keluargakuDecember 9, 2009 8:06 pm

Beberapa bulan yang lalu, ketika sholat dan, seperti biasa Ananta bermain - kadang berdiri di depanku, aku mendengar Ananta mengucapkan, "Allahu Akbar" menirukan takbir yang aku ucapkan. Ini bukan sekali aku dengar meskipun tidak berarti Ananta sudah mulai bisa ngomong dengan maknah yang ingin dia ucapkan.

Dari beberapa bulan yang lalu, Ananta bisa memahami perintah atau pun kalimat lain yang diucapkan keluarga di rumah, tapi tetap,.. tidak ada tanda kalo’ dia akan mulai ngomong dengan maknah yang sesuai dengan yang dia ucapkan.

Sampai tadi pagi,… Ananta mengejarku ke kamar, membawa plastik bertutup dan ngomong, "butak…. butak…. butak". Aku sempat bingung juga apa maknahnya, butak apaan? buta maksudnya? Ah… nggak, ini juga omongan yang nggak jelas biasa yang memang biasa dia ucapkan. Sampai kemudian Dewi masuk ke kamar dan ngasih penjelasan, "Papi, maksudnya buka"

Oh…. jadi butak itu maksudnya buka.. Dengan gembira aku pun peluk Ananta dan membuka plastik yang dibawanya, "buka nak ya…"

Alhamdulillah, akhirnya anakku terbukti bisa bicara… :)

keluargaku 6:38 am

Jamak punya tida orang anak; Pawi, Sebab dan seorang perempuan yang tidak diketahui namanya.

Pawi punya 3 orang istri yang memberinya 10 anak;
- Dari Alfi; Bahni, Supeni, Yauni dan Mahni
- Dari Sawina; Senawan, Jusani, Soba, Zarkasih, Syamhudi dan Muhammad Sazili.

Bahni menghilang dengan satu-satunya berita kalo’ dia bermukim di Batu Pahat, Johor Malaysia.

Supeni yang lebih dikenal sebagai unggang Ubai memiliki 5 anak; Ahlawi (karena itu Unggang Ubai juga dikenal sebagai Wak Ah), Uliyah (Wak Nizon), seorang perempuan yang tidak ingat namanya (Wak Cek Ibik betine), Nis (Bik Nis) dan Ubaidy (Mak Ubai).

Senawan, dikenal sebagai Unggang El, punya cukup banyak anak. Ada beberapa anak yang meninggal di usia muda dan ada juga yang meninggal saat melahirkan (aku tidak kenal namanya); Ilmi, Najib, Kamalluddin, ???? - di Babatan, Nurmawani.
Nurmawani dan seorang saudaranya yang perempuan lainnya meninggal waktu melahirkan.

Tidak banyak yang dikenathui tentang Jusani dan Soba (ada sedikit catatan yang aku perlu lihat di catatanku).

Zarkasih, dikenal sebagai unggang Derus, punya setidaknya 6 orang anak; Idrus, Ramidah, Zen, seorang perempuan yang aku tidak ingat namanya (perlu lihat catatan), Umizi dan Rini.

Muhammad Sazili, dikenal sebagai unggang uju, punya beberapa anak, tetapi yang aku kenal namanya cuma Fatah (Mak Fatah)

Pikiranku, Perasaanku.December 6, 2009 9:48 pm

Hari-hari kemarin merupakan pelajaran baik untuk kehidupan. Kebaikan yang diberikan orang lain dan pelayanan baik yang diberikan orang lain pada kita perlu menjadi cermin untuk bersikap; bercermin untuk mengukur apakah kita sudah sebaik orang lain dan bercermin untuk melihat apakah kita sudah memperlakukan orang lain dengan cara yang sama baiknya dengan kebaikan yang pernah kita terima.

Bercermin pada sejarah dan merenungkannya akan membuat kita menjadi lebih bijaksana dalam bertindak, lebih terukur dalam bersikap dan menjadi panduan untuk bisa bersikap bersahaja dan tidak bagaikan kacang lupa kulit….

Silahkan dibaca, direnungkan, dicernah dan disikapi dengan baik bila dianggap baik, bila tidak dianggap baik tidak usah dibaca. Tulisan ini akan mengalir dari bagian ke bagian dan mudah-mudahan menjadi pengingat yang efektif.

Kebaikan orang lain seringkali mudah dilupakan ketika kita dalam keadaan yang ’seakan’ tidak memerlukan orang lain lagi. Kesulitan yang kita pernah rasakan bisa hilang dan bagaikan tak pernah dirasakan ketika kemudahan hidup sudah mulai didapatkan. Perhormatan dan penghargaan pada orang lain mendadak hilang dan ego serta rasa selfish bisa muncul ke permukaan.

Rasa emphaty dan penghargaan pada orang-orang lain yang pernah mendukung keberhasilan yang diperoleh seringkali hilang musnah seketika bagaikan pasir diterjang ombak. Pelajaran kehidupan tentang keperdulian dan emphaty yang diberikan orang lain bisa bagaikan tak terlihat lagi ketika kemudahan sudah digapai dan lupa diri muncul dalam kalbu.

Hidup memang singkat, hidup memang penuh dengan godaan, tetapi yang akan berhasil melalui kehidupan dengan nilai baik hanyalah mereka yang bisa menempatkan diri dengan konstruktif dan bersikap yang terurur…

Pikiranku, Sejarah... 9:17 pm

Dokumentasi message yang aku kirim ke 2 orang saudaraku melalui facebook account:

Ngobrol gok adek mengenai kondisi di dusun, gok hubungan antar anggota keluarge ye bekembang belakangan nimbulkan sikok pertanyaan besak dalam batin ye mbuat aku mehase perlu nuliskan ape ye ku tahu mengenai keluarge dihi, ndei jaman pini sampai ni ahi dan bebagi renungan ye mudah-mudahan diterime dengan konstruktif.

Ade perkembangan dalam hubungan antar keluarge di dusun ye dalam pengamatanku dan pendalamanku mirip gok kejadian ye pernah terjadi di masa lampau dalam kehidupan humpun keluarge dihi. Perkembangan ye ngenjuk juge penjelasan logis ngape jaman dulu nih ade kerajaan-kerajaan tebentuk dengan tujuan dan proses positif, terus bekembang, bahkan ade ye maju pesat jadi kerajaan besak pecak Kediri, Majapahit dan Mataram, terus ngalami kemunduran dan akhirnye runtuh. Pelajaran kehidupan ye mudah-mudahan jadi panduan dihi ading behading untuk bejalan ke arah ye berbeda gok alur sejarah itu.

Rencanenye, tulisan ini akan ditulis dalam bebehape bagian ye mudah-mudahan cukup menarik untuk dibace dan pacak jadi perspektif positif untuk dihi ading behading.

Bagian 1 - Sejarah awal keluarga

Di satu jaman, hidup seorang laki-laki yang bernama Jamak dengan saudara laki-lakinya yang bernama Jaal. Jamak dan Jaal hidup rukun. Sebagai saudara yang lebih tua, Jamak menjadi panutan yang baik untuk Jaal; menjadi contoh bagi saudaranya mengenai nilai sebuah keluarga dan nilai persaudaraan. Memberikan contoh bagaimana berbagi kebahagiaan dengan saudaranya. Di mana pun Jamak membuka hutan untuk perkebunan, selalu ada tempat yang disediakan untuk Jaal. Di mana Jamak membangun dangau atau rumah, disediakannya tempat pula untuk saudaranya membangun dangau atau pun rumah. Nilai-nilai keluarga yang dimilikinya pun diajarkannya dengan baik pada anak-anak dan keponakannya.

Jamak memiliki 3 orang anak Pawi, Sebab dan seorang anak perempuan yang tidak dikenal namanya. Pawi menjadi laki-laki yang taat beribadah, rendah hati, penyabar dan baik hati. Setiap tindak tanduknya terukur. Setiap tindakannya dipikirkan baik dan buruknya.

Seperti Jamak, bapaknya, Pawi pun selalu memikirkan keluarganya, memikirkan saudara-saudaranya. Saat dia pergi ke tempat yang jauh di pinggir sebuah danau yang untuk mencapainya memerlukan perjalanan selama seminggu dari tempatnya berada, Pawi pun menyiapkan tempat untuk saudara-saudaranya.

Dalam hidupnya, Pawi tercatat 3 kali menikah; pertama dengan Alfi, kedua dengan Sawina dan ketika dengan seorang janda dari sebuah desa sekitar 15 km dari desanya. Pernikahan ini dilakukan setelah istrinya meninggal; pernikahan kedua dilakukan setelah istri pertama meninggal dunia. Dan pernikahan ketiga dilakukan setelah istri kedua meninggal dunia.

Dari pernikahan pertamanya dengan Alfi, Pawi memiliki 4 orang anak; Bahni, Supeni, Yauni dan Mahni. Setiap anak memiliki karakteristiknya masing-masing.

 Bahni tumbuh menjadi seorang laki-laki yang sehat dan pintar tetapi pendalaman agamanya kurang sehingga hidupnya penuh dengan tindakan kejahatan seperti pencurian yang membuat Pawi tidak bahagia. Kejahatan-kejahatan yang dibuatnya membuat Bahni menjadi buronan dan melarikan diri ke negeri tetangga di sebuah semenanjung dan hilang dari keluarganya. Tidak ada khabar berita mengenai sosok Bahni dan bagaimana keturunannya kecuali informasi bahwa terakhir dia tinggal di sebuah daerah yang namanya Batu Pahat di wilayah Johor Bahru, Malaysia.

 Supeni tumbuh menjadi seorang saudagar yang menguasai perdagangan dan perkebunan. Dalam kesehariannya, Supeni menampilkan diri sebagai sosok yang baik dan murah hati bagi orang-orang yang bisa cocok dengan karakternya akan tetapi menjadi sosok yang keras dan kurang simpatik untuk orang-orang lain. Supeni memiliki 4 orang anak; 3 anak perempuan dan 1 anak laki-laki.

Keluarga ini tumbuh sebagai keluarga yang memiliki kelebihan yang banyak dalam hal materi dan sempat mengenyam kesempatan pendidikan yang cukup baik di saat kesempatan itu masih sangat terbatas orang lain. Bahkan anak-anak Supeni sudah memiliki kesempatan naik pesawat terbang ketika hanya segelintir orang Indonesia memiliki kesempatan itu di jamannya. Namun sayang, keinginan untuk mendapatkan materi dan ketidak percayaan antar saudara sempat menimbulkan konflik dalam keluarga ini.

 Yauni tidak meninggalkan banyak informasi yang bisa diserap sebagai dokumentasi atau pun pelajaran kehidupan. Dia meninggal di usia muda dengan meninggalkan seorang putri.

 Mahni tumbuh menjadi anak yang soleh, anak yang lembut dan berbudi meskipun dalam kesehariannya cenderung tidak terlalu gigih dalam mengejar kualitas hidup duniawi. Sosok Mahni menjadi seorang laki-laki yang memperhatikan keluarganya, mengalah pada saudara-saudara, melihat permasalahan dari sisi yang luas dan lebih mengedepankan nilai keluarga ketika harus mengambil keputusan.

Mahni menikah dengan Jamilah, buah pernikahan Hanafi (putra Mahmud – infomasi mengenai istri Mahmud tidak bisa digali) dengan Halimah (putri Syamsuddin informasi mengenai istri Syamsuddin tidak bisa digali). Dari pernikahannya dengan Jamilah, Mahni mendapatkan 8 orang putra dan putri; Abu Bakar, Ali Basir, Zainuddin, Siti Akidah, Syahidin, Abdul ROni, Waziah dan Muk’adiah. Dokumentasi mengenai sosok Mahni akan dibicarakan dengan lebih detail di bagian terpisah.

Keempat anak Pawi dari pernikahannya dengan Alfi memiliki jalan hidup yang berbeda dan memiliki pandangan hidup yang berbeda.

Dari pernikahannya yang kedua dengan Sawina, Pawi memiliki 6 orang putra dan putri; Senawan, Jusani, Soba, Zarkasih, Syamhudi dan Muhammad Sazili. Ke-enam putra dan putri ini pun memiliki karakter-karakter yang berbeda.

