “ikan Chevron” yang aku belum pernah dengar sebelumnya dan alasannya pun kayaknya nggak nyambung. Kalo’ dibilang ikan chevron karena harganya mahal, sebetulnya harga nggak mahal. Banyak ikan lain yang dijual di pasar ikan yang harganya bisa 2 kali lipat harga yang ditawarkan. Jadi maksudnya apa? Istilah “ikan chevron” sebagai pemikat calon pembeli? Ntahlah…. yang jelas, istilah itu bikin aku senyam-senyum dan kalau pun aku akhirnya mbeli ikan itu karena aku penasaran pengen tahu apa bener ikan ini enak dan bukan cuma karena istilah ikan chevron yang disebutkan penjual (yang sudah mencuri bagian ikan yang dijualnya) 