Dari pernikahan ketiganya dengan seorang janda dari desa lain, Pawi tidak mendapatkan keturunan. Pernikahan ini ditentang oleh hampir semua anaknya kecuali Mahni. Mahni, yang sudah kehilangan ibu kandungnya sejak masih dalam buaian ini, bukan hanya mendukung pernikahan ini tetapi memfasilitasi dan memberikan sumbangan material untuk penyelenggaraan pernikahan ini.

keluargakuNovember 29, 2009 1:42 pm

Siang ini, aku mendengar Adeanna pamit mau main di luar. Nggak begitu jelas maksudnya di luar rumah atau di teras yang jelas begitu dia pamit, aku bilang "iya". Tidak lama kemudian, Dewi nanyain Ananta dan aku cuma bilang, "mungkin di depan samo Yuk Ade"

Dewi pun ke teras dan mbuka pintu depan dan terdengar, "Ya… kamu ini". Tidak lama kemudian, Dewi masuk ke rumah dan langsung ngomong, "Pap, tolong pasangi roda samping sepeda tu".. Aku pun langsung mikir, "rodal samping sepeda? Sepeda kecil? Untuk siapa? Ananta?"

Dhyaksa pun dengan sigap ke gudang ncari kunci inggris. Tidak ketemu, dia ambil di mobil dan proses pemasangan roda samping kiri-kanan sepeda 10" atau 12" ex. Adeanna pun dimulai. Sementara Ananta sudah mulai nangis tidak sabar pengen naik sepeda itu.

Tidak lama, pemasangan pun selesai. Ananta langsung minta dinaikkan dan ternyata….. kakinya belum sampai ke pedalnya meskipun sadel-nya sudah diturunkan ke posisi paling rendah. Tapi Ananta tetap tidak mau turun dan celakanya, dia juga tidak mau dipegang. Terpaksa deh… Adeanna dan Dhyaksa diperbantukan menjaga di samping kiri kanan, menjaga Ananta yang dengan semangat memainkan stang sepeda yang membuat sepeda itu sedikit-sedikit.

Anak 17 bulan ngebet pengen naik sepeda roda 4? Ada-ada aja… :)

Umum banget 12:33 pm

Pagi ini, kami ngeceng lagi,… mengenal Duri dan kami pun masuk ke simpangan terakhir sebelum simpang tiga desa harapan di jalan hang tuah dan ternyata….. setelah dimasuki, jalan itu berakhir di rumah sakit daerah (RSD) Duri yang bentuknya lebih mirip hotel lantai 3 atau 4 (?) dibandingkan bentuk rumah sakit. Rumah sakit yang besar tapi sepertinya tidak digunakan dengan optimal. Sebelulnya bukan pertama kali aku lewat di dekat rumah sakit ini, tapi baru sekali ini aku tahu jalan masuknya dari jalan hang tuah. Biasanya aku lewat rumah sakit ini setelah mbusuk dari satu jalan kecil ke jalan kecil lain.

Keluar dari jalan ini dan masuk ke hang tuah lagi, kami pun berjalan terus menuju ke arah simpang garoga dan belok kiri ke jalan tegal sari. Sebelum rumah seorang pejabat yang katanya mahal sekali (sekali lagi KATANYA….) kami pun belok kanan masuk jalan Hang Nadim dan ujungnya ternyata masuk ke jalan sukajadi. Nama-nama jalan yang aku tidak kenal banyak.

Proses normal, masuk jalan kecil satu pindah ke jalan kecil lainnya pun kembali diulang. Ukurannya cuma kalo’ jalannya aspal, aku masuki dan ternyata…. jalan ini berakhir di jalan ke arah Dumai tidak jauh dari rumah makan "Dapur Melayu". Karena penasaran, aku balik kanan, masuk lagi ke jalan itu dan waktu masuk tidak sengaja, mataku menangkap bengkel kecil pandai besi di tikungan jalan ini. Mobil pun aku mundurkan lalu masuk ke halaman bengkel itu, aku pengen ngenalkan proses penempaan besi menjadi pisau, parang dsb ke anak-anakku.

Minta izin ke pemilik bengkel (Pak Lubis) yang sedang bekerja bersama istrinya, Adeanna pun langsung duduk di ujung bengkel berukuran sekitar 2 x 5 meter itu sementara Dhyaksa duduk di sebuah potongan kayu besar yang diletakkan di sebelah bengkel ini. Anak-anak pun mendapat penjelasan mengenai proses pembakaran besi, proses penempahan dan proses lain sampai logam yang diolah menjadi pisau atau parang sesuai yang diinginkan. Proses ini kami ikuti sampai Pak Lubis akhirnya membubuhkan cap "Lubis" ke sebilah parang yang sedang beliau kerjakan.  Proses belajar anak-anak hari ini pun berakhir dan kami pun pamitan.

Secara umum, proses yang dilakukan Pak Lubis masih sama seperti proses yang aku kenal selama ini. Yang berbeda hanya pada proses ‘air supply’ untuk pengapian yang setahu ku, selama ini selalu menggunakan tabung yang dioperasikan manual dengan prinsip mirip pompa sepeda, sekarang sudah menggunakan air compressor kecil. Proses yang membuat pekerjaan bisa dilakukan lebih cepat dan praktis.

Di masa kecilku, anak-anak kecil di desa ku pun ada kalanya praktek membuat pisau kecil, meniru urutan kerja pandai besi (orang Kedaton nyebutnya Pandian). Anak-anak biasanya mencari paku besar dan panjang yang dibakar di api. Proses penempaan dilakukan dengan menggunakan martil kecil dan untuk memegang paku panas digunakan tang / ragum. Anak-anak di desaku (waktu itu) mengerjalan ini sebagai bagian dari proses bermain dan hasil kerjanya betul-betul bisa digunakan untuk keperluan kecil seperti mengupas mangga.

Hari ini, anakku belajar pelajaran kehidupan. Ilmu sederhana yang aku yakin tidak bisa ditemukan di dalam camp Chevron. Ngeceng iseng yang kami lakukan hari ini menjadi rekreasi edukatif untuk anak-anakku.

PikirankuNovember 17, 2009 8:45 pm

Dokumentasi jawaban singkat yang aku berikan pada satu pertanyaan yang meminta pendapatku mengenai "Reliability Based Culture Development"

I put people development in operation and maintenance as one of the focused areas to sustain to get the culture. Good maintenance program will not be effective if facility is operated, not in an optimum pace. 

The next focused area will be good data management. Operational data which includes process parameters and equipment condition data, in combination with equipment maintenance historical data are good information sources for reliability management. In addition to CMMS and process parameters which can be gathered through SCADA or operators’ documentation / logging, equipment condition data can also be gathered through condition monitoring approaches and static equipment inspection program. 

Good data management does not only refer to data gathering proces. It also refers to good, comprehensive, and continuous/regular data analysis. Data analysis can be done with simple methods like pareto to some more complicated statistical approach such as weibull analysis. Bad actor analysis is a very effective way in data analysis to localize / focus area for improvement. Data analysis will help reliability professionals identify improvement opportunities.

Some of the data analysis results may be clear enough to solve and can be directly executable, while some others may need further processes. The result which needs further process can be further evaluated with approaches such as RCA, RAM analysis, lean sigma, etc. Even HAZOPS as part of operational hazard review can be used as good approach for equipment reliability improvement identification process, too.

Some data analysis can be done with simple statistical approach however some others may need simulation or computer based evaluation. Data from static equipment inspection result, for instance, will provide good information to reliability professional when it is combined with process / chemical data as well as the metallurgic data of the static equipment itself. Software can be a good tool in this static equipment management.

However, analysis, problem identification, root cause and solution findings or recommendation from data analysis is meaningless without consistency in implementation. Equipment reliability management requires supports and contribution from all functions related to equipment management. All functions, including those who do not have direct involvement in daily equipment management, needs to support and contribute. Recommendations from reliability analysis and approaches will bring success only if the recommendations are implemented, monitored and measured. Establishment of reliability culture becomes very critical parts of the reliability based management.

About reliability culture development, I put a strong emphasis on human resource. It should have been started from engineers. Engineers need to include operational reliability as one of key focus areas to explore during both equipment and facility design. Initial design dictates how equipment or facility will be.

In addition to that, operators also play major role in driving equipment reliability condition. Operators, who clearly understands his job, who understands interconnection among equipments in his facility, who has appropriate knowledge of maintenance job, preferred those who have some experience in maintenance, who knows and follow procedures and, the most important is, who documents what he does and he observes, and write comprehensive reports, can drive equipment reliability.

Maintenance personnel, I think, has critical role in equipment reliability management. However, engineering and operation are at the front lines.

What are the reliability champion’s roles?
This person plays major role in reliability culture development. He needs to make himself familiar with process system he handles although he does not necessarily know all things. What I mean is not that this person must know all things, no, not like that. I mean that this person needs to have enough knowledge and capability to filter information and to facilitate discussions and fact / data verification / validation towards finding of area for improvement or strategy for improvement. This person can faciliate RCA, RAM analysis, RCM, HAZOPS, etc, working together with subject matters experts (SME) from various disciplines or expertise.

This person also has role in developing people awareness of reliability. This person needs to develop awareness for all functions related to equipment management that reliability business does not belong to maintenance personnel.

Reliability champion is not a maintenance person. He does not work with wrench and such tools. He works with soft technical skills. This person can also help management in development of future operational strategy.

His contribution is not through hand-on field work execution, although some involvement in this process is still acceptable. His contribution is on problem identification process and facilitation of root cause and solution findings. He is not a single player at job, his contribution is achieved through team work with various expertise and subject matters experts.

keluargaku 6:22 pm

Hari ini aku ke kantor cuma setengah hari karena pagi tadi aku sudah minta izin untuk urusan dinas ke Dumai, photo dan sidik jari di imigrasi dumai - perpanjangan passport. Anak-anak juga hari ini izin nggak sekolah.

Karena urusannya urusan dinas, karena passport untuk aku itu bagian dari kebutuhan kerja - he…he…he… sok dan gaya..he…he…he.. - jadi aturan transportasi antar distrik harus diikuti dengan konsisten, tidak menggunakan kendaraan pribadi tapi naik bis interdistrik. Kami pergi ke Dumai naik bis keberangkatan pertama, pukul 07.00 berangkat dari terminal bis interdistrik di Duri. Sampai di Dumai menjelang pukul 08.30, langsung naik kendaraan kecil perusahaan ke kantor imigrasi Dumai, di-drop.

Begitu masuk ke kantor imigrasi, aku langsung menghubungi staff kontraktor yang standby di sana. Setelah ketemu langsung masuk di ruang tunggu sampai dapat nomor tunggu untuk panggilan diphoto, diambil sidik jari dan wawancara.

Sekitar pukul 09.30, Adeanna dipanggil, terus photo, sidik jadi dan wawancara. Yang unik seperti biasa, mencocokkan namaku Surya Ahdi yang masih tetap sering salah ditulis Andi, Hadi, dsb. Kalo’ petugas yang mewawancarai tadi, namanya sulit..he…he…he..

Setelah itu, giliran aku, juga lancar meskipun waktu diinterview pertanyaannya standard, "Kedaton itu desa atau kota?" emoticon
Setelah itu giliran Ananta dan ternyata,….. sulit ei, Ananta tidak bisa diam jadi nggak bisa diambil photo. Karena itu, gilirannya diambil alih Dewi lalu Dhyaksa. Setelah itu baru balek ke Ananta lagi.

Tapi urusan tetap tidak gampang, Ananta cenderung diam, steady, tapi begitu kameranya mau dijepret dia bergerak. Komputernya sampai heng beberapa kali… Karena sulit, dipanggillah orang-orang lain dan setiap selesai beberapa orang, Ananta dicoba lagi dan hasilnya….. tetap tidak bisa. Sampai menjelang pukul 11, akhirnya photo Ananta bisa diambil.

Aku dan petugasnya pun mengucap, "Alhamdulillah" dan prosesnya pun dilanjutkan dengan wawancara. Prosesnya pun standard, sang pewawancara yang tadi pagi mewawancarai aku digantikan pewawancara yang baru. Sang pewawancara pertama cuma ngomong, "hati-hati, nama bapaknya sulit, AHDI bukan ANDI"

Wawancara pun lancar sampai kemudian, sang pewawancara menatapku sambil bertanya, "anaknya laki-laki atau perempuan?" dan aku jawab, "laki-laki"

Pewawancara itu pun kembali mengeluarkan sabdanya, "tapi di akte kelahiran ini tulisannya perempuan"

Aku pun melongok ke copy-an akte kelahiran itu dan ternyata…, tulisannya memang perempuan dan bukan laki-laki. Ha…? Perempuan? Yang bener aja. Shock juga. Dengan muka bloon aku pun nanya, "jadi apa yang harus saya lakukan Pak?"

"Nanti Bapak minta surat keterangan aja dari catatan sipil kalo’ anak ini laki-laki. Terus Bapak kirim ke sini"

"Terus passportnya gimana?"

"Passportnya tetap diurus tapi tidak akan diserahkan sampai kami mendapatkan surat keterangan itu"

Wuih… lega juga, ada solusinya. Tinggal sekarang ngurus ke catatan sipil Bengkalis yang aku nggak tahu ada perwakilannya di Duri nggak, ngurus surat keterangan sekaligus ngurus supaya akte kelahirannya diganti…

Setelah proses ini, aku pun nelpone dispatcher transport Dumai minta jemputan dari kantor imigrasi ke terminal. Sekitar pukul 11.15 jemputan datang dan sekitar pukul 11.30 kami sudah nongkrong di kantin dekat terminal bis interdistrik Dumai. Berangkat ke Duri pukul 12.00.

Di tengah perjalanan, aku baru ingat kalo’ tadi Ananta belum disidik jarinya. Kayaknya baik aku maupun petugas di imigrasi itu terlalu senang karena Ananta sudah diphoto sampai-sampai lupa kalo’ belum ngambil sidik jari. Ncoba ngingat-ngingat waktu Ade dan Dhyaksa balita, ngurus passport disidik jari atau tidak juga aku lupa, waktu itu disidik jari atau tidak.

Sekarang tinggal pasrah aja, kalo’ nanti dihubungi kontraktornya perlu sidik jadi, ya….. terpaksa harus ke Dumai lagi tapi kalo’ ternyata memang nggak perlu sidik jari syukur…. Tapi yang lebih crusial lagi sebetulnya tugas mendapatkan surat keterangan dari catatan sipil yang aku nggak tahu tempatnya dan ngurus penggantian akte kelahirannya.

emoticon

PikirankuNovember 15, 2009 9:37 pm

"Apa yang kau cari dalam hidupmu?"

Satu pertanyaan bagus yang aku terima malam ini dari ngobrol dengan adikku. Pertanyaan penting yang memberikan perspektif yang memperkuat salah satu aspek yang menjadi pertimbangan-pertimbangan yang aku lakukan saat akan mengambil satu keputusan.

Pembicaraan kami dimulai dari diskusi mengenai prosesi penguburan yang dihadiri adikku dan gambaran apa yang dia lihat dan dia rasakan dalam proses yang terjadi; paparan mengenai pandangannya mengenai orang-orang yang dia lihat berada di lokas penguburan - baik sikap, tutur bahasa maupun kepentingan-kepentingan yang terlihat dalam proses itu.

Satu cerita menarik yang menggambarkan bagaimana kehidupan seorang manusia akan berakhir dengan kematian, tetapi tetap ditemukan manusia tidak belajar dari apa yang dia jalani. Dalam kehidupan, seringkali kepentingan duniawi lebih dikejar daripada mengejar kesadaran bahwa kehidupan manusia akan berakhir dengan kematian. Ada orang yang mengejar harta dengan berlebih-lebihan seakan-akan dia akan hidup terus dengan hartanya. Ada orang yang melupakan silaturahmi (atau silaturahim?) yang membuatnya hidup terlalu individualistis, ada juga orang yang terlalu mementingkan kepentingan pribadinya dan melupakan bahwa ada kepentingan lain yang mungkin lebih besar dibandingkan kepentingan pribadinya itu.

Pendalaman yang dia dapatkan dari prosesi penguburan yang dia ikuti memberikan pelajaran penting yang perlu direnungkan. Sharing yang dia berikan malam ini betul-betul menggugah.

Diskusi pun bergerak ke pembicaraan telephone-ku dengan ibuku setelah sholat magrib tadi. Pembicaraan mengenai prospek karir lain yang muncul beberapa waktu terakhir yang sepertinya akan berakhir pada satu ending positif yang bila disepakati akan membawaku pada keputusan yang berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya; tidak ada kendala job security yang menjadi penghalang di Transfield Worley. Tiada kendala demography penduduk Karratha yang tidak ada muslim yang menjadi penghalang ke Woodside Energy. Tidak ada issue jadwal kerja dan family living quality yang mengharuskan hidup terpisah dengan keluarga yang menjadi penghalang ke Das Island.

Pendekatan yang dimulai dari satu pesan pendek, tawaran kemungkinan kerja, yang aku terima bulan lalu di account linkedin-ku dari seorang pemimpin reliability team di SADAF diikuti dengan proses interview yang agak aneh (karena terlalu singkat - hanya 15 menit meskipun diskusikan tetap menuju ke satu arah yang solid) tadi pagi ditindaklanjuti dengan sebuah e-mail yang menunjukkan bahwa proses ini akan berlanjut dengan tawaran posisi yang lebih baik dari apa yang dibicarakan semula. Dari diskusi awal mengenai posisi senior reliability engineer bergeser menjadi seorang Reliability Champion.

Dalam diskusi dengan ibuku, aku ceritakan beberapa pertimbangan yang aku sudah pikirkan; beberapa aspek penting yang aku jadikan pertimbangan termasuk pertimbangan mengenai orang tua yang sudah sepuh. Aku juga ceritakan ke ibuku kalo’ belum ada diskusi mengenai gaji atau apa pun meskipun aku sudah berikan informasi awal fasilitas-fasilitas dan benefit yang aku minta bila aku memutuskan untuk bergabung. Yang aku ceritakan ke ibuku hanyalah gambaran batas minimum yang akan aku patok untuk menimbang lebih jauh.

Jawaban ibuku sederhana. Beliau memberikan kebebasan aku untuk mengambil keputusan dengan menimbang semua aspek yang aku anggap perlu dipikirkan. Beliau percaya bahwa apa pun yang aku putuskan akan merupakan keputusan baik.

Satu jam setelah ngobrol dengan ibuku, aku ngobrol dengan adikku dan mendapatkan sharing mengenai proses penguburan. Cerita menarik yang diakhir dengan satu pertanyaan penting, "Apa yang kau cari dalam hidupmu?". Satu pertanyaan penting yang memang sudah menjadi salah satu pertimbangan yang aku renungkan; renungan penting yang membuatku lebih dalam menimbang. Satu pertanyaan penting dikaitkan dengan tugas seorang anak pada orang tuanya yang menggugah renungan yang lebih dalam lagi. Renungan penting yang membantuku lebih yakin menjawab pertanyaan itu dan mengambil sikap.

sebuah catatan kecil

Umum banget 6:51 am

Di kalangan masyarakat umum, masalah penguburan sebetulnya bukan sesuatu yang pelik untuk diputuskan dan dijalankan karena di mana seseorang meninggal, dia akan dikubur di sana. Begitu juga ajaran rosullullah; Nabi Muhammad pun memberikan contoh beliau dikuburkan di tempat beliau meninggal. Tapi ajaran mulia yang mengandung banyak philosophy itu tidak selalu dijalankan. Banyak pertimbangan-pertimbangan yang membuat orang memutuskan untuk melakukan proses penguburan yang pelik. Alasan-alasan yang benar maupun yang tidak benar.

Ada pertimbangan kompleksitas proses; misalnya tidak ada orang yang bisa mengurus proses penguburan di lokas meninggalnya sehingga diputuskan untuk membawa pulang jenazah ke kampung halamannya. Ada pertimbangan keluarga; karena keluarganya banyak di satu tempat, maka seseorang yang sudah meninggal dikirim pulang ke kampung halamannya untuk mempermudah keluarganya berziarah. Ada juga pertimbangan lain seperti kebanyakan keluarganya dikubur di satu tempat sehingga lokas penguburan disatukan di lokasi itu.

Dalam banyak situasi apa pun yang dipilih sebetulnya bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan. Pilihan apa pun yang dipilih sebetulnya baik selama fardhu kifayah terkait dengan proses penguburan bisa dijalankan dengan benar. Akan tetapi dalam situasi-situasi tertentu mengundang pertanyaan-pertanyaan yang menggugat urgencynya.Pertimbangan ekonomi kadang-kadang perlu diperhitungkan juga mengingat di jaman ini penguburan pun membutuhkan biaya; bukan cuma untuk biaya penguburan tapi juga biaya ambulance dan biaya-biaya lain.

Sebagai ilustrasi, katakanlah seseorang meninggal di kota G1 dan keluarganya pun hidup di kota G1. Tempat tinggal si fulan lokasinya tidak jauh dari satu tempat penguburan umum yang bisa dijangkau dalam perjalanan belasan menit saja dengan ambulance. Biaya penguburannya pun relatif tidak begitu besar.

Tetapi apakah itu akan menjadi pilihan yang dipilih? Belum tentu. Ada petimbangan-pertimbangan lain yang muncul seperti suami atau istri atau orang tua atau saudara-saudara si fulan dikuburkan di kota G2 atau pertimbangan lain, di kota G2 keluarga si fulan adalah keluarga terpandang dan memiliki tempat penguburan keluarga meskipun tidak banyak keluarga si fulan yang tinggal di sana. Pertimbangan-pertimbangan ini valid dan tidak salah untuk dipilih meskipun tentu biaya yang perlu dikeluarkan akan meningkat.

Tetapi situasinya bisa menjadi pelik bila biaya yang timbul dari proses penguburan di atas kemampuan keluarga yang ditinggalkan. Situasinya menjadi pelik ketika biaya penguburan membuat keluarga yang ditinggalkan perlu mencari jalan keluar yang tidak mudah seperti meminjam atau pun strategi lain yang di luar kemampuan normalnya.

Islam mengajarkan ajaran yang indah. Ajaran yang penuh ketulusan. Ajaran yang penuh dengan kebenaran sikap maupun batin dan bukan kepura-puraan. Islam mengajarkan kesederhanaan. Islam mengajarkan manusia untuk berusaha yang terbaik dalam kehidupannya tetapi tetap humble dalam segala aspek. Islam pun mengajarkan kemudahan. Islam tidak mengajarkan hal-hal yang menyulitkan umatnya.

Setiap manusia punya pilihan untuk bersikap. Tetapi apa pun sikap yang diambil seseorang, seharusnya landasan dasarnya harus niat yang baik dan niat yang baik itu harus tetap sejalan dengan ajaran Islam.

Sekedar catatan kecil………………….

Keindahan 6:27 am

Lagu ini direlease pertama kali oleh The Mercy’s, kelompok musik yang digawangi Charles Hutagalung, Rinto Harahap dan beberapa orang lagi yang aku nggak ingat. Termasuk Jelly Tobing? Nggak tahu juga, tapi kayaknya ada tu. Di pertengahan dekade 2000an, aku dengar lagi lagu ini dinyanyikan Trio Ambisi.

Lagu ini dulu suka dinyanyikan saudaraku yang paling tua waktu dia mulai ‘merantau’ ke Jakarta, di tempat kos-nya yang sempit di kawasan cempaka putih. Lagu indah yang merana… he..he..he..

Setelah kurasa hidup sebatang kara
Tak ku kenal artinya cinta
Hidup yang sendiri dunia terasa sepi
Tiada teman penghibur hati

Ku coba bercinta cari hidup bahagia
Tetapi itupun tak ku jumpa
Cinta membuat hidupku menderita sedih dan duka
Cintalah membuat semuanya

Reff:
Pada siapa ku mengadu nasib diriku
Gara-gara cinta hidup menderita
Tinggalah penyesalan bagi diriku
Gara-gara cinta hidup menderita

Umum bangetNovember 10, 2009 6:21 pm

Sudah beberapa bulan ini passportku expired. Sebetulnya Desember tahun lalu aku sudah mau ngurus perpanjangannya sebelum expired tapi ternyata prosesnya agak rumit karena ada perubahan di bagian expat service / imigrasi di kantor. Karena nggak merasa terlalu perlu, aku biarkan passportnya expired..

Kamis minggu lalu, aku iseng-iseng ke bagian imigrasi di kantor dan ternyata prosesnya jadi lebih gampang dari biasanya. Bahkan keharusan menyerahkan photo dengan latar belakang warna tertentu dan ukurannya pun sudah ditentukan pun sekarang tidak ada lagi. Yang perlu dilakukan hanya mengisi formulir, surat pernyataan dan dokumen-dokumen pendukung dan photo copy-nya; KTP, kartu keluarga, akte kelahiran, surat nikah dan passport yang lama. Karena agak sibuk , hmmmmm, baru hari ini aku sempat kembali ke kantor HR, nyerahkan lima (5) berkas yang sudah disusun rapi untuk aku, Dewi dan anak-anak.

Sang pegawai kontraktor yang ngurusi urusan passport pun mulai memeriksa berkas dengan menstabilo bagian-bagian tertentu di setiap dokumen. Sampai ke akte kelahiranku, dia mengangkat kepalanya dan bertanya, "Nama orang tuanya Ali Basir atau Ali Basri, Pak?"

Aku pun menjawab, "Ali Basir"

"Tapi di akte kelahiran ini koq Ali Basri Pak?"

"Masak?" jawabku dengan penuh keheranan dan penasaran. Agak terkejut juga waktu nyadari kalo’ memang tulisan di akte kelahiran itu Ali Basri dan bukan Ali Basir. Hmm… sejak SD, SMP, SMA, kuliah, dapat pekerjaan, ngurus passport dan perpanjangannya, aku selalu menggunakan akte kelahiran yang sama, tapi masak sih….. selama ini tulisannya Ali Basir bukan Ali Basri, buktinya nggak pernah ada masalah. Tapi masak sekarang jadi Ali Basri?

Tapi faktanya, memang tulisan di akte kelahiran itu Ali Basri, jadi kalo’ selama ini aman-aman saja bukan karena aktenya benar tapi lebih karena beruntung aja. Hm….., "Jadi gimana dong?" tanyaku dengan muka bloon :)

"Bapak punya ijazah nggak?" hm…. pertanyaan menarik nih, masak orang kerja nggak punya ijazah. "Kalo’ Bapak punya ijazah, kan di situ ada nama orang tua. Tulisannya Ali Basri atau Ali Basir?"

"Ali Basir"

"Kalo’ gitu, nanti setelah makan siang Bapak antarkan ijazah aja ke sini."

"Ijazah apa? SD, SMP atau SMA?"

"Terserah, sama aja."

Hm… problem solved dan setelah makan siang, aku antarkan ijazah SD dan photo copy-annya yang kebetulan ada legalisirannya, sisa waktu legalisir waktu mau mulai kerja di Caltex Pacific Indonesia lebih 12 tahun lalu :)

Menarik juga sih, masak iya sih 36 tahun hidup dengan akte kelahiran itu (sebetulnya nggak 36 tahun sih, sebab akte kelahiran itu aku miliki setelah aku SD bukan waktu lahir), dan nggak pernah tahu kalo’ ada yang salah dengan dokumen itu. Tapi ada pelajaran penting sebetulnya; yang biasa dan sederhana mungkin menyimpan kesalahan kecil yang bisa fatal. Perlu lebih teliti untuk urusan dokumentasi. Jangan sampai ada huruf yang salah.

PikirankuNovember 9, 2009 7:06 pm

Hari Sabtu, menjelang pukul 11 siang. Koq pengen makan lontong ya? Ya udah…, langsung aja jalan sama istri mampir ke sebuah tempat makan dekat sebuah tempat ibadah.

"Masih ada lontongnya Bang?"
"Masih, tapi cuma yang kuah sayur"
"
Lontong sayur? Bolehlah. Sayurnya masih ada kan?"
"Masih, nangkanya masih ada"
"Tolong enam bungkus Bang ya"

Aku pun sedikit menjauh membeli sekotak aqua botol untuk stok di mobil di sebuah warung yang menyatu dengan tempat penjual lontong itu. Waktu kembali ke tempat penjual lontong, sang penjual pun ngomong,

"Kuahnya dicampur kuah kacang boleh ya?"
"Nggak apa-apa, silahkan. Tambah Bang ya, jadi lapan bungkus."

Tidak begitu lama, delapan bungkus lontong pun aku terima, naik ke mobil dan langsung pulang.

Sampai di rumah, lontong dibuka, dimasukkan ke dalam piring-piring; enam bungkus untuk kami di rumah dan dua bungkus untuk mak wo dan bibik yang mbantui Dewi di rumah. Dengan selera, lontong pun mulai dinikmati.

Tapi….. koq lontongnya aneh ya? Nggak ada sayurnya sama sekali. Nggak ada sayur nangkanya. Yang ada cuma kacang tanah giling di kuah santan kuningnya. Hmm… ternyata aku membeli lontong abnormal, lontong dengan kuah santan saja. Transaksi yang tidak normal.

Renungan pun muncul. Apakah ini bentuk perniaga yang diinginkan islam? Sepertinya tidak. Islam mengajarkan perniagaan yang indah di mana transaksi yang terjadi harus jujur dan terbuka. Transaksi harus dilakukan dengan kondisi pembeli mengetahui dengan jelas baik buruknya produk yang akan dibelinya. Penjual pun dengan terbuka mengungkapkan kondisi produk yang dijualnya.

Kembali ke urusan lontong. Dalam perniagaan islami yang ideal, penjual akan mengungkapkan dengan jelas kalo’ dia tidak punya kuah yang utuh lagi, kuahnya tidak ada sayur lagi dan dia pun perlu mengungkapkan bahwa paket lontong yang dimiliki tidak lagi seperti ideal kondisinya. Dan dia pun akan menanyakan ke pembelinya apakah si pembeli masih mau membeli produknya. Bahkan dalam perniagaan islami yang ideal, andaikan si pembeli tetap menginginkan produk yang dijual, sang penjual akan menjual produknya bukan dengan harga normal.

Tapi perniagaan yang ideal memang tidak selalu bisa ditemukan meskipun selalu ada harapan, suatu saat, perniagaan islami bisa menjadi perniagaan yang hidup dan bisa menjadi bagian dari keseharian yang bisa ditemukan di mana pun transaksi terjadi.

keluargakuNovember 8, 2009 8:01 pm

Gitar? emang Surya Ahdi bisa main gitar? Emang Surya Ahdi bisa nyanyi..he..he..he…
Sejujurnya, aku nggak bisa main gitar, yang aku bisa lakukan cuma mainkan beberapa kunci dasar yang sudah lebih dari cukup untuk ngiringi aku nyanyi sendiri; meskipun sejujurnya, agak malu kalo’ ada yang bukan keluarga ikut ndengar. Tapi aku nggak pernah punya gitar sendiri. Waktu sekolah, aku nebeng makai gitar kakakku yang paling tua atau nebeng make’ gitar sepupuku yang memang hobi musik. Jadi, kalo’ urusan nyetel gitar supaya matching untuk dimainkan, jangan ditanya… pasti aku nggak bisa lakukan emoticon.

Hari ini Dhyaksa ikut ujian kenaikan tingkat kursus drumnya. Ujiannya di Pekanbaru, bukan di Duri, di toko musik Yamaha dan tempat kursus yang ada di mall Ciputra. Gitu masuk dan nunggu dipanggil, aku lihat Dhyaksa memegang gitar-gitar kecil yang dipajang di sana. Gitu dia masuk ruangan, aku pun mulai melihat-lihat gitar-gitar itu juga. Ada yang 5 ratus, ada yang 8 ratus, ada lebih dari sejuta dan menurutku yang 8 ratusan cukup bagus bukan cuma bentuknya tapi juga suaranya ketika aku coba mainkan.

Waktu Dhyaksa keluar dari ruang ujiannya, dia mulai merayu-rayu minta dibelikan gitar dan aku, seperti biasa, mencoba memberikan pandangan yang berbeda yang sebetulnya lebih dikarenakan dia tidak mau ikut kursus gitar dan cuma pengen belajar gitar dari aku yang kemampuannya sangat, super terbatas. Karena aku nggak bisa nyetelnya, terus siapa yang akan nyetelnya kalo’ dia ngotot nggak mau kursus gitar seperti itu.

Setelah diskusi (diskusi atau bukan sih..?), Dhyaksa mememutuskan untuk tidak membeli gitar (tapi dengan merengut dan terkesan sangat kecewa). Akhirnya aku ajak dia melihat gitar yang sudah aku tandai sebelumnya dan aku putuskan membeli, 825 ribu. Ukurannya kecil meskipun masih terasa nyaman untuk aku mainkan (karena aku ukurannya juga kecil? he..he..he..he..).

Si penjaga kemudian mencoba menyetel gitar itu dengan menempelkan alat elektronik kecil, ukuran kita-kira 6 cm x 6 cm, di ujung gitar dan mulai menyetem dawai pertama dan berhenti ketika alat elektronik kecil itu sudah berubah warna dari merah ke hijau. Langkah yang sama dilakukan ke dawai ke-2.

Hmm…. ternyata sekarang nyetel gitar gampang, nggak perlu pake’ indra pendengaran seperti yang dulu biasa aku lihat. Sudah ada alat sederhana yang bisa membantu. Berarti sebetulnya problem solved ni. Aku juga bisa nyetelnya sendiri di rumah kalo’ punya alat ini. Karena alat ini tidak termasuk paket gitar aku pun membeli alat ini, 180 ribu.  Sebelum mbayar baru nanya ada diskon nggak dan ternyata dapat diskon, baik gitar maupun alat elektronik itu diskonnya 20%.

Sampai di Duri, begitu masuk ke rumah, Dhyaksa sudah mulai asyik dengan gitar itu padahal dia belum kenal kunci. Aku ambil gitar itu dan mulai mainin satu lagu dan ternyata, Ananta senang sekali, jingkrak-jingkrak sambil tepuk tangan.

Aku pun mulai mengenalkan beberapa kunci dasar yang dulu aku pelajari saat pertama kali belajar gitar yang menurutku sudah lebih dari cukup untuk bisa main gitar dan bernyanyi. Dan dengan susah Dhyaksa mencoba dan langsung, "susah Pap ya, jari sakit" katanya.

Tapi pelajaran harus tetap diteruskan. Aku bilang ke Dhyaksa, untuk hari-hari ke depan, dia cuma harus belajar menempatkan jarinya dengan benar di kunci A, sampai suara yang dikeluarkan gitar selalu pas. Kalo’ sudah bisa, baru dia belajar kunci D dan E, baru kemudian kunci yang lain.

Ntahlah… sampai kapan anak ini akan antusias belajar. Mudah-mudahan dia cepat bisa.. :)

Umum bangetNovember 7, 2009 1:02 pm

Sabtu?
Acara Surya Ahdi sudah bisa diprediksi…. kalo’ nggak malas-malasan setelah ngantar anak-anak ke sekolah, kemungkinkan kedua cuma satu; ke pasar, belanja ikan. Kegiatan rutin yang tidak harus dilakukan tapi pattern-nya selalu begitu. :(

Hari ini sedikit berbeda meskipun sebetulnya tetap sama. :)
Setelah ngantar anak-anak sekolah, aku nongkrong depan tv nonton ronde lanjutan kisah cicak dan buaya..he.he… Lewat jam 8, aku ke pasar dan cerita normal pun kembali berulang.

Tapi hari ini, aku melihat dua ekor ikan laut yang cukup besar yang aku belum pernah lihat sebelumnya. Begitu aku tanyakan ke penjualnya, si penjual langsung ngomong, “ini ikan Chevron”

Ha…? Ikan Chevron? istilah baru lagi nih. Sejak pertama kali tinggal di Duri, aku sudah mengenal istilah daun ubi Caltex untuk sejenis daun ubi yang ‘katanya’ yang beli keluarga pegawai Caltex (nama Chevron Indonesia sebelum tahun 2002) dan ‘katanya’ harganya lebih mahal dibandingkan daun ubi yang bukan jenis ini. Tapi ikan Chevron? Ini istilah baru yang aku belum pernah dengar.

Aku pun nanya, “Ikan apa?”
Ikan Chevron”
“Nama ikannya apa?”
“Ikan bulan. Ikan ini cuma bisa ditangkap kalo’ ada bulan”
“Memang ikannya enak?”
Enak lah, namanya aja ikan Chevron. Kalo’ bukan orang Chevron nggak bakal beli ikan ini”

Ha…ha…ha.. sampai ke titik ini aku cuma bisa senyum-senyum geli. Lebay banget si penjual ini.

“Berapa sih sekilonya?”
Ditanya seperti ini, penjual ikan ini terlihat kagok dan agak ragu njawab, sampai akhirnya keluar juga, “tiga puluh ribu sekilo”
“Bisa kurang nggak?”
Penjual pertama ngomong, “tadi pagi sebetulnya harganya 35. Kalo’ bukan dipesan orang Chevron aku nggak berani bawa ikan ini.”

Aku senyum-senyum lagi karena….. kembali lebay…..

Tapi karena penasaran pengen tahu seperti apa rasa ikan ini, aku pun kembali nanya, “boleh kurang nggak?” dan langsung dijawab penjual yang satu lagi dengan jawaban, “dua lima sekilo” dan aku kunci dengan “kalo’ boleh 20 sekilo, bolehlah…” dan mengejutkan……. deal…. ikan ini dijual 20 ribu sekilo. Aku pun ngambil ikan yang lebih besar yang beratnya 2 kilo.

Mau dipotong-potong atau biarin seperti ini?” tanya penjual itu.
“Dipotong-potong tolong”.

Penjual itu pun pergi sekitar 10 meter dari tempatnya dan terlihat dia membersihkan sisik tapi kemudian menghilang. Beberapa saat kemudian, dia muncul dengan bungkusan ikan yang sudah dipotong-potong. Ikan Chevron……, ada-ada aja.

Sampai di rumah, aku bersihkan ikan itu dan terheran-heran karena potongan ikannya nggak utuh. Kalo’ potongan-potongan ikan itu digabungkan, setidaknya ada 7 atau 8 potongan yang hilang. Cara memotongnya pun agak aneh, sangat tidak lazim..

Masih penasaran juga sih, apakah memang ikan ini enak sampai penjual itu mencuri 7 - 8 potong atau apakah memang harga ikan ini mahal sehingga si penjual tidak ikhlas dengan harga 20 ribu / kilo? Ntahlah… ikannya belum dimasak jadi belum bisa berkomentar.

Cuma yang masih bikin senyam-senyum adalah istilah “ikan Chevron” yang aku belum pernah dengar sebelumnya dan alasannya pun kayaknya nggak nyambung. Kalo’ dibilang ikan chevron karena harganya mahal, sebetulnya harga nggak mahal. Banyak ikan lain yang dijual di pasar ikan yang harganya bisa 2 kali lipat harga yang ditawarkan. Jadi maksudnya apa? Istilah “ikan chevron” sebagai pemikat calon pembeli? Ntahlah…. yang jelas, istilah itu bikin aku senyam-senyum dan kalau pun aku akhirnya mbeli ikan itu karena aku penasaran pengen tahu apa bener ikan ini enak dan bukan cuma karena istilah ikan chevron yang disebutkan penjual (yang sudah mencuri bagian ikan yang dijualnya)   emoticon

keluargaku, Perasaanku. 8:14 am

Seperti rencana, hari ini kami ke Pekanbaru, nginap di wisma sungkai di Rumbai. Besok Dhyaksa ujian drum, semacam kenaikan tingkat gitu (yang teknisnya aku belum tahu). Dua tiga minggu lalu aku sudah reserve 2 kamar di wisma sungkai dan dua hari lalu dapat konfirmasi dari Rumbai Accommodation team.

Dua hari yang lalu, papa datang dari Palembang dan rencana awalnya hari ini akan kami ajak nginap di Pekanbaru tapi karena beliau masih capek beliau memutuskan untuk stay di rumah aja di Duri. Otomatis Rita juga nggak ikut.

Kemarin sore, Dewi sudah mbisiki aku kalo’ Adeanna nggak mau ikut ke Rumbai. Dia mau belajar kelompok atau sejenisnya dengan teman-temannya. Dia mutuskan untuk tetap di Duri. Aku dan Dewi sepakat untuk mbiarkan dia mengambil keputusan dan kalo’ dia memang nggak mau ikut, kami akan biarkan. Pagi ini, waktu sarapan, Ade betulan ngomong kalo’ dia nggak mau ikut ke Rumbai.

Senang juga sih karena anakku sudah besar, sudah bisa memutuskan apa yang dia mau dan sudah berani pisah dengan orang tuanya. Hitung-hitung persiapan kalo’ suatu saat dia harus sekolah di tempat yang berbeda dengan kami; persiapan supaya dia terbiasa jauh dari orang tuanya.

Tapi yang agak mengejutkan justru suara dalam hatiku… Ada rasa takut, ada rasa sedih, ada rasa nggak mau dia di Duri jauh dari kami. Tapi suara hatiku harus dilawan, aku harus menunjukkan ke Adeanna kalo’ aku sudah menganggap dia besar dan aku menghargai apa yang diputuskannya. Aku pun perlu terus meyakinkan hati bahwa keputusan Ade keputusan yang baik untuk persiapan kehidupannya ke depan.

Ternyata jangankan hidup berjauhan dengan anak, pisah satu malam pun bukan sesuatu yang mudah untuk dijalani orang tua… :)

keluargakuNovember 6, 2009 6:40 pm

Alhamdulillah, menjelang subuh hari ini, di Palembang, sudah lahir cucu ke-11 bapa dan ibu, Muhammad Rizki Kurniawan, putra ke-3 saudara ku yang nomor 3. Proses kelahirannya normal meskipun diawali pecahnya ketuban sekitar pukul 10 tadi malam.

keluargaku, Perasaanku.October 7, 2009 10:17 am

"Papi, ayuk ade di kamar mandi Papi ya. Jangan masuk."

Begitu kalimat yang belakangan sering aku dengar dari putriku, Adeanna. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terdengar.

Ada tiga kamar mandi di rumah yang kami huni (rumah sewaan dari perusahaan he..he..he…he… Aku sebut sewaan abis memang ada potongan gaji untuk urusan perumahan ini.. ); satu kamar mandi yang ada di kamar utama, satu kamar mandi untuk anak-anak dan satu kamar mandi di belakang.

http://jemedusun.multiply.com/photos/album/1/Sibayak_42_PT._CPI_Duri_Riau

Yang agak unik, meskipun ada kamar mandi khusus anak-anak yang letaknya persis di depan kamar mereka, anak-anak lebih suka masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamar tidur orang tuanya. Bahkan untuk urusan kencing pun mereka lebih suka masuk ke sana. Khusus untuk Dhyaksa, bahkan saat aku sedang tidur pun dia mengendap-endap masuk ke kamar mandi di kamar itu.. Aku nggak tahu, mungkin ini lebih ke perasaan aman saja ketika tahu dia dekat orang tuanya,…. barangkali… :)

Waktu pulang dari Palembang kemarin, di hotel Novotel Jambi pun Adeanna masuk kamar mandi dan mengunci kamar mandi itu. Sesuatu yang juga tidak biasa dia lakukan.

Anakku sudah besar, sudah mulai menjadi gadis kecil. Sudah mulai ingin privasi…. Luar biasa, anak yang terlahir 9 tahun lalu di sore Idul Adha 2000 itu sekarang sudah jadi gadis kecil yang sebentar lagi mungkin sudah mulai puber. Keajaiban alam.. Padahal kalo’ diingat-ingat, rasanya baru kemarin aku jadi anak kecil, masa hampir 25 - 30 tahun yang lalu itu rasanya belum lama aku tinggalkan…. eh…. sekarang ternyata anakku sudah besar…

Hm…. subhanallah, semoga rakhmat, karunia dan bimbingan Allah selalu menyertai setiap hari-hari yang dilalui anak-anakku. Semoga anak-anakku selalu mendapatkan berkah iman dan menjalani kehidupan mereka dalam tuntunan Agama Islam, amien..

keluargakuOctober 6, 2009 9:27 am

Jaman dulu, waktu masih kecil di kampungku yang waktu itu terisolir yang untuk ke Baturaja yang jaraknya hanya 40 - 50 km pun harus ditempuh dengan perjalanan hampir setengah hari dengan mobil atau naik kereta api yang hanya lewat 3 kali sehari yang stasiunnya sekitar 15 km dari kampungku, ada penomena menarik yang bikin senyum.

Masyarakatnya hidup dan mengkonsumsi makanan dari kebunnya sendiri. Beras dari ladang atau dari sawah sendiri, yang diproses dengan dua pilihan; (a) digiling pake’ mesin modern yang ada 3 di kampungku, atau (b) digiling dengan cara tradisional dengan alat yang disebut isaran. Sayur pun diambil dari kebun sendiri, pucuk ubi, daun muda berbagai jenis labu (tahok labu), batang lengkuas muda, bayam atau pun kangkung, semuanya dari kebun sendiri. Untuk protein hewani diperoleh dengan makan ikan yang ditangkap sendiri dengan memancing, menjala atau pun menjaring. Ada kalanya ikan pun ditangkap dengan menggunakan bubu atau perangkap lain untuk ikan yang lebih besar. Semuanya produksi sendiri.

Penduduknya tidak minum susu kecuali sekelompok kecil saja yang mengkonsumsi susu pabrikan. Semantara yang lain tidak minum susu meskipun punya ternak kerbau atau pun sapi yang cukup banyak karena minimnya pengetahuan dengan pengolahannya (atau justru karena susu ternaknya memang nggak ada :) )

Makan daging ayam atau itik atau bebek? Itu baru dilakukan kalo’ salah satu dari 3 kejadian ini terjadi; (a) lebaran idul fitri atau lebaran idul adha, (b) ada unggas yang sakit yang biasanya dipotong, sayang nanti kalo’ mati jadi nggak bisa dikonsumsi, jadi haram - ha…ha…ha… ternak sakit koq justru jadi santapan, sesuatu yang waktu itu tidak disadari sebagai praktek yang salah…. Aku nggak tahu apakah sekarang praktek ini masih dijalankan atau tidak, dan (c) kalo’ ada keluarga dari luar kampung datang berkunjung; ntah keluarga yang merantau ke lampung pulang kampung atau dari tempat lain. Biasanya untuk event seperti ini, keluarga akan memotong beberapa ekor unggas dan mengundang keluarga yang datang dari jauh makan di rumah.

Kalo’ telur, hampir setiap pagi aku makan telur ayam kampung mentah (kuningnya saja) yang kadang-kadang karena ketidak tahuan anak kecil membedakan telur ayam dengan telur itik, aku salah pilih telur. Tapi tidak semua anak bisa mengkonsumsi telur setiap hari. Aku bisa melakukan itu karena Bapaku punya banyak itik di sawah dan juga ayam.

Telur, secara umum bukan makanan yang bisa dikonsumsi setiap hari oleh masyarakat. Tidak seperti sekarang yang banyak sekali telur ayam ras, dulu telur yang ada di kampung hanyalah telur ayam kampung saja dari ternak sendiri. Karena itu, makan telur menjadi sesuatu yang mewah… - ternyata menjadi mewah itu gampang sekali…. :)

Biasanya anak-anak di kampung itu kalo’ menjelang kenaikan kelas mengungkapkan nazar (semacam janji pribadi) yang umumnya, "aku nak mehebus sikok, atau due, atau tige teloh amun aku naik kelas" - aku akan merebus satu, dua tau tiga telor kalo’ aku naik kelas. Janji mewah yang akan langsung dipenuhi kalo’ naik..

Urusan telor rebus ini juga menjadi ritual yang penting. Perjalanan dari kampung ke Lubuk Batang Baru (40 km ke arah Baturaja), atau ke Baturaja atau pun ke Palembang yang cukup panjang membuat ibuku selalu menyiapkan bekal makanan sebelum berangkat. Lauk standard yang digunakan adalah telor rebus yang memang aman di perjalanan dan tidak merepotkan di samping gampang dimakan.

Kebiasaan menyiapkan bekal ini pun masih terbawa-bawa sampai sekarang. Setiap kali kami akan berangkat dari Palembang ke Duri, ibu pun tetap menyiapkan bekal; ayam goreng, pempek dsb dan yang tidak pernah terlupakan; telor rebus yang sayangnya ternyata bukan termasuk makanan favorit untuk anak-anak jaman sekarang. Karena itu telor rebus yang dijadikan bekal tidak habis dimakan dan terpaksa dengan sedih dan berat hati dibuang di perjalanan karena basi (kadang untuk aku dan keluargaku cuma 5 orang termasuk balita, ibu menyiapkan sampai 8 butir telor rebus)

Karena itu, pulang sekali ini, dari awal, aku sudah ngomong ke ibuku supaya mengurangi bekal telor rebus ke jumlah seminimal mungkin supaya tidak terbuang. Bekal lainnya pun porsinya dikurangi karena kalo’ di perjalanan makan juga tidak terlalu banyak. Alhamdulillah, beliau sepakat dan sekali ini, kami pulang dari Palembang ke Duri tidak dibekali telor rebus lagi tapi ayam goreng yang jumlah potongannya juga masih banyak sekali - separuhnya pun tidak habis, untung tidak basi sampai di Duri.

Kasih sayang ibu memang luar biasa. Sebagai anak, semua tindakan yang dilakukan orang tua seperti yang ibu selalu lakukan perlu menjadi renungan untuk menjadi anak yang baik dan berbakti pada orang tuanya. Mudah-mudahan aku termasuk kelompok anak-anak yang seperti ini, dan mudah-mudahan anak-anakku pun termasuk anak-anak seperti ini, amien..

Umum banget 9:02 am

Perjalanan pulang ke Palembang memang selalu menyisakan catatan ringan yang kadang bikin senyum, bikin nyengir bahkan kadang-kadang bikin jengkel. Kalo’ urusan makanan, sekarang sudah semakin banyak penjual makanan yang bersih dan rasanya enak di perjalanan - bukan tempat makan tempat bis istirahat yang harganya mahal dan tidak fresh, tapi makanan yang harganya relatif normal dan fresh.

  • Di spot Pekanbaru - Jambi, minimal bisa mendapatkan makanan di Pangkalan Kerinci, di Pematang Reba, atau di Belilas. Meskipun setelah Belilas, aku tidak menemukan tempat makan yang oke punya sampai Jambi (sekitar 4.5 jam perjalanan).
  • Di spot Jambi - Palembang, relatif lebih banyak karena setiap 1.5 jam perjalanan bisa ketemu tempat yang cukup ramai yang identik dengan tersedianya tempat makan.

Tapi yang aku pengen catat bukan soal tempat makan. Aku justru pengen mencatat mengenai mushollah yang selalu ada di pompa-pompa bensin yang ada di sepanjang jalan. Yang menarik adalah semua pompa bensin itu menyediakan mushollah kecil yang memang didesign untuk menjadi mushollah. Tapi yang menarik,…. di spot Pematang Reba - Jambi (5 jam perjalanan), ada sekitar 9 - 10 filling station. Tapi rata-rata mushollanya tidak terurus dan tidak ada air. Catatanku hanya ada 2 - 3 filling station yang ada airnya.

Sedikit berbeda dengan perjalanan dari Jambi ke Palembang yang rata-rata filling stationnya dilengkapi dengan tempat BAB dan BAK yang relatif bersih meskipun kalo’ mushollahnya ada juga yang kurang terurus. Tapi yang paling oke tempat sholatnya justru di filling station di Sungai Lilin yang tampilannya kurang oke karena sudah tua tapi di bagian belakangnya justru terdapat mesjid yang sangat terurus lengkap dengan rumah peristirahatan yang bisa disewa per malam.

Andaikan semua filling station ini musholla dan kamar kecilnya terjaga, air wudhu-nya selalu tersedia, wuih… perjalanan akan menjadi semakin nyaman.

Umum banget 8:45 am

Sabtu minggu lalu, perjalanan dari Pekanbaru menuju Jambi cukup menyenangkan. Jalan yang akhir bulan Juni lalu masih agak rusak menjelang perbatasan Riau - Jambi sudah diperbaiki, hanya ada spot pendek sekitar 2 km yang masih ada lubang-lubang kecil. Seperti biasa, perjalanan dicoba dibuat sesantai mungkin, berangkatnya pun tidak dipaksa selepas subuh tapi ditunda sampai lewat pukul 7 pagi, meskipun kenyataannya tidak selalu sesantai yang dibayangkan. Sementara kondisi fisik juga sudah semakin tua (walah…… sok tua he..he..he..), sudah mulai nggak bisa maksa seperti dulu lagi.

Menjelang pukul 3 sore, sudah lewat Merlung, leher sudah mulai panas, kepala agak pusing, ngantuk.. diputuskan untuk berhenti mencari filling station mau tidur… tapi koq nggak ketemu juga ya…. Aha…. ya sudah mampir aja di kantor resort sebuah instansi berseragam sekitar 40 km menjelang Jambi, , sepertinya tempat ini pasti menyenangkan untuk istirahat karena operasi ketupat mungkin belum berakhir jadi kemungkinan memang disediakan tempat untuk istirahat.

Dengan pede, mobil pun masuk dengan pelan memasuki pekarangan kantor yang halamannya luas ini. Tapi koq sepi ya? Terus ternyata gersang…. hmmmm….. parkir di mana nih? semua tempat koq panas ya? Wow, sampai di depan kantor ternyata ada kendaraan yang berhenti dan menutup lebih dari sebagaian jalan… mobil nggak bisa masuk nih..

Mobil pun dimundurkan dan terlihat di sebalah kiri kantor ini ada jalan ke belakang. Aku pun masuk ke jalan kecil ini yang ternyata jalan memutar ke belakang kantor dan keluar di sisi lain kantor ini. Di spot ini aku melihat ada tempat parkir yang beri kanopi bagus, panjang dan sepertinya memang disiapkan untuk tempat parkir yang nyaman dan tidak ada yang parkir di sana. Memang baik yang punya kantor ini (*^%$%$&#), ada tempat parkir bagus untuk orang-orang yang mau istirahat.

Aku pun parkir mundur, merebahkan sandaran kursi dan mulai mencoba istirahat. Belum berapa lama (kurang dari 5 menit), ada petugas berseragam datang dan aku buka kaca jendela. Petugas itu menegur karena tadi ketika masuk ke pekarangan kantor ini aku tidak lapor. Begitu aku bilang di kantor kecil yang di dekat gerbang masuk kosong tidak ada orang, petugas itu bilang kalo’ di dalam ada petugas. Begitu aku jelaskan kalo’ tujuanku mau numpang istirahat, tidur sebentar, petugas itu pun pergi.

Tapi….. hanya beberapa menit (juga kurang dari 5 menit), datang lagi petugas lain, juga berseragam. Begitu dibukakan jendela mobil, petugas ini meminta aku pindah karena tempat parkir teduh yang aku sedang gunakan adalah tempat parkir pimpinan. Kalo’ aku parkir di sana, nanti mereka dimarah pimpinannya. Aku diminta pindah parkir ke pekarangan mesjid yang cukup besar dan indah di pojok halaman kantor ini. "Kalo’ mau tidur-tiduran, silahkan tidur di sana," kata petugas ini.

Aku pun pindah parkir ke pekarangan mesjid yang panas itu, melihat ke tempat parkir teduh yang menggiurkan itu dan baru nyadari kalo’ tempat parkir teduh itu memang tempat parkir seorang kapolres dan wakilnya…. Ya iyalah, jelas aja aku disuruh pindah tempat parkir….he..he..he..he..he…

Dengan semangat ingin istirahat, aku pun turun dari mobil dan masuk ke selasar mesjid,…hmm… cukup bersih.. tapi kayaknya ada natural call pengen BAK nih, aku harus ncari kamar kecil. Aku pun ke belakang mesjid bagus ini dan menemukan tempat berwudhu yang cukup panjang nempel di bagian belakang mesjid ini. Di sebelah tempat wudhu itu, aku menemukan kamar kecil yang terbuka, aku pun mendekat dan langsung mencium bau khas kamar kecil yang tidak dibersihkan. Tapi aku tetap masuk….dan menemukan…..tidak ada tempat airnya dan di klosetnya aku melihat 3 potong benda kering kehitaman (sudah tidak kuning lagi melingkar…. sudah hitam dan keras sepertinya - you know la….- mungkin sudah mingguan atau bulanan tergeletak di sana.

Melihat kondisi seperti ini, aku putuskan untuk membatalkan semua rencana, termasuk rencana istirahat. Perjalanan pun aku teruskan ke Jambi, check-in di Abadi Suite, istirahat.

Sayang sekali… mesjid besar yang indah itu ternyata ……. :(

PikirankuSeptember 21, 2009 7:23 am

Facebook memang jadi ladang yang positif untuk membuat renungan. Membaca tulisan-tulisan orang-orang di facebook bukan hanya memberikan pencerahan status teman-teman atau keluarga tapi juga memberi gambaran mengenai aspek lain termasuk kepribadian seseorang dan pola pikirnya. Mungkin tidak 100% akurat tapi banyak pelajaran yang bisa didapatkan.

Di facebook, aku membaca tulisan,  "the secret of success is to know something nobody else knows". Tulisan yang  pendek tapi menggelitik hati untuk mengulas. Tulisan pendek yang menggambarkan sebuah paradigma yang bisa jadi menjadi sesuatu yang lazim ditemukan. Paradigma bahwa orang akan berhasil bila dia mengetahui sesuatu sendirian..

Apakah ini salah? Aku pikir tidak sepenuhnya salah.
Tapi apakah ini benar? Aku pikir juga tidak sepenuhnya benar.

Di jaman dulu, bisa jadi paradigma ini akan sangat bener. Orang akan berhasil bila dia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain. Akan tetapi, di jaman di mana bekerja individu tidak lagi menjadi sesuatu yang istimewa, di mana keberhasilan juga ditentukan oleh bagaimana networking, bagaimana team work dan bagaimana koordinasi dilakukan, paradigma ini menjadi seperti gambaran hidup di masa lalu.

Di jaman sekarang, tidaklah mungkin seseorang menahan apa yang diketahuinya sendirian. Tidaklah mungkin orang menahan ilmu yang dimilikinya sendiri. Karena melakukan itu dalam kehidupan hanya akan menimbulkan kesulitan.
Manusia terlahir sebagai mahluk yang tidak bisa berdiri sendiri. Manusia memerlukan support dan bantuan dari orang lain di sekitarnya.

Ketika hanya dia yang tahu…. terus ke mana dia minta bantuan? Nggak ada… jadi sulit kan?
Ketika hanya dia yang tahu…. terus kepada siapa dia akan delegasinya tugasnya bila dia berhalangan? Nggak ada…. jadi rumit kan, orang ini jadi nggak bisa lepas dari tanggung jawab dan tugasnya 24/7, sesuatu yang tentu sangat berat
Ketika hanya dia yang tahu…. terus kepada siapa dia akan melepaskan tanggung jawabnya bila dia mendapat tanggung jawab yang lebih besar? Nggak ada… jadi semakin tidak mudah bukan? Kalo’ nggak ada orang yang bisa menjalankan tugas yang ditinggalkannya, tentu hanya ada 2 hal yang mungkin terjadi; (a) dia tetap mendapatkan tambahan tanggung jawab tetapi menjadi terlalu overloaded sehingga jaminan kualitas tidak dijamin, atau (b) dia batal dapat tambahan tanggung jawab karena potensi overloaded yang sudah bisa diprediksi di awal.

Jadi…. di jaman sekarang, menganut paradigma lama ini hanya akan menyulitkan. Jaman di mana orang akan menjadi pahlawan dengan menjadi satu-satuya orang yang bisa menyelesaikan pekerjaan sudah berakhir. Jaman ketika orang menjadi idola ketika dia menjadi satu-satunya orang besar di lingkungan yang kecil tidak lagi ditolerir. Jaman ketika orang menjadi panutan ketika dia berdiri di menara gading sudah menjadi sejarah masa lalu.

Jaman sudah berubah. Orang yang mengetahui sendirian apa yang orang lain tidak tahu hanya akan tergilas oleh roda kehidupan. Orang yang tidak ingin membagi ilmu pengetahuannya hanya akan tergilas oleh semakin dinamisnya kehidupan.

Jadi yang mana yang mau dipilih? mencoba sukses sendiri dengan paradigma masa lalu dan tergilas, atau menjadi lebih terbuka dan hidup dan berhasil dalam keberhasilan kelompok dan selalu berada dalam keberhasilan?

Yang perlu dijaga adalah kepastian bahwa setiap individu berkontribusi aktif dalam keberhasilan yang diraih secara berkelompok dan tidak menjadi benalu dalam kelompok…..

Umum banget, Aku belajar 6:50 am

Mendekati satu taun ini, Dewi dibantu oleh duo orang yang tinggal nggak jauh dari kantor lurah, di luar camp. Kedua-duanya perempuan yang umurnya lebih dari 50 tahun; yang satu membantu membersihkan rumah dan masak, sementara yang kedua tugasnya mbersihkan kamar mandi dan nyetrika. Yang tugasnya masak - membahasakan dirinya Mak Wo - hanya punya satu client jadi dari pagi sampai sekitar jam 2 siang selalu standby di rumah sementara yang nyetrika - dipanggil bibik - punya cukup banyak client, ada di rumah hanya ketika bertugas dan setelah itu segera pindah ke client-nya yang lain.

Sekitar 6 bulan yang lalu, Dewi mbisiki aku ngasih tahu kalo’ bibik nggak masuk, yang kerja ibunya - dipanggil Nenek - yang umurnya lebih dari 80 tahun. Dengan terheran-heran, penasaran tapi juga nggak begitu nyaman aku ngomong ke Dewi untuk lebih hati-hati. Kalo’ orang seusia itu mungkin bukan orang yang tepat untuk mbantu di rumah. Tapi setelah bertemu dan melihat seorang perempuan sepuh yang tampilannya segar, ceria dan badannya juga masih tegap, tidak bungkung, aku pun tidak meributkannya lagi. Terlebih karena hasil kerjanya cukup bagus dan nggak banyak ulah. Mencari tahu lebih dalam mengenai nenek ini, aku dapat cerita kalo’ nenek ini bosan kalo’ nggak punya kegiatan di rumah. Karena itu, beliau minta ke anaknya, bibik, pengen kerja.  

Sampai sekitar 3 minggu yang lalu, Dewi cerita kalo’ nenek nggak nyetrika. Nenek sakit dan digantikan cucunya (seorang perempuan muda umur di awal 20an). Kami pun datang ke rumahnya dan menemukan nenek ini tidur-tiduran di ruang kaluarga di rumahnya, memang sakit meskipun bisa bercerita dengan lancar. Minggu lalu, Dewi cerita kalo’ nenek ini masuk rumah sakit dan 2 hari sebelum Idul Fitri beliau meninggal dunia.

Ada pelajaran kehidupan yang aku peroleh dari nenek ini.

  • Pelajaran bagaimana orang memanfaatkan waktunya untuk berkarya, untuk menghasilkan sesuatu.
  • Pelajaran tentang maknah hidup mandiri dan tidak tergantung pada orang lain. Bagaimana seorang yang berusia 83 tahunan tidak mau berpangku tangan.
  • Pelajaran tentang maknah, "dalam rezekimu ada rezeki orang lain"…

Nenek ini telah memberi pelajaran baik, pelajaran baik yang mudah-mudahan diserap juga oleh anak-anakku. Selamat jalan nenek…

  • - Pelajra

Cerita mengenai nenek gosok yang meninggal di usia 83 tahun dan sampai sebulan sebelum meninggal masih bekerja..

keluargakuSeptember 20, 2009 2:43 pm

Pagi lebaran, sibuk? Ya nggak juga. Biasa aja lagi….
Bangun pagi pukul 5, terus sholat subuh, mandi, telephone sana-sini ke keluarga di Palembang, sarapan…..dan mendekati pukul 7 berangkat ke mesjid dan ternyata…. masih bisa parkir cukup dekat ke mesjid. Karena hari hujan, hari ini nggak jadi sholat di lapangan mesjid tapi sholatnya di dalam dan kembali…. masih banyak ruang kosong di dalam mesjid (meskipun tidak lama kemudian penuh bahkan tumpah ke pelataran mesjid bahkan masih ada juga beberapa barisan panjang sholat di rumput halaman belakang mesjid.

Tapi yang ingin aku tulis bukan ulasan sholat di mesjidnya tapi justru soal Ananta yang hari ini pertama kali ikut sholat Idul Fitri (belum pernah juga ikut Idul Adha di mesjid), bahkan kayaknya ini pertama kalinya dia diajak ikut sholat ke mesjid.

Dari awal, sudah dibagi tugas kalo’ Ananta akan ikut rombongan laki-laki; bertiga - aku, Dhyaksa dan Ananta, sementara rombongan ke-2 ya tentu rombongan yang perempuan bukan? Kami bertiga pun masuk ke dalam mesjid dan mengambil tempat. Begitu diturunkan dari gendongan, Ananta langsung kembali nempel ke aku sementara aku perlu sholat sunat tahiyatul masjid.

Aku kembali jauhkan dia tapi tetap di depanku seperti biasa kalo’ aku sholat di rumah. Aku pun berdiri sholat dan terlihat dia sedikit ketakutan meskipun tidak lama kemudian dia mulai berdiri tenang lalu duduk di sajadahku sampai akhirnya, sama seperti biasanya kalo’ aku sholat di rumah, dia mulai tiduran di sajadah itu. Aku pun rukuk, sujud sampai selesai rekaat ke-2 dengan tenang. Aku temukan Ananta sudah tidak merasa asing lagi dengan mesjid, bahkan aku melihat dia mulai merasa ‘at home’.

Menjelang pukul 07.30 jemaah pun diminta berdiri untuk sholat. Ananta menjauh dari aku dan mendekat ke dinding ke tempat seorang anak kecil (mungkin umur 3 - 4 tahun) yang berdiri di sana. Aku melihat Ananta mencoba mengakrabkan diri dengan anak itu. Sholat pun dimulai sementara Ananta belum juga balik ke sajadahku. Dia tetap bertahan di pinggir dinding.

Rakaat pertama pun berjalan dan selesai, Ananta masih bertahan di posisinya. Pertama sih tidak melakukan tindakan apa pun yang mengganggu tapi kemudian dia mulai ngutak-atik meskipun kemudian dia menghilang. Sepertinya dia bergerak ke barisan yang lebih belakang, tetap di dekat dinding kaca… Sholat pun berlanjut ke rekaat ke-2 dan Ananta tetap bertahan di barisan ke dua. Banyak terdengar anak kecil menangis di belakang tapi aku tidak mendengar suara atau pun tangisan Ananta. Anak ini kayaknya tenang.

Sholat pun berakhir, setelah salam ke kiri, aku pun menoleh ke belakang dan ternyata….. Ananta sedang duduk di dekat kotak sumbangan mesjid (banyak di sediakan….) yang hari ini juga tersedia ember hitam di atasnya untuk menampung sumbangan yang alokasinya berbeda dengan alokasi yang tertera di 3 partisi kotak itu.

Setelah minta maaf ke orang di kiri kanan yang mungkin merasa terganggu oleh aksi Ananta tadi, aku pun membawa Ananta keluar, duduk mendengarkan khutbah di dekat tangga depan yang menghubungkan lantai 1 ke lantai 2 mesjid… tapi….yang terjadi kemudian…. Ananta malah jadi semakin keasyikan di mesjid ini. Dia malah mulai naik tangga itu. Aku minta Dhyaksa mengiringkan di belakangnya. Tapi kemudian aku putuskan untuk mengambilnya dan aku ajak pindah turun bawah tangga menuju jalan masuk mesjid dan kembali…. Ananta juga asyik-asyiknya naik turun di tangga ini.

Akhirnya…. aku putuskan untuk ngajak Ananta ke rumputan di pojok kanan depan mesjid supaya aku tetap bisa mendengat khutbah. Karena tidak mungkin mengambil sendal (yang aku juga sudah nggak tahu di mana lokasinya karena seluruh jalan masuk ke arah depan mesjid dipenuhi jamaah dalam syaf-syaf sholat, aku pun menggulung celanaku dan tanpa alas ngajak Ananta ke rumputan itu. Aku pun duduk di semen pinggiran taman mesjid membiarkan Ananta main di sana sampai kemudian khutbah berakhir dan aku ajak Ananta balik ke mobil, pulang. Dalam perjalanan pulang, Ananta tidur.

Menarik…. hari ini, Ananta pertama kali masuk ke mesjid tetapi aku merasa anak ini sudah mulai terbiasa dengan suasana mesjid meskipun aku masih punya pe-er untuk menjaga mobilitasnya di dalam mesjid supaya tidak mengganggu orang lain. Seingatku, dulu Dhyaksa, aku mulai ajak sholat jumat ke mesjid di umur lebih dari 2 tahun. Mungkin, ada baiknya Ananta aku mulai ajak sholat jumat ke mesjid mulai sekarang di umur 15 bulannya…. Ntahlah, yang jelas ketika aku diskusikan ini dengan Dhyaksa, dia angin-anginan; awalnya setuju..tapi begitu aku bilang… ke mesjidnya naik mobil nggak bisa lagi naik motor, dia sepertinya jadi kurang setuju. :)

Pikiranku, Perasaanku. 8:57 am

Kemarin, aku membaca di wall salah satu keponakanku:

"(really!) Ied doesn’t mean new dresses.. may be a new life and spirit.. For the next 11 months"

yang aku tanggapi dengan menulis,

"That is the essence of the Ied joy… the spirit every family should re-actualize, something parents must develop in their children…."

Apakah Idul Fitri berarti konsumtif? Apakah idul fitri bermaknah menyediakan makanan berlimpah? Apakah idul fitri bermaknah bertukar baju dengan yang baru?

Aku mencoba menyikapinya dengan mengatakan bahwa idul fitri seharusnya tidak menjadi momen untuk melampiaskan keinginan atau pun godaan untuk konsumtif. Tidaklah perlu menjadikan idul fitri sebagai momen di mana masyarakat umum menjadi ‘ladang’ yang ter-eksploitasi secara luar biasa oleh dunia bisnis. Tereksploitasi dengan godaan membeli atau pun menyiapkan makanan yang berlimpah. Tereksplotasi dengan godaan beragam jenis pakaian yang memikat.

Bukankah Islam mengajarkan kesederhanaan? Bukankan Islam mengajarkan kejernihan dan bukan kepura-puraan. Bukankah Islam mengajarkan empati; menunjukan keperdulian pada lingkungan dengan menempatkan diri setara dengan lingkungan?

Idul Fitri, tidak harus disikapi dengan berbondong-bondong memasuki mall, masuk ke pasar, membeli baju-baju lebaran untuk anak-anak. Idul Fitri perlu disikapi dengan kesederhanaan. Setiap keluarga perlu menanamkan bahwa bukan tampilan luar yang penting tapi lebih ke kedalaman batin. Menjadi tugas orang tua untuk memastikan bangkitnya pemahaman kawula muda Islam bahwa Islam merupakan agama yang melihat essensi dan bukan tampilan luar, Islam adalah agama yang mengajarkan kebersihan hati dan ketulusan dalam sikap dan bukan ‘plastik-plastik‘  diplomasi kehidupan yang seringkali dipenuhi kepura-puraan.

Menjadi tugas setiap orang tua untuk menanamkan pada keluarganya bahwa bersikap sederhana tidak berarti tidak berbudaya. Kesederhanaan bisa menjadi kekuatan yang luar biasa untuk menahan godaan zaman….

Ah… jadi susah endingnya nih tulisan, udah aja dulu ya… lanjutannya silahkan diteruskan sendiri :)

Umum bangetSeptember 19, 2009 11:03 am

Duri, kota kecil bahkan secara administratif nggak bisa disebut kota. Dari sisi demografi, Duri,

  • Menurut http://id.wikipedia.org/wiki/Duri,_Bengkalis punya jumlah penduduk yang hampir separuh jumlah penduduk Pekanbaru. ==> Komentarku; yang bener aja, kayaknya lebay deh…
  • Dari sisi komposisi kependudukan, meskipun nggak punya sumber data populasi tapi aku yakin untuk nulis kalo’ mayoritas (bahkan hampir semua) penduduk Duri pada dasarnya pendatang baik pendatang dari daerah sekitar (dalam radius 50 km) maupun pendatang dari kabupaten lain bahkan propinsi lain di Indonesia.

Dengan komposisi kependudukan seperti itu, yang mayoritas muslim dan menjelang lebaran umumnya pulang ke kampung halaman masing-masing, aku memprediksi kalo’ Duri akan relatif sunyi di hari lebaran ini. Tapi,….. ke pasar hari ini, aku menemukan kondisi yang betul-betul kontradiktif. Duri tidak sunyi bahkan menurutku hari ini, aku merasa hari ini adalah hari yang paling sulit menemukan tempat parkir di pasar Duri dan hari ini, pertama kalinya, aku merasakan traffic jam yang betul-betul mati, bukan hanya tersendat tapi sempat tidak bisa bergerak sama sekali.

Pasarnya pun sama, begitu banyak orang lalu lalang meskipun tidak semua lapak berisi pedagang. Ternyata, denyut perekonomian Duri tetap berjalan di saat puncak hari-hari menjelang lebaran ini. Ternyata, masih banyak sekali orang-orang yang menghabiskan lebarannya di Duri..

keluargakuSeptember 13, 2009 12:01 pm

Ketiga anakku punya pola tingkah yang berbeda-beda meskipun sebetulnya ketiganya mirip; bikin senyum:

Ananta

  • Bolak balik ngangkat telephone, pura-pura nelphone dengan action sempurna…..lama sekali kalo’ sudah mudah on-action. Pokoknya betul-betul full action deh.
  • Seminggu ini agak susah makan. Bukan karena nggak bisa makan tapi lebih karena nafsu makannya menurun. Begitu sendok menyentuh bibirnya, yang dilakukan cuma satu; lidahnya menyembul menutup pintu mulutnya dan tetap dipertahankan di posisi itu sampai sendok menjauh.
  • Tempat nongkrong di living room yang paling disukainya adalah sandaran sofa yang memang cukup lebar. Dengan santai dia naik ke atas sofa kemudian dengan santai juga naik ke sandarannya dan tidur di atas sandaran itu. Untuk memastikan safetynya, yang kami lakukan adalah mendorong sofa itu sedekat mungkin ke dinding.

Dhyaksa

  • Sudah cukup lama aku nggak pernah ndengar dia memainkan drumnya meskipun les drumnya di bina musika tetap jalan. Mungkin mulai bosen atau gimana, yang jelas belakangan dia mulai ribut minta dibelikan gitar. Belum aku penuhi sih, pengen ngukur dulu tingkat antusiasnya seperti apa; jangan-jangan cuma momentary lagi :)
  • Pulang-pulang dari les drum, dia mbawa proposal yang langsung bikin aku senyum-senyum; pengen tetap les drum tapi pengen ditambah les private di rumah. Setelah diajak diskusi, akhirnya sampai pada satu kesimpulan; lebih baik tetap les di bina musika aja.

Adeanna

  • Mulai banyak makan tetapi yang bikin senyam-senyum, ternyata anak ini sukanya bukan nasi yang normal. Anak ini suka nasi yang lembek… meskipun belum bisa disebut bubur sementara yang lain nggak suka.
  • Kalo’ diajak ke pasar, meskipun suka, selalu diawali dengan wanti-wanti di awal, "Papi jangan ninggalin ya. Papi nggak boleh jauh-jauh"
  • Sudah mulai rajin mbantuin mamanya masak meskipun dalam porsi terbatas. Hari ini kegiatannya mbantui mamanya mblender ikan tenggiri untuk pempek; persiapan lebaran dan sekarang sedang sibuk mbantui masak kue.
Keindahan, Perasaanku.September 12, 2009 7:46 pm

Kemarin aku nge-link (connected) dengan seorang perempuan muda di FB yang menggunakan nama ‘Haitami’ salah satu tokoh masyarakat Kedaton, seorang pensiunan kepala kantor agama yang setelah pensiun kembali ke Kedaton dan menjadi imam di mesjid di Kedaton sampai akhir hayatnya. Aku belum mengenal anak yang baru memulai kuliah di Depok ini.

Hari ini aku membuka FB-ku dan menemukan update status "apa kesempatan kedua itu ada? miss you Muhammad Sjamil Haitami ♥ " yang sejujurnya menimbulkan dua kemungkinan:

  • Pacarnya kah? Tapi aku bantah dengan berpikir kalo’ dua-duanya pake’ nama Haitami, nggak mungkin pacaran dong..
  • Berarti ini ayahnya dan mungkin ayahnya sudah meninggal.

Aku lihat-lihat photo di FB-nya dan menemukan satu photo yang aku kenal orangnya (alm. Haitami) dan aku komentari yang membuat aku dan anak ini bertukar informasi. Aku hubungi Bapaku di Palembang dan dapat informasi bahwa benar nama yang disebut anak ini sudah meninggal belasan tahun yang lalu.

Ada rasa terharu dan terenyuh merasakan kerinduan seorang anak pada figur ayahnya yang sudah tidak mungkin lagi ditemuinya secara fisik. Ada rasa haru merasakan kasih sayang yang tersirat dalam kata-kata yang ditulisnya. Aku pun komentari statusnya dengan menulis:

Meskipun nggak ada kesempatan kedua, kiriman doa dan kerinduan anak pada ayahnya merupakan bentuk kasih sayang yang indah..

Kamu anak yang baik, Rachmalia. Mudah-mudahan kamu termasuk anak soleha, amien.

Yang menarik dan agak lucu; ketika anak ini nulis, "…..aku panggil om atau apa nih?…." yang aku jawab dengan jawaban optional:

Boleh manggil om (gaya masa kini), atau mamang (gaya Palembang) atau mamak (gaya kedaton). Kalo’ mau terasa nuansa kampungnya, pake’ mamak aja kali ya :)

Kalo’ resminya sih namanya Surya Ahdi tapi kalo’ di Kedaton orang nggak kenal nama itu, mereka tahunya Anto.

………..

Selalu menyenangkan menemukan keturunan orang-orang Kedaton yang mungkin tidak lagi secara inten terikat dengan kampungnya. Tapi aku percaya orang-orang ini sedikit banyak masih menyimpan ikatan batin dengan kampung halaman orang-orang di atasnya.

Dan selalu menyenangkan menemukan anak-anak yang menunjukkan kasih sayangnya pada orang tuanya. Semoga anak-anak seperti ini selalu mendapat hidayah Allah dan selalu mendapatkan jalan yang terang dalam kehidupannya, amien.

Umum banget, PikirankuSeptember 8, 2009 9:08 pm

Malam ini, aku mbaca wall satu group dan nemukan tulisan seorang anak muda, - dicuplik asli tanpa perubahan tanda baca

"ade kabar lemak dk lemak
robet anak ajid humahnye di parak pabrik lan sabut nak bebini tgl 7 oktobr kele di kuningan, nntukan tglnye gk pemintaan btinenye die diwek dkde di rembkonknye gk sanak2nye lagi, maslahnye tgl 15 sept ini dai sebelah btine nk mnta duet 2 juta rupiah, nah baknye robet ni inggak dk ktk tanngung jawab nk ngurusi kwinan robet ni, kalu ade jeme2 yang ade grup ini pacak mbantu robet ngijekan duet 2 juta tu,au se ihklasnye kian nk bntu die, kami yang ade di depok ni la be usaha nk mantu die."

Tulisan sederhana tapi menimbulkan kerisauan hati. Ada beberapa poin penting dari tulisan ini yang merisaukan hati dan menggugahku untuk mendokumentasikannya dengan memberikan ulasan pandangan pribadi mengenai apa yang ditulis.

  1. Seorang laki-laki ingin menikah. Dia lamar sendiri seorang perempuan pada keluarganya, lalu disetujuinya sendiri kapan pernikahan ini akan dilangsungkan dan juga disetujuinya sendiri biaya-biaya yang akan dishare. Persetujuan ini dibuatnya dengan keluarga perempuan yang dilamarnya tanpa meminta pendapat atau pun berembug dengan sanak keluarganya. Apakah ini salah?
    Menurutku, tidak ada yang salah dalam proses ini, meskipun secara budaya Indonesia mungkin terasa sangat jangkal. Dalam pernikahan (secara Islam), pernikahan akan syah apabila ada 2 saksi dan ada wali nikah yang mewakili calon pengantin perempuan. Dengan pikiran itu, maka memang tidak ada kewajiban harus ada wakil (wali) dari calon pengantin laki-laki dalam proses pernikahan ini. Dengan kata lain kalau pun seorang laki-laki memutuskan untuk menikah tanpa berembug dengan keluarganya…. tidak ada masalah (dengan berbagai konsekuensinya termasuk dianggap menentang budaya).
  2. Dalam budaya Indonesia secara umum, setiap individu terikat pada rumpun keluarganya sehingga setiap tindak tanduknya dan setiap keputusan penting yang akan diambilkan (terlebih soal pernikahan) perlu didiskusikan dengan sanak keluarganya (khususnya orang tua). Seperti yang aku tulis di bagian # 1, menurutku meskipun ini budaya tetapi tidak merupakan satu keharusan….. tetapi…. ketika seseorang memutuskan untuk bersikap yang berbeda dengan adat, ketika seseorang memutuskan untuk menjadi mahluk individu dan membuat keputusan-keputusan penting ini tanpa merasa perlu melibatkan sanak keluarganya, dia pun harus sudah memahami bahwa ada tanggung jawab moral untuk tidak membebani sanak keluarganya dengan segala hal yang terkait dengan keputusan yang diambilnya.
    Karena itu, ketika kemudian, setelah mengambil keputusan tanpa diskusi, tanpa minta pendapat dari orang tua lalu kemudian kembali ke orang tua untuk minta dana untuk membiayai keputusannya, menurutku ini sudah jungkir balik prosesnya…. Menurutku sih ini terlalu!  Menampilkan diri mandiri tapi tidak mandiri.. :(
  3. Dalam budaya Indonesia secara umum, keluarga (utamanya orang tua) akan menanggung biaya pernikahan anaknya (baik laki-laki maupun perempuan). Meskipun menurutku ini tidak salah tapi aku memilih untuk melihatnya dengan cara berbeda. Bila anaknya perempuan, maka menjadi kewajiban orang tua sang perempuan untuk menikahkan. Dengan pertimbangan itu, aku memandang memang orang tua memiliki tanggung jawab untuk menanggung biaya yang timbul dari proses pernikahan dan walimahnya sesuai dengan kesanggupannya. Tapi bila anaknya laki-laki, dengan pertimbangan nomor 1 tadi, aku memandang, orang tua tidak punya kewajiban untuk itu. Seorang anak laki-laki harus memikul beban tanggung jawab ini. Kalau pun dalam prakteknya orang tua seringkali membantu (dalam porsi yang cukup banyak bahkan mungkin semuanya), aku memandang bantuan orang tua ini bukan satu kewajiban tapi lebih merupakan bentuk ungkapan kasih sayang (bila orang tuanya memiliki kecukupan). Dengan pikiran seperti itu, ketika orang tuanya tidak memiliki kecukupan, tidaklah pantas menganggap orang tua laki-laki ini tidak bertanggung jawab seperti tulisan yang aku cuplik ini.

Menurutku, menjadi laki-laki dibarengi tanggung jawab untuk menjadi seorang pemimpin. Dan seorang pemimpin harus menampilkan dirinya sebagai orang yang tangguh dan bertanggung jawab (dalam segala maknahnya).

Umum bangetAugust 31, 2009 4:08 am

Kira-kira 3 bulan lalu, salah satu teman di kantor ngirim beberapa kriteria orang yang addicted to facebook dan waktu itu aku reply dengan nulis kira-kira, "Syukur, aku cuma masuk 2 dari beberapa kriteria itu, jadi belum ketagihan…"

Sekarang….. koq jadi ketagihan bener……………….. sampai Dhyaksa juga ketagihan tapi ketagihan main games di facebook.